Artikel · Potret Online

ASEAN Hari Ini di Tengah Kancah Perpolitikan Global: Perebutan Pengaruh, Krisis Kawasan, dan Masa Depan Asia Tenggara.

9 menit baca 8
ASEAN Hari Ini di Tengah Kancah Perpolitikan Global: Perebutan Pengaruh, Krisis Kawasan, dan Masa Depan Asia Tenggara. - 38a1ed71 84b6 44ab 9f7a a62e2a66e5e2 | Artikel | Potret Online
Foto / IlustrasiASEAN Hari Ini di Tengah Kancah Perpolitikan Global: Perebutan Pengaruh, Krisis Kawasan, dan Masa Depan Asia Tenggara.
Disunting Oleh

Oleh: Dr. (Cand) Kaipal Wahyudi, S.j., S.Hum., M.Ag.

ASEAN hari ini sedang berada pada salah satu fase paling menentukan dalam perjalanan sejarah geopolitiknya. Di tengah perubahan dunia yang semakin cepat dan tidak menentu, kawasan Asia Tenggara tidak lagi dipandang sekadar sebagai wilayah regional biasa, melainkan telah berubah menjadi ruang strategis yang diperebutkan oleh berbagai kekuatan besar dunia.

Rivalitas Amerika Serikat dan Tiongkok, konflik kawasan, ketidakstabilan ekonomi global, hingga persaingan energi global membuat posisi ASEAN menjadi semakin penting sekaligus semakin rentan.

Hingga Mei 2026, tekanan geopolitik terhadap Asia Tenggara terus meningkat. Persaingan Washington dan Beijing kini tidak hanya berlangsung dalam bidang perdagangan, tetapi telah merambah pada perebutan pengaruh teknologi, keamanan maritim, infrastruktur digital, hingga penguasaan jalur perdagangan Indo-Pasifik. Dalam situasi seperti ini, ASEAN berusaha mempertahankan sentralitasnya agar kawasan Asia Tenggara tidak berubah menjadi arena konflik terbuka antarnegara besar dunia.

Secara historis, ASEAN lahir melalui Deklarasi Bangkok pada 8 Agustus 1967. Organisasi ini didirikan oleh Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, dan Filipina di tengah situasi Perang Dingin yang penuh ketegangan. Saat itu Asia Tenggara dipenuhi konflik ideologi, perang saudara, pemberontakan komunis, hingga perebutan pengaruh antara blok Barat dan blok Timur. Karena itu, tujuan utama pembentukan ASEAN pada awalnya adalah menjaga stabilitas kawasan agar Asia Tenggara tidak terseret terlalu jauh dalam konflik global.

Dalam perkembangannya, ASEAN terus memperluas keanggotaan dan memperkuat kerja sama regional. Brunei Darussalam bergabung pada 1984, Vietnam pada 1995, Laos dan Myanmar pada 1997, serta Kamboja pada 1999. Pada periode 2025–2026, Timor-Leste juga mulai aktif menuju integrasi penuh sebagai anggota baru ASEAN. Dari sebuah organisasi regional yang longgar, ASEAN kemudian berkembang menjadi komunitas kawasan dengan tiga pilar utama, yakni politik-keamanan, ekonomi, dan sosial-budaya.

Namun memasuki tahun 2026, tantangan yang dihadapi ASEAN jauh lebih kompleks dibandingkan masa-masa sebelumnya. Kawasan Asia Tenggara kini berada di tengah pusaran geopolitik global yang sangat keras. Rivalitas Amerika Serikat dan Tiongkok menjadi tekanan terbesar yang terus menguji soliditas kawasan. Di satu sisi, Tiongkok merupakan mitra dagang utama dan sumber investasi penting bagi banyak negara ASEAN melalui proyek Belt and Road Initiative (BRI). Namun di sisi lain, Amerika Serikat tetap dipandang sebagai kekuatan keamanan utama di Indo-Pasifik.

