Artikel · Potret Online

Dayah: Benteng Peradaban di Tengah Gelombang Modernitas

Juni 17, 2026
3 menit baca 75
fc22dd56-25ac-4609-b8e0-dd131f561da4
Foto / IlustrasiDayah: Benteng Peradaban di Tengah Gelombang Modernitas
Disunting Oleh

.

Oleh: Tgk. H. Erli Safriza Al-Yusufiy, Lc.

(Ketua HUDA PW Aceh Selatan / Pimpinan Dayah Madinatuddiniyah Babussaadah)

Waktu terus berputar dan peradaban terus bergerak. Modernitas, dengan segala daya tarik dan dinamikanya, hadir bukan sebagai tamu yang bisa kita tolak. Ia adalah kenyataan kontemporer yang harus dihadapi dengan bijak dan jernih.

Di era digital yang serba cepat ini, arus informasi mengalir tanpa henti menembus batas geografis, sekat budaya, bahkan hingga ke ruang akidah. Generasi muda kita hari ini tumbuh di tengah dua dunia sekaligus: dunia nyata dan dunia maya.

Kedua ruang hidup ini sama-sama membutuhkan kompas moral yang kuat agar generasi penerus tidak kehilangan arah di tengah kepungan disrupsi zaman.

Di titik krusial inilah, dayah menemukan relevansinya yang paling hakiki.

Bukan Sekadar Simbol Klasik.

Dayah bukanlah sekadar lembaga pendidikan klasik yang pasif mengajarkan kitab kuning. Lebih dari itu, dayah adalah benteng peradaban, sebuah institusi tempat nilai-nilai Islam dirawat, diwariskan, dan dihidupkan secara kontekstual dari generasi ke generasi. Sejarah telah membuktikan selama berabad-abad bahwa institusi ini mampu menjaga denyut keislaman masyarakat Aceh tetap kokoh di tengah berbagai guncangan zaman.

Momentum pergantian tahun baru Islam, 1 Muharram 1448 H, seyogianya mengajak kita semua untuk merenung sedalam-dalamnya: sejauh mana dayah telah hadir sebagai solusi konkret di tengah masyarakat, bukan sekadar menjadi simbol masa lalu?

Sebagai Ketua Himpunan Ulama Dayah Aceh (HUDA) Wilayah Aceh Selatan, saya mengajak seluruh pimpinan dan elemen dayah untuk memperkuat peran serta fungsi strategisnya. Modernitas memang tidak bisa dibendung, tetapi ia harus diiringi dengan filter nilai-nilai agama yang kokoh serta kearifan budaya yang telah menjadi jati diri kita sebagai orang Aceh.

Ulama dayah tidak boleh lagi berdiam diri di balik tembok pesantren. Tugas kita justru berada di garis terdepan (the front line), mengawal generasi muda. Tujuannya jelas: sejauh apa pun mereka melangkah maju menguasai teknologi dan peradaban modern, kaki mereka harus tetap berpijak di atas rel sunnah Rasulullah \text{SAW}.

Refleksi Hijrah Kontemporer.

Semangat hijrah yang kita peringati setiap 1 Muharram bukan hanya tentang romansa sejarah perpindahan fisik Nabi Muhammad \text{SAW} dari Makkah ke Madinah. Hijrah adalah simbol transformasi universal: dari kegelapan menuju cahaya, dari kejumudan berpikir menuju kebangkitan peradaban.

Maka, mari kita jadikan tahun baru Islam ini sebagai momentum untuk melakukan “hijrah nyata”. Yakni, bergerak bersama menuju tata kelola dayah yang lebih kuat, lebih relevan dengan tantangan zaman, dan memberikan dampak yang lebih luas bagi kemaslahatan umat.

Selamat Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 H. Semoga Allah \text{SWT} senantiasa meridai dan menjadikan kita bagian dari generasi yang merawat serta mewarisi kejayaan Islam di bumi Aceh dengan penuh kemuliaan. Amin.

✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Ketua HUDA Aceh Selatan Periode 2024-2029 dan Pimpinan Dayah Madinatud Diniyah Babussaadah
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...