Esai · Potret Online

Reboan Music #3: Upaya Menyelamatkan Harmoni di Zaman yang Keruh 

Juni 18, 2026
4 menit baca 33
26025fc1-3163-4fba-91cd-29e1798f1ed8
Foto / IlustrasiReboan Music #3: Upaya Menyelamatkan Harmoni di Zaman yang Keruh 
Disunting Oleh

Oleh Fileski Walidha Tanjung 

Malam itu, 17 Juni 2026, Pelataran Dekranasda di kawasan Tugu Pendekar, Kota Madiun, dipenuhi bunyi. Echo 40, Meeting Point, dan D.A Coustic bergantian menghadirkan suara yang mengalir ke ruang malam. Namun bagi saya, Reboan Music #3 bukan sekadar peristiwa musik. 

Ia adalah peristiwa kebudayaan. Sebuah ruang tempat bunyi tidak hanya diperdengarkan, melainkan dipikirkan.

Di tengah dunia yang semakin gaduh oleh notifikasi, algoritma, dan pertarungan opini, kita justru hidup dalam paradoks yang aneh: informasi melimpah, tetapi pemahaman menipis. Kita mengetahui banyak hal, tetapi semakin sulit mendengarkan. 

Kita terhubung dengan ribuan orang, tetapi kehilangan percakapan yang sungguh-sungguh. Di titik inilah sebuah acara musik mingguan yang sederhana seperti Reboan Music menghadirkan makna yang jauh lebih besar daripada yang tampak di permukaan.

Filsuf Jerman, Martin Heidegger, pernah mengingatkan bahwa manusia modern terancam kehilangan kemampuan untuk “berdiam dan mendengar keberadaan.” Dalam masyarakat yang dikuasai teknologi, segala sesuatu cenderung diperlakukan sebagai objek yang harus digunakan, diukur, dan dipercepat. 

Akibatnya, ruang kontemplasi semakin menyempit. Kita menjadi masyarakat yang sibuk berbicara, tetapi miskin mendengar.

Karena itu, bagian paling menarik dari Reboan Music #3 justru bukan ketika panggung dipenuhi ritme dan tepuk tangan, melainkan ketika bunyi berubah menjadi pertanyaan. Momen tersebut hadir melalui pertunjukan eksperimental solois kecapi karya Cecep KF. Di tangan banyak orang, kecapi mungkin hanya dianggap instrumen tradisional. Namun malam itu, kecapi menjelma sesuatu yang lain: sebuah bahasa yang tidak sepenuhnya dapat diterjemahkan oleh kata-kata.

Dari komposisi itulah lahir sebuah peristiwa lintas disiplin. Getaran senar menginspirasi saya menulis naskah dramatic reading berjudul Jerami di Dalam Cermin. Naskah tersebut kemudian dibacakan bersama Dian Widyawati dan divisualisasikan melalui gerak oleh Nugroho Budi. Di sinilah saya menyadari sesuatu yang penting: karya seni yang besar tidak berhenti pada dirinya sendiri. Ia melahirkan karya lain, membuka tafsir lain, dan menciptakan percakapan yang terus berlanjut.

Dalam Jerami di Dalam Cermin, dua tokoh dalam naskah karya saya (Fileski) itu, berdebat tentang kabar, prasangka, dan kebenaran di tengah zaman digital. Mereka berdiri di hadapan cermin yang tidak memantulkan bayangan. Sebuah metafora yang terasa relevan bagi masyarakat hari ini. Kita hidup di era ketika cermin informasi justru sering memperlihatkan apa yang ingin kita lihat, bukan apa yang sebenarnya ada. Algoritma media sosial menciptakan ruang gema yang memperkuat keyakinan kita sendiri. Akibatnya, kebenaran tidak lagi dicari, melainkan dipilih sesuai selera.

Sosiolog Zygmunt Bauman menyebut kondisi ini sebagai “liquid modernity”, modernitas cair yang membuat segala sesuatu menjadi cepat berubah, rapuh, dan sulit dipastikan. Dalam dunia seperti itu, hoaks menyebar lebih cepat daripada verifikasi, kemarahan lebih menarik daripada penjelasan, dan sensasi lebih laku daripada refleksi. Kita menyaksikan masyarakat yang semakin mudah tersulut oleh potongan informasi, tetapi semakin sulit menyusun gambaran yang utuh.

Di tengah situasi tersebut, musik menawarkan kemungkinan yang berbeda. Musik tidak memaksa kesimpulan. Musik mengajarkan jeda. Musik memperkenalkan kita pada ritme, pada kesabaran, pada kemampuan untuk mendengar sesuatu sampai selesai. 

Mungkin karena itulah filsuf Friedrich Nietzsche pernah berkata, “Tanpa musik, hidup akan menjadi sebuah kekeliruan.” Dalam terjemahan yang lebih luas, kalimat itu bukan sekadar pujian terhadap seni bunyi, melainkan pengakuan bahwa manusia membutuhkan pengalaman estetis agar tidak terperangkap dalam cara berpikir yang mekanis.

Pandangan serupa pernah disampaikan penyair Amerika, Walt Whitman, yang menulis, “Aku menerima dan menyanyikan diriku sendiri, dan apa yang kuandaikan akan kauandaikan juga.” Kalimat ini mengingatkan bahwa seni selalu berangkat dari pengalaman personal, tetapi tujuannya adalah menemukan kemanusiaan yang universal. 

Ketika kecapi dimainkan, ketika naskah dibacakan, ketika tubuh bergerak menerjemahkan bunyi, sesungguhnya yang sedang dibangun bukan sekadar pertunjukan, melainkan jembatan antarmanusia.

Reboan Music menunjukkan bahwa kebudayaan tidak selalu lahir dari gedung megah atau festival berbiaya besar. Kadang-kadang ia tumbuh dari pertemuan sederhana setiap hari Rabu. Dari pelataran kota. Dari sekelompok musisi muda. Dari secangkir wedang hangat. Dari keberanian beberapa orang untuk menciptakan ruang perjumpaan di tengah masyarakat yang semakin terfragmentasi.

Barangkali tantangan terbesar abad ke-21 bukanlah kekurangan informasi, melainkan kekurangan kebijaksanaan dalam mengolah informasi. Bukan kekurangan suara, melainkan kekurangan kemampuan mendengarkan. Jika demikian, maka musik bukan lagi sekadar hiburan. Ia adalah latihan menjadi manusia.

Maka ketika malam berakhir dan bunyi terakhir menghilang ke langit Madiun, pertanyaan yang tertinggal bukanlah lagu apa yang paling meriah atau pertunjukan mana yang paling memukau. Pertanyaan yang tertinggal justru lebih mendasar: di tengah dunia yang semakin bising oleh perebutan perhatian, masihkah kita memiliki keberanian untuk mendengar? Sebab mungkin masa depan kebudayaan tidak ditentukan oleh seberapa keras suara yang mampu kita ciptakan, melainkan oleh seberapa dalam keheningan yang masih sanggup kita pahami.

✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan esai ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi memberikan ruang ekspresi tanpa intervensi isi.
Tentang Penulis
Fileski Walidha Tanjung adalah penulis kelahiran Madiun 1988. Aktif menulis puisi, cerpen, esai di berbagai media nasional. Beberapa buku karya terbaru; Melukis Peristiwa, Luka yang Dijahit Doa, Interludium kapibara.
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...