Esai · Potret Online

GPS Pikiran

Refleksi atas AI, media sosial, dan otak kita yang semakin enggan berpikir
Penulis  Don Zakiyamani
Mei 9, 2026
5 menit baca 105
Ilustrasi konseptual seorang pria menulis dengan tangan di meja kayu, berhadapan dengan dunia kecerdasan buatan digital yang futuristik sebagai simbol pertarungan antara kreativitas manusia dan ketergantungan pada AI.
Foto / IlustrasiTeknologi semestinya menjadi alat bantu, bukan pengganti cara berpikir manusia. Menulis, membaca, dan merenung adalah cara sederhana agar otak tetap “berkeringat” di tengah derasnya dominasi AI dan media sosial.

Schopenhauer pernah membagi penulis ke dalam 2 kategori; menulis karena ingin menyampaikan ide dan gagasan, menulis karena reputasi, uang, validasi. Kita dengan mudah menjumpai kedua tipikal orientasi menulis. Penulis kedua biasanya menggunakan jasa ghostwriter.

Tokoh publik seperti politisi, artis, biasanya menggunakan jasa itu. Ini pengalaman saya sendiri, publik figur itu meminta saya menarasikan ide dan gagasannya. Hingga ketika pidato pelantikannya hal itu menjadi heboh.

Belakangan ini, bukan hanya publik figur yang menggunakan ghost writer. Semua kalangan sudah mulai menggunakan jasa ghost writer meski kini diganti AI. Fenomena AI sebagai ghost writer semakin bertambah. Mahasiswa, dosen, profesor, aktivis, birokrat, guru, bahkan kalangan penulis.

Mereka mengejar keindahan tulisan, malas repot, dan alasan pembenaran lainnya. Padahal banyak riset menyatakan bahwa bergantung pada AI akan mengurangi kemampuan otak. Tapi ya sudahlah, mereka lebih pintar dari kita.

✦ ✦ ✦

Sahabat, bila Anda ingin menulis maka menulislah dengan fasilitas ilahi yang diberikan. Otak kita perlu berkeringat seperti organ tubuh lainnya. Tulislah sendiri tanpa menghamba pada AI. Biarkan tidak rapi, logika lompat-lompat, tidak runut, yang penting otak berkeringat.

Kalau pun menggunakan AI ya sampaikan bahwa tulisan dibantu AI. Namun sahabat boleh membaca beberapa penelitian berikut sebagai rujukan bagaimana AI kemudian akan memengaruhi aset berharga kita; otak.

Riset mengatakan bahwa penurunan signifikan aktivitas otak akan terjadi bagi mereka yang rutin menggunakan AI untuk menulis. Penelitian dilakukan MITMIT. Ada beberapa riset lain mengatakan hal yang samaJurnal.

Ini bukan berarti kita kolot — AI memang dapat kita gunakan, namun gunakan dengan bijak. Anggap saja dia teman diskusi, bukan ‘tuan’ bagi kita.

Misalnya mengecek typo, tanda baca, kritik tulisan, analisis tulisan. AI pun terkadang mengalami bias kognitif yang parah.

Bukti dari penelitian itu dapat kita saksikan di sekitar kita. Setiap ada informasi, kemampuan menganalisis manusia semakin lemah. Kita sering kena tipu, fanatisme tinggi, manusia cepat emosi. Pikiran kita dikendalikan algoritma.

Contohnya, ketika ada info Netanyahu mati, banyak yang tanpa menguji langsung percaya. Share ke media sosial, berteriak Allahu Akbar, dan kekonyolan lainnya. Dan masih banyak contoh lainnya.

Kemampuan otak kita terus menurun. Lihat saja kasus JK, bagaimana manusia menganalisis sebuah pernyataan. Lihat pula ketika kita mudah melabeli tata cara ibadah seseorang atau sekelompok orang. Bahkan hanya ciri tertentu kita klaim dia A dan/atau mereka B.

Saya melihatnya sebagai krisis kognitif — sebuah fenomena di mana kita tidak mampu membedakan batu dan emas. Maka wajar memilih pemimpin salah, memakinya di kemudian hari. Padahal dia keinginan kita.

Dan menariknya, kita lebih dominan membela personal ketimbang kebenaran. Ya barangkali karena satu suku, kampung, agama, partai, organisasi, dan kesamaan lainnya sehingga melupakan substansi persoalan.

✦ ✦ ✦

Kalau pun Anda tetap ingin AI sebagai ghost writer, silakan saja. Itu pilihan yang kata Stoa, di luar kuasa saya. Melalui tulisan remeh ini saya ingatkan kita semua bahwa teknologi itu alat bukan tuan.

Membaca buku dan menulis bacaan ditambah dengan fenomena hari ini, barangkali akan membuat otak berkeringat. Jika Anda mulai cepat menghakimi pendapat dan tindakan orang, itu juga pertanda bahwa otak mulai malas bergerak.

Ketika otak sudah rebahan dan enggan berolah pikir, saat itulah pintu hoaks terbuka lebar. Merenunglah sahabat, karena bisa jadi yang selama ini kita anggap benar adalah gua dalam pikiran kita.

Sekarang bukan lagi agama, namun media sosial. Tempat pelarian era digital. Ia menjadi rumah baru bagi manusia.

Ini fakta menarik, sisi kesepian manusia terobati dengan media sosial. Kreator media sosial memang benar-benar menggunakan otaknya dengan sangat baik.

Kalau Anda ingin makan rujak di jam segini sebaiknya Anda pesan melalui ini ke warung ini karena mereka buka 24 jam, dengan harga sekian dan varian sekian.

Pastinya gawai dan media sosial akan tergantikan. Entah dengan yang lebih canggih atau manusia masa depan malah ingin kembali ke masa manusia tanpa keduanya.

Selamat berakhir pekan dan ngopi bersama manusia di sekitar Anda. Karena manusia modern kerap mengabaikan gajah di pelupuk mata. Padahal suatu hari nanti mereka yang Anda abaikan hari ini akan tutup usia. Wallahu’alam bishawab.

✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan esai ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi memberikan ruang ekspresi tanpa intervensi isi.
Tentang Penulis
Penikmat kopi tanpa gula
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...