Esai · Potret Online

Dari Beijing ke Bumi Serambi: Mengubah Nilai Menjadi Peradaban yang Bangkit Kembali

Penulis Erfiati Adam
Juni 18, 2026
6 menit baca 4
6c61927c-af4b-467c-a495-29c1a35755f7
Foto / IlustrasiDari Beijing ke Bumi Serambi: Mengubah Nilai Menjadi Peradaban yang Bangkit Kembali
Disunting Oleh

Oleh: Erfiati Adam

Widyaiswara Ahli Madya, Balai Diklat Keagamaan Provinsi Aceh

Pada suatu kesempatan yang penuh makna, saya berkesempatan mewakili Republik Indonesia, khususnya dari Provinsi Aceh, mengikuti program pelatihan dan lawatan khusus bidang pengembangan sumber daya manusia di Beijing, Tiongkok.

Bagi saya, perjalanan ini bukan sekadar tugas dinas biasa, melainkan sebuah perenungan mendalam yang mempertemukan dua realitas: pengalaman melihat kemajuan sebuah bangsa besar, sekaligus membuka kembali ingatan akan kejayaan masa lalu Aceh yang kini terasa jauh terpisah dari kenyataan hari ini.

Di tengah hiruk‑puk kota Beijing yang teratur, terencana, dan terus bergerak maju, satu pertanyaan terus berputar di benak saya: Dahulu, Aceh pernah menjadi pusat peradaban yang disegani, kekayaan alamnya melimpah, ilmunya tersebar ke segenap penjuru, dan sistem pemerintahannya diakui adil dan makmur. Mengapa hari ini kita sering merasa tertinggal, terjebak dalam masalah yang sama, dan seolah sulit melangkah maju?

Lapis Sejarah: Jejak yang Terputus dan Beban yang Dipikul

Jawabannya tidak sesederhana menyalahkan satu pihak saja. Jika kita jujur menelusuri jalan sejarah, kita akan melihat bahwa kejayaan Aceh tidak luntur begitu saja, melainkan tergerus oleh rangkaian peristiwa panjang yang memakan waktu ratusan tahun.

Pertama, gempuran kekuasaan asing: penjajahan Eropa yang ingin menguasai jalur perdagangan dan sumber daya kita, kemudian pendudukan Jepang yang memeras tenaga dan hasil bumi, hingga dinamika hubungan dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang belum sepenuhnya menemukan titik keseimbangan yang adil bagi hak‑hak khusus Aceh. Semua ini merusak struktur pemerintahan, merampas kekayaan alam, dan memutus mata rantai sistem pembangunan yang sudah berjalan berabad‑abad lamanya.

Belum lagi datangnya ujian alam yang luar biasa dahsyat: tsunami 2004 yang menyapu bersih sebagian besar wilayah pesisir dan menghapus jejak peradaban dalam sekejap mata, diikuti banjir bandang, longsor, dan bencana sosial akibat lemahnya pengelolaan dan ketidakadilan pembagian kesejahteraan. 

Ditambah lagi dengan kelemahan sistem yang berlaku secara umum di negeri ini: seringnya aturan hanya tertulis di kertas, pengawasan yang lemah, serta budaya mengandalkan kesadaran semata tanpa dukungan mekanisme yang jelas. Semua faktor ini bersatu dan membuat Aceh terus berada dalam lingkaran kesulitan yang terasa sulit diputus.

Namun di tengah segala kepahitan itu, saya berdiri teguh dan berkata: Kita wajib bersyukur dan berbangga hati! Di tengah segala upaya yang pernah dilakukan oleh kekuatan mana pun untuk melemahkan, memisahkan, bahkan memusnahkan jati diri kita, ada satu harta yang tidak pernah bisa diambil, tidak pernah bisa dihapus, dan tetap kokoh berdiri hingga hari ini: yaitu keturunan Aceh yang memegang teguh keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT.

Inilah modal terbesar kita, yang tidak dimiliki oleh bangsa lain mana pun. Kita memiliki nilai yang lebih tinggi, landasan yang lebih kuat, dan tujuan hidup yang lebih jelas. Jika bangsa lain membangun kemajuannya hanya berlandaskan akal dan materi, kita membangunnya di atas dasar kebenaran dan kepercayaan kepada Sang Pencipta.

Pelajaran dari Beijing: Sistem adalah Jembatan Menuju Kejayaan

Selama mengikuti pelatihan dan mengamati langsung kehidupan di Tiongkok, saya menemukan kunci utama yang menjawab pertanyaan saya selama ini. Mereka juga memiliki nilai dan ajaran luhur dari nenek moyangnya, namun perbedaannya terletak pada satu hal: mereka berhasil menerjemahkan nilai‑nilai itu menjadi sistem, aturan, dan kebiasaan hidup yang terus dijalankan secara konsisten.

Ada tiga praktik terbaik yang sangat relevan dan bisa kita ambil esensinya, bukan sekadar meniru bentuknya:

Pertama: Melembagakan Nilai, Bukan Hanya Menyampaikan Kata‑kata

Di Beijing, prinsip harmoni antara manusia dan alam tidak hanya dibicarakan di mimbar atau ruang kelas, melainkan dijabarkan ke dalam undang‑undang, kebijakan daerah, dan program jangka panjang. Larangan penangkapan ikan selama sepuluh tahun, pengembalian lahan kering menjadi hutan, hingga kewajiban memilah sampah—semua berjalan karena ada sistem yang jelas, pengawasan yang tegas, dan tanggung jawab yang terukur.

