Aini, Desi dan Cermin Retak Wajah Pendidikan Indonesia

Oleh Maria Fifi Yanti, M.I.Kom
Dosen STAI Darul Hikmah Aceh Barat
“Guru terbaik adalah mereka yang tidak sekadar mengajarkan apa yang harus diketahui, tetapi menunjukkan bagaimana cara menjadi manusia yang utuh.”
— William Arthur Ward
Pertama kalinya buku ini saya terima bukan dari toko buku, apatah dari perpustakaan yang sunyi. Melainkan dari seorang insinyur yang menulis buku tentang “Cara Cepat Matematika”, beliau percaya bahwa perubahan acapkali dari selembar halaman dan percakapan sederhana.
Dalam sebuah forum diskusi anak muda yang hangat dan penuh gagasan, Dr. Ir. Kurd dengan kebiasaannya di setiap forum berjalan kerap ritual membagikan buku kepada peserta yang mendapat kesempatan menjawab pertanyaan. Hari itu di tengah riuh dialog, saya salah satu orang yang beruntung mendapatkan sebuah novel berjudul “Guru Aini”.
Cermin krisis Pendidikan
Membaca setiap lembaran novel “Guru Aini” memiliki daya magis mengagumkan yang tak pernah gagal dalam menyelami kata dan makna di dalamnya. Persembahan prekuel sastrawan asal Belitung Andre Hirata dari Novel “orang-orang Biasa” sebelumnya, Novel Guru Aini (2020) ini semacam novel from zero to hero.
Novel ini mengisahkan dua karakter utama yang saling mengikat nasib. Desi Istiqomah, seorang Guru matematika muda yang bersemangat dan pantang menyerah. Sedang Aini, seorang siswi yang selama bertahun-tahun dihantui ketakutan terhadap matematika. Pertemuan keduanya di sebuah desa terpencil di Sumatera bukan sekadar romansa pedagogis, melainkan medan pertempuran simbolik antara harapan dan struktural kegagalan sistem pendidikan Indonesia.
Bank Dunia (World Bank) menyebutnya Learning crisis; kondisi dimana anak-anak bersekolah, tetapi tidak belajar. Laporan World Development Report 2018 menggambarkan fenomena ini sebagai krisis senyap yang menggerogoti masa depan bangsa-bangsa berkembang.
Di Indonesia, data PISA bertahun-tahun menempatkan kemampuan literasi dan numerasi pelajar kita jauh dibawah rata-rata negara OECD. Lebih ironi, anggaran Pendidikan kita telah diamanatkan konstitusi sebesar 20 % dari APBN salah satu yang terbesar dikawasan. Sayang, Uangnya ada, hasilnya tidak sepadan. Aini adalah bukti hidup dari jurang itu.
Ketertinggalan Aini bukan jatuh dari langit, ia dibangun lapis demi lapis oleh infrastruktur yang absen, sekolah tanpa listrik andal, tanpa perpustakaan, tanpa guru matematika yang cukup terlatih dan tanpa lingkungan yang memberi tahu anak bahwa belajar adalah mungkin dan penting.
Sosiolog Pierre Bourdieu menyebut ketimpangan semacam ini sebagai soal modal budaya: Anak-anak dari keluarga dan wilayah yang miskin modal budaya tidak hanya kekurangan fasilitas, mereka kekurangan peta untuk menavigasi sistem Pendidikan yang dirancang bukan untuk mereka, Hirata tidak menyebut Bourdieu satupun, namun seluruh tubuh novelnya adalah ilustrasi teori itu.
