Minggu, April 19, 2026

Kopling (Kopi Keliling)

13 April 2025
4 menit baca
Kopling (Kopi Keliling) - 1000498130_11zon | Cerpen | Potret Online
Kopling (Kopi Keliling)

Oleh: Ilhamdi Sulaiman

Setelah salat Subuh, Ibu Hamidah selalu menyiapkan dagangannya. Ia memasukkan

beberapa jenis kopi sachet, gelas plastik, serta gorengan yang telah ia masak sendiri sebelum salat tadi ke dalam keranjang plastik.

Seperti biasa, ia mangkal berjualan di depan kantor desa. Bu Midah—begitu ia biasa disapa—sudah punya langganan tetap, yaitu para pegawai kantor desa yang letaknya tak jauh dari rumahnya.

“Kopi satu, Bu. Tapi jangan pahit kayak nunggu janji-janji pejabat, ya,” seloroh Pak Dirman sambil bersiap menyapu halaman kantor.

“Kopi pagi, bayar sore, kan Pak?” canda Bu Midah membalas.

Mereka tertawa bersama sambil melirik ke arah sebuah baliho besar yang terpancang tepat di depan kantor.

“Mau ke mana, Pak Sekdes? Nggak biasanya pagi-pagi sudah dinas luar, ” sapa Bu Midah ketika melihat Pak Sekdes melintas di depan keranjangnya.

“Mengawasi pekerjaan di pantai. Hari ini material bambu akan tiba, ” jawab Pak Sekdes.

“Bambu? Untuk apa, Pak?” tanya Bu Midah, penasaran.

“Buat pancang. Dipasang di laut supaya bisa mencegah abrasi, ” jelas Pak Sekdes.

Bu Midah hanya diam, tak benar-benar mengerti maksudnya. Hari itu, dagangan Bu Midah tampak sepi pembeli—tidak seperti biasanya. Sebagian masih utuh dan rencananya akan ia bawa pulang. Padahal waktu baru menunjukkan pukul sembilan pagi.

“Lebih baik aku ke pantai aja, siapa tahu ada yang mau ngopi. Kan kata Pak Sekdes, ada pekerja yang mau pasang bambu di laut, ” pikir Bu Midah.

Ia pun berjalan ke arah pantai yang letaknya di belakang deretan rumah nelayan. Dari kejauhan, ia melihat dua truk besar sudah terparkir, sarat muatan bambu. Beberapa pekerja tampak menurunkannya.

“Ikut ngawasin ke sini, Bu?” sapa Pak Sekdes sambil bercanda. “Ah, Bapak. Saya mah nggak ngerti-ngerti amat soal abrasi. Nggak paham, Pak, ” kata Bu Midah sambil terkekeh.

“Abrasi itu pengikisan daerah pantai yang disebabkan gelombang laut, arus, dan pasang surut air laut, Bu Midah, ” jelas Pak Sekdes sambil menunjuk ke arah bibir pantai yang akan dipagari.

“Oh, begitu ya. Bagus itu, Pak. Biar rumah nelayan nggak dihanyutkan ombak,” kata BuMidah pula.

“Bu Midah sudah punya surat izin usaha belum? Sudah jadi anggota UKM?” tanya Pak Sekdes.

“Masa jualan kopi begini aja harus pakai izin dan jadi anggota?” bantah Bu Midah.

“Iya, biar Ibu bisa dapat bantuan modal dari pemerintah. Nanti saya usulkan melalui desa kita, ” kata Pak Sekdes lagi.

“Ah, males saya, Pak. Saya nggak punya duit buat bayar bikin surat. Lagian Teh Hindun aja udah punya surat izin, tapi nggak pernah dapat bantuan. Yang dapat malah orang yang udah punya modal banyak. Itu kata Teh Hindun, curhat sama saya, ” ujar Bu Midah sambil mencibir, entah ke arah siapa.

Menjelang jam istirahat, para pekerja mulai menghampiri Bu Midah. Ada yang memesan kopi, teh, dan es jeruk padanya.

“Besok jualan di sini aja, Bu. Besok pekerjanya tambah banyak. Pemasangan bambu harus cepat, jadi butuh lebih banyak buruh,” kata sang mandor kepada Bu Midah.

“Oh, begitu. Baik, besok saya datang dari pagi,” jawab Bu Midah senang. Setelah dagangannya habis, sebelum pulang ke rumah, ia mampir dulu ke agen sembako untuk membeli bahan dagangan buat esok hari.

Keesokan harinya, setelah menggoreng dan merebus air untuk dimasukkan ke dalam termos, serta usai salat, Bu Midah langsung menuju pantai tanpa mampir ke kantor desa.

Dari kejauhan, tampak para pekerja pagar bambu yang sudah menunggunya. Betapa kagumnya ia melihat pagar bambu sudah terpancang lebih dari satu kilometer hanya dalam satu hari.

Sudah hampir lima bulan Bu Midah berjualan di pantai, melayani para tukang pancang bambu yang sarapan atau ngopi dan ngeteh saat istirahat. Kini, ia berdagang cukup jauh dari kampungnya. Sepanjang tiga puluh kilometer bambu telah terpancang. Sepanjang itu pula jarak yang ia tempuh pulang dan pergi demi segelas kopi yang selalu ia tawarkan dengan senyum hangat. Bu Midah sangat bersyukur atas kepedulian para pemimpin negri ini yang memikirkan rumah nelayan agar tak tergerus dari ombak.

Jakarta 9 April 2025.

Ilhamdi Sulaiman (Boyke Sulaiman) I Lahir 68 tahun lalu di Medan pada tanggal 12 September 1957. Menamatkan pendidikan sarjana Sastra dan Bahasa Indonesia di Universitas Bung Hatta Padang pada tahun 1986. Berkesenian sejak tahun 1976 bersama Bumi Teater Padang pimpinan Wisran Hadi. Pada tahun 1981 mendirikan Grup Teater PROKLAMATOR di Universitas Bung Hatta. Lalu pada tahun 1986, hijrah ke kota Bengkulu dan mendirikan Teater Alam Bengkulu sampai tahun 1999 dengan beberapa naskah diantaranya naskah Umang Umang karya Arifin C. Noer, Ibu Suri karya Wisran Hadi dan tahun 2000 hijrah ke Jakarta mementaskan Naskah Cerpen AA Navis Robohnya Surau Kami Bersama Teater Jenjang Jakarta serta grup grup teater yang ada di Jakarta dan Malaysia sebagai aktor freelance. Selama perjalanan berteater telah memainkan 67 naskah drama karya penulis dalam dan luar negeri, monolog, dan deklamator. Serta mengikuti event lomba baca puisi sampai saat ini dan kegiatan sastra lainnya hingga saat ini.

Diskusi

Upload foto profil kecil (opsional)
Preview avatar
Memuat komentar...

Populer

Artikel yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir

Baca juga

F X W

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Add New Playlist