Esai · Potret Online

GPS Pikiran

Refleksi atas AI, media sosial, dan otak kita yang semakin enggan berpikir
Penulis  Don Zakiyamani
Mei 9, 2026
8 menit baca 10
Ilustrasi konseptual seorang pria menulis dengan tangan di meja kayu, berhadapan dengan dunia kecerdasan buatan digital yang futuristik sebagai simbol pertarungan antara kreativitas manusia dan ketergantungan pada AI.
Foto / IlustrasiTeknologi semestinya menjadi alat bantu, bukan pengganti cara berpikir manusia. Menulis, membaca, dan merenung adalah cara sederhana agar otak tetap “berkeringat” di tengah derasnya dominasi AI dan media sosial.

Schopenhauer pernah membagi penulis ke dalam 2 kategori; menulis karena ingin menyampaikan ide dan gagasan, menulis karena reputasi, uang, validasi. Kita dengan mudah menjumpai kedua tipikal orientasi menulis. Penulis kedua biasanya menggunakan jasa ghostwriter.

Tokoh publik seperti politisi, artis, biasanya menggunakan jasa itu. Ini pengalaman saya sendiri, publik figur itu meminta saya menarasikan ide dan gagasannya. Hingga ketika pidato pelantikannya hal itu menjadi heboh.

Belakangan ini, bukan hanya publik figur yang menggunakan ghost writer. Semua kalangan sudah mulai menggunakan jasa ghost writer meski kini diganti AI. Fenomena AI sebagai ghost writer semakin bertambah. Mahasiswa, dosen, profesor, aktivis, birokrat, guru, bahkan kalangan penulis.

Mereka mengejar keindahan tulisan, malas repot, dan alasan pembenaran lainnya. Padahal banyak riset menyatakan bahwa bergantung pada AI akan mengurangi kemampuan otak. Tapi ya sudahlah, mereka lebih pintar dari kita.

✦ ✦ ✦

Sahabat, bila Anda ingin menulis maka menulislah dengan fasilitas ilahi yang diberikan. Otak kita perlu berkeringat seperti organ tubuh lainnya. Tulislah sendiri tanpa menghamba pada AI. Biarkan tidak rapi, logika lompat-lompat, tidak runut, yang penting otak berkeringat.

Kalau pun menggunakan AI ya sampaikan bahwa tulisan dibantu AI. Namun sahabat boleh membaca beberapa penelitian berikut sebagai rujukan bagaimana AI kemudian akan memengaruhi aset berharga kita; otak.

Riset mengatakan bahwa penurunan signifikan aktivitas otak akan terjadi bagi mereka yang rutin menggunakan AI untuk menulis. Penelitian dilakukan MITMIT. Ada beberapa riset lain mengatakan hal yang samaJurnal.

Ini bukan berarti kita kolot — AI memang dapat kita gunakan, namun gunakan dengan bijak. Anggap saja dia teman diskusi, bukan ‘tuan’ bagi kita.

Misalnya mengecek typo, tanda baca, kritik tulisan, analisis tulisan. AI pun terkadang mengalami bias kognitif yang parah.

Bukti dari penelitian itu dapat kita saksikan di sekitar kita. Setiap ada informasi, kemampuan menganalisis manusia semakin lemah. Kita sering kena tipu, fanatisme tinggi, manusia cepat emosi. Pikiran kita dikendalikan algoritma.

Contohnya, ketika ada info Netanyahu mati, banyak yang tanpa menguji langsung percaya. Share ke media sosial, berteriak Allahu Akbar, dan kekonyolan lainnya. Dan masih banyak contoh lainnya.

Kemampuan otak kita terus menurun. Lihat saja kasus JK, bagaimana manusia menganalisis sebuah pernyataan. Lihat pula ketika kita mudah melabeli tata cara ibadah seseorang atau sekelompok orang. Bahkan hanya ciri tertentu kita klaim dia A dan/atau mereka B.

Saya melihatnya sebagai krisis kognitif — sebuah fenomena di mana kita tidak mampu membedakan batu dan emas. Maka wajar memilih pemimpin salah, memakinya di kemudian hari. Padahal dia keinginan kita.

Dan menariknya, kita lebih dominan membela personal ketimbang kebenaran. Ya barangkali karena satu suku, kampung, agama, partai, organisasi, dan kesamaan lainnya sehingga melupakan substansi persoalan. Celakanya, ini terjadi bukan hanya di kalangan awam, namun terjadi di kalangan yang sudah menyelesaikan 100 SKS lebih alias yang sudah merasakan bangku kuliah.

Sialnya lagi, generasi ini kerap menyalahkan dan mengolok-olok generasi Z. Padahal, generasi mereka tak lebih baik. Okelah lebih baik, namun apa mereka tahu bagaimana pendapat generasi sebelum mereka. Tentu tidak, dahulu belum ada media sosial. Para pendahulu hanya diskusi sesama mereka.

Bayangkan bila masa itu sudah ada media sosial, generasi yang hari ini menyindir gen-Z pasti kena sindir juga. Itu gap generation yang sudah lumrah. Jadi, kelemahan otak yang terjadi pada manusia bukan dominan genetis namun bagaimana kita menggunakan fasilitas dari Allah dengan benar dan bijak. Lebih lanjut silakan baca jurnal dan riset neurosainsNextgov.

