Artikel · Potret Online

Piala Dunia: Antara Panggung Edukasi dan Lapak Judi

Penulis  Tabrani Yunis
Juni 27, 2026
9 menit baca 42
IMG_1838
Foto / IlustrasiPiala Dunia: Antara Panggung Edukasi dan Lapak Judi

Oleh Tabrani Yunis

Selama ajang piala dunia berlangsung di Amerika Serikat, Canada dan Meksiko, banyak memberikan inspirasi bagi banyak orang, termasuk para penulis. Para penulis banyak mengulas soal piala dunia dari berbagai aspek dan sudut pandang. Salah satu sudut pandang atau perspektif yang digunakan adalah melihat eksistensi piala dunia dari perspektif pendidikan.

Dari perspektif pendidikan, banyak yang mencoba mengambil pelajaran dari even olahraga terbesar dari sisi positifnya yang dijadikan sebagai bentuk pembelajaran dan best practices, dalam dunia pendidikan. Sebagai contoh adalah  bagaimana dalam setiap gerak langkah, taktik, strategi serta pola tingkah dan tindakan pemain, pelatih dan bahkan penonton, menjadi pelajaran berharga dalam membangun karakter bangsa di suatu bangsa dan negara. 

Banyak perilaku dan karakter yang dijadikan best practice dalam membentuk karakter bangsa lewat pendidikan dengan melakukan interpretasi dari semua hal dalam pertandingan sepak bola di Piala dunia tersebut.

Misalnya, ada pelajaran penting tentang melatih tanggung jawab, kesabaran, kedisiplinan, ketangguhan atau pun keseriusan dan lain-lain, yang adaptif dengan dunia pendidikan di mana saja.

Pada musim piala dunia tahun ini, ada banyak penulis yang telah mengulas dan mengambil pelajaran dari event olahraga ini. Di Potretonline.com, saja sudah ada beberapa penulis yang mengulasnya.

Kaipal Wahyudi, mahasiswa Program Doktor (S3) Studi Islam, Pascasarjana UIN Ar-Raniry Banda Aceh  pada 25 Juni 2026 mengambil makna dari perhelatan piala dunia. Ia menulis sebuah tulisan berjudul” Piala Dunia: Belajar Kecintaan Tanah Air dan Kekompakan Bangsa” Katanya, di balik gol yang tercipta, sorak-sorai suporter, dan persaingan antarnegara, terdapat pelajaran besar tentang kecintaan kepada tanah air, pentingnya persatuan, semangat kerja sama, serta bagaimana sebuah bangsa membangun identitas dan kebanggaannya di hadapan dunia

Sebelumnya, pada tanggal 23 Juni 2026, Hermansyah juga mengambil banyak pelajaran. Dalam tulisannya yang berjudul 

PIala Dunia sebagai media pembelajaran soft skill” menulis seperti ini, Piala Dunia 2026 merupakan ajang sepak bola terbesar di dunia yang tidak hanya menyajikan pertandingan penuh gengsi, tetapi juga menyimpan banyak nilai pendidikan yang dapat dimanfaatkan dalam dunia sekolah. Dalam konteks pembelajaran modern, Piala Dunia dapat dijadikan sebagai media edukatif untuk mengembangkan soft skill siswa secara lebih efektif dan menyenangkan.

Nah, itulah beberapa pandangan yang melihat eksistensi piala dunia dan kontribusinya bagi dunia pendidikan.

Namun, di balik banyak pelajaran positif dan berharga tersebut, kita mungkin lupa dan terlena oleh gelegar sepak bola dunia. Sebab, Piala Dunia selalu berhasil menyihir miliaran pasang mata. Ya, ketika peluit pertama dibunyikan, dunia seolah berhenti berputar demi menyaksikan 22 pria berebut si kulit bundar. 

Gaungnya begitu dahsyat, meruntuhkan sekat-sekat perbedaan negara, ras, dan budaya. Ia bukan sekadar turnamen olahraga; Piala Dunia adalah pesta kebudayaan global sekaligus panggung pertarungan harga diri yang amat sengit.

