Artikel · Potret Online

Merawat Ukhuwah, Menjaga Marwah Almamater

Penulis Muhammad Ali Akbar, M.Pd.I.
Agustus 9, 2026
11 menit baca 13
2b72dd4a-b1d5-4fd7-a51f-d115c7181774
Foto / IlustrasiMerawat Ukhuwah, Menjaga Marwah Almamater

Silaturrahmi IKAPDA ASEL dan ABDYA Bersama Pimpinan Pesantren Darul Arafah Raya

Oleh: Muhammad Ali Akbar, M.Pd.I.

KUA Tapaktuan, Aceh Selatan

Ada pertemuan yang sekadar mempertemukan manusia, tetapi ada pula pertemuan yang mempertemukan kembali kenangan, perjuangan, nilai-nilai pendidikan, dan ikatan persaudaraan yang pernah tumbuh dalam satu almamater. 

Silaturrahmi Ikatan Alumni Pesantren Darul Arafah Raya (IKAPDA) Aceh Selatan dan Aceh Barat Daya bersama Pimpinan Pesantren Darul Arafah Raya (PDAR) pada tahun 2026 menjadi salah satu pertemuan yang memiliki makna mendalam bagi kami para alumni.

Pertemuan ini bukanlah pertemuan pertama. Jauh sebelumnya, pada tahun 2017, para alumni PDAR yang berdomisili di Aceh Selatan dan Aceh Barat Daya mulai membangun komunikasi yang lebih terarah. Dari komunikasi dan semangat kebersamaan tersebut kemudian terbentuk kepengurusan IKAPDA Aceh Selatan dan Aceh Barat Daya. Kehadiran kepengurusan ini bukan sekadar persoalan struktur organisasi, tetapi menjadi wadah untuk menjaga silaturrahmi, mempererat persaudaraan, saling mengenal perkembangan sesama alumni, serta menghadirkan kembali semangat almamater di tengah kehidupan masyarakat.

Sebagai alumni, kami menyadari bahwa setelah meninggalkan pondok pesantren, perjalanan hidup setiap orang menjadi berbeda. Ada yang menjadi guru, dosen, penyuluh agama Islam, pengusaha, aparatur pemerintahan, tokoh masyarakat, akademisi, dan berbagai profesi lainnya. Ada yang melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, ada yang mengembangkan usaha, dan ada pula yang mengabdikan dirinya langsung di tengah masyarakat.

Namun, satu hal yang tidak boleh hilang adalah identitas sebagai alumni. Sebab, di balik perbedaan profesi dan perjalanan hidup tersebut, terdapat satu kesamaan sejarah: kami pernah ditempa, dididik, dibimbing, dan belajar dalam satu rumah besar bernama Pesantren Darul Arafah Raya.

Allah Swt. berfirman:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا

“Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.”

(QS. Ali ‘Imran: 103)

Ayat ini menjadi pengingat bahwa persatuan dan persaudaraan bukan sekadar kebutuhan organisasi, tetapi merupakan bagian dari ajaran Islam. Silaturrahmi alumni menjadi salah satu jalan untuk merawat persaudaraan tersebut.

Awal Silaturrahmi IKAPDA ASEL dan ABDYA

Perjalanan silaturrahmi alumni PDAR di Aceh Selatan dan Aceh Barat Daya memiliki cerita yang panjang. Pertemuan pada tahun 2017 menjadi salah satu momentum awal terbentuknya komunikasi yang lebih terorganisir. Setelah itu, hubungan antaralumni terus berjalan meskipun tidak selalu dapat bertemu secara langsung.

Pertemuan terakhir sebelum tahun 2026 berlangsung pada bulan Ramadan tahun 2023. Setelah beberapa waktu tidak berkumpul secara langsung, akhirnya pada tahun 2026 kembali terbuka ruang untuk mempererat silaturrahmi. Bagi sebagian orang, mungkin pertemuan seperti ini terlihat sederhana. Tetapi bagi alumni pesantren, duduk bersama dengan orang-orang yang pernah melewati masa pendidikan yang sama memiliki nilai emosional tersendiri.

