Esai · Potret Online

Negeri yang Mencetak Sarjana Makin Banyak, Tapi Lapangan Kerja Makin Sempit

Penulis  Ririe Aiko
April 14, 2025
2 menit baca 262
Negeri yang Mencetak Sarjana Makin Banyak, Tapi Lapangan Kerja Makin Sempit - 47ca5b0e def8 43b4 83cb 0f1f061c92ec | # Ironi | Potret Online
Foto / IlustrasiNegeri yang Mencetak Sarjana Makin Banyak, Tapi Lapangan Kerja Makin Sempit

Oleh : Ririe Aiko

Di Indonesia, gelar sarjana sudah menjadi semacam barang massal: mudah diperoleh, murah promosi, mahal ekspektasi. Setiap tahun, perguruan tinggi negeri dan swasta ramai-ramai melepas lulusan bak pabrik melepas produk baru. Iklan pendidikan bertebaran di mana-mana: “Kuliah 3,5 tahun, langsung kerja!”, “Bersertifikat internasional!”, “Garansi karir cemerlang!” padahal realitasnya, banyak lulusan justru langsung menyandang gelar baru: “Pengangguran Dengan Tumpukan Prestasi Akademis.”

Sementara itu, pertumbuhan lapangan kerja tidak mampu mengejar laju pertumbuhan lulusan. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) 2024, tingkat pengangguran terbuka (TPT) untuk lulusan perguruan tinggi mencapai 6,18 persen, angka yang lebih tinggi dibandingkan lulusan SMA (5,48 persen) atau bahkan SMP (5,39 persen). Ironis? Tentu saja. Di negeri ini, investasi pendidikan bisa berujung pada investasi kekecewaan: biaya kuliah ratusan juta, waktu bertahun-tahun, berakhir dalam antrean panjang mencari kerja yang tak kunjung ada.

Di dunia kerja, seorang fresh graduate dihadapkan pada syarat mustahil: pengalaman minimal 2-5 tahun untuk posisi junior. Logikanya sederhana: kami baru lulus karena kuliah, bukan karena sempat magang di tujuh perusahaan sekaligus sambil menyusun skripsi dan mengejar IPK sempurna. Tapi dunia nyata tidak butuh logika, ia butuh pengalaman yang entah harus dicari di mana, kalau semua pintu mengunci dengan kunci yang sama.

Pemerintah dan institusi pendidikan seolah berlomba mengadakan wisuda akbar, berfoto dalam toga, melempar topi ke udara namun jarang menyediakan jembatan konkret ke dunia kerja. Bursa kerja memang ada, tetapi sebagian besar dipenuhi lowongan magang tidak dibayar, pekerjaan kontrak jangka pendek, atau posisi dengan syarat multitasking ekstrem: mahir desain grafis, copywriting, digital marketing, editing video, memahami SEO, public speaking, riset pasar, bahkan administrasi keuangan, semua dengan gaji yang, kalau dihitung-hitung, lebih kecil dari biaya bensin dan kopi harian.

Tak heran, banyak sarjana akhirnya banting setir: berjualan online, membuka jasa freelance, menjadi driver ojek online, atau sekadar mencari ketenaran di TikTok dengan harapan rezeki viral mengetuk. Ini bukan sekadar cerita individu, ini potret negara yang kehilangan potensi besar. Kita mencetak manusia berpendidikan tinggi, tapi tak menyediakan ladang bagi kecerdasan mereka tumbuh.

Yang lebih miris, solusi dari sebagian pihak adalah memperbanyak pelatihan-pelatihan bersertifikat. Seakan-akan, menumpuk sertifikat bisa mengalahkan kenyataan bahwa lowongan kerja tetap sempit, sementara persaingan semakin brutal. Pelatihan tanpa ekosistem kerja yang siap menampung lulusan hanyalah menunda waktu kecewa.

Indonesia tidak kekurangan sarjana. Yang kita kekurangan adalah ekosistem ekonomi yang mampu menampung, memanfaatkan, dan mengoptimalkan mereka.

Pabrik sarjana terus beroperasi siang malam, mengejar akreditasi dan target kelulusan. Tapi pabrik lapangan kerja? Masih dalam tahap groundbreaking.

✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan esai ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi memberikan ruang ekspresi tanpa intervensi isi.
Tentang Penulis
Ririe Aiko adalah seorang penulis dan pegiat literasi asal Bandung yang dikenal karena konsistensinya dalam menyuarakan isu-isu kemanusiaan melalui karya sastra, khususnya puisi esai. Sejak remaja, ia telah menjadikan dunia menulis sebagai rumahnya. Ia mulai dikenal pada 2006 lewat karya pertamanya Senorita yang memenangkan Lomba Penulisan Naskah TV di Tabloid Gaul dan kemudian diadaptasi menjadi FTV oleh salah satu stasiun televisi nasional. Perjalanan kepenulisan Ririe berakar dari genre horor dan roman, dua dunia yang memberinya ruang untuk menggali sisi gelap dan getir kehidupan. Cerpen-cerpen horornya bahkan sering menjadi trending dan memenangkan penghargaan di berbagai platform, termasuk Arum Kencana yang menjuarai lomba cerpen Elex Novel. Namun di tengah jejak panjang fiksi populernya, Ririe justru menemukan makna baru dalam genre puisi esai—sebuah ruang tempat ia bisa bersuara lebih lantang tentang luka sosial, ketidakadilan, dan harapan yang tertindas. Pada 2024, Ririe menerbitkan buku antologi pertamanya yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama berjudul KKN, sebuah karya kolaboratif yang mempertemukannya dengan pembaca lebih luas. Setahun kemudian, ia menerbitkan buku puisi esai mini bertajuk Sajak dalam Koin Kehidupan (2025), sebagai tonggak awal perjalanannya menapaki genre puisi esai secara lebih mendalam. Tak berhenti di sana, ia menantang dirinya untuk menulis puisi esai setiap hari selama 30 hari di bulan Ramadhan—yang kini tengah dirangkai menjadi buku puisi esai mini bertajuk Airmata Ibu Pertiwi. Ririe juga merupakan Founder Gerakan Literasi Bandung, sebuah inisiatif yang bertujuan menumbuhkan kembali kecintaan anak-anak terhadap buku di era digital. Melalui program berbagi buku, kelas kreatif, dan kegiatan literasi berbasis komunitas, ia membangun jembatan antara dunia literasi dan tantangan teknologi masa kini. Selain menulis, Ririe aktif sebagai kreator video berbasis Artificial Intelligence, menjelajah cara-cara baru dalam menyampaikan pesan melalui medium visual. Baginya, menulis bukan sekadar merangkai kata, melainkan menyalakan cahaya kecil di tengah gelapnya kenyataan—cara untuk berdamai, berjuang, dan tetap bertahan di dunia yang sering kali bisu terhadap suara-suara kecil.
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...