Pesona Gadis Lawang

Oleh Ummi Sarahani
20 Juni 2026
10 menit baca
224925bd-d51f-40f9-88fa-fa5f54d61b4f
Pesona Gadis Lawang

Ummi Sarahani 

Tenaga Pendidik berdomisili di Sabang

Cuaca panas siang itu menyengat kuat. Sinaran mata raksasa begitu garang, bagaikan sihir yang membuat warga Pulau Weh terlupa pada bengisnya topan musim barat yang menyapa setiap sorenya. 

Dalam beberapa hari terakhir ini, Pulau Weh selalu disinggahi badai sore walau hanya beberapa jenak. Sementara itu, aku saat ini sedang terduduk di salah satu kursi ekonomi KMP BRR. Kapal ini dalam hitungan menit akan segera bertolak meninggalkan Pelabuhan Balohan. 

Seperti biasa keberangkatannya tidak sesempurna jadual yang tertera. Bahkan kali ini tertunda lebih lama dari biasanya. 

Sembari menunggu, aku menyimak percakapan penumpang kapal yang duduk satu baris denganku. 

Berlayar di bangsal rakyat ini meninggalkan banyak cerita yang unik. Aku senang berselancar dengan armada ekonomis seperti ini. Banyak cerita yang menarik dan inspiratif untuk kujadikan pengalaman untuk diriku sendiri atau untuk kuceritakan ulang pada orang lain.

“Untong na mata uroe, meuhan sayang that ureung meu-lawang” (Terj: Untung ada matahari, kasihan petani cengkeh bila terus-menerus hujan). Sela salah satu penumpang.

Aku senang mendengar kesan itu. “Selalu ada yang kemudahan dalam setiap kesulitan” Gumamku. Saat ini di Sabang memang sedang memasuki musim petik cengkeh. Di kiri kanan bahu jalan banyak terpal yang dihamparkan untuk menjemur cengkeh yang sudah dipetik dan dipisahkan dari tangkainya. 

Selalu ada aroma sensasional yang terbang dibawa angin dan menyapa hidung saat melintasi jalan-jalan yang penuh dengan jemuran cengkeh. Seperti menghirup aroma rokok Dji Sam Soe yang belum dibakar.

Sebagian warga ada juga yang menjemur cengkehnya memanfaatkan landasan jetty Pelabuhan CT-1 dan CT-3 BPKS yang sudah bertahun-tahun terlantar tanpa aktivitas investasi seperti yang selalu dijanjikan kepada kami.

Cengkeh adalah sisa-sisa ketahanan ekonomi warga Sabang. Dulu harga cengkeh perkilo-nya setara dengan satu mayam emas, atau sekitar delapan juta rupiah bila dikonversikan dengan nilai tukar mata uang hari ini, Namun setelah bisnis dimonopoli oleh keluarga Soeharto, harga jeblok, dan terus jeblok. 

Harga dikendalikan sesuai dengan selera pemodal besar yang memonopoli pasar, sementara petani tidak memiliki nilai tawar, maka harga jual petani pun nyungsep ke dasar laut. Tahun ini harga cengkeh hanya bertahan di kisaran seratus ribuan per-kilo nya. 

Inilah kenapa aku sebut sisa-sisa ketahanan ekonomi. Masih bolehlah harga segitu daripada tidak sama sekali.Rakyat menjerit, tapi jeritan itu hilang ditelan oleh ganasnya badai musim barat, berlalu bersama manisnya janji investasi yang akan masuk ke Sabang, tapi entah kapan.

Seperti lazimnya, setelah melewati tenggat lima belas menit, suara pemandu pun terdengar dari alat pengeras suara dari ruang kapten. Suara yang memutuskan kembara fikiranku, mengabarkan kapal akan segera berlayar. Kulihat beberapa orang di kiri-kananku mengangkat tangan dan berdoa untuk keselamatan di perjalanan. 

Aku pun mengangkat tangan dan berdoa untuk keselamatanku kembali ke daratan Aceh. Aku menutup doa itu sambil mengusap dua tangan ke wajahku yang berkeringat oleh suhu tinggi di ruang deck ekonomi. Udara betul-betul terik siang ini

Aku lalu mengambil posisi rebahan. Jarak tempuh ke daratan hampir dua jam yang memberiku waktu cukup untuk melandaikan kepenatan tubuh. 

