Ketika Narasi Mengalahkan Fakta: Psikologi, Apologi, dan Krisis Integritas Informasi di Era Digital

Oleh: Dayan Abdurrahman
Ada satu pertanyaan yang beberapa tahun terakhir semakin sering mengganggu pikiran saya. Pertanyaan itu sederhana, tetapi jawabannya ternyata tidak sesederhana bunyinya: mengapa manusia begitu mudah mempercayai sesuatu yang belum tentu benar, tetapi sering kali begitu sulit menerima kebenaran ketika kebenaran itu menuntut bukti, kesabaran, bahkan keberanian untuk mengoreksi diri?
Pertanyaan itu tidak lahir ketika saya membaca buku filsafat atau jurnal psikologi. Ia lahir ketika saya duduk di warung kopi, mendengar percakapan masyarakat, mengikuti diskusi mahasiswa, dan melihat bagaimana media sosial mengubah cara kita memahami dunia. Saya menyaksikan orang-orang yang tulus, cerdas, bahkan berpendidikan, dapat saling bertengkar bukan kerana mereka membenci kebenaran, tetapi kerana masing-masing merasa telah memilikinya.
Saya lahir dan dibentuk oleh tanah Aceh. Tanah yang mengajarkan bahawa sejarah bukan hanya tertulis di dalam buku, tetapi hidup di dalam ingatan masyarakat. Di meunasah, di dayah, di warung kopi, di ruang keluarga, sejarah berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui cerita. Saya tumbuh mendengar kisah tentang masa perang, tentang keluarga yang tercerai-berai, tentang tsunami yang mengubah garis pantai sekaligus garis kehidupan, dan tentang damai yang lahir daripada luka yang panjang.
Dari semua pengalaman itu, saya belajar bahawa sebuah masyarakat boleh kehilangan rumah, sawah, bahkan orang-orang yang dicintainya. Namun ada satu kehilangan yang jauh lebih berbahaya daripada semua itu, iaitu ketika masyarakat mulai kehilangan kemampuan membedakan antara cerita dan kenyataan. Rumah yang roboh masih boleh dibangun kembali. Tetapi apabila kejujuran dalam berpikir mulai runtuh, kerusakannya dapat diwariskan jauh lebih lama daripada runtuhnya bangunan.
Barangkali kerana itulah saya semakin gelisah melihat wajah dunia hari ini.
Kita hidup pada zaman yang luar biasa. Hanya dengan sebuah telepon kecil di genggaman, seseorang di Bireuen dapat mengetahui apa yang terjadi di New York, Tokyo, atau Gaza dalam hitungan detik. Mahasiswa di Banda Aceh dapat membaca jurnal dari Oxford pada pagi hari, lalu mengikuti kuliah dari Melbourne pada malam harinya. Tidak pernah dalam sejarah manusia ilmu bergerak secepat sekarang.
Namun ironinya, tidak pernah pula dalam sejarah manusia kebingungan menyebar secepat hari ini.
Semakin banyak informasi, semakin sulit membedakan mana yang benar. Semakin banyak suara, semakin sukar mengenali mana yang layak didengar. Seolah-olah kita sedang berdiri di tengah lautan yang sangat luas. Airnya melimpah, tetapi tidak semuanya dapat diminum.
Saya kadang-kadang membayangkan bagaimana jika orang tua kita yang dahulu duduk di warung kopi di Aceh melihat keadaan hari ini. Dahulu mereka berkata, “Jangan mudah percaya kepada kabar yang belum jelas.” Nasihat itu terdengar sederhana. Tetapi pada zaman kecerdasan buatan, nasihat tersebut berubah menjadi jauh lebih berat. Hari ini bukan hanya kata-kata yang dapat dipalsukan. Wajah dapat direkayasa, suara dapat ditiru, video dapat dimanipulasi, bahkan seseorang dapat “hadir” dalam sebuah peristiwa yang tidak pernah ia datangi.
Kalau dahulu mata dianggap saksi yang paling jujur, hari ini mata pun boleh tertipu.
Lalu, kepada siapa kita harus percaya?
Jawabannya mungkin bukan kepada teknologi, bukan pula kepada popularitas seseorang, tetapi kepada disiplin berpikir yang jujur.