Ini menjadi cermin tajam bagi kita: Di Aceh, konsep khalifah fil ardh sebagai pemelihara bumi, prinsip keadilan, dan keseimbangan alam sudah kita hafalkan sejak lama. Namun sayangnya, ia sering hanya berhenti sebagai ajaran teologis, belum menjadi pedoman kerja dan aturan nyata dalam pengelolaan sumber daya, pemerintahan, maupun kehidupan sehari‑hari. Nilai tanpa sistem hanyalah doa tanpa gerakan.

Kedua: Membentuk Disiplin sebagai Bagian dari Identitas

Ketertiban dan kebersihan di tempat umum, sekolah, hingga kantor pemerintahan tidak tercipta karena banyak petugas yang mengawasi, melainkan karena kebiasaan yang dibentuk sejak usia dini. Mereka mengajarkan bahwa apa yang dilakukan seseorang akan berdampak pada orang lain dan masa depan.

Hal ini sangat selaras dengan ajaran Islam kita tentang tanggung jawab individu dan sosial. Namun di sini, kita sering melihat aturan yang hanya berlaku untuk sebagian orang, atau dilaksanakan hanya sesaat saat ada pengawasan. Di Beijing saya belajar: Disiplin bukanlah beban, melainkan jalan untuk melindungi hak bersama dan menjamin keberlangsungan hidup.

Ketiga: Pengembangan SDM yang Berpandangan Jauh

Mereka melatih tenaga kerja bukan hanya agar pandai secara teknis, melainkan agar memiliki visi peradaban. Setiap pelatihan menyatukan keterampilan dengan nilai luhur, sehingga hasil kerjanya tidak hanya menguntungkan hari ini, tapi juga aman untuk masa depan.

Relevansi untuk Aceh dan Tugas Departemen Agama

Kembali ke tanah air, khususnya ke lingkungan kementerian Agama dan Balai Diklat Keagamaan tempat saya mengabdi, pelajaran ini menjadi panduan yang sangat jelas. Kita tidak bisa lagi hanya mengandalkan warisan keimanan semata tanpa menggerakkan potensi yang ada. Kita harus menjadi garda terdepan dalam menjembatani antara keyakinan dan tindakan.

Berikut langkah nyata yang bisa segera kita laksanakan:

✅ Ubah Cara Mengajar dan Melatih

Ajaran tentang alam, keadilan, dan tanggung jawab harus tidak lagi hanya dibahas dari sisi teks semata. Kita terjemahkan menjadi materi praktis: cara mengelola lingkungan kantor, menjaga kebersihan sungai, mengelola hutan bakau, hingga mengatur keuangan dan sumber daya secara jujur. Di madrasah, dayah, dan lembaga pelatihan, keimanan harus dibarengi dengan kemampuan mengelola dunia.

✅ Bangun Sistem Sederhana tapi Tegas

Kita tidak butuh aturan yang rumit. Mulailah dari hal‑hal dasar: mewajibkan tata kelola lingkungan yang baik di setiap lembaga keagamaan, menetapkan larangan tegas merusak alam, dan memastikan aturan itu dijalankan sama rata tanpa pandang bulu. Sejarah membuktikan bahwa kejayaan Aceh dahulu berdiri kokoh karena sistem hukum dan keadilan yang ditegakkan.

✅ Jadikan Keimanan sebagai Tenaga Penggerak, Bukan Sekadar Identitas

Ingatlah: kekuatan kita bukan pada jumlah gedung atau kekayaan materi, melainkan pada keimanan yang menggerakkan tangan dan pikiran. Jika Tiongkok bisa membangun peradaban baru berlandaskan ajaran kunonya, maka kita yang memiliki petunjuk langsung dari Sang Pencipta pasti mampu melampaui mereka.

Penutup: Bangkit dari Akar yang Tidak Pernah Mati

Perjalanan saya ke Beijing menyadarkan saya satu kebenaran yang paling mendasar: Aceh tidak pernah kehilangan modal untuk bangkit kembali. Meskipun pernah dihimpit penjajahan, diuji bencana, dan terhambat oleh kelemahan sistem, kita masih memiliki akar yang hidup: keturunan yang beriman dan bertakwa.

Kita tidak perlu meniru budaya orang lain, tetapi kita wajib mengambil cara mereka mengubah nilai menjadi kenyataan. Kita tidak perlu merasa rendah diri, justru kita harus merasa bertanggung jawab untuk mengembalikan kejayaan Aceh bukan dalam bentuk kekuasaan militer semata, melainkan dalam bentuk peradaban yang makmur, bersih, adil, dan penuh berkah.

Mari kita buang sikap menunggu dan menyalahkan keadaan. Mari kita mulai dari diri sendiri, dari lingkungan kerja, dari lembaga agama, dan dari setiap langkah kecil. Keimanan yang kita miliki adalah cahaya, dan sistem yang kita bangun adalah jalan. Jika keduanya bersatu, maka masa depan Aceh yang gemilang bukan lagi impian, melainkan kenyataan yang akan kita ukir bersama.

✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan esai ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi memberikan ruang ekspresi tanpa intervensi isi.
Tentang Penulis
Erfiati Adam
Widyaiswara Ahli Madya, Balai Diklat Keagamaan Provinsi Aceh
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...