Dua minggu ini aku menjalani hari-hari dengan irama yang ketat. Jadual yang kupadatkan, temuan yang cukup banyak, serta catatan-catatan yang membutuhkan tindak lanjut serta agenda-agenda lain yang sudah menungguku di kantor Jakarta. Aku memilih untuk mengisi dua jam ini dengan rebahan cantik.

Sayangnya mataku tidak mau diajak kompromi. Aku tidak bisa memejamkan mata. Meninggalkan Kota Sabang seolah meninggalkan satu misteri yang belum bisa aku pecahkan hingga saat ini. 

Memoriku diputar kembali pada cerita ketika pertama sekali aku menginjakkan kaki di bumi para aulia ini lima tahun yang lalu. 

Alkisah, sekali waktu aku bertemu dengan seorang perempuan pemetik cengkeh dalam sebuah tema yang tidak biasa. Suatu sore yang kumanfaatkan untuk berolahraga, namun aku disergap oleh hujan badai di tengah agenda olah fisik itu. Lalu seorang perempuan hadir begitu saja seperti malaikat, dan pergi begitu saja tanpa kutahu banyak tentang dirinya yang bisa kujadikan penanda dan cerita.

Sebenarnya kunjungan kali ini adalah misi ke limaku ke Sabang. Setiap tahun aku selalu ditugaskan ke daerah dalam sebuah perjalanan bisnis. Setiap kunjungan seperti ini biasanya memakan waktu dua minggu. Dalam misi pertama itulah aku dipertemukan dengan gadis ini, dan dalam misi kedua hingga misi kali ini, aku selalu diganggu oleh wajah yang berperawakan lembut ini yang tidak pernah aku temukan lagi.

Aku berusaha melacaknya disela-sela penugasanku. Aku juga berharap masih ada pertemuan lain yang spontan, mengingat Kota Sabang yang tidak begitu luas, dan sesama warga terbukti saling mengenal satu sama lain.

Sejak misi pertama itu, setiap kali ada penugasan ke daerah, aku selalu memilih ke Aceh, tidak mau ke Propinsi lain. Aku ingin ke Sabang dan memecahkan misteri si Gadis Pemetik Cengkeh ini.

Pikiranku menerawang ulang pada catatan lima tahun yang lalu. Cerita bermula ketika suatu sore, di tengah joggingku, aku terjebak hujan yang sangat deras. Saat itu aku sedang berada di seputaran tugu utama Sabang Fair. 

Sejak keluar dari penginapan di Kawasan Paradiso, aku sudah melihat gumpalan awan hitam yang menggantung di ujung teluk. Tapi aku tidak begitu mengindahkannya 

“Ah… paling juga awan lari” hiburku sendiri

Aku tetap melanjutkan rencanaku untuk jogging melayari rute Paradiso – Perdagangan. 

Bagiku bayang gelap itu hanyak hujan lari yang akan dibawa cepat oleh angin menuju ke tengah laut. Namun dugaanku salah. Awan hitam itu menuju daratan dan kota Sabang, dan celakanya juga melintasi rute joggingku. Maka kuyuplah sudah aku di sore itu tanpa atap tempat aku menaungkan diri.

Dengan ketiadaan pilihan itu, aku paksakan diri untuk terus berjalan dalam curahan air yang mengguyur lebat. Sekujur tubuhku basah, dan aku ikhlaskan. Dalam kelebatan yang kian pekat, tiba-tiba sebuah mobil double cabin berciri impor menepikan diri dan menawarkan tumpangan untukku.

“Mau ikut, Bang” Suaranya lugas sambil menurunkan jendela kaca mobilnya.

“Boleh juga” Jawabku spontan karena tiada pilihan selain menerima kebaikan hati orang tersebut.

Aku tidak sempat berpikir panjang atas tawaran itu. Segera aku melompat ke dalam mobil dan meletakkan punggungku di atas kursi empuk dan kering, mengambil posisi seolah seorang navigator untuk pembalap yang akan memasuki kawasan off-road di perlintasan Ujong Kareung. 

