Esai · Potret Online

Politik Susastra Rumah Besar Penulis Satupena

Penulis Reiner Emyot Ointoe
September 1, 2026
5 menit baca 11
38311851-e8e6-4c0b-8e41-54ad655af750
Foto / IlustrasiPolitik Susastra Rumah Besar Penulis Satupena

Oleh Reiner Emyot Ointoe 

“Aku telah menemukan agamaku: tidak ada yang tampak lebih penting bagiku selain sebuah buku. Aku memandang perpustakaan sebagai sebuah kuil.” — Jean‑Paul Sartre(1905-1980), Les Mots(Perancis 1964; Indonesia Gramedia  2000).

Habis kongres terbitlah konsep. Demikianlah cermin dari organisasi para penulis bernama: Satupena. 

Sejak masa kolonial Hindia Belanda, dibentuk organisasi Commissie voor de Volkslectuur(Komisi Bacaan Rakyat), pada 1908. 

Meski Komisi Bacaan Rakyat, sejatinya badan ini, bagian dari politik etis Hindia Belanda, untuk para penulis menghasilkan tulisan-tulisan demi kebutuhaan bacaan rakyat.

Badan inipun sekaligus badan sensor bacaan rakyat yang mengontrol karya penulis sebelum diedarkan ke publik.

Kelak, badan ini berubah pada 1920 menjadi Angkatan Balai Pustaka dan melejitkan para penulis.

Di antaranya: Marah Rusli(Siti Nurbaya, 1922), Merari Siregar(Azab dan Sengsara, 1920), Abdul Muis(Salah Asuhan, 1928) hingga Nur Sutan Iskandar(Apa Dayaku karena Aku Perempuan(1923) dan lainnya.

Kini, yang tinggal sebagai legasi khusus penulis, sebuah penerbit Balai Pustaka, badan negara yang  nyaris bangkrut. 

Melompat ke era digital. Ketika pena berubah jadi tuts di komputer atau laptop, para penulis dan penulisannya  menemukan instrumen mutakhir yang justru makin memudahkan fasilitas imajinasinya terselia segera.

Mengacu pada pemutakhiran badan para penulis ini, McNeely dan Wolverton sudah mematok bahwa sejak era Alexandria manual hingga internet(teknologi arsip) ini, sisa dan legasi seluruh ilmu pengetahuan bisa disimpan tertib dan rapi.

Warisan dan legasi ini, antara lain terdokumen sebagai perpustakaan, laboratorium, republik surat, biara,  universitas dan disiplin(pengetahuan).

Demikian ulas mereka dalam Reinventing Knowledge from Alexandria to Internet(2008). 

Bertolak dari pidato Ketua Umum terpilih kembali, Denny JA PhD — untuk periode 2026-2031 yang tergolong ringkas pula —  yang menyebut Satupena sebagai rumah besar para penulis agar pantas  meneguhkan satu hal: prestasi hampir mustahil tanpa satu wadah!

Alaf modern dan mutakhir bagi para penulis sekaliber apapun, tanpa wadah mereka akan mirip trubadur kembara  peradaban luntang lantung sejak abad pertengahan. 

Mereka mungkin tak sepenuh tak berarti, hanya saja sejarah para trubadur akhirnya tercatat sebagai pujangga istana berpindah-pindah.

Ditilik dari sejarah politik susastra sejak Homerus hingga Dante atau Valmiki hingga Romo Mangun, warisan dan legasi literasi butuh wadah imergensi sekaligus penyelamat. 

Rumah besar Satupena sendiri, sejak 2021 telah mewadahi para penulis dengan berbagai program.

Juga, ikut memfasilitasi para penulis bersama puisi esai melintasi bahasa dan kebudayaan lain dan awal kepengurusan periode kedua(2027-2031) mengikhtiarkab translasi karya-karya penulis Satupena ke dalam bahasa Inggris.

Kelak, translasi buku-buku penulis Satupena akan jadi Weltliteratur di pasar raya digital Google.

