Senin, April 20, 2026

Jendela Istana Hamatisa

Jendela Istana Hamatisa - 8b359df9 a317 4c6d b547 28d9caea1448 | Artikel | Potret Online
Ilustrasi: Jendela Istana Hamatisa

Bagian kedua

Oleh Teuku Masrizar

Berdomisili di Tapaktuan, Aceh Selatan

Raja Kreobot semakin bigung menghadapi situasi negeri yang serba sulit. Tidak saja pendapatan negeri anjlok akibat produksi dalam negeri menurun dan tidak diterima di pasar luar negeri. Karena Padi dan tembakau dua komoditi unggulan dan andalan Hamatisa produktifitasnya menurun. Kondisi politik pun semakin carut marut. Seakan negeri Hamatisa ada kekuatan lain yang mengendalikan di luar kekuasaan raja.

Laban sang adik sebagai pengeran di Negeri Hamatisa yang diangkat sebagai kepala BUNH (Badan Usaha Negeri Hamatisa) memiliki kebiasaan berfoya-foya, hedon. Bisa jadi salah satu penyebab merosotnya pendapatan negeri. Pangeran Laban sebenarnya orang cerdas, luwes dalam bergaul serta mendapatkan pendidikan luar negeri seharusnya dapat diandalkan dalam membantu pemerintahan dan pembangunan negeri Hamatisa, namun karena prilaku dan moralitas orang sekililingnya sangat mempengaruhi kebijakan untuk memajukan BUNH.

Tiada hari tanpa pesta, itu gambaran tepat untuk sosok Pangeran Laban. Bersama para direktur dan kepala unit-unit usaha dibawah BUNH sering melakukan lawatan luar negeri membangun hubungan diplomatik dan kerjasama dagang. Namun tak satupun negara yang tertarik diplomatik ala Laban. Hanya alasan semata, sesungguhnya sang pangeran hanya untuk jalan-jalan, berfoya-foya dan menghabiskan uang negeri Hamatisa. Pada gilirannya tidak satu negerapun yang mau mengikat kerjasama ekspor-impor baik padi atau tembakau, karena kualitas, keberlanjutan dan rantai pasoknya panjang sehingga harga eksport diatas rata-rata negara lain.

Sementara infrastruktur pendukung komoditi padi dan tembakau semakin menurun karena usia dan akibat bencana alam. Lahan-lahan pertanian dan irigasi rusak. Pasokan air menurun dan alat produksi pertanian semakin berkurang. Sementara mesin pertanian pun semakin tua dan rusak. Lengkap sudah derita Hamatisa.

Disisi lain daya beli masyarakat menurun, beras langka dan mahal. Untuk mendapatkannya harus antri. Pusat perbelanjaan dan pasar kurang pembeli, warung-warung banyak tutup. Sebagian karyawan di pabrik rokok malrborok terkena pehaka. Cukup ruwet masalah Hamatisa.

Raja Kreobot memanggil adiknya Laban, minta pandangan menghadapi situasi sulit ini. Laban memberikan dua strategi untuk memperbaiki situasi dan kondisi, pertama, minta izin melakukan kunjungan lawatan ke beberapa negara untuk mendapatkan bantuan pinjaman, kedua, mengantikan para pembantu dan kabinet negeri Hamatisa. Kreobot sepakat dengan gagasan adiknya, dan memerintah adiknya untuk berangkat mendapatkan pinjaman dan bantuan luar negeri.

Keesokan harinya pangeran Laban beserta rombongan melakukan perjalanan untuk mendapatkan bantuan dan pinjaman dari negara luar. Kali ini tujuannya adalah negara-negara maju yang belum pernah didatanginya. Alhasil negara-begara maju tidak dapat diyakinkan, pinjaman dan bantuan belum dapat dibawa ke negeri Hamatisa, banyak uang yang dihabiskan hanya sekedar kunjungan wisata saja. Fasilitas mewah dengan biaya tinggi menjadi sia-sia akibat komunikasi dan diplomasi yang tidak baik.

Raja Kreobot semakin tersudut, aksi protes dan demo terjadi setiap hari. Solusi mengatasi keterpurukan ekonomi belum juga didapat. Tidak ada pilihan lain bongkar kabinet untuk mengalihkan issue ekonomi. Keesokan harinya Kreobot melakukan komprensi pers, semua media diundang. Dia menjelaskan kondisi ini disebabkan ketidakmampuan para pembantunya dalam menjalankan tugas dan kewenangan dibidang masing-masing. Banyak pejabat akan segera diganti.

Raja Kreobot sangat cemas dengan situasi yang sangat buruk dan sulit terkendali ini. Harus cepat, Dia tidak lagi menggunakan standar dan skema pergantian pejabatnya. Harus segera.

Kembali Raja Kreobot menikmati kopi pahit dan kepulan marlborok didepan jendela istana, dia melayangkan pandangannya. Jauh disana terlihat sawah-sawah kering, kebun tembakau merangas dan lereng-lereng bukit yang tandus. Dia menghela nafas perlahan sembari menarik sebatang marlborok dari bungkusnya. Tak terlalu jauh dari jendela banyak yang sedang seruput kopi sambil berkelakar dengan sesekali terdengar mereka tertawa kecil, takut terganggu raja.

Daripada buang waktu, lebih baik mereka diluar jendela saja yang akan menggantikan pejabat sekarang, guman Kreobot dalam hati. Tanpa pokir panjang dan mekanisme administrasi, siangnya Raja Kreobot mengganti dan melantik pejabat lama dengan pejabat baru. Ternyata Jendela Istana begitu bermakna bagi negeri Hamatisa

Catatan :
NEGERI HAMATISA (Hana Maju Tinggay Sabee) sebuah negeri imajiner

Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Teuku Masrizar Peminat Lingkungan, berdomisili di Tapaktuan, Aceh Selatan

Diskusi

Upload foto profil kecil (opsional)
Preview avatar
Memuat komentar...

Terbaru

Artikel terbaru untuk dibaca

Populer

Artikel yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Add New Playlist