Dengarkan Artikel
Oleh: Syarifudin Brutu
​Di sebuah ruang kelas yang cat temboknya mulai mengelupas seperti kulit kering yang kurang nutrisi, suasana sedang sangat tegang. Bukan karena ujian nasional yang sudah almarhum itu, melainkan karena sebuah pengumuman besar.
​Pak Pilot, sebuah pulpen teknis yang tintanya tinggal dua strip lagi, berdiri tegak di dalam wadah plastik. Di sampingnya, Bang Mark, spidol papan tulis yang badannya sudah mulai bau alkohol karena terlalu sering diisi ulang secara paksa, tampak murung. Sementara itu, Mbak Hapus, sebuah penghapus papan tulis yang permukaannya sudah botak, hanya bisa pasrah bersandar pada tumpukan debu.
​”Kalian dengar kabarnya?” tanya Pak Pilot dengan nada tajam sesajam ujung matanya. “Kita punya pahlawan baru. Namanya MMGBSS. Makan-Makan Gratis Bergizi Siang-Siang.”
​Bang Mark tertawa sampai tutup kepalanya hampir copot. “Wah, luar biasa! Akhirnya, perut anak-anak ini akan lebih pintar daripada otak mereka! Negara ini memang jenius. Mengapa repot-repot menyuruh mereka menghapal rumus Pythagoras kalau mereka bisa kenyang sambil bengong?”
​Mbak Hapus menyahut dengan suara serak, “Katanya, ini kado dari ‘Ayah Bangsa’ untuk rakyatnya. Mereka bilang, ‘Lihatlah kebaikan kami, kami memberi kalian makan!'”
​”Kebaikan?” Pak Pilot mencibir, badannya bergetar hingga tintanya meluber sedikit. “Itu seperti mengambil dompet orang tua si anak di kantong kanan, membelikan kerupuk satu kaleng, lalu memberikan kerupuk itu ke anaknya sambil minta difoto buat konten baliho. Pencitraan gizi! Itu uang pajak, Kawan. Anak itu memakan nasi yang dibeli dari keringat ayahnya sendiri, tapi disuruh berterima kasih pada gedung tinggi di Jakarta.”
​Bang Mark menggoreskan garis miring di meja, seolah membuat grafik kemunduran. “Kalian tahu yang lebih lucu? Kemarin ada anak di seberang sana yang memilih ‘istirahat selamanya’ dengan seutas tali karena tidak sanggup membeli tubuhku—maksudku, membeli pulpen dan buku. Dia mati karena lapar akan ilmu, sementara negara sibuk memesan katering.”
​Suasana mendadak hening. Dingin.
📚 Artikel Terkait
​”Aku jadi teringat sejarah,” gumam Pak Pilot, suaranya kini melunak, penuh wibawa seperti arsip tua. “Aku pernah mendengar cerita dari kakek buyutku tentang Zaman Keemasan Islam. Al-Khawarizmi tidak menemukan Aljabar karena dia dijanjikan Makan siang bergizi gratis. Ibnu Sina menulis The Canon of Medicine bukan karena dia takut stunting, tapi karena ada ekosistem yang menghargai akal di atas segalanya.”
​”Benar,” tambah Mbak Hapus. “Yunani Kuno melahirkan Archimedes tanpa perlu program susu gratis dari kaisar. Orang-orang Mesir membangun piramida dengan geometri yang presisi, bukan dengan kupon makan siang. Tiongkok menemukan kertas agar ide bisa abadi, bukan agar bungkus nasi jadi lebih estetis.”
​Bang Mark menimpali, “Mungkin Newton butuh MMGBSS supaya gravitasi terasa lebih ringan? Atau mungkin Brahmagupta menemukan angka ‘Nol’ karena dia melihat isi piring anak-anak yang hanya berisi janji manis tanpa nutrisi substansi?”
​Mereka bertiga melihat ke arah papan tulis. Di sana, tertulis slogan besar dengan coretan yang tipis dan kabur akibat tinta yang sudah hampir habis namun di paksa untuk menulis: “MENUJU GENERASI EMAS”.
​”Emas?” Pak Pilot tertawa pahit. “Emas itu keras dan berharga. Kalau cuma dikasih makan tanpa diberi alat untuk berpikir, yang lahir bukan Generasi Emas, tapi Generasi Kuning. Lembek, mudah dibentuk, dan mengambang di arus kekuasaan.”
​Tiba-tiba, pintu kelas terbuka. Seorang petugas masuk membawa nampan berisi makanan dengan aroma yang cukup menggoda, namun uapnya seolah menutupi tumpukan buku di pojok ruangan yang sudah berjamur karena tak tersentuh.
​”Selamat makan, Anak-anak!” seru petugas itu riang.
​Pak Pilot melihat seorang murid di kursi depan. Anak itu memandang nasi di depannya dengan mata berbinar, tapi tangannya yang gemetar memegang sebuah pulpen yang sudah patah—yang tak mampu lagi menuliskan mimpinya di atas kertas buram.
​”Lucu ya,” bisik Pak Pilot sebelum dia jatuh pingsan karena kehabisan tinta. “Perut mereka kenyang, tapi masa depan mereka sedang gantung diri di tiang birokrasi.”
​Bang Mark dan Mbak Hapus terdiam. Di luar, matahari siang bersinar terik, menyinari sebuah spanduk besar bertuliskan: “Makan Gratis Adalah Bukti Sayang Negara”. Di bawahnya, sebuah toko buku baru saja bangkrut karena tak ada lagi yang sanggup membeli asupan untuk jiwa.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






