Ketika Buku dan Permainan Tradisional Menemukan Ruangnya Kembali
Oleh: Nita Juniarti
Bahwa semua gerakan sosial akan menemukan jalannya masing-masing—pada akhirnya, saya makin percaya pada pepatah itu. Di tengah riuhnya kekhawatiran kita akan dominasi gawai pada tumbuh kembang anak, sebuah oase kecil hadir di Lapangan Kodim, Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya).
Peringatan Hari Anak yang digelar lebih awal bukan sekadar seremoni kalender, melainkan sebuah ikhtiar nyata untuk merebut kembali ruang bermain dan belajar anak-anak di dunia nyata.
Ada yang unik dari Festival Baca Nyaring hari itu. Nyaris 50 anak hadir dan larut dalam lima lapak aktivitas yang berjalan secara paralel. Di atas kertas, kegiatan yang ditawarkan tampak sangat beragam: mulai dari merangkai buket bunga, meracik teh, hingga menjajal permainan tradisional seperti bakiak dan sapitrong.
Namun, jika ditelaah lebih dalam, ada satu benang merah yang mengikat seluruh keceriaan itu, yakni metode read aloud (membaca nyaring) yang menjadi jiwa dari setiap lapak.
Pendekatan ini menyentuh akar masalah literasi kita hari ini. Selama ini, buku sering kali diperkenalkan sebagai benda mati bukan sesuatu yang bisa dihidupkan. Melalui metode membaca nyaring yang dipadukan langsung dengan pengalaman sensorik—seperti yang dihadirkan para pegiat dari @ketabuku, @sigupaimambaco, @perpustakaandesatangah, hingga @pusdeskepalabandar—narasi dalam buku menjelma menjadi pengalaman yang hidup.
Ketika cerita “Muhi Mencari Air” dilanjutkan dengan praktik membuat teh, atau kisah tentang bunga diwujudkan lewat seni merangkai buket bersama Bu Alfi Syahri Mimi (Ketua Pokja 2 TP-PKK Abdya), anak-anak tidak sekadar mendengarkan cerita dari buku. Mereka menyentuh bendanya, menghirup aroma teh, dan memahami konteks dari buku tersebut. Buku tidak lagi berhenti di balik lembaran kertas; ia mewujud di dunia nyata.
Dulu, saya kerap bertanya-tanya: seberapa sulit, sih, menciptakan ruang bermain yang ramah dan inklusif di ruang publik? Jawabannya ternyata tidak melulu soal besarnya anggaran, melainkan sejauh mana kita mau berkolaborasi.
Kehadiran berbagai elemen—mulai dari relawan literasi, perpustakaan desa, TP-PKK, hingga dukungan lainnya—membuktikan bahwa lintas sektor di Abdya sebenarnya memiliki kerinduan yang sama. Kita hanya perlu duduk bersama dan saling menopang.
Melihat puluhan anak tertawa lepas, berlarian mengejar bola kasti, melompat karet, dan mengeja buku tanpa terdistraksi oleh layar gawai adalah sebuah kemewahan yang makin langka. Ini menjadi sinyal kuat bahwa anak-anak kita sebenarnya tidak pernah benar-benar kehilangan minat pada buku atau permainan tradisional—kitalah yang terlalu sering lupa menyediakan ruangnya.
Gerakan ini mungkin terlihat kecil di tengah samudera tantangan zaman. Namun, melihat sinergi dan mata berbinar anak-anak di Lapangan Kodim hari itu, saya optimistis: benih gemar membaca yang kita tanam secara konsisten dan menyenangkan ini akan mengakar kuat, menuntun mereka menjadi generasi pemegang masa depan yang tidak hanya cerdas, tetapi juga membumi.