Kehadiran Guree: Sebuah Kebanggaan bagi Alumni

Silaturrahmi tahun 2026 menjadi semakin istimewa karena dihadiri oleh perwakilan Pimpinan Pesantren Darul Arafah Raya, yaitu Ustadz Misdan, Ustadz Nirwansyah, dan Kayyis.

Kehadiran para guru bukan sekadar menjadi tamu dalam sebuah pertemuan alumni. Bagi kami, kehadiran guree adalah simbol bahwa hubungan antara pesantren dan alumni tidak pernah benar-benar terputus.

Dalam tradisi pendidikan pesantren, hubungan guru dan murid memiliki dimensi yang sangat kuat. Guru bukan hanya orang yang menyampaikan ilmu, tetapi juga orang yang pernah mendoakan, membimbing, menegur, memotivasi, dan menyaksikan proses pertumbuhan seorang santri.

Karena itu, ketika seorang alumni bertemu kembali dengan gurunya setelah bertahun-tahun, sesungguhnya ia sedang bertemu dengan bagian dari sejarah hidupnya sendiri.

Allah Swt. berfirman:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”

(QS. Al-Mujadilah: 11)

Ayat ini mengingatkan kita tentang kemuliaan ilmu dan orang-orang yang mengajarkannya. Maka menghormati guru dan menjaga hubungan dengan pesantren merupakan bagian dari menghargai perjalanan ilmu yang telah kita lalui.

Nostalgia yang Tidak Pernah Selesai

Bagi alumni, membicarakan PDAR tentu tidak lengkap tanpa mengenang berbagai aktivitas masa lalu. Ada banyak kenangan sederhana yang sekarang justru menjadi cerita yang sangat berharga.

Salah satunya adalah muhadatsah di depan asrama. Para santri berdiri berhadapan dengan teman masing-masing. 

Satu menjadi lawan bicara, sementara yang lainnya berusaha merespons menggunakan Bahasa Arab. Terkadang lancar, terkadang lupa kosakata, bahkan tidak jarang muncul tawa ketika salah mengucapkan sebuah kalimat.

Tetapi dari aktivitas sederhana itulah keberanian berbicara tumbuh.

Kami belajar bahwa bahasa tidak akan dikuasai hanya dengan menghafal teori. Bahasa harus dipraktikkan, diucapkan, didengarkan, dan digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Begitu juga dengan menghafal kosakata Bahasa Arab dan Bahasa Inggris setelah Subuh. Saat sebagian orang mungkin baru memulai aktivitas pagi, para santri sudah duduk mengulang mufradat dan vocabulary. Kosakata yang awalnya terasa berat akhirnya menjadi bagian dari kebiasaan.

Ada pula kenangan bagi santri yang mengikuti program Tahfizhul Qur’an, ketika malam menjadi waktu untuk mendekatkan diri kepada Allah. Hafalan Al-Qur’an dimurojaah, kemudian dibaca dalam shalat Tahajjud di depan kamar. Suasana malam yang tenang, suara bacaan Al-Qur’an, dan kesungguhan para santri menjadi bagian dari pendidikan ruhani yang tidak mudah dilupakan.

Dari kegiatan tersebut, kita belajar bahwa pendidikan pesantren sesungguhnya tidak hanya membentuk kemampuan akademik. Pesantren membangun kebiasaan, kedisiplinan, keberanian, kemandirian, spiritualitas, dan karakter.

Inilah yang dalam perspektif manajemen pendidikan disebut sebagai pembentukan budaya pendidikan. 

Pendidikan yang kuat bukan hanya menghasilkan orang yang mengetahui banyak hal, tetapi juga manusia yang memiliki kebiasaan baik dan mampu menerapkan ilmunya dalam kehidupan.

Pesantren Tidak Hanya Mengajarkan Ilmu, Tetapi Membentuk Kehidupan

Sebagai seseorang yang berkecimpung dalam dunia pendidikan dan penyuluhan agama Islam, saya melihat bahwa pendidikan pesantren memiliki kekuatan yang sangat besar dalam membentuk karakter generasi muda.