✦ ✦ ✦

Kalau pun Anda tetap ingin AI sebagai ghost writer, silakan saja. Itu pilihan yang kata Stoa, di luar kuasa saya. Melalui tulisan remeh ini saya ingatkan kita semua bahwa teknologi itu alat bukan tuan. Sesekali letakkan gawai, lihat fenomena di depan Anda. Analisis dengan otak Anda. Bila malas muncul, berarti otak kita sudah mulai rebahan. Kita harus gerakkan lagi agar berkeringat.

Membaca buku dan menulis bacaan ditambah dengan fenomena hari ini, barangkali akan membuat otak berkeringat. Jika Anda mulai cepat menghakimi pendapat dan tindakan orang, itu juga pertanda bahwa otak mulai malas bergerak. Ketika kita terus menjadi papan tulis atau kertas buram bagi media sosial, percayalah, otak kita sudah enggan berkeringat.

Ketika otak sudah rebahan dan enggan berolah pikir, saat itulah pintu hoaks terbuka lebar. Merenunglah sahabat, karena bisa jadi yang selama ini kita anggap benar adalah gua dalam pikiran kita. Padahal kebenaran ada di sana, gunakan GPS pikiran untuk mendekat pada pemilik kebenaran, Allah Azza Wa Jalla.

✦ ✦ ✦

Kita harus membuat otak berkeringat, aktivitas membaca dan menuliskan adalah saran utama dari para ahli. Ingat, membaca di sini bukan hanya buku, baca fenomena alam, bahkan diri sendiri juga menarik. Apalagi bila punya kenangan yang cocok dibaca lagi. Baca secara perlahan lembaran buku kehidupan kita dengan jujur.

Apakah kita sudah mendekat kepada pemilik kebenaran, dengan berjalan atau kata Rumi bila harus merangkak merangkaklah. Dengan demikian, setidaknya kita mampu membedakan berak dan buang air besar, kentut dan buang angin. Bukan soal baku dan non-baku namun soal maknanya.

Pernahkah kita memikirkan kenapa manusia menggunakan buang air besar ketimbang berak. Padahal tidak semua yang berak menggunakan air, contohnya hewan. Mungkin kita akan menjawab untuk membedakan manusia dan hewan. Lalu bagaimana dengan kentut dan buang angin? Apakah keduanya dilakukan manusia dan hewan? Apakah semua hewan kentut dan apakah fungsinya sama dengan manusia.

Dengan teknologi pertanyaan-pertanyaan di atas mudah dijawab. Namun untuk melatih otak sebaiknya jangan dulu gunakan AI. Membuat otak berkeringat tidak perlu dengan pertanyaan sains yang rumit. Cukup dengan pertanyaan sederhana dengan jawaban sederhana pula.

Bila kita saksikan fenomena otak rebahan belakangan ini, kita seolah sedang menyaksikan krisis nilai dan spiritual. Semakin sulit membedakan benar dan salah lalu menyerahkan diri pada media sosial. Dahulu Marx melihat manusia kerap menyerahkan diri pada agama ketika susah saja, lalu muncul pernyataan agama itu candu.

Sekarang bukan lagi agama, namun media sosial. Tempat pelarian era digital. Ia menjadi rumah baru bagi manusia. Di situ ada kalam ilahi, ada hiburan, ada teman baru, ada segalanya.

Ini fakta menarik, sisi kesepian manusia terobati dengan media sosial. Kreator media sosial memang benar-benar menggunakan otaknya dengan sangat baik. Mereka seolah mampu meramal psikologis manusia modern. Ke depan kira-kira apalagi yang akan menjadi rumah baru manusia?

Agar otak kita berkeringat, kita coba analisis mendalam. Misalnya gawai nanti diganti dengan alat lebih kecil, lebih sederhana, cukup katakan dalam hati ingin A lalu A muncul di beranda otak kita. Sebuah alat yang mampu mendeteksi keinginan kita ketika bingung. Dalam hati dan pikiran kita, kita ingin rujak lalu dengan cepat ia memberi saran.

Kalau Anda ingin makan rujak di jam segini sebaiknya Anda pesan melalui ini ke warung ini karena mereka buka 24 jam, dengan harga sekian dan varian sekian.

Demikian kira-kira pesan mesin. Bahkan tak perlu listrik, setiap kali kita kentut ia akan mengisi daya energi alat itu.

Pastinya gawai dan media sosial akan tergantikan. Entah dengan yang lebih canggih atau manusia masa depan malah ingin kembali ke masa manusia tanpa keduanya. Selamat berakhir pekan dan ngopi bersama manusia di sekitar Anda. Karena manusia modern kerap mengabaikan gajah di pelupuk mata. Padahal suatu hari nanti mereka yang Anda abaikan meski ia di depanmu hari ini , entah itu orang tua, saudara, anak, istri/suami, teman, akan tutup usia. Wallahu’alam bishawab.

✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan esai ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi memberikan ruang ekspresi tanpa intervensi isi.
Tentang Penulis
Penikmat kopi tanpa gula
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...