Oleh Fileski Walidha Tanjung
Sabtu, 13 Juni 2026, di kampus STKIP PGRI Ponorogo, Festival Literasi Bahasa dan Sastra Tahun 2026 mencapai salah satu puncaknya: penetapan pemenang Lomba Baca Puisi yang diselenggarakan Himpunan Mahasiswa Aksara. Sebagai salah satu juri yang menandatangani Berita Acara Kejuaraan Nomor 014/HIMA-AKSARA/STKIP-PGRI/Po/VI/2026 bersama Ihsanudin, S.Pd. dan Lusy Novitasari, M.Pd., saya menyaksikan sebuah pelajaran penting yang sering kali terlupakan dalam dunia kompetisi seni. Bahwa di balik angka, peringkat, dan nama-nama juara, terdapat proses pembelajaran yang jauh lebih berharga daripada kemenangan itu sendiri.
Hasil lomba menetapkan M. Nur Afgan M. dari T.MII. Al-Amien sebagai Juara I dengan nilai 1116. Di bawahnya, Zaurida Hesti A dari MAN 2 Ponorogo memperoleh nilai 1103, disusul Jenifa Aurel Sutejo dari SMAN 1 Ponorogo dengan nilai 1091. Juara Harapan I diraih Ragil Muhammad F dari SMAN 1 Pulung dengan nilai 1064, Juara Harapan II diraih Rokhim Yuono dari MA An-Najiyah dengan nilai 1054, dan Juara Harapan III diraih Kharida Nadhif F dari SMAN 1 Badegan dengan nilai 1039.
Namun yang menarik bukan semata-mata siapa yang menang. Yang menarik adalah betapa tipisnya jarak antar peserta. Selisih nilai antara Juara I dan Juara III hanya 25 poin. Perbedaan antara Juara I dan Juara II hanya 13 poin. Angka-angka itu menunjukkan bahwa persaingan berlangsung sangat ketat. Dalam bahasa yang lebih sederhana, kemenangan dan kekalahan pada hari itu sering kali ditentukan oleh detail-detail kecil yang nyaris tak terlihat oleh penonton.
Di sinilah saya merasa perlu menyampaikan sesuatu kepada seluruh peserta, terutama mereka yang belum disebut sebagai juara. Jangan pernah menganggap hasil lomba sebagai ukuran mutlak kualitas diri. Lomba memiliki aturan yang mengharuskan juri menentukan peringkat. Seni tidak selalu bekerja dengan cara yang sama. Dalam seni, seseorang dapat kalah dalam kompetisi tetapi menang dalam perjalanan kreatifnya. Sebaliknya, seseorang dapat memenangkan perlombaan namun berhenti berkembang karena merasa telah sampai di tujuan.
Penyair dan pemikir Amerika Ralph Waldo Emerson pernah mengatakan, “Apa yang ada di belakang kita dan apa yang ada di depan kita adalah hal kecil dibandingkan dengan apa yang ada di dalam diri kita.” Kalimat itu mengingatkan bahwa kekuatan terbesar seorang pembaca puisi bukanlah trofi yang dibawanya pulang, melainkan kemampuan untuk terus menumbuhkan kedalaman batin dan kepekaan artistiknya.
Karena itu saya ingin mengatakan dengan penuh keyakinan bahwa seluruh peserta yang berhasil mencapai babak final sesungguhnya adalah para juara. Mereka adalah siswa-siswa terbaik yang telah menunjukkan keberanian untuk berdialog dengan bahasa, emosi, dan makna. Mereka telah membuktikan bahwa sastra masih memiliki tempat di tengah zaman yang lebih sibuk menghitung angka daripada mendengarkan suara hati manusia.
Dari pengamatan selama penilaian, ada beberapa pelajaran penting yang layak menjadi bekal perjalanan berikutnya. Pertama, pahamilah puisi sampai ke akar maknanya. Banyak peserta mampu membaca dengan suara yang indah, tetapi keindahan suara tanpa pemahaman makna ibarat tubuh tanpa jiwa. Puisi tidak cukup dibaca; puisi harus dipahami, diendapkan, dan dihidupi.
Kedua, kenali emosi utama pada setiap bait. Puisi adalah perjalanan perasaan. Ada puisi yang bergerak dari harapan menuju kehilangan. Ada yang berjalan dari kemarahan menuju penerimaan. Pembaca yang baik mampu membangun alur emosional itu sehingga penonton tidak hanya mendengar kata-kata, tetapi juga merasakan pengalaman batin yang terkandung di dalamnya.
Ketiga, jangan terjebak pada pembacaan yang datar. Jeda, tekanan kata, perubahan tempo, dan variasi intonasi adalah alat untuk memperjelas makna. Keempat, ekspresi wajah dan gestur harus lahir dari isi puisi, bukan dari keinginan untuk terlihat dramatis. Ketika gerak tubuh tidak memiliki hubungan dengan makna, penampilan akan terasa artifisial.
Kelima, tataplah audiens dengan keyakinan bahwa puisi itu adalah bagian dari pengalaman hidup Anda sendiri. Keenam, jagalah artikulasi, volume, dan intonasi agar tetap jelas dan hidup. Semua unsur itu penting, tetapi sesungguhnya masih ada satu strategi yang jauh lebih menentukan.
Filsuf Friedrich Nietzsche pernah menulis, “Seseorang harus memiliki kekacauan di dalam dirinya untuk dapat melahirkan bintang yang menari.” Dalam konteks baca puisi, kalimat itu dapat dimaknai sebagai keberanian untuk sungguh-sungguh mengalami pergulatan batin yang terkandung dalam puisi. Ketika seorang pembaca hanya melafalkan teks, penonton mendengar suara. Namun ketika ia mengalami puisi itu dari dalam dirinya, penonton akan merasakan kehidupan.
Karena itu strategi paling penting dalam lomba baca puisi sesungguhnya sederhana: buatlah juri lupa bahwa Anda sedang membaca puisi. Buatlah mereka percaya bahwa Anda sedang mengalami peristiwa yang terdapat di dalam puisi tersebut. Ketika batas antara teks dan kenyataan menghilang, ketika kata-kata tidak lagi terdengar sebagai hafalan melainkan sebagai pengalaman yang sungguh terjadi, di situlah penghayatan menemukan bentuknya yang paling utuh.
Pada akhirnya, setelah panggung dibongkar, piagam disimpan, dan nama-nama juara diumumkan, tersisa satu pertanyaan yang lebih penting daripada seluruh hasil perlombaan itu sendiri: apakah kita masih memiliki keberanian untuk terus belajar, terus membaca, dan terus berkarya? Sebab hakikat sastra bukanlah memenangkan kompetisi, melainkan memenangkan pertarungan melawan keterbatasan diri. Jika hari ini kita menjadi pembaca puisi yang lebih baik daripada kemarin, bukankah sesungguhnya itulah kemenangan yang paling layak dirayakan.
Diskusi