Artikel · Potret Online

Ustadzah AI dan Kematian Sanad: Ancaman Distorsi Makna di Era Algoritma

Penulis  Ir Azhar
Juli 13, 2026
6 menit baca 29
7a802f75-5611-47c2-bb81-0c3f8c9a4626
Foto / IlustrasiUstadzah AI dan Kematian Sanad: Ancaman Distorsi Makna di Era Algoritma
Disunting Oleh

Oleh Ir. Azhar, M.T.

Dosen Pada Fakultas Teknik Universitas Lampung

Di era pertengahan 1980-an, siaran televisi (TVRI) sudah mulai masuk ke ruang-ruang tamu di banyak rumah warga di Banda Aceh dan Aceh Besar. Siaran itu dipancarkan dari stasiun TVRI Jakarta menuju Satelit Palapa B1 di langit pada ketinggian 36 ribu kilometer di atas khatulistiwa. 

Dari satelit, sinyal siaran diteruskan ke Stasiun Bumi milik PERUMTEL yang terletak di Jl. Teuku Nyak Arif yang untuk selanjutnya dikirimkan dengan menggunakan gelombang mikro ke Pemancar Lokal yang terletak di atas bukit di Gampong Gue Gajah Kecamatan Darul Imarah, Aceh Besar. 

Dari Pemancar Lokal inilah siaran TVRI yang berasal dari Jakarta disebar ke rumah-rumah warga. Sistem jaringan penyiaran ini secara keseluruhan disebut Sistem Komunikasi Satelit Domestik (SKSD) Palapa.

Dari sekian banyak mata acara, salah satu acara yang paling ditunggu-tunggu oleh orang dewasa adalah siaran Dunia Dalam Berita yang mengudara pada pukul 21.00 WIB dan ini menjadi batas waktu bagi anak-anak untuk tidur.  

Acara lain yang sangat menguras pikiran bagi warga di kampung adalah Mimbar Agama Islam yang disiarkan pada hari kamis malam jum’at. Mengapa acara ini menguras pikiran yang sering berujung pada perdebatan? Debat timbul bukan karena isi ceramahnya, bukan karena ilmu yang disampaikan; tetapi debat (dakwa-dakwi) timbul karena teknik dan media penyampaian dakwah. 

Bagi sebagian besar warga, termasuk Teungku-Teungkue Meunasah yang pernah mengenyam pendidikan dan bahkan mengajar di Dayah (meu-drah) , acara Mimbar Agama Islam itu dipandang sebagai yang tidak patut untuk ditonton untuk diambil ilmu-ilmu yang disampaikan. 

Sementara itu, bagi mereka yang mengenyam pendidikan di sekolah-sekolah agama dan perguruan tinggi; mengambil ilmu agama dari siaran TVRI itu boleh-boleh saja selama isinya benar menurut syariat. 

Mengapa para Teungku Meunasah melarang warga untuk mengambil ilmu dari siaran televisi? Menurut para Teungku, walaupun ilmu yang disampaikan adalah benar, tetapi ilmu itu bukan langsung berasal dari manusia, melainkan berasal dari bayang-bayang manusia yang hadir di layar televisi. 

Bagi para Teungku dan sebagian besar warga, ilmu (apalagi ilmu agama) harus langsung berasal dari manusia; dengan kata lain ilmu itu harus bersanad dengan jelas, harus disampaikan dari guru ke murid secara langsung di ruang-ruang belajar. Ilmu yang bersanad menjadi sangat penting dalam dakwah.

Ternyata konsep pemikiran para Teungku yang oleh sebagian kecil golongan dianggap terlalu berlebihan dan bahkan divonis kolot, sekarang ini kembali memperoleh relevansinya di saat perkembangan teknologi semakin maju dan melaju  menjauhi SKSD tadi itu. 

Perkembangan teknologi telekomunikasi ditambah dengan teknologi kecerdasan buatan, benar-benar telah mengubah wajah peradaban kita. Dengan perkembangan teknologi tersebut, kita bisa belajar apa saja, di mana saja, dan kapan saja kita mau, termasuk untuk belajar ilmu-ilmu agama, bahkan untuk menjadi guru agama pun bisa asalkan punya sedikit pemahaman kemudian dipoles sana-sini untuk selanjutnya disebar melalui berbagai-bagai media. 

Di situlah letak tempat munculnya permasalahan. Belakangan ini, jagat media sosial Indonesia terpukau oleh kehadiran sosok “Ustadzah AI”. Dengan penampilan anggun dan retorika yang teduh, akun ini berhasil mengumpulkan lebih dari satu juta pengikut. Namun, di balik visual yang meyakinkan tersebut, tersimpan realitas yang meresahkan: Ustazah Hajar bukanlah manusia, melainkan produk fabrikasi Artificial Intelligence (AI). 

Fenomena ini bukan sekadar tren teknologi, melainkan sinyal bahaya bagi keutuhan nalar publik dan kemurnian ajaran agama.

