Opini · Potret Online

Serius lah Membangun Budaya Literasi Anak Negeri

Penulis  Tabrani Yunis
Mei 9, 2026
8 menit baca 2
48d7d57b-a685-47a6-bf7f-8bf53ffac0d0
Foto / IlustrasiSerius lah Membangun Budaya Literasi Anak Negeri

Oleh Tabrani Yunis

Di negeri kita Indonesia ini, banyak sekali kondisi kehidupan masyarakat kita yang terasa masih sangat miris . Berbagai cerita pilu masih menyelimuti bangsa ini. Cerita kemiskinan yang diwarnai geliatnya para koruptor, ketidakadilan, kemunduran demokrasi dan lain-lain. Padahal, dilihat dari perjalanan usia negeri ini, bangsa Indonesia sudah menikmati  kemerdekaan selama hampir 81 tahun. Namun banyak sekali cerita kehidupan bangsa yang tidak sejahtera dan bahkan diusir oleh kepala negara kalau tak suka dengan penguasa.

Selain itu, satu masalah bangsa yang tampaknya  sangat rumit dan tak pernah mampu terurai adalah masalah literasi yang berdampak pada segala sektor kehidupan. Kita melihat masalah literasi anak bangsa  Indonesia masih sangat serius. Namun, belum tentu di mata pemerintah. 

Padahal,berbagai survey dan  penelitian telah  mengingatkan bangsa ini bahwa kini lebih dari 70% siswa memiliki kemampuan membaca rendah. Rasanya malu lah kita membaca fakta yang diungkap PISA ini. Bukan hanya itu,  lebih dari sepertiga anak mengalami learning poverty (tidak mampu memahami teks sederhana pada usia 10 tahun). Bukan hanya itu. Masih banyak fakta miris yang belum kita paparkan.

Ya, kondisi ini menunjukkan krisis literasi anak negeri masih  belum ditangani dengan sungguh-sungguh oleh pemerintah maupun masyarakat kita sebagai bagian dari pembangunan bangsa ini.  Padahal, seperti dikatakan di atas bahwa selama ini sudah banyak fakta yang mengungkap tentang kemampuan literasi anak negeri. 

Kita bisa menyimak data yang telah sering kita gunakan dikeluarkan oleh  PISA 2018: Indonesia berada di peringkat 72 dari 79 negara dengan skor rata-rata membaca 371, jauh di bawah rata-rata OECD 487. 

Bank Dunia juga telah mengingatkan bahwa semakin besar jumlah anak negeri yang mengalami Learning Poverty. Ya, menurut Bank Dunia mencatat bahwa lebih dari 1/3 anak Indonesia tidak mampu membaca dan memahami teks sederhana pada usia 10 tahun.  Ironis bukan? Tentu saja sangat ironis. Apalagi bila ditambah dengan angka di atas usia 10 tahun? Semakin besar jumlahnya.

Kemudian, kendati kita tidak lagi mengukur kualitas pendidikan kita dengan ujian nasional ( UN),  kita masih bisa menggunakan data hasil ujian nasional yang telah dihapus itu, ada fakta lain bahwa rata-rata nilai hanya 49,5 dari 100, di bawah ambang kelulusan 55.  

Bahkan bila membaca data terkini dengan alat ukur TKA ( tes kamampuan akademik) juga memberikan fakta baru betapa rendahnya kemampuan literasi dan numerasi anak-anak setingkat SMA. Bayangkan saja, rata-rata nasional mata pelajaran Matematika SMA berada di angka 36,10 dan Bahasa Inggris di 24,93 dan bahkan bahasa Indonesia serta pelajaran IPS. Artinya ini adalah masalah serius yang tidak boleh diabaikan oleh pemerintah yang bermimpi mencerdaskan bangsa ini.

Tentu, semua kondisi di atas tidak secara serta merta tanpa sebab. Harus diakui bahwa semua ini bermuara pada rendahnya kemampuan literasi yang ditandai oleh rendah atau kurang keterampilan untuk melakukan penalaran.  

Fakta miris bahwa banyak siswa kurang mampu memahami, menginterpretasi, inferensi dan tidak mampu memecahkan masalah kontekstual dan tak mampu memberikan tawaran solusi.

Rendahnya nilai TKA juga sebagai akibat dari rendahnya kemampuan dasar membaca (literasi) dan logika matematis (numerasi) siswa masih perlu ditingkatkan agar bisa mencerna soal-soal tingkat tinggi.