Demikian pula, tawaran program mutakhir untuk para penulis Satupena dari pengurus baru periode 2026-2031. 

Dari perspektif politik susastra era digital, diperlukan sedikitnya satu pandangan dari buku berikut.

Tim Wu alias Timothy Shiou‑Ming Wu(54), profesor hukum di Columbia Law School serta penulis kebijakan teknologi yang dikenal luas sebagai pencetus istilah “net neutrality.”

Dalam The Age of Extraction(2026) ia menulis sebuah dakwaan tajam terhadap kekuasaan platform teknologi. 

Wu, menggambarkannya sebagai “feodalisme baru” yang mengekstraksi nilai dari masyarakat melalui data, perhatian, dan ketergantungan digital. 

Buku ini menempatkan fenomena ekonomi digital sebagai politik susastra.

Konsekuensinya: teks, narasi, dan retorika yang membentuk cara kita memahami kekuasaan teknologi dengan satu-satunya wadah yang  „menjanjikan“ bagi  warisan dan legasi warga dunia literasi(Weltliteratur).

Wu, seorang ahli hukum kebijakan teknologi hendak menandaskan bahwa platform yang awalnya tampak sebagai inovasi publik, akhirnya berubah menjadi “toll collectors.”

Buntutnya, istilah  „jaringan netralitas“ Wu ini justru sangat menguasai titik-titik distribusi, identitas, dan pasar aplikasi. 

Ia pun mengulas singkat: “Ekonomi informasi saat ini adalah bentuk feodalisme baru” dengan  mengutip Jaron Lanier.

Sembari menambahkan satire: influencer hanyalah “kelas pekerja terus-menerus berlari di atas treadmill digital”

Sindiran Wu pada aktivis dunia literasi digital menunjukkan bagaimana narasi ekonomi digital berfungsi sebagai politik susastra.

Sekali lagi, pandangan ini membentuk imajinasi sosial tentang kelas, kerja, dan kekuasaan.

Selain itu, Wu juga menyoroti bagaimana data dan perhatian menjadi “resource baru” yang diperlakukan seperti tanah dalam feodalisme lama. 

Hasienda, istilah Portugisnya yang marak di Filipina sejak Jose Rizal. 

Dalam logika politik susastra, Wu menambahkan bahwa platform “pergeseran dari bersaing dalam penciptaan nilai ke monetisasi ketergantungan”, tak lain merupakan teks ekonomi yang tampaknya teknis.

Tapi, sebenarnya adalah narasi ideologis tentang dominasi dalam waham literasi digital.

Lebih lanjut, buku ini bukan sekadar analisis ekonomi, melainkan sebuah teks politik susastra.

Ia mengajak pembaca melihat bagaimana bahasa bisnis, regulasi, dan teknologi membentuk struktur kekuasaan. 

Bagian akhir, Wu menutup dengan nada peringatan: “An urgent wake-up call”(Publishers Weekly).

Lagi-lagi, ia menegaskan bahwa kita harus membaca ekonomi digital sebagai teks yang mengandung politik, bukan sekadar inovasi teknis.

Dengan demikian, The Age of Extraction(Alaf Ekstraksi) hendak menunjukkan  bahwa politik susastra mutakhir tidak hanya lahir dari novel atau puisi.

Pada akhirnya, dari buku ekonomi teknologi ini, ditulis ulang bagaimana relasi sosial dalam bahasa kekuasaan para penulis?

Apakah di luar sana atau di dalam wadah organisasi sendiri sebagai rumah besar? 

Manado, 1 September 2026, ReO Biblothek Kokima Hill.

#credit foto ruang baca Volkslectuur dengan arsitek Barok atas perbuatan Meta AI.

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan esai ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi memberikan ruang ekspresi tanpa intervensi isi.
Tentang Penulis
Reiner Emyot Ointoe
Media Perempuan Kritis dan Cerdas
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...