Masalah paling mendasar dan fatal dari keberadaan “pendakwah artifisial” ini adalah ketidakmampuan mesin dalam memproses kesucian teks. Dalam tradisi keilmuan Islam, pelafalan ayat suci Al-Qur’an dan Hadis tidak hanya sekadar perkara bunyi, melainkan aspek tauhid yang ketat. 

Kesalahan satu harakat atau makhraj saja dapat mengubah makna secara drastis—bahkan bisa berujung pada distorsi ajaran yang menyesatkan.

AI, sebagai sebuah entitas algoritma, tidak memiliki pemahaman linguistik Arab yang mendalam, apalagi sanad keilmuan yang bersambung. 

Ketika mesin melafalkan wahyu tanpa pemahaman konteks maupun latar belakang keilmuan yang valid, ia sedang melakukan “pencemaran” terhadap teks sakral. Masalahnya, bagi masyarakat awam yang minim verifikasi, visual yang rapi dan suara yang “terdengar bijak” sering kali dianggap sebagai jaminan kebenaran. Inilah jebakan psikologis yang sangat berbahaya: kita dipaksa percaya bahwa apa pun yang tampak sempurna secara visual, otomatis valid secara substansial.

Fenomena ini diperparah dengan ketiadaan akuntabilitas. Berbeda dengan pendakwah manusia yang terikat tanggung jawab moral, intelektual, dan hukum atas apa yang ia sampaikan, sosok AI adalah entitas nir-tanggung jawab. Jika di masa depan akun robot ini menyampaikan tafsir yang keliru atau memicu perpecahan, tidak ada pihak nyata yang bisa dimintai pertanggungjawaban.

Selain itu, masifnya konten semacam ini berisiko menciptakan infocalypse—sebuah fase di mana banjir informasi palsu mengaburkan batas antara kebenaran dan kebohongan. Penjahat siber kini telah mengubah modus operandinya: mereka tidak lagi sekadar meretas sistem operasi (software), melainkan meretas psikologis manusia (brainware). 

Di Indonesia, di mana figur agama memegang otoritas kepercayaan tertinggi, manipulasi identitas ini adalah alat yang sangat efektif untuk kepentingan ekstremisme, penipuan donasi, hingga polarisasi politik.

Secara sistemik, penggunaan AI dalam dakwah juga memutus rantai transmisi ilmu. Tradisi keislaman yang selama ini dijaga melalui metode talaqqi (pembelajaran langsung dari guru yang otoritatif) kini terancam digantikan oleh “produk statistik” yang dihasilkan algoritma. 

Jika kita membiarkan ini menjadi norma baru, kita sedang menormalisasi kesalahan dan mengikis standar kebenaran agama kita sendiri.

Teknologi memang diciptakan sebagai alat bantu, namun ia tidak boleh menjadi pengendali pikiran kita. 

Sudah saatnya masyarakat lebih kritis dalam melakukan tabayyun. Keindahan visual dan kecanggihan sintesis suara tidak boleh dijadikan indikator kesahihan sebuah ajaran.

Di era di mana identitas bisa direkayasa dengan sekali klik, integritas informasi adalah benteng pertahanan terakhir nalar kita. Jangan biarkan kemasan digital yang memikat menuntun kita pada distorsi ajaran yang justru meruntuhkan fondasi iman dan logika. 

Sudah saatnya kita lebih waspada: jangan biarkan robot mengambil alih otoritas yang seharusnya dipegang oleh mereka yang berilmu dan bertanggung jawab.

Ternyata, apa-apa yang dulunya dilarang oleh para Teungku Meunasah yang oleh sebagian kalangan dianggap kolot dan tak mendasar, kini sedikit banyaknya sudah memperlihatkan kebenarannya. 

Pada akhirnya, kita harus kembali pada prinsip fundamental dalam tradisi keilmuan Islam, yakni sanad. Sebagaimana diingatkan oleh Abdullah bin al-Mubarak, ‘Sanad adalah bagian dari agama; jika bukan karena sanad, niscaya siapa pun akan berkata apa saja sesuka hatinya.’ 

Gus Baha sering menekankan bahwa pemahaman agama yang autentik tidak bisa sekadar dipetik dari teks-teks mati secara otodidak, melainkan harus melalui proses talaqqi—perjumpaan langsung dengan guru yang otoritatif.

Di era kecerdasan buatan, prinsip ini menjadi lebih relevan daripada sebelumnya. Jika Rasulullah SAW saja menerima wahyu melalui perantara Malaikat Jibril yang memiliki mata rantai keilmuan yang jelas, maka bagaimana mungkin kita memercayakan pemahaman agama pada mesin yang tidak memiliki akar sanad, apalagi tanggung jawab moral? 

Jangan biarkan kemudahan teknologi memutus mata rantai ilmu yang telah dijaga selama berabad-abad. Mengaji bukan sekadar membaca, ia adalah perkara menjaga kemurnian; dan kemurnian itu hanya bisa dijamin oleh guru yang memiliki sanad, bukan oleh algoritma yang sekadar merangkai data. 

—-* 

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...