Apalagi, selama ini model atau format soal yang diberikan kepada siswa di sekolah, sudah tidak membiasakan siswa dengan  format dan tingkat kesulitan soal-soal TKA yang menguji daya analitis.  Jadi, semakin parah, bukan?

Ya, semakin parah tentunya. Bagaimana tidak? Materi yang diajarkan terkadang belum sepenuhnya melatih kemampuan berpikir, apalagi berfikir kritis. Ya, bagaimana kita berharap para siswa bersikap kritis?

Agaknya, bila kita mau menggali lebih dalam lagi, masih banyak fakta lain, tentang kemampuan literasi anak negeri ini yang membuat kita semakin gusar dan gelisah. Sehingga tidaklah salah apabila banyak pertanyaan muncul. 

Logis sajalah ya.  bagaimana  anak bangsa bisa cerdas, ketika kemampuan memahami bacaan saja masih rendah? Ya, begitu banyak fakta mengenaskan yang menceritakan tentang

anak-anak Indonesia  yang hanya bisa membaca huruf, tetapi tidak memahami isi teks (functional reading). 

Kemampuan memahami isi bacaan yang rendah juga terkait dengan kemampuan berbahasa yah yang masih berbalut masalah. Bayangkan, bagaimana kemampuan literasi akan meningkat, ketika penguasaan bahasa masih juga lemah?  Memang kelihatannya sulit bagi  mebayangkan bagaimana ketika anak Indonesia  belum menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi efektif untuk menyampaikan gagasan dan argumen logis.

Sayangnya ketika kondis literasi itu masih belum mampu bangkit dan berkembang, di tengah gempuran kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, terjadi kejadian serius yakni menurunnya minat membaca saat kemampuan literasi, numerasi dan sains pun masih belum meningkat. Jadi layunya minat membaca sebelum berkembangnya kemampuan membaca adalah masalah serius yang harus segera diantisipasi. Hal ini semakin buruk ketika  banyak siswa dan masyarakat kurang santun dalam berbahasa di media sosial, menunjukkan lemahnya literasi digital.

Semua masalah ini membawa dampak besar bagi masa depan bangsa ini. Kondisi yang mengantarkan generasi bangsa ini ke jurang kehancuran yang tragis. Sebab banyak sekali dampak yang dibawa. Dampak-dampak negatif yang bisa berupa kesulitan untuk  bersaing di era global, karena rendahnya kualitas SDM. 

Bahkan kini, dampak langsung yang kdialami oleh anak bangsa ini adalah rentannya generasi bangsa ini terhadap hoaks dan disinformasi karena lemahnya kemampuan analisis informasi. Semua ini mengantarkan generasi bangsa ke gerbang kehancuran.

Dikatakan demikian, karena  realitas ketidakmampuan berpikir kritis, menghambat partisipasi aktif dalam demokrasi dan pembangunan. Tentu masih sangat banyak dampak lain yang mendera bangsa ini, ketika masyarakat Bangsa Indonesia masih rendah kemampuan literasi. 

Oleh sebab itu, mengingat buruknya dampak yang ditimbulkan oleh rendahnya kemampuan literasi numerik dan sains anak bangsa ini, pemerintah harus serius membangun kemampuan literasi anak negeri. Masalah rendahnya kemampuan literasi, numerasi dan sains adalah akar atau root problem Bangsa Indonesia.

Kiranya kondisi buruk di atas, tidak seharusnya kita pertahankan atau tidak layak untuk dibiarkan. Semua fakta dan data di atas hendaknya membuka mata hati pemerintah untuk mengatasi masalah rendahnya kemampuan literasi, numerasi dan sains anak bangsa ini. Karena itu,fakta-fakta di atas harus kita fahami dan dianalisis secara lebih mendalam. 

Indonesia harus bangkit dari  kemiskinan literasi, numerasi dan sains, bila ingin duduk sejajar denga negara-negara lain yang sudah lebih duluan maju.  Semua ketinggalan, ketertinggalan harus diperbaiki. Segala kondisi buruk yang menyelimuti bangsa ini, harus diatasi secara sungguh-sungguh.  Meningkatkan kemampuan literasi adalah kerja-kerja meningkatkan kualitas SDM yang kini masih rendah. 

Kinilah saatnya pemerintah menyatakan “Perang “ terhadap kemiskinan literasi agar kebodohan yang akan menghancurkan bangsa ini, bisa diantisipasi. Literasi sebagai akar masalah adalah hal yang harus dengan segera dan serius dibangun oleh pemerintah dan masyarakat Indonesia. 

