Lebaran Haji 1447 H yang Gagal Bagiku

Oleh Ermaun
Lebaran Haji tahun ini terasa aneh bagi saya. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Biasanya menjelang hari raya sudah ada rasa tenang, walaupun hidup pas-pasan. Setidaknya ada harapan bisa pulang kampung, bertemu orang tua, duduk sebentar di rumah sambil menikmati suasana yang selama ini cuma bisa dibayangkan dari rantau.
Tapi tahun ini berbeda. Saya akhirnya tidak jadi pulang. Bukan karena tidak rindu rumah, bukan karena tidak ingin bertemu keluarga, tapi karena keadaan ekonomi benar-benar tidak memungkinkan. Dan yang paling membuat kecewa, tunjangan sertifikasi guru yang selama ini diharapkan cair menjelang Lebaran Haji ternyata tidak kunjung masuk.
Padahal semenjak tanggal 25 sampai sekarang 28 Mei 2026, banyak guru sudah menunggu penuh harap. Grup WhatsApp guru ramai sekali. Ada yang bilang pengamprahan sudah masuk tahap akhir, ada yang mengabarkan tinggal menunggu transfer, ada juga yang mencoba menenangkan teman-temannya supaya sabar sedikit lagi.
Saya termasuk yang percaya bahwa uang itu akan cair sebelum hari raya. Saya bahkan sudah mulai menghitung biaya pulang kampung pelan-pelan. Tidak muluk-muluk. Cuma ongkos perjalanan, sedikit uang untuk dibawa pulang, dan mungkin membeli buah tangan sederhana untuk keluarga di rumah. Tapi sampai hari yang ditunggu, rekening tetap kosong.
Jujur saja, rasanya sakit ketika harus menerima kenyataan bahwa saya tidak jadi pulang hanya karena uang belum cukup. Saya sempat membuka aplikasi mobile banking berkali-kali dalam sehari, berharap ada notifikasi masuk.
Bahkan kadang tanpa sadar saya mengecek rekening lagi beberapa menit kemudian, seolah uang itu bisa tiba-tiba muncul kalau dicek terus. Tapi tetap tidak ada. Yang ada justru informasi yang berubah-ubah. Katanya masih proses. Katanya masih verifikasi. Katanya tinggal menunggu. Kalimat-kalimat sakti seperti itu rasanya sudah terlalu sering didengar guru setiap kali ada keterlambatan pencairan hak mereka.
Yang membuat keadaan semakin berat sebenarnya bukan hanya soal uangnya belum cair, tapi rasa digantung tanpa kepastian itu. Guru diminta memahami keadaan pemerintah, bersabar menghadapi proses administrasi, dan mengerti sistem. Tapi kadang pemerintah lupa bahwa hidup guru juga berjalan terus. Harga kebutuhan pokok tidak ikut menunggu proses verifikasi. Biaya mudik tidak menunggu birokrasi selesai. Anak-anak tetap perlu makan. Orang tua di kampung tetap berharap anaknya pulang saat hari raya.
Saya masih ingat ketika Bapak menelepon beberapa hari lalu. Beliau bertanya sederhana sekali, “Jadi pulang?” Saya diam beberapa detik sebelum akhirnya menjawab pelan, “Kayaknya belum bisa, pak.” Bapak langsung menjawab, “Tidak apa-apa, jangan dipaksakan.”
Kalimat itu terdengar biasa saja, tapi entah kenapa setelah telepon ditutup saya malah merasa makin sesak. Orang tua memang sering menyembunyikan rasa kecewanya supaya anaknya tidak merasa bersalah. Tapi justru itu yang membuat hati makin tidak enak.
Kadang saya berpikir, negara ini terlalu mudah memuji guru tapi terlalu lambat ketika menyangkut kesejahteraan mereka. Setiap Hari Guru pidato tentang jasa guru terdengar di mana-mana. Guru disebut pahlawan pendidikan. Guru disebut penentu masa depan bangsa. Tapi dalam kenyataan sehari-hari, banyak guru justru hidup dalam ketidakpastian. Tunjangan yang menjadi hak mereka sering terlambat. Informasi tidak jelas. Proses panjang. Dan anehnya, yang selalu diminta memahami keadaan adalah guru lagi, guru lagi..!
Padahal sertifikasi itu hak profesional yang diperoleh melalui proses panjang, dan dijamin oleh undang-undang. Ada syarat administrasi, ada penilaian, ada beban kerja yang harus dipenuhi. Guru menjalani semuanya. Maka wajar kalau banyak guru kecewa ketika pencairannya terus terlambat, apalagi di tengah kondisi ekonomi yang sedang sulit seperti sekarang. Semua terasa mahal. Belanja sedikit saja uang cepat habis. Ongkos perjalanan naik. Harga kebutuhan pokok terus bergerak tanpa belas kasihan. Dalam keadaan seperti itu, keterlambatan sertifikasi benar-benar terasa dampaknya.
Yang paling menyedihkan mungkin bukan soal batal mudik itu sendiri, tetapi perasaan tidak mampu memenuhi harapan keluarga. Saya sempat membayangkan makan bersama di rumah, mendengar suara takbir dari kampung, bercanda dengan saudara-saudara yang lama tidak bertemu. Hal-hal sederhana begitu sekarang terasa mewah. Dan tahun ini saya hanya bisa melihat orang lain pulang lewat foto-foto di media sosial sambil mencoba menerima keadaan.
Saya yakin saya bukan satu-satunya guru yang mengalami hal seperti ini. Banyak yang mungkin memilih diam karena sudah terlalu lelah mengeluh. Banyak yang tetap tersenyum di sekolah walaupun pikirannya penuh beban. Guru memang sering dituntut kuat dan ikhlas. Tapi guru juga manusia biasa. Bisa kecewa. Bisa lelah. Bisa sedih ketika keadaan hidup terasa makin sempit sementara hak yang ditunggu belum juga datang.
Lebaran Haji tahun ini akhirnya mengajarkan sesuatu yang pahit kepada saya. Ternyata rindu kepada kampung halaman pun bisa kalah oleh keadaan ekonomi. Dan lebih pahit lagi ketika keadaan itu diperburuk oleh ketidakpastian yang seharusnya tidak perlu terjadi.(*)