Pendidikan yang membebaskan
Ke dalam dunia Aini yang sudah retak itu, datanglah Desi Istiqomah. Guru matematika muda yang ditempatkan di desa terpencil bisa saja menjadi karakter yang klise; Guru kota berhati emas yang menyelamatkan anak desa. Tetapi Hirata lebih jujur dari itu, Desi frustasi, ragu dan hampir menyerah, ia berhadapan bukan hanya dengan ketertinggalan akademis Aini, melainkan dengan seluruh ekosistem yang membentuknya, orang tua yang skeptis terhadap nilai sekolah, teman-teman yang sudah mengikhlaskan ketertinggalan dan birokrasi Pendidikan yang bergerak dengan ritme tidak peduli terhadap satu anak pun secara spesifik.
Yang membuat Desi melampaui fungsi administrasi adalah pilihannya untuk melihat Aini sebagai manusia. Bukan sebagai angka dalam daftar nilai. Ia tidak hanya mengajar; tetapi memetakan celah pemahaman Aini hingga ke akarnya, masuk dalam kehidupan keluarga siswanya dan merubah ruang kelas menjadi ruang aman untuk tidak tahu. Pendidik Paulo Freire menyebut pendekatan ini Pendidikan yang membebaskan. Guru yang tidak mendikte kebenaran, melainkan menemani siswa dalam proses menemukannya. Desi tidak pernah membaca Freire dalam cerita ini, namun ia hidup dalam semangatnya.
Desi dan Paradoks Guru Pelosok
Hirata tidak membiarkan kita terlena dalam romantisme. Novel ini menyisipkan ironi yang pedas. Guru-guru paling berdedikasi justru sering dikirim ketempat paling sulit, dengan dukungan paling minim dan penghargaan paling rendah. Sementara sekolah-sekolah di Kota besar berlomba menarik guru terbaik dengan fasilitas dan tunjangan. Sekolah di pelosok harus berharap pada keajaiban bernama Desi Istiqomah. Ketidakadilan distribusi guru ini adalah salah satu akar struktural dari learning crisis yang paling jarang disentuh kebijakan.
Pilihan Hirata menjadikan dua Perempuan Aini dan Desi sebagai protagonis utama juga mengandung resonansi penting. Di banyak daerah terpencil Indonesia, Perempuan masih menghadapi hambatan ganda dalam mengakses Pendidikan. Selain keterbatasan infrastruktur yang dirasakan semua orang, mereka juga berhadapan dengan norma sosial terkadang memprioritaskan pendidikan laki-laki atau mengharapkan Perempuan lebih cepat menikah daripada melanjutkan sekolah. Dengan menempatkan Perempuan sebagai pusat narasi perjuangan pendidikan, Hirata menegaskan bahwa investasi Pendidikan Perempuan adalah fondasi kemajuan komunitas secara keseluruhan.
Sastra sebagai Aksi Sosial
Gaya penulisan Hirata ringan, humoris penuh ironi situasional membuat kritik sosial yang sebetulnya berat terasa seperti percakapan warung kopi. Pembaca tertawa, namun tawa itu mengandung rasa tidak nyaman yang terlambat disadari. Matematika, yang Ia pilih sebagai arena novel ini. Bukan kebetulan, numerasi adalah penjaga gerbang. Tanpa kemampuan berhitung yang memadai, pintu menuju Pendidikan tinggi, pekerjaan layak, dan mobilitas sosial nyaris tertutup. Ketika Aini gagal matematika, Ia tidak sekedar gagal satu mata Pelajaran, Ia hampir kehilangan masa depannya.
“Guru Aini” bukan manifesto kebijakan. Ia tidak menawarkan solusi dan langkah untuk membenahi Pendidikan di Indonesia. Ia melakukan sesuatu yang lebih sulit, memaksa kita merasakan apa yang terjadi ketika sistem gagal satu anak dalam satu waktu. Aini bukan statistik, Desi bukan pahlawan tanpa cacat. Dan kondisi yang menempatkan keduanya dalam situasi ini bukan takdir, namun Ia adalah pilihan kolektif yang bisa, dan harus dirubah. Selama pilihan itu belum berubah, novel ini akan terus relevan sebagai gugatan yang berpakaian fiksi.













