Selasa, April 14, 2026

Kritikus, Antikritik dan Kritik

90e31710-77d8-4737-96a8-75d78fe59c67
Ilustrasi: Kritikus, Antikritik dan Kritik

Oleh ReO Fiksiwan

„…sebuah publik yang mencoba hidup tanpa kritik, dan hanya mengklaim tahu apa yang disukai, akan membiarkan seni menjadi brutal dan kehilangan memori kulturalnya.” — Northrop Frye(1913-1991), Anatomy of Criticism: Four Essays(1957).

Kritik sastra yang bertolak dari kritik sang kritikus atas karyanya sendiri selalu menyingkap paradoks antara niat pencipta dan nasib teks.

Franz Kafka, di ambang ajalnya pernah berpesan, kepada karibnya, Max Brod, agar manuskripnya dibakar.

Bahkan salah satunya, karya monumental Der Prozess yang selamat karena Max Brod menolak permintaan itu dan mengedit hingga terbit.

Di sini, kritik sastra menemukan model disiplin yang paling mumpuni: karya yang ingin dimusnahkan justru menjadi bahan renungan abadi.

Sejarah istilah „criticism“, akhirnya menunjukkan perkembangan makna yang kaya.

Kata “kritik” berasal dari bahasa Yunani kritikos yang berarti “hakim” atau “pembeda,” dari akar kata kerja krinō yang berarti “menilai, memisahkan, membedakan.”

Sejak awal, kritik dimaknai sebagai kemampuan untuk menilai secara rasional, bukan sekadar mencari kesalahan.

Pada abad ke-17, dalam bahasa Inggris, “criticism” digunakan untuk menyebut tindakan menilai kualitas atau merit suatu karya, terutama dalam sastra dan seni.

John Dryden pada 1677 menegaskan bahwa kritik bukanlah sekadar mencari cacat, melainkan “standar untuk menilai dengan baik,” dengan tujuan mengamati keunggulan yang dapat menyenangkan pembaca yang rasional.

Dalam tradisi Yunani klasik, kritik erat kaitannya dengan filsafat dan retorika.

Socrates, Plato, dan Aristoteles menekankan pentingnya berpikir kritis, logika, dan dialektika untuk menguji gagasan dan keyakinan. Seiring waktu, istilah kritik berkembang dalam berbagai disiplin.

Dalam sastra, muncul “kritik tekstual” pada abad ke-17 yang berfokus pada keaslian dan sejarah teks.

Pada abad ke-18 dan ke-19, kritik sastra menjadi cabang akademik yang mapan, dengan tokoh-tokoh seperti Lessing, Coleridge, dan Matthew Arnold yang menekankan fungsi kritik sebagai penuntun moral dan estetika.

Di abad ke-20, kritik meluas ke ranah teori budaya, politik, dan ideologi, sebagaimana terlihat dalam karya Edward Said yang menegaskan bahwa kritik sastra harus menghubungkan teks dengan dunia sosial dan politik.

Dengan demikian, etimologi dan sejarah kritik memperlihatkan transformasi dari sekadar “menilai” menjadi praktik intelektual yang kompleks.

Kritik bukan hanya soal estetika, melainkan juga soal moral, politik, dan sosial.

Ia berfungsi sebagai jembatan antara teks dan dunia, antara gagasan dan realitas, serta antara individu dan masyarakat.

Kritik, dalam pengertian filosofis, adalah upaya terus-menerus untuk membedakan, menilai, dan memahami, sehingga menjadi bagian integral dari perkembangan budaya dan peradaban.

Kritik atas karya sendiri, dalam kasus Kafka, adalah bentuk antikritik yang menolak keterikatan teks dengan dunia, tetapi ironisnya justru membuka ruang bagi kritik sastra untuk hidup.

Selain Kafka, cerpen Kritikus Adinan karya Budi Darma dapat dibaca sebagai resonansi atas paradoks itu.

Tokoh Adinan, yang berperan sebagai kritikus, mempertanyakan keadilan dan otoritas, tetapi terjebak dalam absurditas yang ia ciptakan sendiri.

Kritik yang ia lontarkan tidak menghasilkan kejelasan, melainkan memperlihatkan rapuhnya konstruksi sosial.

Dengan gaya absurd dan ironis, Budi Darma seakan menegaskan bahwa kritik terhadap sistem sosial dan politik bisa berakhir dalam kebisuan, sama seperti pesan Kafka yang ingin membakar manuskripnya.

Kritik atas karya sendiri, dalam hal ini, menjadi refleksi tentang keterbatasan manusia menghadapi sistem yang lebih besar.

Deleuze dan Guattari dalam Anti-Oedipus menolak psikoanalisis tradisional dan memperkenalkan konsep mesin hasrat.

Hasrat, bagi mereka, adalah energi produktif yang bekerja dalam jaringan sosial, ekonomi, dan politik.

Kritik terhadap Freud adalah kritik atas disiplin yang membatasi hasrat pada figur keluarga inti.

Dengan demikian, Anti-Oedipus adalah antikritik terhadap psikoanalisis, tetapi sekaligus membuka jalan bagi kritik baru yang lebih politis.

Sama seperti Kafka dan Budi Darma, Deleuze dan Guattari menunjukkan bahwa kritik atas karya sendiri atau disiplin sendiri dapat melahirkan horizon baru.

Edward Said dalam The World, the Text, and the Critic menegaskan bahwa kritik sastra tidak bisa dilepaskan dari dunia sosial dan politik.

Fungsi kritikus adalah menghubungkan teks dengan dunia, bukan sekadar menafsirkan teks secara internal.

Kritik atas karya sendiri, dalam perspektif Said, adalah bentuk tanggung jawab moral dan politis, karena teks selalu berinteraksi dengan realitas.

Dengan demikian, kritik sastra adalah praktik intelektual yang bersifat politis, sama seperti keputusan Max Brod yang menolak membakar manuskrip Kafka, atau Budi Darma yang menghadirkan absurditas dalam cerpennya.

Keseluruhan refleksi ini menunjukkan bahwa kritik atas karya sendiri adalah bentuk antikritik yang justru memperkuat kritik sastra.

Kafka, Budi Darma, Deleuze dan Guattari, serta Said sama-sama menyingkap bahwa teks tidak pernah berdiri sendiri.

Ia selalu berhubungan dengan dunia, dengan sistem sosial, dengan hasrat, dan dengan kekuasaan.

Kritik sastra, dalam filsafat ini, bukan sekadar analisis estetika, melainkan pergulatan ide dan gagasan yang terus hidup meski penciptanya ingin mematikannya.

coverlagu:

Single “Anti Kritik” dari Jaka Musik resmi dirilis pada 5 Maret 2025 dengan durasi 2 menit 50 detik.

Lagu ini tersedia di platform digital seperti Amazon Music dan menjadi bagian dari eksplorasi musik independen Jaka Musik.

credit foto diunggah dari kanal Youtube KRITIKUS ADINAN : BUDI DARMA – RASA K.

@sigitsusanto7088; Deleuze & Guattari: Anti-Oedipus on Schizoanalysis versus Capitalism
PlasticPills dan @EnglishLite…andLanguage
Subscribe the American Comparative ,
The World, the Text, and the Critic.

Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
ReO Fiksiwan
Majalah Perempuan Aceh

Diskusi

Upload foto profil kecil (opsional)
Preview avatar
Memuat komentar...

Terbaru

Artikel terbaru untuk dibaca

Populer

Artikel yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Add New Playlist