Hilangnya Nama Gibran di Barisan Pendukung Prabowo, Apakah Pecah Kongsi?

Oleh Rosadi Jamani
Analisis politik Partai Koptagul ternyata ramai juga penggemarnya. Kadang saya senyam-senyum sendiri. Analisis ala warkop sudah bisa bersaing dengan analisis Qodari, qiqiqiq..Baik saya ingin melanjutkan menganalisis manuver Gibran dan pendukung Prabowo. Apakah mulai ada tanda-tanda pecah kongsi? Simak lagi analisis-analisisan sambil seruput Koptagul, wak!
Beberapa hari lalu publik disuguhi pemandangan menarik. Saat ribuan mahasiswa turun ke jalan mengkritik pemerintah, Wapres Gibran Rakabuming Raka muncul menerima perwakilan mahasiswa. Ia mendengarkan tuntutan mereka, mencatat aspirasi, lalu berjanji menyampaikan semuanya kepada Presiden Prabowo. Di tengah situasi panas, Gibran tampil sebagai sosok yang mau membuka pintu dialog. Media ramai memberitakan. Netizen ramai berdebat. Pengamat politik pun langsung mengeluarkan berbagai teori. Ada yang menyebut itu langkah komunikasi biasa. Ada pula yang mulai membisikkan kata-kata keramat dunia politik, manuver.
Belum habis publik membahas peristiwa itu, muncul aksi lain di kawasan Patung Kuda Jakarta pada Jumat, 19 Juni 2026. Kali ini bukan mahasiswa. Yang turun adalah kelompok yang mengatasnamakan petani, pedagang, dan masyarakat yang mendukung Program MBG. Mereka menyatakan program tersebut harus tetap dilanjutkan. Dari sisi substansi, argumen mereka cukup kuat.
Don Muzakir selaku Ketua Umum DPN Tani Merdeka Indonesia menjelaskan, MBG bukan hanya memberi makan anak sekolah, tetapi juga menyerap hasil panen petani. Menurutnya, pemerintah tidak hanya menyediakan bibit dan alat pertanian, tetapi juga membeli kembali hasil produksi mereka. Secara ekonomi, narasi ini masuk akal. Secara politik, narasi ini bahkan lebih menarik lagi.
Nah, di sinilah radar konspirasi mulai berputar seperti kipas angin warkop yang tidak pernah dimatikan sejak era Orde Baru.
Coba lihat baik-baik spanduk yang mereka bawa. Perhatikan teriakan yang mereka gaungkan. Dengarkan nama yang berkali-kali disebut. Hampir semuanya mengarah kepada satu orang, Prabowo Subianto.
“Terima Kasih Bapak Prabowo.”
“Dukung Program Prabowo.”
“Hidup Prabowo.”
Masalahnya, publik tahu, pemerintahan saat ini bernama Prabowo-Gibran (Pragib). Bukan Prabowo dan tujuh bayangannya. Tetapi anehnya, nama Gibran seperti hilang ditelan segitiga Bermuda politik. Tidak muncul. Tidak disebut. Tidak terlihat. Seolah-olah ada editor tak kasat mata yang menghapus namanya dari seluruh naskah acara.
Kalau ini hanya terjadi sekali, mungkin bisa disebut kebetulan. Tapi dalam politik, kebetulan adalah makhluk langka. Terutama ketika hilangnya nama itu terjadi tepat setelah Gibran mendapatkan sorotan positif karena menerima mahasiswa yang berdemo.
Di sinilah muncul pertanyaan yang membuat kopi terasa lebih nikmat. Apakah ini sekadar aksi dukungan terhadap MBG? Atau sebenarnya ada pertarungan narasi yang sedang berlangsung di balik layar? Jangan-jangan sebagian pendukung Prabowo sedang mengirim pesan halus kepada publik, seluruh keberhasilan pemerintahan harus dikreditkan kepada Prabowo. Jangan-jangan mereka sedang berusaha memastikan siapa yang menjadi tokoh utama dalam film bernama Pemerintahan 2024-2029.
Kalau dugaan itu benar, situasinya menjadi menarik. Sebab semua orang tahu kemenangan Pragib kemarin tidak bisa dilepaskan dari pengaruh Jokowi dan jaringan relawannya. Mesin politik Jokowi adalah salah satu pendorong terbesar kemenangan pasangan tersebut. Jika sekarang mulai muncul gejala pemisahan citra antara Prabowo dan Gibran, maka yang sedang kita saksikan mungkin bukan sekadar urusan spanduk. Bisa jadi ini adalah trailer awal perebutan panggung menuju 2029.
Tentu semua ini masih spekulasi. Belum ada bukti, kongsi mereka retak. Belum ada perang terbuka. Namun politik sering memberi petunjuk lewat detail-detail kecil yang tampak sepele. Kadang sejarah tidak dimulai dari pidato besar atau rapat rahasia. Kadang semuanya dimulai dari satu nama yang tiba-tiba menghilang dari spanduk, lalu membuat seluruh negeri bertanya-tanya, siapa sebenarnya yang sedang dipersiapkan untuk menjadi bintang utama pada episode berikutnya?
Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar












