Nyaris Kandas, Ketua! Sekarang Kita Gak Sedang Baik-Baik Saja

Oleh: Aswan Nasution
Alumni Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala. Saat ini bertempat tinggal di Serbelawan ni Huta, Simalungun, Sumatera Utara
Kelen tengoklah luar jendela kedai kopi itu sebentar. Gak usah pakai kacamata kuda, pakai mata yang jujur aja. Ada rasa sesak yang merayap diam-diam di jalanan, kan? Di aspal yang membara, di gang-gang sempit, sampai di dompet kita masing-masing. Jujur sajalah kita, gak usah bersandiwara lagi: ekonomi kita sekarang lagi gak baik-baik saja, Gawat kali pun.
Cobalah tengok angka-angka di berita itu. Rupiah jatuh telungkup ke titik paling rendah sepanjang sejarah. Bagi orang-orang elit di atas sana yang duduk di ruangan wangi ber-AC, kejatuhan Rupiah itu mungkin cuma grafik naik turun di layar komputer. Tapi bagi mamak-mamak kita yang tiap pagi musti mutar otak di Pajak Baru yang dulu terbakar sudah hampir setahun belum di perbaiki., jatuh nilai duit ini rasanya kayak dihantam balok.
Harga barang merayap naik kayak kesurupan. Beras, minyak, cabai—semuanya kompak naik kelas jadi barang mewah. Sementara itu, lapangan kerja makin jepit, sesempit napas anak-anak muda tamatan kuliah yang luntang-lantung bawa map lamaran.
Tabungan yang dikumpul bertahun-tahun sambil meras keringat? Habis. Kandas nyaris tak bersisa cuma demi nambal urusan perut hari ke hari.
Ini bukan lagi cerita teori ekonomi yang membosankan di kampus-kampus. Ini sudah urusan hajat hidup orang banyak! Urusan isi piring dan masa depan yang makin abu-abu.
Celakanya lagi, ujian di depan kita ini masih panjang kali jalurnya. Di luar sana geopolitik dunia lagi mendidih, perang di Timur Tengah gak jua reda, bikin jalur perdagangan kacau balau. Belum lagi para ilmuwan sudah tiup peluit peringatan: El Nino paling kuat sepanjang zaman sudah tegak di depan mata kita.
Makjang! Satu masalah aja udah bikin pinggang kita mau patah, ini datang pulak sejuta masalah sekaligus dalam satu waktu. Mau jadi apa kita?
Dalam kondisi yang serba genting begini, sebetulnya apa yang paling kita butuhkan? Publik, pasar, orang kecil—semuanya cuma minta satu hal: kepastian!
Bukan ketenangan semu yang sengaja dibikin-bikin sama humas pemerintah. Bukan narasi manis yang dikemas seolah-olah keadaan kita “aman-aman saja.”
Orang di pasar saham sampai abang becak di pinggir jalan, semuanya mengharapkan hal yang sama: transparansi dan kejujuran. Kita butuh arah yang jelas. Kita butuh tahu, nakhoda kapal besar bernama Indonesia ini sebenarnya mau bawa kita berlayar ke mana di tengah badai begini?
Tapi, makin ke sini, justru kepastian itu yang makin mahal kita dapatkan.
Yang kita tonton tiap hari malah panggung sandiwara yang bikin pening kepala. Data dipilih-pilih—mana yang wangi dan bagus dipajang ke depan, yang busuk dan bobrok disurukkan dalam-dalam di bawah keset.
Lebih menyakitkan hati lagi, pejabat-pejabat kita sering kali melihat masalah hidup dan mati ini dengan sangat bercanda. Isu rakyat kelaparan dijawab pakai kelakar, protes dijawab senyum sinis, dan kebijakan berubah-ubah kayak cuaca.
Hari ini diputuskan A, besok diganti B, lusa direvisi jadi C. Macam mana gak bingung pasar? Macam mana gak pening publik? Keteladanan dari para pemimpin itu sudah menguap entah ke mana.
Keteladanan itu sudah mati, Ketua. Di saat rakyat jelata dipaksa mengetatkan ikat pinggang sampai sesak napas—suruh hemat ini-itu—orang-orang di atas sana malah sibuk pamer kemewahan dan buang-buang anggaran untuk proyek yang gak masuk prioritas.
