Calon Pewaris

18 Februari 2025
10 menit baca
Calon Pewaris - Cerpen Calon Pewaris dengan latar belakang Kalimantan | Cerpen | Potret Online
Calon Pewaris

Sekonyong-konyong seorang pria berlilit kain merah kuning masuk menenteng…?? Oh Tuhan hal gila apa lagi sekarang. Aku telan liur yang tersisa dari tumpahanku. Kepala pria berjaket dengan mata terbuka serta mulut mengganga itu ada di tangan pria berlilit kain. Pria itu menjambaknya dengan badan yang kemerahan bermandikan darah. Pria berlilit kain itu tampak merokok dan menatap tembok.

Shettttt!!!!!!!!! Aku terhenyak tanpa keseimbangan. Tubuh lunglaiku mendadak jatuh di kasur kamar. Aku kembali dalam tekanan yang begitu memusingkan. Lemas dan kuyu liur dari mulutku tetap tumpah tak karuan. Semua menyesak lalu berangsur surut dengan tekanan mata yang kian berat.

“Kau sudah baikan?” tanya Julak Ampoy. Udara dingin menyusup pori-poriku. Bau halimun juga terasa perdu. Gemericik terdengar di atap. Aku sadar ini hujan di pagi hari. Aku memundurkan badan; terantuk kepalaku oleh ranjang. Oh sadarlah aku sekarang bahwa aku kembali dalam tidur yang cukup tak terurus.

“Minumlah. Hangatkan badanmu dengan ini” kata Julak Ampoy menyuguhkan secangkir kopi.

Aku bangun dan menyandarkan diri. Aku masih ingat pasti kejadian janggal malam tadi. Ku atur napas dalam-dalam. Ku reguk satu teguk kopi dalam cangkir untuk menikmati cafeinnya. Ku rasa itu membantu meningkatkan adrenalineku. Dilanda penasaran hebat, aku beranjak dan berdiri meski setengah pusing. Ayolah kopi! Keluarkan sensasi itu. Aku stabil! Aku raih nikmat ini lalu mulai berjalan keluar tanpa hiraukan Julak Ampoy.

“Hei kau mau ke mana???”

Aku  tak menggubris dan berjalan cepat menuju ruang tamu. Julak Ampoy memburuku. Tapi aku telah berdiri  di depan rak kaset dvd sesuai kejadian malam tadi. Aku maju.

Shett!!! Tanganku gantian dicengkram Julak Ampoy. Aku lepaskan dengan perasaan sama tak pedulinya dengan dirinya terhadapku malam tadi. Aku angkat rak kaset yang tak seberapa berat itu. Aku geser beberapa speaker. Ku amati Julak Ampoy diam seolah membiarkan. Padahal dalam benakku tahu bahwa jika dia mau, bisa saja dia dengan tubuh kuatnya menjaga dan menarikku. Semua telah berpindah dengan sedikit terhambur. Sekarang hanya mandau dan tamengnya yang bersandar di tembok. Aku segera ambil mandau dan tamengnya. Dugaanku tepat; dibalik tameng yang mirip trapesium itu, di tembok terdapat guratan segi empat bekas sambungan papan yang disamarkan cat.

Aku membalik badan dan berjalan menuju Julak Ampoy. Ku serahkan sebuah mandau dan tamengnya yang cukup berat itu.

“Jelaskan kepada saya, Julak?” tanyaku tajam menatap wajahnya yang ringan ramah tanpa bentuk sebuah rasa keterkejutan.

Heri Haliling merupakan nama pena dari Heri Surahman. Beliau pengajar di SMAN 2 Jorong. Heri Haliling selain mengajar juga aktif menulis baik cerpen atau novel dalam aplikasi GWP atau Kwikku. Beberapa karyanya yang telah terbit antara lain: 1. Novlet Rumah Remah Remang, 2024 (J-Maestro). 2. Novel Perempuan Penjemput Subuh, menjadi juara 2 Sayembara Menulis Novel Guru dan Dosen Tahun 2024 (PT Aksara Pustaka Media). 3. Beberapa cerpennya telah termuat dalam media cetak dan digital seperti Balipolitika, Radar Utara, Radar NTT, Negeri Kertas.com, Kaltim Post, Kompasiana, dan Republika

Diskusi

Upload foto profil kecil (opsional)
Preview avatar
Memuat komentar...

Populer

Artikel yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir

Baca juga

F X W