Hai… namaku Cinta. Aku adalah belahan jiwa Rangga. Malam itu Rangga mengabarkan akan pulang dan aku girang bukan kepalang. Yeeeaacchh…
Rangga yang bekerja di luar kota akhirnya tak tahan jika tak pulang, padahal katanya banyak pekerjaan.
Sudah pukul 23.00 WIB. Aku harus tidur agar esok bisa bertemu Rangga dengan segar. Aku terbiasa bangun pukul 04.45 WIB. Sambil menunggu azan subuh, aku salat sunah.
Kreeeek… terdengar suara. Dalam salatku yang tak khusyuk, seperti ada yang mendobrak pintu gudang. Ku tepiskan rasa khawatir dan melanjutkan salat hingga selesai. Bergegas kulihat ponsel. Ya Allah, Rangga sudah menelepon dari tadi, tapi ponselku dalam keadaan silent. Terdengar suara ketukan pintu, aku segera membukanya.
“Rangga ya?” teriakku dari dalam, memastikan itu dia.
“Iya,” jawabnya. “Cepat buka pintunya,” katanya dengan nada kesal.
Lalu aku melanjutkan salat subuh, dan Rangga pun bersiap.
Rangga: “Cin, nggak ada air?”
Cinta: “Oh iya, malam ini air pet tidak hidup. Pakai air sumur saja.”
Lalu Rangga mencoba menghidupkan air.
Cinta: “Tak terdengar suara air naik, matikan saja.”
Langit belum terang, kesalku sudah datang. Hari ini tak bisa mencuci, tak ada air.
Rangga: “Ya sudah, mau bagaimana? Nanti kita panggil tukang.”
“Cin, aku capek. Mau istirahat dulu. Bilang ke anak-anak jangan ribut. Mana kain sarung, Cin?”
Cinta: “Tidak ada yang bersih. Sudah seminggu aku tidak mencuci, sibuk kerja. Pakai yang ini saja ya?”
Tibalah malam hari. Aku mengecek air pet, tapi tetap tidak naik. Hari kedua, masih sama. Hari ketiga, aku harus mengangkat tiga ember air untuk mandi anak-anak. Hari keempat, kesabaranku habis. Kain kotor sudah menumpuk. Gerraaamm… aaarrghh…
Aku mengangkat air, mencuci dengan mesin, lalu membawa pakaian ke rumah tetangga untuk membilas.
Cinta: “Kak, boleh numpang bilas pakaian? Sudah tiga hari air mati.”
Tetangga: “Oh ya, silakan. Ambil saja air sumur.”
Aku seperti hidup di zaman lama. Air sulit, harus menimba dari sumur.
Akhirnya selesai. Aku jemur pakaian. Lelah, letih, lemas. Bukan karena mencuci, tapi karena sulitnya air di rumah. Sampai kapan kondisi seperti ini? Kepada siapa rakyat mengadu, selain kepada Tuhan?
“Rangga… aku merindukanmu,” bisikku dalam hati.
Telepon berdering. Rangga menelepon.
“Halo…” jawabku lemas.
“Sayang, kenapa suaranya lesu?”
Cinta: “Capek… habis mencuci dan angkat air, bahkan harus numpang ke rumah tetangga.”
Rangga: “Aduh sayang… nanti kalau aku pulang kita makan bakso ya.”
Aku pun tersenyum.
Hari kelima, Alhamdulillah air sudah hidup kembali. Pekerjaan dapur pun kembali lancar.
Diskusi