Immortal The Musical

Legenda Si Pitung Bangkit di Panggung Teater Keliling
52 Tahun ke Penjuru Nusantara
Oleh: Nuyang Jaimee
Mengawali perjalanan karya terbarunya di usia yang sudah menginjak lebih dari setengah abad, Teater Keliling resmi memperkenalkan produksi musikal kolosal bertajuk Immortal The Musical: The Legendary Betawi “Si Pitung”.
Pertunjukan ini mengangkat kembali kisah pahlawan rakyat Betawi. Dalam pertunjukan ini diawali dengan konferensi pers pada Rabu, 22 Juli 2026 di PDS. HB. Jassin, Taman Ismail Marzuki (TIM), sebelum akhirnya dipentaskan secara perdana pada 22–23 Agustus 2026 di Gedung Teater Besar Jakarta.
Perlu kita ketahui bahwa peluncuran ini bukan sekadar pertunjukan baru. Bagi Teater Keliling—grup teater yang telah mengarungi 52 tahun perjalanan dari Sabang sampai Merauke hingga 12 negara di dunia—musikal Si Pitung menjadi wujud komitmen panjang mereka: menghidupkan kembali cerita rakyat Indonesia, menjaga akar budaya, sekaligus bicara bahasa yang relevan bagi generasi masa kini.
Kisah Si Pitung: Keabadian Cerita
Mengangkat legenda Si Pitung yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Betawi, pertunjukan ini berangkat dari kegelisahan bersama: cerita-cerita luhur bangsa perlahan mulai hilang dari ingatan generasi muda. Lewat medium musikal, Teater Keliling ingin menghadirkan kembali nilai-nilai yang terkandung dalam perjalanan hidup Si Pitung—terutama keberanian membela rakyat kecil dan ketegasan melawan ketidakadilan—yang dinilai masih sangat relevan dengan dinamika kehidupan hari ini.
“Kami berangkat dari rasa tanggung jawab sebagai seniman untuk mengangkat kembali budaya Betawi dan cerita legenda yang perlahan mulai menjauh dari generasi sekarang,” ujar Dolfry Inda Suri, Produser, Sutradara, sekaligus Penulis Naskah Immortal The Musical.
Pemilihan kata Immortal (abadi) dalam judul bukan bermakna Si Pitung tidak wafat secara harfiah. Lebih dari itu, judul ini ingin menegaskan bahwa sebuah cerita bisa hidup abadi jika terus diceritakan, dirawat, dan diwariskan lintas generasi. Hal ini diamini oleh Rudolf Puspa, Dramaturgi sekaligus Pelatih Akting pertunjukan yang juga merupakan pendiri sekaligus nahkoda Teater Keliling sejak kelahirannya.
“Teater Keliling selalu berbeda di setiap zamannya. Si Pitung tetap relevan sampai sekarang karena ia membawa pesan tentang keberanian untuk membela rakyat. Itu nilai yang tidak lekang oleh waktu,” jelas Rudolf yang pada 2016 dianugerahi gelar Abdi Abadi Seni Teater oleh Federasi Teater Indonesia.
Untuk menyampaikan pesan ini agar lebih dekat dengan penonton masa kini, pertunjukan mengusung konsep Digital Immersive Theatre Musical—perpaduan apik antara cerita rakyat klasik dengan musik, tari, serta visualisasi modern yang tetap mempertahankan akar tradisional Betawi.
Di balik panggung, deretan talenta kreatif bergabung: Ir. Dery Syrna (Produser Eksekutif & Pelatih Akting), Aditiajaya Djojonegoro (Pelatih Akting), Sabrina Intan (Koreografer), serta Helmi Taher (Penata Musik & Vokal). Sementara di atas panggung, peran Si Pitung akan diperankan oleh Fachri, dengan Aisyah diperankan ganda oleh Mikaela dan Visya, serta karakter Van Hinnie oleh Vian dan Bu Zhi Dao oleh Bebby serta Sasti.
