Headquarter Jepang Mengajarkan Saya “Laporan Itu Amanah, Bukan Copy-Paste

Oleh: Saiful Bahri
Murid 1 Minggu di Headquarter Jepang*
Saudaraku … Habis “Tokyo PP 24 Jam” jemput karyawan, saya diberikan amanah lagi.
Tugas kali ini beda: *Rapat internasional 1 minggu penuh di headquarter Jepang.*
Bukan buat jalan-jalan saudaraku. Buat belajar. Buat melihat fakta nyata di lapangan. Buat bahan improvisasi di tempat kerja.
*HARI 1-3: RAPAT SAMPAI MALAM*
Bayangkan saudaraku… Manager dari Malaysia, Thailand, Vietnam, Philippines kumpul 1 ruangan.
Agenda: Improvement + Comparative Study.
Orang Jepang tidak main PowerPoint indah-indah doang. Mereka buka data:
“Ini defect bulan ini berapa? Kenapa? Solusinya?”
Apalagi kalau ada kasus kecelakaan kerja “Safety Case”. Mereka sangat concern. Karena merugikan bukan hanya perusahaan, tapi juga karyawan dan keluarganya. Makanya kami selalu diingatkan: tempat kerja + peralatan safety harus serius diperhatikan. Instruksinya sangat jelas dan tegas ke setiap pabrik di bawah group perusahaan.
Tidak ada yang ngumpet. Tidak ada yang “nanti saya cek dulu”. Anda hadir rapat, Anda siapkan data.
Saya yang dari Indonesia cuma bisa manggut-manggut sambil mencatat. Malu rasanya kalau pulang ke Indonesia tapi tidak menjalankan instruksi kantor pusat. tidak ada alasan untuk tidak melaksanakan, karena contoh sudah dijelaskan, kasus sudah di-share. Apalagi yang kurang?
Dan saya merasakan sekali: saya beruntung mendapat pelajaran berharga di lapangan. Dari situ cara berpikir saya berubah. Dari pasif jadi produktif.
*HARI 4-6: TURUN KE PABRIK*
Pagi rapat, siang ke pabrik. Lihat langsung mesinnya. Tanya operatornya.
“Pak, ini kenapa posisinya begini?”
Operator jawab sambil praktik. Tidak pakai teori berbelit.
Di situ saya paham: *”Praktisi itu lahir dari melihat, bukan dari sekedar mendengar”* 🤲
Pantas pejabat mereka mengerti masalah banjir, mesin, produksi. Karena mereka tiap bulan turun ke lapangan. Bukan ketika ada masalah, tapi sebelum masalah muncul mereka sudah antisipasi.
Prinsip mereka: *”Mencegah itu lebih baik daripada mengobati”*.
Makanya khusus untuk Safety, mereka bersama para manager dan direktur tanpa kecuali wajib turun ke lapangan ikut program “Safety Patrol”.
Setelah Safety Patrol, hari itu juga masing-masing PIC harus menjelaskan + bikin countermeasure dalam waktu yang ditentukan. Nanti di meeting berikutnya dicek lagi: sudah close atau masih open? Kalau masih open, sang manager yang bersangkutan harus bertanggung jawab kenapa tidak bisa diselesaikan.
Itulah bentuk tanggung jawab pimpinan di lapangan. No reason, no excuse. Kalau ada kendala saat proses perbaikan, laporkan. Bukan diam. Semakin diam semakin kena teguran.
*HARI TERAKHIR: LAPORAN ITU AMANAH*
Pulang ke Indonesia, tugas tidak selesai. Justru baru mulai.
Kami wajib bikin laporan + presentasi ke semua manager pabrik di Indonesia.
“Ini yang bagus dari Jepang. Ini yang bisa kita terapkan. Ini yang tidak cocok karena beda kondisi.”
Mereka paham itu. Misalnya jadwal kerja di Indonesia: istirahat siang hari Jumat kita kasih lebih panjang karena mayoritas pekerja muslim. Mereka paham, silahkan diatur. Juga aturan ketenagakerjaan Indonesia, mereka tidak protes.
Sekali lagi mereka gercep dan siap data setiap saat.
Tidak ada istilah “sudah saya kirim via email”. Harus presentasi. Harus jawab pertanyaan. Harus tanggung jawab.
*PELAJARAN YG SAYA BAWA PULANG:*
1. *Rapat yang benar = Rapat yang ada datanya + ada turun lapangan*
Bukan rapat yang isinya “menurut saya” doang.
1. *Profesor yang hebat = Profesor yang berani kotor sepatunya*
Kalau cuma di kampus, ilmunya tidak akan menyentuh rakyat. Lalu kembali ke pertanyaan dasar: “Untuk apa ada mereka?”
1. *Laporan itu bukan formalitas. Laporan itu amanah*
Karena nanti di akhirat ditanya: “Ilmu yang kau lihat di Jepang, sudah kau sampaikan ke kaummu belum?”
Saudaraku … Makanya saya tidak habis pikir kalau ada dosen bergelar profesor tapi tidak pernah turun lapangan dengan alasan sibuk.
Gelar setinggi langit, tapi kakinya tidak pernah injak tanah rakyat 🤐
Wallahu a’lam bishshawab.
Saiful Bahri – Masyarakat Biasa
*