Pesantren memiliki ruang pendidikan yang relatif utuh. Santri belajar di kelas, tetapi mereka juga belajar ketika berada di asrama. Mereka belajar dari guru, tetapi juga belajar dari teman. Mereka belajar melalui kitab dan buku, tetapi juga melalui kedisiplinan, kebersamaan, ibadah, tanggung jawab, dan kehidupan sehari-hari.

Karena itu, ketika berbicara tentang pesantren, kita tidak boleh hanya melihatnya dari sisi kemampuan akademik.

Pesantren adalah tempat ilmu bertemu dengan keteladanan, disiplin bertemu dengan kebiasaan, dan pengetahuan bertemu dengan pembentukan akhlak.

Rasulullah saw. bersabda:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.”

Pesan inilah yang seharusnya menjadi salah satu ruh pendidikan Islam. Ilmu yang tinggi harus berjalan bersama akhlak yang baik.

Pesan Penting Pimpinan PDAR kepada Alumni

Salah satu hal penting yang menjadi perhatian dalam pertemuan tersebut adalah harapan Pimpinan PDAR agar alumni dapat terus membangun kerja sama dengan pesantren dalam berbagai bidang.

Alumni tidak hanya diharapkan menjadi orang-orang yang mengenang pesantren, tetapi juga menjadi bagian dari mata rantai perjuangan pesantren.

Salah satu bentuk kontribusi yang dapat dilakukan adalah membantu sosialisasi Pesantren Darul Arafah Raya di daerah tempat alumni berdomisili.

Pesan ini sangat relevan dengan kondisi pendidikan saat ini. Pesantren menghadapi tantangan yang berbeda dibandingkan masa lalu. Salah satu persoalan yang perlu menjadi perhatian adalah menurunnya jumlah santri dan dyah yang masuk ke pesantren.

Tentu persoalan tersebut tidak dapat dilihat dari satu faktor saja. Faktor ekonomi keluarga menjadi salah satu pertimbangan. Di sisi lain, pilihan masyarakat terhadap sekolah negeri semakin terbuka dan tidak lagi memiliki keterbatasan seperti masa lalu. Perkembangan sekolah umum, perubahan pola pendidikan, perkembangan teknologi, serta berbagai faktor sosial lainnya juga ikut memengaruhi pilihan orang tua dalam menentukan pendidikan anak.

Karena itu, pesantren perlu terus melakukan penguatan mutu, inovasi, komunikasi publik, dan sosialisasi tanpa meninggalkan identitas serta nilai-nilai kepesantrenan.

Di sinilah alumni memiliki peran yang sangat strategis.

Alumni dapat menjadi jembatan komunikasi antara pesantren dengan masyarakat. Alumni yang berada di berbagai daerah dapat menjelaskan pengalaman mereka, menyampaikan keunggulan pendidikan pesantren, memberikan informasi kepada orang tua, serta memperkenalkan perkembangan pesantren kepada generasi muda. 

UAD, Jamal Selian dan Semangat Menghidupkan Kembali Jejaring Alumni

Dalam silaturrahmi tersebut hadir pula tokoh masyarakat Ustadz Ahmad Darmawi (UAD)  dan Jamal Selian, alumni ke-5 Santri Darul Arafah. Kehadiran tokoh-tokoh senior alumni menjadi sesuatu yang penting karena mereka merupakan bagian dari sejarah panjang perjalanan PDAR.

Para alumni senior memiliki pengalaman, jaringan, dan pengetahuan yang dapat menjadi kekuatan bagi generasi alumni berikutnya.

Dalam konteks Aceh Selatan, khususnya Tapaktuan, jaringan alumni ini perlu terus dihidupkan. Jangan sampai alumni hanya berkumpul ketika ada acara tertentu. Akan jauh lebih baik apabila alumni dapat menjadi jaringan yang aktif dalam bidang pendidikan, dakwah, sosial, ekonomi, pengembangan sumber daya manusia, dan berbagai bidang kemasyarakatan lainnya.