Teater Keliling: 52 Tahun Berkeliling
Di balik produksi Si Pitung, ada sejarah panjang yang menjadikan Teater Keliling sebagai salah satu institusi seni pertunjukan paling produktif di Indonesia. Grup ini lahir pada 13 Febuari 1974 di Jakarta, digagas oleh: Ir. Dery Syrna Dan Rudolf Puspa. Filosofi “keliling” bukan sekadar nama. Selama 52 tahun berkarya, Teater Keliling tercatat telah melakukan lebih dari 1.700 pementasan di seluruh provinsi Indonesia.
Tak hanya di dalam negeri, Teater Keliling juga menjadi duta budaya yang membawa nama Indonesia ke 12 negara di dunia. Mereka tampil dan menjadi peserta aktif di festival-festival seni bergengsi dunia. Selama perjalanan itu, Teater Keliling juga aktif menyerap elemen-elemen teater rakyat dari berbagai daerah di Nusantara—lalu mengolahnya dengan pendekatan modern menjadi karya-karya orisinal yang tetap berakar pada budaya bangsa.
Kunci umur panjang Teater Keliling terletak pada semangat regenerasi yang dijaga ketat. Sejak awal, grup ini dibangun seperti keluarga besar: tidak ada sekat senioritas, setiap anggota diberi ruang seluas-luasnya untuk berkembang. Pendiri yang kini berusia senja—Rudolf Puspa (79 tahun) dan Dery Syrna—masih aktif terlibat langsung dalam setiap produksi, sekaligus membimbing generasi penerus seperti Dolfry Inda Suri yang kini memegang kendali kreatif banyak pertunjukan baru.
“Keinginan untuk terus berkarya adalah dorongan yang menjaga kami tetap bergerak. Semangat itu kami bangun lewat kebersamaan sebagai keluarga, serta keyakinan bahwa setiap anak muda yang bergabung berhak menjadi apa pun yang mereka inginkan di dunia teater,” tutur Dery Syrna, pendiri sekaligus Produser Eksekutif Teater Keliling pada kesempatan talk show di konferensi pers 22 Juli lalu. Sebelum pementasan perdana pada Agustus mendatang, Teater Keliling secara resmi mengundang jurnalis media dan mitra komunitas untuk menghadiri Konferensi Pers Immortal The Musical: The Legendary Betawi “Si Pitung” tersebut.
Acara ini akan diisi dengan talkshow interaktif bersama jajaran produser, seluruh tim kreatif, serta pemeran utama. Penonton undangan juga akan disuguhi pemutaran dokumenter eksklusif tentang perjalanan panjang Rudolf Puspa bersama Teater Keliling, serta penampilan spesial cuplikan lagu dan adegan dari musikal Si Pitung secara esklusif yang belum pernah ditampilkan ke publik.
Immortal The Musical: The Legendary Betawi “Si Pitung” akan dipentaskan sebanyak 4 kali selama dua hari berturut-turut: Di hari Sabtu, 22 Agustus 2026: Pukul 14.00 WIB & 19.30 WIB dan Minggu, 23 Agustus 2026: Pukul 14.00 WIB & 19.30 WIB, di Gedung Teater Besar Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Bagi teman-teman yang berminat menonton si Pitung Teater Keliling, bisa langsung menghubungi kontak WhatsApp: +62 821 2793 7441. Email: teaterkelilingind@gmail.com dan Instagram: @teaterkelilingind.
Bagi Teater Keliling, panggung Si Pitung bulan Agustus nanti hanyalah satu babak baru dari perjalanan panjang yang belum berakhir. Seperti yang selalu mereka pegang teguh selama 52 tahun: teater bukan hanya hiburan di atas panggung—melainkan cermin masyarakat, ruang dialog, dan semangatyang terus dihidupkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Dari pelosok desa hingga gedung kesenian ibu kota, dari pentas di dalam negeri hingga panggung dunia, Teater Keliling akan terus berkeliling: membawa cerita, membawa budaya, membawa Indonesia.