Kondisi tersebut membuat ASEAN berada dalam posisi dilematis. Negara-negara Asia Tenggara harus menjaga hubungan baik dengan kedua kekuatan besar tanpa kehilangan independensi politiknya. Karena itu, ASEAN hari ini menerapkan strategi yang lebih fleksibel melalui pendekatan multi-alignment dan omnidirectional engagement, yakni membangun hubungan dengan seluruh kekuatan dunia secara bersamaan tanpa sepenuhnya berpihak kepada salah satu kubu.

Berbagai survei regional juga menunjukkan adanya kecenderungan perubahan orientasi geopolitik di sebagian negara Asia Tenggara, terutama terkait meningkatnya pengaruh ekonomi Tiongkok di kawasan. Pergeseran tersebut dipengaruhi oleh semakin besarnya ketergantungan ekonomi terhadap Beijing serta munculnya keraguan terhadap konsistensi kepemimpinan Washington di kawasan Indo-Pasifik.

Meski demikian, ASEAN secara umum tetap berusaha menjaga posisi netral. Kawasan ini tidak ingin terseret ke dalam “Perang Dingin baru” antara Amerika Serikat dan Tiongkok. Karena itu, konsep ASEAN Centrality terus didorong agar ASEAN tetap menjadi pusat diplomasi kawasan Indo-Pasifik dan bukan sekadar objek perebutan pengaruh global.

Namun tekanan terhadap ASEAN tidak hanya datang dari luar kawasan. Organisasi ini juga menghadapi persoalan internal yang cukup serius. Krisis Myanmar menjadi salah satu ujian terbesar terhadap efektivitas diplomasi ASEAN. Sejak kudeta militer 2021, konflik internal Myanmar terus berlangsung dan menyebabkan ribuan korban jiwa serta jutaan pengungsi. ASEAN sebenarnya telah menyusun Five-Point Consensus sebagai dasar penyelesaian konflik, tetapi implementasinya di lapangan masih berjalan sangat lambat.

Krisis Myanmar memperlihatkan keterbatasan prinsip non-intervensi yang selama ini menjadi fondasi utama ASEAN Way. Banyak pengamat internasional mulai mempertanyakan efektivitas pendekatan diplomatik ASEAN yang terlalu berhati-hati ketika menghadapi konflik besar di kawasan sendiri. Situasi ini sekaligus memperlihatkan bahwa ASEAN membutuhkan reformasi mekanisme politik agar lebih adaptif terhadap tantangan geopolitik modern.

Selain Myanmar, ketegangan Laut China Selatan juga terus menjadi ancaman serius terhadap stabilitas kawasan. Konflik ini bukan hanya persoalan sengketa wilayah biasa, tetapi juga menyangkut jalur perdagangan internasional, sumber daya energi, serta perebutan dominasi geopolitik dunia. Tiongkok mengklaim hampir seluruh wilayah Laut China Selatan melalui konsep Nine Dash Line yang berbenturan dengan klaim beberapa negara ASEAN seperti Filipina, Vietnam, Malaysia, Brunei, dan Indonesia di wilayah Natuna Utara.

ASEAN sebenarnya telah mencoba membangun mekanisme penyelesaian konflik melalui Declaration on the Conduct of Parties in the South China Sea sejak 2002. Hingga hari ini, ASEAN dan Tiongkok masih terus merundingkan pembentukan Code of Conduct (CoC) yang diharapkan mampu menjadi aturan maritim yang lebih mengikat secara hukum. Namun proses tersebut berjalan lambat akibat adanya perbedaan kepentingan antarnegara anggota ASEAN sendiri.

Beberapa negara ASEAN dinilai memiliki kedekatan ekonomi dan politik yang cukup kuat dengan Tiongkok sehingga sering membuat posisi kolektif ASEAN menjadi tidak solid. Akibatnya, organisasi ini kerap dianggap lamban dalam mengambil langkah tegas terkait konflik Laut China Selatan. Model konsensus yang selama ini menjadi kekuatan ASEAN justru berubah menjadi tantangan ketika menghadapi krisis geopolitik besar.