Namun, di balik gemerlap lampu stadion dan drama lapangan hijau, Piala Dunia menyimpan dualisme wajah yang kontradiktif. Di satu sisi, ia menjelma sebagai ruang kelas raksasa yang kaya akan nilai pendidikan. Di sisi lain, ia menjadi magnet raksasa bagi dunia hitam perjudian.

Ya, tak dapat dimungkiri bahwa bagi dunia pendidikan, Piala Dunia adalah ensiklopedia hidup. Kita bisa mengajarkan banyak hal kepada generasi muda melampaui teks-teks kaku di sekolah. Kita bisa mengajarkan pelajaran karakter dari kerja sama tim, juga belajar tentang disiplin tinggi, kepemimpinan, hingga seni berlapang dada menerima kekalahan (sportsmanship)  yang tersaji secara nyata.

Bukan hanya itu, dalam konteks geopolitik dan budaya, kita dan para siswa di sekolah bisa belajar banyak melalui turnamen ini. Dalam ajang pertandingan ini, anak-anak  atau siswa belajar menghargai keberagaman, mengenal letak geografis negara-negara terjauh, hingga memahami sejarah ketegangan politik yang mencair di atas rumput hijau.

Pelajaran penting lainnya adalah belajar soal  resiliensi. Dalam turnamen itu ada banyak kisah  underdog yang menumbangkan raksasa sepak bola menjadi materi terbaik untuk mengajarkan daya juang dan mental pantang menyerah.  Pendek kata, misi pendidikan menemukan momentum emasnya setiap kali Piala Dunia bergulir, mengubah tontonan menjadi tuntunan. Jadi begitu banyak sisi positif yang bisa kita petik.

Namun, sayangnya pula  di tengah gegap gempita ini kerap kali ternoda oleh fenomena paralel yang tak kalah masif. Ketika para pemain profesional bertarung mempertaruhkan keringat dan air mata demi trofi emas, di sudut-sudut digital dan warung kopi, bahkan di rumah-rumah atau di kamar-kamar privasi, sebagian masyarakat justru sibuk mempertaruhkan nasib ekonomi mereka.

“Mereka yang di Amerika  Serikat, Canada atau atau stadion megah di Meksiko bermain bola, sementara penonton di rumah bermain judi.”

Ironis bukan? Ya memang ironis, tapi ini nyata. Disadari atau tidak, transformasi teknologi  masa kini telah mengubah lanskap perjudian sepak bola. Jika dahulu taruhan dilakukan secara sembunyi-sembunyi melalui bandar darat, hari ini judi bola telah bermutasi ke dalam berbagai bentuk dan platform digital yang sangat mudah diakses. Mulai dari aplikasi ponsel pintar, situs web luar negeri, hingga taruhan berkedok game online atau aset kripto.

Maraknya permainan judi di musim piala dunia, memberikan kesan dan pelajaran lain yang berlawanan atau paradoks dengan manfaat bagi dunia pendidikan. Keberadaan piala dunia yang mengguncang dunia dan tersedianya berbagai bentuk platform judi di media menjadi sebuah kemudahan bagi para petualang judi.

Ya, kemudahan ini juga telah memicu ilusi bahwa siapa pun bisa kaya mendadak hanya dengan menebak skor. Akibatnya, esensi dari keindahan sepak bola itu sendiri menguap, digantikan oleh kecemasan, histeria kalah-menang taruhan, dan potensi kriminalitas akibat lilitan utang.

Bila kita bertanya, siapakah para pialang judi tersebut, tentu saja para pelaku judi dalam Piala Dunia 2026 didominasi oleh sindikat internasional dan operator judi online ilegal, termasuk jaringan dari Asia Tenggara (Vietnam, China, Myanmar, Laos, Thailand) yang mungkin juga telah sempat ditangkap di Jakarta. 

