Oleh: Novita Sari Yahya
Ia tumbuh dalam rumah sempit di ujung gang pasar. Dinding papan. Lantai semen kasar. Bau sayur dan ikan selalu menempel di udara pagi.
Sejak kecil ia akrab dengan rasa lapar. Ia tahu suara perut kosong lebih keras dari suara apa pun. Ibunya sering berkata pelan saat menanak nasi, “Yang penting kita makan dulu. Soal lain belakangan.”
Kalimat itu melekat kuat.
Ia belajar bahwa kenyang berarti aman. Kenyang berarti hidup.
Remaja itu kemudian menjadi tulang punggung keluarga. Ia mengangkat karung. Ia menimbang barang. Ia menghitung receh. Ia pulang dengan kaki pegal dan punggung panas. Namun ia bangga saat bisa meletakkan uang di meja makan.
“Ini hasil hari ini,” katanya suatu malam.
Ibunya tersenyum. “Kerja keras tidak pernah mengkhianati.”
Ia percaya itu.
Tahun berganti. Ia tidak lagi sekadar buruh pasar. Ia mulai mengelola pasokan barang untuk beberapa toko. Uangnya bertambah. Lingkar pergaulannya meluas. Ia duduk di kafe, bukan lagi di lantai pasar.
Di meja kafe, seorang rekan bisnis berbicara dengan suara rendah.
“Angka ini bisa kita sesuaikan,” katanya sambil menunjuk laporan. “Tidak banyak. Hanya agar margin terlihat wajar.”
Ia menatap lembar kertas itu. “Kalau diperiksa?”
Rekan itu tersenyum tipis. “Semua bisa dibicarakan. Jangan terlalu polos. Kita bukan anak pasar lagi.”
Ia diam.
Malam itu ia memandangi laporan keuangan di ruang kerjanya. Ia tahu angka itu tidak sepenuhnya jujur. Namun ia juga tahu keuntungan akan meningkat. Ia teringat cicilan rumah. Ia teringat biaya sekolah anaknya.
Ia menarik napas panjang. Lalu ia menandatangani berkas itu.
Sejak hari itu, langkahnya berubah.
Ia tidak merasa menjadi orang jahat. Ia hanya merasa realistis. Ia melihat banyak orang melakukan hal serupa. Mereka tetap dihormati. Mereka tetap tampil rapi di acara resmi. Tidak ada yang benar-benar jatuh.
Di sebuah pertemuan bisnis, seorang pria paruh baya berkata lantang, “Yang penting keluarga kita aman. Jangan terlalu takut pada ancaman. Penjara itu cerita lama.”
Beberapa orang tertawa kecil.
Ia ikut tersenyum, meski ada sesuatu yang mengganjal di dada.
Di rumah, istrinya menyuguhkan teh hangat. Anak mereka belajar di ruang tengah.
“Proyek baru lancar?” tanya istrinya.
“Lancar,” jawabnya singkat.
“Kita jadi renovasi dapur?”
Ia menatap wajah istrinya yang penuh harap. “Jadi.”
Istrinya tersenyum lega. “Syukurlah. Aku tidak ingin kita kembali seperti dulu.”
Kata “dulu” menusuk pelan. Ia tahu maksudnya. Masa ketika beras harus dihemat. Masa ketika listrik hampir diputus.
Ia mengangguk. “Kita tidak akan kembali ke sana.”
Beberapa bulan kemudian, berita besar menyebar. Seorang pejabat ditangkap karena penyalahgunaan wewenang. Televisi menayangkan gambar pengawalan dan konferensi pers.
Ia duduk di depan layar bersama beberapa kolega.
“Sial,” gumam salah satu dari mereka.
“Tenang saja,” sahut yang lain. “Dia punya jaringan kuat. Paling juga tidak lama.”
Ia memperhatikan layar tanpa komentar.
Malam itu ia sulit tidur. Ia bangun dan berjalan ke ruang kerja. Ia membuka lemari berisi dokumen. Tumpukan map berderet rapi. Beberapa di antaranya memuat angka yang sudah ia sesuaikan.
Ia mendengar suara langkah kecil.
“Ayah belum tidur?” tanya anaknya yang berdiri di ambang pintu.
“Belum. Kenapa bangun?”
“Aku ingin minum.”