Sayangnya, disiplin itu justru semakin mahal.
Saya sering melihat seseorang lebih cepat menekan tombol “bagikan” daripada meluangkan lima menit untuk memeriksa sumbernya. Kita hidup dalam budaya yang menghargai kecepatan, padahal kebenaran hampir selalu membutuhkan kesabaran. Tidak ada penelitian ilmiah yang lahir dalam satu malam. Tidak ada keputusan besar yang bijaksana tanpa proses menimbang berbagai kemungkinan. Mengapa ketika berbicara tentang informasi kita justru ingin semuanya serba instan?
Psikologi memberi penjelasan yang menarik. Manusia ternyata tidak hanya mencari kebenaran. Manusia juga mencari kenyamanan. Kita lebih mudah menerima informasi yang menguatkan keyakinan kita daripada informasi yang memaksa kita mengubah pendapat. Para ahli menyebutnya confirmation bias. Tetapi bagi saya, istilah ilmiah itu hanya menjelaskan sesuatu yang telah lama kita alami dalam kehidupan sehari-hari: kita lebih senang mendengar cerita yang membuat kita merasa benar daripada cerita yang mengajak kita bercermin.
Di sinilah letak ujian terbesar seorang pencari ilmu.
Ilmu bukan sekadar mengumpulkan jawaban. Ilmu adalah keberanian mempertanyakan jawaban yang selama ini kita anggap pasti.
Saya selalu teringat suasana diskusi di kampus. Mahasiswa sering bertanya kepada saya, “Pak, mana yang paling benar?”
Saya biasanya menjawab, “Pertanyaan yang lebih penting bukan siapa yang paling benar, tetapi apakah kita cukup rendah hati untuk menerima kebenaran ketika ia datang dari orang yang berbeda dengan kita.”
Jawaban itu sering membuat ruang kelas menjadi sunyi.
Barangkali kerana kita memang dibesarkan dalam budaya yang lebih sering mengajarkan bagaimana mempertahankan pendapat daripada bagaimana memperbaiki pendapat.
Padahal sejarah ilmu bergerak ke arah yang sebaliknya.
Tidak ada ilmuwan besar yang dikenang kerana tidak pernah salah. Mereka dikenang kerana berani mengakui ketika bukti menunjukkan bahawa mereka perlu memperbaiki kesimpulannya.
Di situlah saya melihat perbedaan besar antara budaya ilmu dan budaya propaganda.
Propaganda bertanya, “Bagaimana membuat orang percaya?”
Ilmu bertanya, “Bagaimana memastikan sesuatu itu benar?”
Kedua pertanyaan itu tampak mirip, tetapi sesungguhnya memisahkan dua jalan yang sangat berbeda. Jalan pertama mengejar kemenangan. Jalan kedua mengejar kebenaran.
Dan sejarah selalu menunjukkan bahawa kemenangan yang dibangun di atas kebohongan hanya bertahan sementara, sedangkan kebenaran mungkin berjalan lambat, tetapi ia memiliki kemampuan untuk bertahan melintasi zaman.
Mungkin inilah sebabnya saya percaya bahawa krisis terbesar abad ke-21 bukanlah krisis teknologi, bukan pula krisis kecerdasan buatan. Krisis terbesar kita adalah krisis keberanian untuk berkata, “Saya mungkin keliru.”
Kalimat itu tampak sederhana, tetapi justru di situlah martabat seorang manusia diuji. Sebab hanya orang yang benar-benar mencintai kebenaran yang sanggup meletakkan egonya di bawah bukti, dan hanya masyarakat yang sehat yang mampu menjadikan koreksi sebagai tanda kedewasaan, bukan sebagai penghina.
Kegelisahan ini sesungguhnya bukan hanya milik Aceh. Ia adalah kegelisahan dunia. Dari Washington hingga Beijing, dari London hingga Jakarta, dari ruang-ruang parlemen hingga ruang kelas universitas, pertanyaan yang sama terus bergema: mengapa masyarakat semakin sulit mencapai kesepakatan tentang apa yang disebut sebagai fakta?
Jawabannya ternyata jauh lebih rumit daripada sekadar menyalahkan media sosial.
