Oleh Yani Andoko
Sebuah Antrean Yang Membangkitkan Harapan
Saya masih ingat betul pemandangan itu: sekitar pukul sepuluh pagi, di sebuah toko buku besar di kawasan Jakarta Selatan, puluhan anak muda sudah mengular rapi. Beberapa sambil memegang iced latte, yang lain sibuk berfoto dengan buku-buku yang baru mereka ambil dari rak. Mereka bukan sedang menunggu konser atau peluncuran gawai terbaru. Mereka adalah para pembaca Gen Z, milenial, bahkan beberapa orang tua dengan anak kecil yang antre untuk membeli buku fisik.
Saat itu saya merasa seperti menyaksikan sebuah mukjizat kecil: di tengah gempuran TikTok, YouTube Shorts, Instagram Reels, dan Netflix, buku cetak masih mampu menarik perhatian. Rasanya seperti melihat burung dodo yang dikabarkan punah, tiba-tiba terbang di atas taman kota.
Tulisan ini adalah upaya untuk memahami fenomena itu. Mengapa buku fisik, yang dulu sering dibilang “akan mati” oleh para futuris, justru mengalami kebangkitan?
Dan yang lebih penting: apakah kita masih bisa merasakan pengalaman duduk sunyi di perpustakaan, hanya ditemani suara lembaran yang dibalik jemari kita?
Mari kita selami bersama.
Angka-Angka Yang Membantah Kematian Buku
Siapa sangka, industri buku fisik justru sedang berada dalam masa kebangkitannya. Pada tahun 2025, Gramedia jaringan toko buku terbesar di Indonesia mencatatkan pertumbuhan omzet sebesar 30 persen. Itu adalah pencapaian tertinggi sejak dekade pertama abad ke-21. Tak tanggung-tanggung, sejak tahun 2023 penjualan buku cetak di jaringan yang sama meningkat 25 persen.
Apa pemicunya? Salah satu jawabannya adalah BookTok. Tagar ini telah ditonton lebih dari 370 miliar kali di TikTok global. Untuk memberi perspektif: itu lebih dari 40 kali lipat populasi bumi. Di Eropa saja, BookTok mendorong penjualan lebih dari 50 juta eksemplar buku fisik pada tahun 2026.
Di Indonesia, fenomena serupa terjadi: tagar #BookTokIndonesia dan #Bukutok telah menjadi mesin rekomendasi yang efektif. Sebuah novel bisa melonjak dari tidak dikenal menjadi best seller hanya dalam semalam karena ulasan viral.
Data lain dari Pew Research Center (2025) menunjukkan bahwa 65 persen pembaca muda (usia 18-29 tahun) masih memilih buku cetak dibandingkan e-book atau audiobook. Mereka beralasan: membaca buku fisik membantu mereka lebih fokus, tidak mudah lelah secara mental, dan memberikan rasa pencapaian saat melihat seberapa banyak halaman yang telah dibaca.
Psikologi Di Balik Kertas Dan Lem
Mengapa buku fisik terasa berbeda? Jawabannya ada di otak kita.
Sebuah studi dari University of Valencia (2024) menemukan bahwa membaca buku cetak meningkatkan retensi informasi hingga 30 persen lebih baik dibandingkan membaca di layar.
Penelitian lain dari Columbia University (2025) menunjukkan bahwa kebiasaan membaca buku fisik sebelum tidur menurunkan kadar kortisol (hormon stres) hingga 22 persen, sementara membaca di tablet justru meningkatkannya karena paparan cahaya biru.
Selain itu, ada konsep yang disebut “spatial memory”. Saat membaca buku fisik, otak kita secara tidak sadar mencatat lokasi suatu informasi: “Aha, itu ada di halaman kiri dekat pojok bawah!” Ini membantu kita mengingat lebih baik. Di layar, semua halaman terasa sama gulir ke mana-mana tidak meninggalkan peta mental.
Dan jangan lupakan pengalaman sensorik: bau kertas tua, tekstur sampul yang kasar atau licin, suara gemerisik saat membalik halaman, bahkan berat buku di pangkuan. Semua ini memberikan sinyal ke otak bahwa ini adalah momen penting, bukan sekadar konsumsi informasi yang instan.
Kebangkitan Ruang-Ruang Membaca
Fenomena kebangkitan buku fisik juga melahirkan ruang-ruang baru yang menarik. Mari kita jalan-jalan sebentar:
Di Yogyakarta, ada Warung Sastra yang dimulai tahun 2017 oleh sekelompok mahasiswa. Kini tempat itu menjadi simpul budaya: setiap minggu ada diskusi buku, pembacaan puisi, dan lokakarya menulis. Pengunjungnya bukan hanya orang tua, tetapi didominasi anak muda berusia 18-25 tahun. “Mereka haus akan pertemuan langsung,” kata salah satu pendirinya.
Di Jakarta, konsep Makarya di Gramedia Matraman menghadirkan toko buku yang dirancang seperti ruang tamu ada karpet, baca santai, dan kafe kecil. Hasilnya? Omzet toko itu meningkat lebih dari 40 persen dalam dua tahun terakhir.