Nampak kali gak ada peka-pekanya nurani mereka. Pemborosan di atas, pengetatan di bawah. Ini ironi yang bikin kita cuma bisa mengelus dada sambil geleng-geleng kepala di warung kopi.
Padahal, yang ngasih peringatan ini bukan kaleng-kaleng. Sudah datang dari mana-mana. Ekonom dalam negeri yang masih lurus otaknya sudah menjerit. Lembaga keuangan internasional sudah kirim sinyal bahaya. Media nasional dan internasional tak henti-hentinya menulis duka. Logika sajalah kita, Ketua: gak mungkin orang-orang pintar itu keliru berjamaah di waktu yang sama.
Gak mungkin mereka janjian mau bohong.
Di sini, yang dipertaruhkan adalah nasib puluhan juta kepala manusia. Makanya, situasi ini harus diurus dengan keseriusan yang sepadan, bukan dilempar pakai lelucon di depan kamera wartawan.
Para pakar sudah bosan ngasih nasihat: berhentilah ngasih “obat tidur” sama publik. Jangan jejali lagi telinga rakyat pakai ilusi ketenangan yang palsu.
Ceritakan apa adanya! Sampaikan dengan jujur kalau memang kondisi kita lagi gawat. Dari kejujuran itulah nanti lahir rasa percaya. Kasih kebijakan yang konkret, konsisten, dan gak mencla-mencle. Pimpin negeri ini dengan solid dan tegas dari atas sampai bawah. Itulah satu-satunya obat penawar yang bisa menenangkan pasar dan bikin rakyat adem. Bukan pidato formal yang hambar itu.
Suka atau gak suka, masa-masa berat masih panjang di depan kita. Dan jujur saja, ini baru babak pertama. Tekanan ekonomi belum mau reda, cuaca ekstrem bakal menghantam ladang petani kita, dan dunia di luar sana masih bergejolak hebat. Tentu kita harus tetap optimis—kita ini bangsa petarung, dari dulu tahan banting.
Kita pasti bisa melewati badai ini, asal kita berjalan dengan mata yang terbuka lebar, bukan berjalan sambil merem dibuai ilusi yang diciptakan oleh kekuasaan.
Syaratnya cuma satu, dan ini gak bisa ditawar lagi: mari kita serius urus bangsa ini. Sangat serius, Ketua! Karena mengelola negara ini bukan soal menang-menangan infografis yang cantik di media sosial, tapi soal memastikan besok pagi dapur rakyat masih bisa mengepulkan asap.
Kalau kelen ingat-ingat lagi, aroma kecemasan hari ini mirip kali dengan tanda-tanda awal tahun 1998 dulu. Waktu itu kita pikir badai biasa, rupanya krisis hebat yang merubuhkan segalanya. Kita gak mau sejarah kelam itu berulang lagi di tanah ini. Tolonglah, sebelum rakyat di bawah ini makin menjerit dan hilang kesabaran, belajarlah dari sejarah.
Kita rindu sosok pemimpin yang punya nyali dan otak jenius seperti Pak Habibie dulu. Begitu memegang kemudi di masa kritis, beliau gak sibuk bikin pencitraan atau melempar lelucon hambar. Beliau langsung kerja senyap, fokus menekan ego sektoral, dan berhasil menjinakkan dolar hingga Rupiah menguat tajam. Itu baru namanya kelas eksekutor, Ketua! Bukan kaleng-kaleng.
Janganlah sampai rakyat turun ke jalan dan rusuh di mana-mana baru kelen di atas sana tersadar dari tidur nyaman kelen. Jangan tunggu martabat bangsa ini terkoyak dulu baru sibuk menggelar rapat darurat. Pasar butuh bukti konkret, perut rakyat butuh kepastian isi piring, bukan simulasi data yang dipercantik di atas kertas.
Tolong, urus negara ini dengan sisa-sisa rasa hormat kelen pada rakyat yang sudah memilih. Turunkan ego, pangkas pemborosan yang gak penting itu, dan fokus selamatkan Rupiah serta daya beli kami. Sebelum semua terlambat dan kapal ini karam, berbuatlah! Karena kalau rakyat sudah bergerak karena lapar, retorika secantik apa pun gak akan mempan lagi menahan amarah kami. Bersatulah kelen demi kami, sebelum badai sesungguhnya meruntuhkan menara gading kelen!