Bagiku sederhana saja, aku hanya ingin menyelamatkan tubuhku yang sudah mulai basah kuyup dan menggigil.

“Mau kemana, Bang” tanya si pengemudi

“Pulang ke penginapan” Jawabku singkat

“Alamatnya dimana, Bang” tanyanya lagi

Aku terdiam lama, mataku tertuju pada si pengemudi, yang ternyata adalah seorang perempuan muda yang cantik dalam balutan hijab setengah rapi, otaknya seolah berhenti berpikir, dan aku kesulitan untuk mengingat alamat homestay yang sudah aku tempati dalam seminggu terakhir ini. 

Aku merasa seperti pernah melihat wajah ini, tetapi entah kapan dan di mana.

“Kenapa Bang, kok lihat lama-lama, suka ya” Celetuknya sedikit ketus.

Pertanyaan itu memutuskan keterpanaanku, dan aku sontak tersadar serta malu karena sudah terciduk begitu. 

Aku sedikit bingung demi menyadari ada seseorang, layaknya malaikat, yang dikirimkan untuk menghantarkan bantuan transportasi untukku. 

Dari perawakannya aku menduga usinya sekitar dua puluh tahunan, kulit wajahnya yang legam kecoklatan dijilat matahari, basah oleh tempias hujan, sebuah keindahan yang mempesonaku sesaat. 

Dari sela kerudungnya yang disibak angin aku bisa melihat ada bagian-bagian wajahnya, terutama di bagian telinga yang terlihat putih. 

“Namaku Jaka” aku mulai dengan memperkenalkan diri, sambil mengulurkan tangan untuk menutup rasa malu itu.

“Namaku Lidia” jawabnya cepat sambil menjawab uluran tanganku

“Aku seorang petani lawang, beranak dua” Sambil tersenyum dia menambahkan keterangan tentang dirinya.

Mendengar keterangan itu, aku jadi lebih maklum tentang kesehariannya yang lebih banyak berada di lapangan terbuka. Sekaligus menjadi alaram bagiku agar sedikit menahan diri dalam berbicara. Aku tidak mau bermasalah dengan istri orang. Walau aku tidak percaya bahwa ada perempuan semuda ini yang sudah memiliki dua orang anak.

“Mungkin dia menikah muda, mungkin saja, why not” Aku membatin menenangkan pikiranku.

Karena dia tahu ini adalah kali pertama aku ke Sabang, dia berbaik hati membawaku berkeliling dan melihat spot-spot penting di Kota Sabang. Niatan yang tadinya hanya mengantarkan aku kembali ke home stay, yang bisa ditempuh dalam jarak 5 menit, akhirnya menjadi rute yang tidak punya akhir. 

Lalu sepanjang perjalanan itu kami terlibat dalam diskusi dan cerita yang mengalir indah dan bersahaja, akrab dan saling menjaga diri. Kami habiskan waktu hampir satu jam di dalam mobil bercerita tentang Kota Sabang dan pesona yang tersimpan di dalamnya. 

Dia juga bercerita tentang industri cengkeh yang dulu hidup dan menopang kebutuhan penduduk. Warga Sabang dulunya adalah petani berduit yang berasal dari hasil produksi cengkeh mentah. 

Dia adalah seorang perempuan yang mewarisi belasan hektar cengkeh dari ayahnya, yang setiap tahun dia panen dan hasil panen dia bagikan untuk mendukung kebutuhan ekonomi ibunya yang sudah menjanda dan adik-adiknya yang sedang menempuh pendidikan.

“Oh, Perempuan lawang” aku menggumam. Karena sedang musim panen, maka kulitnya terlihat agak legam. Pun begitu aku tetap bisa menangkap pesona kecantikannya yang alamiah, tanpa sentuhan kosmetik. Bagiku dia lebih terlihat seperti Duta Wisata dari Kepulauan Fiji atau Kepulauan Tahiti. 

Kulitnya yang dasarnya putih, lalu terbakar matahari hingga kecoklatan, tapi tetap terlihat bersih dan berpori-pori halus, dengan bola mata yang berwarna coklat bening. Sejujurnya aku terpesona.