Sebagai Penyuluh Agama Islam di KUA Tapaktuan, saya melihat bahwa keberadaan alumni pesantren memiliki potensi besar dalam mendukung pembinaan keagamaan masyarakat. Alumni dapat berkontribusi dalam dakwah, pendidikan keluarga, pembinaan remaja, kegiatan masjid, penguatan literasi Al-Qur’an, serta berbagai kegiatan sosial keagamaan.

Silaturrahmi perlu memiliki program. Program perlu memiliki pembagian tugas. Pembagian tugas membutuhkan koordinasi. Dan koordinasi akan menghasilkan dampak yang lebih besar apabila dilakukan secara konsisten.

Dengan demikian, IKAPDA Aceh Selatan dan Aceh Barat Daya dapat menjadi lebih dari sekadar forum pertemuan. Ia dapat berkembang menjadi jejaring alumni yang produktif dan memberikan kontribusi nyata bagi almamater dan masyarakat.

Sosialisasi PDAR di Aceh Selatan: Sebuah Tanggung Jawab Bersama

Saya pribadi melihat pesan pimpinan untuk membantu sosialisasi PDAR sebagai sebuah amanah yang perlu ditindaklanjuti.

Aceh Selatan dan Aceh Barat Daya, khususnya Tapaktuan, memiliki masyarakat yang memiliki perhatian terhadap pendidikan agama. Karena itu, informasi tentang pendidikan PDAR perlu disampaikan secara baik kepada masyarakat.

Sosialisasi bukan berarti hanya mengajak orang untuk masuk pesantren. Lebih jauh daripada itu, masyarakat perlu mendapatkan gambaran yang jelas mengenai visi pendidikan, kurikulum, pembinaan karakter, program keagamaan, tahfizhul Qur’an, bahasa, kedisiplinan, kegiatan ekstrakurikuler, serta peluang pendidikan lanjutan yang dimiliki pesantren.

Orang tua hari ini memiliki banyak pilihan. Karena itu, pesantren juga harus mampu menunjukkan kualitas dan keunggulannya secara terbuka.

Dalam konteks ini, alumni memiliki keunggulan karena berbicara berdasarkan pengalaman.

Seorang alumni dapat berkata kepada masyarakat:

“Saya pernah berada di sana. Saya pernah merasakan pendidikan itu. Saya tahu bagaimana rasanya belajar, tinggal di asrama, menghafal kosakata, mengikuti muhadatsah, belajar Al-Qur’an, berdisiplin, dan hidup bersama teman-teman. Nilai-nilai itulah yang kemudian saya bawa dalam kehidupan setelah keluar dari pesantren.”

Kesaksian seperti ini sering kali lebih kuat daripada sekadar promosi.

Dari Nostalgia Menuju Kontribusi

Pertemuan alumni sering kali dimulai dengan nostalgia. Kita tertawa mengingat teman yang dahulu sering terlambat, mengenang guru yang tegas, mengingat hukuman karena melanggar disiplin, mengenang malam-malam belajar, kegiatan olahraga, perlombaan, muhadharah, muhadatsah, hafalan, hingga cerita-cerita sederhana di asrama.

Tetapi nostalgia tidak boleh berhenti sebagai cerita.

Kenangan harus berubah menjadi energi untuk berbuat.

Jika dahulu kita belajar bersama di pesantren, hari ini kita harus mampu bekerja sama untuk masyarakat.

Jika dahulu guru membimbing kita, hari ini kita harus ikut membantu guru dan pesantren.

Jika dahulu pesantren memberikan ilmu kepada kita, hari ini sudah saatnya kita memberikan kontribusi kepada pesantren.

Inilah makna kedewasaan seorang alumni.

Memperkuat Ukhuwah Alumni BARSELA

Silaturrahmi IKAPDA Aceh Selatan dan Aceh Barat Daya merupakan bagian dari upaya memperkuat ukhuwah alumni yang berdomisili di wilayah Barat Selatan (BARSELA) Aceh.