Masalahnya bukan kerana manusia kehilangan kecerdasan. Masalahnya adalah kerana manusia memiliki emosi, identitas, dan kenangan. Kita tidak hanya hidup dengan akal, tetapi juga dengan pengalaman. Kita mencintai keluarga, menghormati guru, mengagumi tokoh, membela organisasi, dan menyimpan memori kolektif tentang masa lalu. Semua itu membentuk cara kita membaca kenyataan.
Di sinilah saya mulai memahami bahawa informasi tidak pernah berdiri sendirian. Ia selalu bertemu dengan hati manusia. Dan ketika sebuah informasi berhasil menyentuh rasa takut, rasa bangga, atau rasa marah, sering kali ia bergerak lebih cepat daripada fakta yang disusun dengan penelitian bertahun-tahun.
Itulah sebabnya kebohongan sering tampak lebih menarik daripada kebenaran.
Bukan kerana kebohongan lebih kuat, tetapi kerana ia lebih pandai berbicara kepada emosi.
Saya teringat sebuah ungkapan lama yang sering saya dengar dari para orang tua di Aceh. Mereka berkata, “Peugah nyang beuna, meunyoe hana meuphom, sabé.” Katakan yang benar, walaupun orang belum memahaminya. Kalimat sederhana ini mengandung kebijaksanaan yang luar biasa. Ia mengajarkan bahawa ukuran sebuah ucapan bukan tepuk tangan yang diterima, tetapi kejujuran yang dikandungnya.
Hari ini, nasihat itu terasa semakin mahal.
Kita hidup pada masa ketika ukuran kebenaran sering bergeser menjadi ukuran popularitas. Sesuatu dianggap benar kerana ditonton jutaan kali. Seseorang dianggap ahli kerana memiliki jutaan pengikut. Padahal sejarah ilmu tidak pernah dibangun dengan cara seperti itu.
Albert Einstein tidak menjadi benar kerana terkenal. Ia terkenal kerana gagasannya mampu bertahan menghadapi pengujian. Ibnu Sina tidak dihormati kerana banyak pengikutnya, tetapi kerana karya-karyanya terus diuji dan dipelajari selama berabad-abad. Imam al-Ghazali pun tidak pernah meminta umat mempercayainya tanpa berpikir. Tradisi keilmuan Islam justru berkembang melalui dialog, kritik, dan pencarian yang tidak pernah berhenti.
Sayangnya, budaya seperti itu mulai memudar.
Hari ini kita lebih cepat bertanya, “Siapa yang mengatakan?” daripada bertanya, “Apa buktinya?”
Padahal dua pertanyaan itu sangat berbeda.
Yang satu membangun kultus.
Yang satu lagi membangun ilmu.
Di sinilah saya melihat betapa pentingnya menghidupkan kembali makna tabayyun. Selama ini kita sering memahaminya hanya sebagai kewajiban memeriksa berita. Menurut saya, maknanya jauh lebih luas. Tabayyun adalah latihan untuk mengalahkan ego. Ia adalah keberanian menunda penilaian sampai bukti benar-benar cukup. Ia adalah pengakuan bahawa manusia dapat salah, dan kerana itulah Allah memerintahkan kita untuk berhati-hati.
Bukankah hampir semua konflik besar dalam sejarah berawal daripada prasangka yang diterima sebagai fakta?
Bukankah banyak permusuhan lahir bukan kerana kurangnya informasi, tetapi kerana kurangnya kesediaan mendengar?
Sebagai seorang pendidik, saya semakin yakin bahawa universitas mempunyai amanah yang jauh lebih besar daripada sekadar meluluskan sarjana. Universitas harus melahirkan manusia yang memiliki keberanian intelektual. Gelar akademik tidak ada artinya apabila seseorang masih takut mengubah pendapatnya ketika bukti menunjukkan arah yang berbeda.
Begitu pula dengan masyarakat.
Kemajuan tidak hanya diukur dari jalan tol, gedung pencakar langit, atau kecanggihan teknologi. Kemajuan juga diukur dari keberanian warganya mengatakan, “Mari kita periksa dahulu sebelum mempercayainya.”
Kalimat itu mungkin sederhana, tetapi ia dapat menyelamatkan sebuah keluarga daripada fitnah, menyelamatkan sebuah organisasi daripada perpecahan, bahkan menyelamatkan sebuah bangsa daripada keputusan yang dibangun di atas ilusi.