Sulit rasanya kita tahu berapa besar perputaran uang dalam perjudian Piala Dunia 2026. Namun, bila kita telusuri di berbagai media, termasuk Kontan, kita dapat membaca perkiraannya. Ya diperkirakan mencapai rekor Rp892–900 triliun secara global, menjadikannya ajang taruhan terbesar sepanjang sejarah. Ini adalah perjudian di level global, yang di dalamnya juga termasuk  bangsa Indonesia. Sebab di Indonesia menurut hasil  pencarian informasi di Google, diperkirakan ada 12 juta orang terlibat dalam judi online ilegal, dengan nilai transaksi tahunan mencapai Rp280 triliun sebelum Piala Dunia. Dahsyat bukan?

Dahsyatnya permainan judi di musim piala dunia tahun 2026 ini pasti secara langsung membawa risiko dan dampak bagi masyarakat dan para pelaku judi tersebut. Secara sosial, judi bola ikut memicu kecanduan, kerugian finansial keluarga, dan kriminalitas. Secara ekonomi, dalam praktik perjudian bola ini bisa jadi dana masyarakat Indonesia mengalir ke jaringan luar negeri, merugikan ekonomi domestik yang saat ini sedang sangat terjepit di tengah persaingan ekonomi global dan tekanan nilai rupiah terhadap dolar dan mata uang lainnya di dunia. Betapa tragisnya nasib bangsa kita ketika kondisi ekonomi kita dalam keadaan sakit, pundi-pundi uang kita mengalir ke luar negeri lewat permainan judi bola. Sangat menyedihkan.

Selain itu, risiko dan dampak lain yang bisa dialami oleh masyarakat kita yang telah kecanduan judi tersebut adalah ancaman hukum.  Semua bentuk judi ilegal di Indonesia dapat dijerat KUHP dengan hukuman penjara hingga 10 tahun dan denda besar. 

Jadi, secara jernih kita bisa melihat bahwa piala dunia pada akhirnya adalah cermin masyarakat kita. Ia merefleksikan bagaimana sebuah stimulus besar bisa direspons dengan dua cara yang bertolak belakang.

Piala dunia menjadikannya inspirasi untuk bertumbuh, atau menjadikannya pintu masuk menuju destruksi finansial dan moral.

Maraknya perjudian di musim piala dunia, menyebabkan semakin sulitnya menghilangkan aksi atau tindak perjudian di Indonesia. Sehingga  upaya untuk menghilangkan perjudian sepenuhnya mungkin utopia yang sulit digapai. 

Namun, demikian kita juga harus optimis untuk memperkuat benteng edukasi dan regulasi platform digital di negeri ini. Ini adalah sebuah keharusan yang harus dilakukan oleh pemerintah. 

Kita tentu tidak ingin esensi luhur dari olahraga ini tenggelam oleh hiruk-piruk angka taruhan. Sudah saatnya kita mengembalikan Piala Dunia kepada khitahnya: sebuah pesta seni olah bola yang menginspirasi, menyatukan, dan mendidik. Biarlah drama dan pertarungan sengit itu hanya terjadi di atas rumput hijau, bukan di saldo rekening para penjudi yang belum tentu mengantarkan para penjudi pada posisi sebagai orang kaya baru, termasuk kemungkinan terlibatnya insan pendidikan, yang harus segera disikapi oleh dunia pendidikan.

Keterlibatan insan pendidikan—baik guru, dosen, maupun siswa—dalam pusaran judi Piala Dunia adalah tamparan keras bagi dunia pendidikan. Ketika lembaga yang seharusnya menjadi benteng moral justru kebobolan, oleh sebab itu, institusi pendidikan tidak boleh sekadar menjadi pemadam kebakaran yang bertindak setelah ada kasus.

Dunia pendidikan harus mengambil langkah konkret melalui pendekatan sistemis, edukatif, dan humanis.  Salah satu cara untuk menyikapinya ada dengan melakukan dekonstruksi paradoks. Yakni mengubah analisis data menjadi literasi finansial. Ini penting mengingat bahwa salah satu alasan insan pendidikan terjebak judi bola (terutama platform digital) adalah adanya ilusi computational thinking. Mereka merasa bisa memprediksi hasil pertandingan berdasarkan statistik, performa pemain, dan data historis.