Di Semarang, Perpusda mencatat kunjungan hingga 400.000 orang per bulan pada awal 2026. Di Pontianak, sekitar 10.000 orang datang ke perpustakaan daerah setiap bulan. Di Bantul, target 50.000 kunjungan tahun 2025 hampir tercapai.
Ini bukan nostalgia buta. Ini adalah pergeseran gaya hidup: dari konsumsi informasi yang cepat dan dangkal, menuju slow reading yang mendalam dan reflektif.
Tapi Ada Luka Di Balik Kebangkitan
Jangan cepat-cepat bertepuk tangan. Dunia buku Indonesia sedang terluka parah. Pembajakan adalah musuh nomor satu. Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) mencatat kerugian akibat pembajakan mencapai lebih dari Rp 116,5 miliar per tahun. Lebih mengerikan lagi: 60 persen dari seluruh buku yang beredar di Indonesia adalah buku bajakan.
Artinya, dari 10 buku yang kamu lihat di pinggir jalan atau di pasar online, 6 di antaranya tidak memberikan sepeser pun royalti kepada penulis atau penerbit.
Dari 2.721 anggota IKAPI, hanya 982 penerbit yang masih aktif sisanya lebih dari 1.700 penerbit telah mati atau sekarat. Penerbit kecil gulung tikar karena tidak mampu bersaing dengan harga buku bajakan yang bisa seperlima dari harga normal.
Belum lagi anggaran Perpustakaan Nasional yang merosot drastis. Dari sekitar Rp721 miliar pada awal 2025, menjadi hanya Rp378 miliar pada tahun 2026 penurunan hampir 50 persen.
Banyak perpustakaan daerah yang koleksi bukunya tidak bertambah selama bertahun-tahun, ruangannya panas dan sempit, atau bahkan tidak memiliki pustakawan yang kompeten.
Kisah-Kisah Epik Di Antara Lembaran
Di tengah semua tantangan itu, ada kisah-kisah kecil yang membuat saya tetap percaya pada buku fisik.
Saya punya teman, seorang kurator museum di Jakarta. Setiap bulan, ia mengadakan “Buku Buta” acara di mana peserta meminjam buku yang dibungkus kertas cokelat, tanpa tahu judul atau penulisnya. Mereka hanya diberi tiga petunjuk. “Hasilnya?” katanya sambil tertawa, “Orang jadi lebih berani mencoba genre baru. Dan yang paling seru adalah saat mereka membuka bungkusnya bersama-sama di kafe.”
Ada juga cerita dari seorang guru di pelosok NTT. Ia membawa 30 buku cerita anak dalam koper selama liburan. Di kampung halamannya, anak-anak berlari menyambutnya seperti menyambut tukang es krim. “Mereka bergantian membaca, kadang dua anak membaca satu buku sambil menunjuk kata-kata,” ujarnya. “Buku itu menjadi jembatan antara mimpi dan kenyataan mereka.”
Dan saya sendiri, punya pengalaman pribadi: saat pandemi, saya membaca ulang novel favorit masa kecil, sampulnya sudah robek dan halamannya menguning. Saya menemukan coretan tangan almarhum kakek saya di halaman 47: “Semoga cucuku kelak mengerti arti keberanian.” Saya menangis. Tidak ada e-book atau audiobook yang bisa memberikan kejutan seperti itu.
Merawat Peradaban Satu Lembaran Per Satu Lembaran
Jadi, akankah kita masih bisa merasakan pengalaman duduk di ruang perpustakaan nan sunyi, dengan buku-buku yang berdiri tegak dan rapi di rak, hanya terdengar suara lembaran yang terbuka oleh jemari kita?
Jawabannya: ya, dan itu akan terasa semakin istimewa.
Buku fisik tidak akan mati. Ia bertransformasi menjadi pilihan sadar. Ia bukan lagi satu-satunya gerbang pengetahuan, tetapi ia menjadi oase di tengah gurun kebisingan digital. Ia menjadi simbol perlawanan terhadap budaya instan dan dangkal. Ia menjadi jembatan antargenerasi dari kakek yang menulis pesan di pinggir halaman, hingga cucu yang menemukannya dua puluh tahun kemudian.
Perpustakaan dan toko buku fisik, meskipun diterpa badai pembajakan dan pemotongan anggaran, masih bernapas. Mereka berubah: menjadi ruang komunitas, galeri seni, kafe sastra, tempat orang bertemu dan berbagi cerita. Dan generasi muda Gen Z dan milenial justru menjadi garda terdepan kebangkitan ini, karena mereka merindukan sesuatu yang nyata di dunia yang makin tak berwujud.
Maka, saya ingin mengajakmu, pembaca yang budiman:
Matikan ponselmu sejenak. Pergilah ke perpustakaan atau toko buku terdekat. Ambil satu buku dari rak sembarang, tidak perlu yang populer. Duduklah di sudut yang sunyi. Rasakan beratnya di pangkuanmu, tarik napas dalam-dalam, dan balik halaman pertama.
Suara gemerisik itu adalah bisik peradaban. Dengarkan baik-baik. Karena di sanalah kita tidak hanya membaca kita sedang ikut menjaga api tetap menyala.
Batu, 23 Maret 2026