Persaudaraan ini jangan hanya dibangun karena memiliki kenangan yang sama, tetapi harus dikembangkan menjadi kekuatan bersama.

Kita berbeda profesi, berbeda tempat tinggal, berbeda bidang pekerjaan, dan berbeda pengalaman setelah menyelesaikan pendidikan. Tetapi kita mempunyai satu akar sejarah yang sama.

Allah Swt. berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, maka damaikanlah antara kedua saudaramu.”

(QS. Al-Hujurat: 10)

Ukhuwah tidak cukup hanya diucapkan. Ia harus dirawat melalui komunikasi, kepedulian, saling membantu, saling mendoakan, dan saling menguatkan.

Menjaga Api Perjuangan yang Pernah Dinyalakan

Pada akhirnya, pertemuan ini mengingatkan kita bahwa perjalanan pendidikan di PDAR bukanlah sebuah cerita yang selesai ketika seorang santri menerima ijazah dan meninggalkan pesantren.

Sesungguhnya, ijazah hanyalah tanda bahwa sebuah tahapan pendidikan telah selesai. Tetapi amanah ilmu baru dimulai ketika seorang alumni kembali ke tengah masyarakat.

Kita pernah belajar bahwa setelah Subuh ada hafalan. Kita pernah belajar bahwa bahasa harus dipraktikkan. Kita pernah belajar bahwa Al-Qur’an harus dimurojaah. Kita pernah belajar bahwa hidup di asrama membutuhkan disiplin. Kita pernah belajar bahwa guru harus dihormati. Kita pernah belajar bahwa teman adalah saudara dalam perjuangan.

Kini semua pelajaran itu harus diwujudkan dalam kehidupan nyata.

Sebagai alumni, mari kita menjadi manusia yang mampu membuktikan bahwa pendidikan pesantren melahirkan pribadi yang berilmu, berakhlak, mandiri, profesional, dan bermanfaat bagi masyarakat.

Rasulullah saw. bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”

Maka ukuran keberhasilan seorang alumni bukan hanya seberapa tinggi pendidikan yang telah ditempuh atau seberapa tinggi jabatan yang dimiliki, tetapi seberapa besar manfaat yang dapat diberikan kepada orang lain.

“Jangan biarkan pesantren hanya menjadi tempat yang pernah kita tinggalkan. Jadikan ia sebagai nilai yang terus kita bawa, nama yang kita jaga, guru yang kita hormati, dan perjuangan yang kita lanjutkan.”

“Waktu boleh memisahkan kita dari asrama, jarak boleh menjauhkan kita dari pesantren, tetapi ilmu, adab, doa guru, dan ukhuwah sesama alumni harus tetap menjadi ikatan yang tidak pernah putus.”

Silaturrahmi IKAPDA ASEL dan ABDYA bersama Pimpinan Pesantren Darul Arafah Raya tahun 2026 hendaknya menjadi momentum untuk memulai langkah baru. Bukan hanya memperbanyak pertemuan, tetapi memperkuat program; bukan hanya bernostalgia, tetapi membangun kontribusi; bukan hanya mengenang guru, tetapi meneruskan perjuangan guru; dan bukan hanya mencintai almamater dalam kata-kata, tetapi membuktikannya melalui karya.

Semoga Allah Swt. senantiasa menjaga ukhuwah seluruh alumni Pesantren Darul Arafah Raya, mempererat hubungan antara alumni dan pimpinan pesantren, memberikan keberkahan kepada para guru, serta menjadikan PDAR terus melahirkan generasi yang berilmu, beriman, berakhlak, dan bermanfaat bagi umat.

Dari Darul Arafah kita pernah belajar.

Dari guru kita menerima ilmu.

Dari persaudaraan kita mendapatkan kekuatan.

Dan kepada masyarakatlah ilmu itu harus kita abdikan.

Salam IKAPDA. Salam ukhuwah. Salam Darul Arafah Raya.

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Muhammad Ali Akbar, M.Pd.I.
Media Perempuan Kritis dan Cerdas
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...