Saya sering membayangkan Indonesia sebagai sebuah rumah besar.
Di dalamnya ada Aceh, Minangkabau, Jawa, Sunda, Bugis, Dayak, Papua, Bali, dan ratusan identitas lainnya. Rumah sebesar ini tidak mungkin dipersatukan hanya oleh kesamaan pendapat. Ia dipersatukan oleh kesediaan untuk saling mendengar dan menghormati kebenaran.
Kalau setiap kelompok hanya percaya kepada narasinya sendiri, maka rumah besar ini perlahan akan dipenuhi dinding-dinding yang memisahkan satu ruang dengan ruang lainnya.
Padahal bangsa yang besar dibangun bukan oleh gema yang hanya mengulang suara kita sendiri, tetapi oleh percakapan yang bersedia menerima suara yang berbeda.
Saya percaya, tugas seorang akademisi bukan menjadi pembela kelompok tertentu. Amanahnya jauh lebih mulia daripada itu. Seorang akademisi adalah penjaga integritas pengetahuan. Ketika masyarakat terburu-buru menyimpulkan, akademisi mengajak berhenti sejenak. Ketika masyarakat larut dalam prasangka, akademisi mengajak kembali kepada data. Ketika masyarakat mulai memuja tokoh secara berlebihan, akademisi mengingatkan bahawa tidak ada manusia yang lebih tinggi daripada kebenaran.
Saya menulis semua ini bukan kerana saya merasa telah sampai pada kebenaran. Sebaliknya, saya menulis kerana saya sedang belajar mencintainya. Saya percaya bahawa kerendahan hati adalah pintu pertama menuju ilmu. Orang yang merasa sudah mengetahui segalanya sesungguhnya telah berhenti menjadi pelajar.
Barangkali inilah dakwah intelektual yang paling kita perlukan hari ini.
Bukan dakwah yang membuat kita semakin mudah menyalahkan orang lain, tetapi dakwah yang membuat kita lebih disiplin mengoreksi diri sendiri.
Bukan dakwah yang membesarkan ego, tetapi dakwah yang memuliakan akal.
Bukan dakwah yang mengejar kemenangan sesaat, tetapi dakwah yang membangun peradaban untuk jangka panjang.
Apabila suatu hari anak-anak kita bertanya, “Apa warisan terbesar generasi kalian?”, saya berharap kita tidak hanya mewariskan gedung, teknologi, atau jalan raya.
Saya berharap kita dapat mewariskan sesuatu yang jauh lebih berharga: budaya berpikir yang jujur.
Budaya yang mengajarkan bahawa tidak semua yang viral adalah benar.
Tidak semua yang banyak dibagikan adalah fakta.
Tidak semua yang diyakini banyak orang adalah kenyataan.
Dan tidak semua yang terasa benar di hati telah benar menurut bukti.
Pada akhirnya, sejarah tidak akan mengingat kita kerana seberapa keras kita berteriak. Sejarah akan mengingat kita kerana seberapa jujur kita menjaga amanah ilmu. Sebab ilmu yang kehilangan integritas akan berubah menjadi alat kekuasaan, sedangkan ilmu yang dipelihara dengan kejujuran akan menjadi cahaya yang menuntun manusia, bahkan ketika zaman berubah dengan sangat cepat.
Mungkin itulah pelajaran terbesar yang ingin saya wariskan kepada mahasiswa, kepada anak-anak saya, dan kepada siapa pun yang masih percaya bahawa akal adalah anugerah Tuhan yang harus dijaga. Kita boleh berbeda pendapat, berbeda latar belakang, bahkan berbeda cara memandang dunia. Tetapi selama kita sama-sama bersedia tunduk kepada bukti, menghormati kebenaran, dan menjaga amanah dalam menyampaikan informasi, harapan untuk membangun peradaban yang lebih baik akan selalu ada.
Kerana pada akhirnya, kemenangan terbesar seorang pencari ilmu bukanlah ketika ia berhasil membuktikan bahawa orang lain salah. Kemenangan yang sesungguhnya adalah ketika ia tetap memilih kejujuran, walaupun kejujuran itu mengharuskannya mengoreksi dirinya sendiri.