Horas… Horas… Horas.
Oleh: Aswan Nasution
Alumni Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala. Saat ini bertempat tinggal di Serbelawan ni Huta, Simalungun, Sumatera Utara
Kelen tengoklah luar jendela kedai kopi itu sebentar. Gak usah pakai kacamata kuda, pakai mata yang jujur aja. Ada rasa sesak yang merayap diam-diam di jalanan, kan? Di aspal yang membara, di gang-gang sempit, sampai di dompet kita masing-masing. Jujur sajalah kita, gak usah bersandiwara lagi: ekonomi kita sekarang lagi gak baik-baik saja, Gawat kali pun.
Cobalah tengok angka-angka di berita itu. Rupiah jatuh telungkup ke titik paling rendah sepanjang sejarah. Bagi orang-orang elit di atas sana yang duduk di ruangan wangi ber-AC, kejatuhan Rupiah itu mungkin cuma grafik naik turun di layar komputer. Tapi bagi mamak-mamak kita yang tiap pagi musti mutar otak di Pajak Baru yang dulu terbakar sudah hampir setahun belum di perbaiki., jatuh nilai duit ini rasanya kayak dihantam balok.
Harga barang merayap naik kayak kesurupan. Beras, minyak, cabai—semuanya kompak naik kelas jadi barang mewah. Sementara itu, lapangan kerja makin jepit, sesempit napas anak-anak muda tamatan kuliah yang luntang-lantung bawa map lamaran.
Tabungan yang dikumpul bertahun-tahun sambil meras keringat? Habis. Kandas nyaris tak bersisa cuma demi nambal urusan perut hari ke hari.
Ini bukan lagi cerita teori ekonomi yang membosankan di kampus-kampus. Ini sudah urusan hajat hidup orang banyak! Urusan isi piring dan masa depan yang makin abu-abu.
Celakanya lagi, ujian di depan kita ini masih panjang kali jalurnya. Di luar sana geopolitik dunia lagi mendidih, perang di Timur Tengah gak jua reda, bikin jalur perdagangan kacau balau. Belum lagi para ilmuwan sudah tiup peluit peringatan: El Nino paling kuat sepanjang zaman sudah tegak di depan mata kita.
Makjang! Satu masalah aja udah bikin pinggang kita mau patah, ini datang pulak sejuta masalah sekaligus dalam satu waktu. Mau jadi apa kita?
Dalam kondisi yang serba genting begini, sebetulnya apa yang paling kita butuhkan? Publik, pasar, orang kecil—semuanya cuma minta satu hal: kepastian!
Bukan ketenangan semu yang sengaja dibikin-bikin sama humas pemerintah. Bukan narasi manis yang dikemas seolah-olah keadaan kita “aman-aman saja.”
Orang di pasar saham sampai abang becak di pinggir jalan, semuanya mengharapkan hal yang sama: transparansi dan kejujuran. Kita butuh arah yang jelas. Kita butuh tahu, nakhoda kapal besar bernama Indonesia ini sebenarnya mau bawa kita berlayar ke mana di tengah badai begini?
Tapi, makin ke sini, justru kepastian itu yang makin mahal kita dapatkan.
Yang kita tonton tiap hari malah panggung sandiwara yang bikin pening kepala. Data dipilih-pilih—mana yang wangi dan bagus dipajang ke depan, yang busuk dan bobrok disurukkan dalam-dalam di bawah keset.
Lebih menyakitkan hati lagi, pejabat-pejabat kita sering kali melihat masalah hidup dan mati ini dengan sangat bercanda. Isu rakyat kelaparan dijawab pakai kelakar, protes dijawab senyum sinis, dan kebijakan berubah-ubah kayak cuaca.
Hari ini diputuskan A, besok diganti B, lusa direvisi jadi C. Macam mana gak bingung pasar? Macam mana gak pening publik? Keteladanan dari para pemimpin itu sudah menguap entah ke mana.
Keteladanan itu sudah mati, Ketua. Di saat rakyat jelata dipaksa mengetatkan ikat pinggang sampai sesak napas—suruh hemat ini-itu—orang-orang di atas sana malah sibuk pamer kemewahan dan buang-buang anggaran untuk proyek yang gak masuk prioritas.