Di tengah berbagai tekanan tersebut, ASEAN tetap memiliki posisi strategis dalam politik global. Kawasan Asia Tenggara berada di jalur perdagangan internasional paling penting di dunia. Selat Malaka, Laut China Selatan, dan jalur Indo-Pasifik merupakan titik vital perdagangan energi dan distribusi ekonomi global. Kawasan Asia Tenggara karena posisinya yang strategis menjadi salah satu wilayah penting dalam kepentingan ekonomi dan geopolitik global.

Tidak hanya itu, ASEAN juga memiliki kekuatan ekonomi yang cukup menjanjikan. Dengan jumlah penduduk yang telah mencapai lebih dari 700 juta jiwa pada awal 2026, Asia Tenggara merupakan salah satu pasar terbesar dunia. Pertumbuhan ekonomi kawasan yang relatif stabil membuat ASEAN diproyeksikan menjadi salah satu pusat pertumbuhan global dalam beberapa dekade mendatang.

Perang dagang global antara Amerika Serikat dan Tiongkok bahkan memberi peluang baru bagi ASEAN melalui perpindahan rantai pasok internasional. Banyak perusahaan dunia mulai memindahkan sebagian basis produksinya ke negara-negara Asia Tenggara melalui skema “China+1”. Kondisi ini membuat ASEAN menjadi salah satu tujuan investasi asing terbesar di dunia dalam beberapa tahun terakhir.

Transformasi ekonomi digital kawasan juga berkembang sangat cepat. Negara-negara ASEAN mulai memperkuat integrasi ekonomi digital melalui ASEAN Digital Economy Framework Agreement (DEFA). Kawasan ini diperkirakan akan menjadi salah satu pusat ekonomi digital terbesar dunia dengan nilai ekonomi yang terus meningkat hingga 2030.

Selain ekonomi digital, ASEAN juga mulai memperkuat kerja sama energi regional melalui proyek ASEAN Power Grid dan berbagai inisiatif energi hijau lainnya. Langkah tersebut dilakukan untuk memperkuat ketahanan energi kawasan di tengah ancaman krisis global akibat konflik internasional dan gangguan rantai pasok dunia.

Namun kekuatan ASEAN tidak akan berarti besar apabila negara-negara anggotanya gagal menjaga solidaritas internal kawasan. Hari ini ASEAN tidak cukup hanya bertahan sebagai forum diplomasi biasa. Asia Tenggara harus mulai bergerak menjadi kawasan yang lebih mandiri dan memiliki ketahanan kolektif di berbagai bidang, mulai dari ekonomi, energi, maritim, teknologi, hingga keamanan kawasan.

Dengan populasi besar, sumber daya alam melimpah, serta posisi geografis yang sangat strategis, ASEAN sebenarnya memiliki modal kuat untuk tumbuh menjadi salah satu kekuatan besar dunia. Akan tetapi, potensi tersebut hanya akan menjadi kenyataan apabila negara-negara ASEAN mampu bergerak bersama dan meninggalkan ego sektoral masing-masing.

Karena itu, muncul berbagai dorongan agar ASEAN mulai memikirkan penguatan sistem ekonomi regional yang lebih mandiri. Wacana diversifikasi sistem pembayaran regional, termasuk penggunaan mata uang lokal dan pengurangan ketergantungan terhadap dolar AS, mulai menjadi pembahasan dalam berbagai forum ekonomi internasional.

Meski demikian, langkah tersebut tentu tidak dapat dilakukan secara emosional atau tergesa-gesa. ASEAN membutuhkan fondasi ekonomi, moneter, dan kelembagaan yang sangat kuat agar mampu membangun sistem keuangan regional yang stabil dan dipercaya dunia internasional. Karena itu, penguatan kerja sama ekonomi, perbankan, investasi, dan transformasi digital harus menjadi prioritas utama kawasan mulai dari sekarang.