Perang terhadap kemiskinan literasi, numerasi dan sains adalah kunci dalam membangun bangsa yang beradab dan berwibawa. Karena sesungguhnya musuh terbesar dari bangsa Indonesia saat ini adalah kemiskinan literasi yang berwujud kebodohan. Oleh sebab itu,  semua pihak yang ada di negeri ini punya kewajiban untuk memerangi kemiskinan  dan kebodohan tersebut. 

Tentu banyak cara untuk memerangi kemiskinan dan kebodohan itu yang disebabkan oleh rendahnya kemampuan literasi, numerasi dan sains tersebut.  pemerintah dan segenap elemen bangsa harus secara bersama membangun kemampuan literasi,numerasi dan sains anak-anak negeri ini. Jalur pendidikan formal  adalah jalan utama dari semua itu.

Membangun gerakan literasi adalah sebuah keniscayaan untuk bisa meningkatkan kualitas pendidikan yang merata. Hal ini tentu harus dengan melibatkan lembaga-lembaga pendidikan formal secara menyeluruh dan terpadu. 

Pemerintahan sudah bukan saatnya menjadikan sektor pendidikan sebagai komoditas politik semata. Sebab bila pendidikan dijadikan komoditas, biasanya akan melahirkan proses penanganan yang sangat politis dan berorientasi pada kekuasaan, bukan untuk kepentingan bangsa dan negara.

Sebab, pemerintah sebagai pemegang tanggung jawab pembangunan bangsa, harus terus membangun budaya literasi di tengah masyarakat. Pemerintah harus secepatnya membangun dan menyediakan sumber belajar yang memadai, serta mendorong semua fasilitas yang sudah ada, terutama perpustakaan sekolah agar difungsikan dan dilakukan revitalisasi perpustakaan secara maksimal. Memungsikan semua taman bacaan, Pusat kegiatan belajar masyarakat, serta perpustakaan desa adalah salah satu cara untuk membangun budaya literasi ini. 

Satu cara yang jitu untuk menimbulkan minat membaca dan kemampuan literasi secara massal, di lembaga-lembaga pendidikan formal dan non formal adalah lewat perubahan metodologi pembelajaran yang dilakukan oleh guru setiap kali masuk mengajar di ruang kelas. Oleh sebab itu, pemerintah juga harus melatih para guru untuk menguasai metodologi pembelajaran berbasis kegiatan literasi.

Tentu masih banyak cara lain,  bila pemerintah mau serius membangun gerakan literasi tersebut. Seperti kata orang bijak, “there are many ways to heaven. Jadi, jangan pernah berhenti membangun budaya literasi untuk membangun Indonesia yang berkualitas dan berdaya saing tinggi. Bangkitlah Indonesia, kejar ketertinggalan. Selayaknya kita malu terus -terusan menjadi orang miskin literasi dan numerasi yang terus kalah bersaing serta tak mampu mengatasi masalah hidup 

✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Artikel ini merupakan tulisan opini. Isi sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mencerminkan pandangan resmi Redaksi Potret Online.
Tentang Penulis
Bio Narasi Tabrani Yunis, kelahiran Manggeng, Aceh Barat Daya, Aceh berlatarbelakang profesi seorang guru bahasa Inggris, mulai  aktif menulis di media sejak pada medio Juni 1989. Aktif mengisi ruang atau rubrik opini di sejumlah media lokal dan hingga nasional. Menulis artikel, opini, essay dan puisi pilihan hidup yang  kebutuhan hidup sehari-hari. Telah menulis, lebih 1000 tulisan berupa opini, esası dan puisi yang telah publikasikan di berbagai media.Menerbitkan 2 buku, yang merupakan kumpupan tulisan dalam buku Membumikan Literasi dan buku antologi puisi “ Kulukis Namamu di Awan” Aktif terlibat dalam  membangun gerakan literasi anak negeri sejak tahun 1990 terutama di kalangan perempuan dan anak. Bersama mendirikan LP2SM ( Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Sumber daya Manusia) dan di tahun 1993 mendirikan Center for Community Development and Education (CCDE). Lalu, sebagai Direktur CCDE membidani terbitnya Majalah POTRET (2003) dan majalah Anak Cerdas (2013). Kini aktif mengelola Potretonline.com dan majalahanakcerdas.com, sambil mempraktikkan kemampuan entreneurship di POTRET Gallery, Banda Aceh
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...