Nampak kali gak ada peka-pekanya nurani mereka. Pemborosan di atas, pengetatan di bawah. Ini ironi yang bikin kita cuma bisa mengelus dada sambil geleng-geleng kepala di warung kopi.
Padahal, yang ngasih peringatan ini bukan kaleng-kaleng. Sudah datang dari mana-mana. Ekonom dalam negeri yang masih lurus otaknya sudah menjerit. Lembaga keuangan internasional sudah kirim sinyal bahaya. Media nasional dan internasional tak henti-hentinya menulis duka. Logika sajalah kita, Ketua: gak mungkin orang-orang pintar itu keliru berjamaah di waktu yang sama.
Gak mungkin mereka janjian mau bohong.
Di sini, yang dipertaruhkan adalah nasib puluhan juta kepala manusia. Makanya, situasi ini harus diurus dengan keseriusan yang sepadan, bukan dilempar pakai lelucon di depan kamera wartawan.
Para pakar sudah bosan ngasih nasihat: berhentilah ngasih “obat tidur” sama publik. Jangan jejali lagi telinga rakyat pakai ilusi ketenangan yang palsu.
Ceritakan apa adanya! Sampaikan dengan jujur kalau memang kondisi kita lagi gawat. Dari kejujuran itulah nanti lahir rasa percaya. Kasih kebijakan yang konkret, konsisten, dan gak mencla-mencle. Pimpin negeri ini dengan solid dan tegas dari atas sampai bawah. Itulah satu-satunya obat penawar yang bisa menenangkan pasar dan bikin rakyat adem. Bukan pidato formal yang hambar itu.
Suka atau gak suka, masa-masa berat masih panjang di depan kita. Dan jujur saja, ini baru babak pertama. Tekanan ekonomi belum mau reda, cuaca ekstrem bakal menghantam ladang petani kita, dan dunia di luar sana masih bergejolak hebat. Tentu kita harus tetap optimis—kita ini bangsa petarung, dari dulu tahan banting.
Kita pasti bisa melewati badai ini, asal kita berjalan dengan mata yang terbuka lebar, bukan berjalan sambil merem dibuai ilusi yang diciptakan oleh kekuasaan.
Syaratnya cuma satu, dan ini gak bisa ditawar lagi: mari kita serius urus bangsa ini. Sangat serius, Ketua! Karena mengelola negara ini bukan soal menang-menangan infografis yang cantik di media sosial, tapi soal memastikan besok pagi dapur rakyat masih bisa mengepulkan asap.
Kalau kelen ingat-ingat lagi, aroma kecemasan hari ini mirip kali dengan tanda-tanda awal tahun 1998 dulu. Waktu itu kita pikir badai biasa, rupanya krisis hebat yang merubuhkan segalanya. Kita gak mau sejarah kelam itu berulang lagi di tanah ini. Tolonglah, sebelum rakyat di bawah ini makin menjerit dan hilang kesabaran, belajarlah dari sejarah.
Kita rindu sosok pemimpin yang punya nyali dan otak jenius seperti Pak Habibie dulu. Begitu memegang kemudi di masa kritis, beliau gak sibuk bikin pencitraan atau melempar lelucon hambar. Beliau langsung kerja senyap, fokus menekan ego sektoral, dan berhasil menjinakkan dolar hingga Rupiah menguat tajam. Itu baru namanya kelas eksekutor, Ketua! Bukan kaleng-kaleng.
Janganlah sampai rakyat turun ke jalan dan rusuh di mana-mana baru kelen di atas sana tersadar dari tidur nyaman kelen. Jangan tunggu martabat bangsa ini terkoyak dulu baru sibuk menggelar rapat darurat. Pasar butuh bukti konkret, perut rakyat butuh kepastian isi piring, bukan simulasi data yang dipercantik di atas kertas.
Tolong, urus negara ini dengan sisa-sisa rasa hormat kelen pada rakyat yang sudah memilih. Turunkan ego, pangkas pemborosan yang gak penting itu, dan fokus selamatkan Rupiah serta daya beli kami. Sebelum semua terlambat dan kapal ini karam, berbuatlah! Karena kalau rakyat sudah bergerak karena lapar, retorika secantik apa pun gak akan mempan lagi menahan amarah kami. Bersatulah kelen demi kami, sebelum badai sesungguhnya meruntuhkan menara gading kelen!
Horas… Horas… Horas.