Selain ekonomi, ASEAN juga harus memperkuat kerja sama di bidang riset, pendidikan, ilmu pengetahuan, dan teknologi. Dunia hari ini tidak lagi hanya ditentukan oleh kekuatan militer atau sumber daya alam semata, tetapi juga oleh kemampuan menghasilkan inovasi dan teknologi baru. Negara-negara Asia Tenggara perlu membangun pusat-pusat riset bersama, memperkuat kolaborasi universitas, serta menciptakan ekosistem inovasi kawasan agar mampu bersaing dengan negara-negara besar dunia lainnya.

Dalam konteks maritim, ASEAN juga perlu memperkuat ketahanan kawasan secara kolektif. Jalur laut Asia Tenggara merupakan nadi perdagangan dunia. Karena itu, stabilitas Laut China Selatan, Selat Malaka, dan kawasan Indo-Pasifik harus dijaga bersama demi keamanan perdagangan, energi, dan masa depan ekonomi kawasan.

Namun penguatan ASEAN tidak boleh diarahkan untuk menciptakan eskalasi konflik global baru. Sebaliknya, kekuatan kawasan harus dibangun dengan tujuan menjaga perdamaian, keamanan, dan keselamatan masyarakat Asia Tenggara. ASEAN harus menjadi kawasan yang mampu berdiri mandiri tanpa mudah diintervensi, tetapi tetap terbuka terhadap kerja sama internasional yang adil dan saling menghormati.

Situasi geopolitik dunia hari ini memperlihatkan bahwa ketahanan kawasan menjadi kebutuhan yang sangat mendesak. Konflik di berbagai belahan dunia membuktikan bahwa ketergantungan yang terlalu besar terhadap kekuatan luar dapat membuat negara-negara kecil mudah terombang-ambing dalam krisis global. Karena itu, ASEAN perlu mulai membangun otonomi strategisnya sendiri secara bertahap dan realistis.

ASEAN pada periode 2026 diperkirakan akan semakin fokus pada penguatan stabilitas ekonomi dan keamanan kawasan di tengah ketidakpastian global. Fokus tersebut mencerminkan upaya negara-negara Asia Tenggara untuk menjaga solidaritas regional di tengah dinamika geopolitik dunia yang terus berkembang.

Pada akhirnya, masa depan ASEAN sangat ditentukan oleh keputusan hari ini. Jika negara-negara Asia Tenggara mampu memperkuat solidaritas kawasan, membangun ekonomi yang lebih mandiri, meningkatkan kerja sama ilmu pengetahuan dan teknologi, serta menjaga stabilitas kawasan secara kolektif, maka ASEAN berpotensi tumbuh menjadi salah satu kekuatan besar dunia yang disegani.

Namun apabila kawasan ini terus terpecah oleh kepentingan politik sempit dan ketergantungan terhadap kekuatan luar, maka posisi ASEAN akan semakin rentan di tengah tekanan geopolitik global yang semakin keras. Karena itu, saatnya Asia Tenggara tidak lagi hanya berbicara tentang persatuan, tetapi mulai benar-benar menjalankannya demi masa depan kawasan yang damai, kuat, dan berdaulat.

Mahasiswa Program Doktor (S3) Studi Islam, Pascasarjana UIN Ar-Raniry, Banda Aceh. Penulis dan pengkaji sosial keagamaan dengan lebih dari 83 artikel opini di berbagai media daring serta 10 publikasi ilmiah pada jurnal bereputasi (Sinta 1, Sinta 3, dan Sinta 5). Beberapa publikasinya merupakan hasil kolaborasi akademik dengan profesor antropologi dari UIN Ar-Raniry yang juga Research Fellow di Universiti Sultan Zainal Abidin, penulis dan peneliti dari Ez-Zitouna University, Tunisia, serta dosen Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta. Fokus kajiannya meliputi antropologi Islam, dinamika sosial keagamaan, serta analisis isu-isu global, nasional, dan lokal. Aktif sebagai anggota Majelis Surah Buku Aceh dan presenter dalam berbagai forum seminar nasional maupun internasional.

✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Mahasiswa Program Doktor (S3) Studi Islam, Pascasarjana, UIN Ar-Raniry Banda Aceh.
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...