Terkadang ada juga sedikit sesal, ternyata dia sudah memiliki status yang sudah tidak bisa diganggu gugat.

Menjelang magrib aku baru diantarkan ke alamat tempat aku tinggal. Setiba di penginapan dia turun dan menyalamiku sembari dia menyelipkan selembar map kota sabang ke dalam tasku

“Pakai map itu untuk bisa menyusuri Kota Sabang di sela-sela kesibukan, Abang” Sarannya sejuk.

“Senang bisa berkenalan dengan Abang yang punya pengalaman begitu banyak” Kesannya kepadaku dengan nada tulus.

Aku berterimakasih atas pemberian itu walau aku belum sempat menyentuh map yang sudah diselipkan ke dalam tasku itu. Aku terenyuh dengan keakraban yang cepat dan bersahaja begini. Perempuan Aceh adalah pribadi yang ramah, santun dan bisa membawa diri. Aku sudah buktikan sendiri apa yang selama ini dikatakan teman-teman padaku.

Lalu dia kembali ke mobil, membuka pintu, dan menekan gas serta persneling sambil melempar senyum dan melambaikan tangannya padaku. Aku hanya menatap kepergiannya yang menjauh lalu hilang di ujung tikungan, masih dalam ketidakpercayaan pada apa yang aku alami dalam satu jam terakhir.

Sepeninggal si gadis, aku membuka lembaran map yang diberikannya kepadaku. Namun mataku tertuju pada secarik kertas yang terselip di sela-sela map itu, bertuliskan:

“Aku minta maaf, tidak terlalu terbuka soal status diriku pada orang asing. 

Sebenarnya aku belum berkeluarga, I am sorry. Selamat menjelajahi alam Sabang, dan kita akan bertemu lagi bila takdir menuliskannya begitu” begitu catatan singkat di kertas itu.

Suasana hatiku bercampur aduk membaca tulisan itu. Ada kekaguman pada sikapnya yang menjaga diri, ada kemarahan pada sikapnya yang terlalu memproteksi diri, dan ada sesal pada diri sendiri, kenapa aku tidak berani menanyakan alamatnya serta penanda-penanda pribadi yang memudahkanku untuk menemuinya kembali di kemudian hari.

Akhirnya aku terpenjara dalam pertemuan yang hanya satu jam itu. Sebuah pertemuan yang tidak direncanakan, berlangsung sangat singkat, namun meninggalkan jejak emosional yang abadi hingga beberapa tahun setelah itu. 

Inilah alasan lain kenapa aku selalu memilih ke Aceh atau ke Sabang bila harus melakukan supervisi kerja. Dan aku selalu memilih untuk datang di saat musim panen cengkeh sedang pada puncak-puncaknya berharap ada keajaiban kedua dalam perjalanan bisnis ini.

Aku selalu berharap bisa bertemu lagi dengan Si Gadis Lawang. Aku selalu terganggu bila melihat mobil double cabin berwarna hijau bercorak impor. Hatiku deg-degan berharap pengemudinya adalah si Gadis Lawang. Namun empat tahun sudah aku kembali ke Pulau ini, aku tidak pernah melihat si Gadis itu lagi, bahkan tidak pun mendapat kisah apapun tentang dia dari beberapa warga yang aku coba telusuri.

Aku kehilangan kabar tentang dia sama sekali. Dia seperti hilang bersama angin musim barat, mungkin sudah menikah, mungkin sudah pindah meninggalkan pulau, mungkin sudah dipanggil yang Maha Kuasa dalam beberapa peristiwa alam yang pernah menimpa Kota. 

Dia hilang ditelan bumi seperti cerita Freeport Sabang yang juga dimakan oleh Sejarah yang mungkin tidak pernah akan aku temukan lagi. Tetapi aku berjanji untuk tetap setia kembali ke tanah ini.

Ummi Sarahani
Media Perempuan Kritis dan Cerdas

Diskusi

Upload foto profil kecil (opsional)
Preview avatar
Memuat komentar...

Populer

Artikel yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir

Baca juga

F X W