Kedua, sejalan dengan fungsi lembaga pendidikan  menjalankan fungsi edukatif/ Sekolah dan kampus  di sini harus masuk ke celah ini. Masukkan materi literasi finansial dan teori peluang (probabilitas) yang nyata dalam kurikulum. Jelaskan secara matematis dan logis mengapa “bandar selalu menang” (the house always wins).

Lembaga-lembaga pendidikan juga harus mampu mengubah ruang kelas menjadi tempat membedah algoritma judi online agar siswa/mahasiswa paham bahwa mereka bukan sedang menguji keahlian analisis sepak bola, melainkan sedang dijebak oleh sistem yang dirancang untuk memiskinkan mereka.

Lembaga pendidikan harus mengajak para siswa melalui   harus merebut kembali makna piala dunia di lingkungan sekolah. Mungkin jika selama ini sekolah hanya membiarkan euforia Piala Dunia menggelinding liar, sekolah harus mengondisikannya melalui kegiatan produktif. Misalnya, mengadakan kompetisi menulis esai taktik bola, analisis sport science, atau menyelenggarakan turnamen olahraga internal yang menekankan nilai fair play. Selain itu, sekolah atau lembaga pendidikan bisa mengalihkan  fokus dari “siapa yang menang dan berapa skornya” (yang memicu taruhan) menjadi “bagaimana proses mereka menang”.

Kemudian, Karena judi Piala Dunia saat ini mayoritas berbasis aplikasi dan platform digital, maka sekolah harus memperketat infrastruktur digitalnya. Misalnya dengan memblokir jaringan Wi-Fi sekolah dari akses situs judi dan aplikasi ekosistemnya. Dan juga tidak kalah penting adalah melakukan edukasi gawai, bukan sekadar melarang membawa HP, tetapi mengadakan sidak atau edukasi berkala mengenai bahaya jejak digital dan aplikasi ilegal. Selanjutnya , ketika insan pendidikan (terutama siswa atau guru) sudah terlibat, hukuman langsung sering kali justru memicu depresi yang memperburuk keadaan (misalnya terjerat utang pinjaman online untuk menutupi kekalahan judi).

Satu hal lagi adalah sekolah harus menyediakan layanan bimbingan konseling (BK) yang responsif dan rahasia untuk mengatasi kecanduan judi (gambling addiction) dan lain -lain.

Jadi  Dunia pendidikan tidak boleh kalah cerdas dari algoritma bandar judi. Menyikapi fenomena ini berarti mendidik siswa dan guru untuk melihat sepak bola dengan kacamata yang jernih: sebagai karya seni budaya dan olahraga, bukan sebagai mesin slot pemenuh keserakahan.

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Bio Narasi Tabrani Yunis, kelahiran Manggeng, Aceh Barat Daya, Aceh berlatarbelakang profesi seorang guru bahasa Inggris, mulai  aktif menulis di media sejak pada medio Juni 1989. Aktif mengisi ruang atau rubrik opini di sejumlah media lokal dan hingga nasional. Menulis artikel, opini, essay dan puisi pilihan hidup yang  kebutuhan hidup sehari-hari. Telah menulis, lebih 1000 tulisan berupa opini, esası dan puisi yang telah publikasikan di berbagai media.Menerbitkan 2 buku, yang merupakan kumpupan tulisan dalam buku Membumikan Literasi dan buku antologi puisi “ Kulukis Namamu di Awan” Aktif terlibat dalam  membangun gerakan literasi anak negeri sejak tahun 1990 terutama di kalangan perempuan dan anak. Bersama mendirikan LP2SM ( Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Sumber daya Manusia) dan di tahun 1993 mendirikan Center for Community Development and Education (CCDE). Lalu, sebagai Direktur CCDE membidani terbitnya Majalah POTRET (2003) dan majalah Anak Cerdas (2013). Kini aktif mengelola Potretonline.com dan majalahanakcerdas.com, sambil mempraktikkan kemampuan entreneurship di POTRET Gallery, Banda Aceh
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...