Ia mengantar anaknya ke dapur. Anak itu memeluknya setelah minum.
“Ayah capek?”
Ia tersenyum tipis. “Sedikit.”
“Ayah kerja terus supaya aku tidak lapar, kan?”
Pertanyaan itu sederhana. Namun berat.
“Iya,” jawabnya pelan.
Anaknya tersenyum puas lalu kembali ke kamar.
Ia berdiri lama di dapur. Kata-kata anaknya menggema. Ia memang bekerja agar anaknya tidak lapar. Namun apakah itu cukup untuk membenarkan segalanya?
Keesokan harinya ia bertemu teman lama di pasar. Teman itu masih berjualan seperti dulu.
“Lama tidak kelihatan,” kata temannya sambil menyusun barang.
“Ya, sibuk.”
Temannya tertawa kecil. “Sibuk jadi orang besar.”
Ia menggeleng. “Tidak juga.”
Temannya menatapnya sejenak. “Aku dengar bisnismu maju. Bagus. Tapi hati-hati. Jangan sampai terlalu jauh.”
“Maksudmu?”
“Uang memang penting. Tapi kalau terlalu cinta uang, kita bisa lupa diri.”
Ia terdiam.
Temannya melanjutkan, “Aku tetap di sini. Penghasilan kecil. Tapi aku tidur nyenyak.”
Kalimat itu sederhana. Namun terasa tajam.
Ia pulang denga beban berat memenuhi pikirannya.
Di kantor, rekan bisnisnya kembali membawa laporan baru.
“Ini harus cepat ditandatangani,” katanya. “Kalau tidak, kita rugi besar.”
Ia membaca sekilas. Angka kembali tidak wajar.
“Kita tidak bisa buat sesuai kenyataan?” tanyanya.
Rekan itu mengerutkan dahi. “Kau bercanda? Kalau begitu, keuntungan kita turun drastis.”
“Aku hanya ingin lebih hati-hati.”
Rekan itu menatapnya lama. “Jangan berubah sekarang. Kita sudah sejauh ini.”
Kata-kata itu terasa seperti peringatan.
Ia membawa berkas itu pulang. Ia duduk di meja makan setelah semua orang tidur. Ia membuka kembali halaman demi halaman. Ia membayangkan dua kemungkinan. Satu jalan penuh uang dan risiko. Satu jalan lebih sempit namun bersih.
Ia teringat wajah ibunya bertahun-tahun lalu.
“Kerja keras tidak pernah mengkhianati,” suara itu kembali hadir dalam ingatannya.
Ia memejamkan mata. Tangannya gemetar.
Pagi hari, ia datang lebih awal ke kantor. Rekan bisnisnya sudah menunggu.
“Sudah kau tanda tangani?” tanya rekannya.
Ia meletakkan berkas di meja. “Tidak.”
Rekannya terdiam. “Apa?”
“Aku tidak mau lanjut seperti ini.”
Suasana ruang itu menegang.
“Kau tahu risikonya?”
Ia mengangguk. “Aku tahu.”
“Kita bisa kehilangan banyak.”
“Lebih baik kehilangan sebagian daripada kehilangan semuanya.”
Rekannya menatapnya dengan campuran marah dan kecewa. “Kau berubah.”
Ia menjawab tenang, “Mungkin aku hanya kembali mendengarkan nuraniku”
Hari itu menjadi awal yang berat. Beberapa proyek dibatalkan. Beberapa relasi menjauh. Keuntungan menurun. Rumah terasa lebih sunyi.
Namun setiap malam ia tidur lebih cepat. Dadanya terasa ringan.
Suatu sore, anaknya menghampiri saat ia duduk di teras.
“Ayah, kita tetap bisa makan, kan?”
Ia tersenyum. “Tentu.”
Anaknya tertawa kecil. “Yang penting kita bersama.”
Ia mengangguk.
Ia sadar hidup bukan sekadar memilih antara kenyang atau miskin. Hidup adalah memilih cara untuk kenyang. Ada jalan yang singkat. Ada jalan yang lurus.
Ia pernah hampir tenggelam dalam keyakinan bahwa uang mampu menutup semua ketakutan. Kini ia tahu, ketenangan tidak bisa dibeli dengan angka yang dipalsukan.
Ia tidak menjadi pahlawan. Ia hanya menjadi manusia yang mencoba jujur pada dirinya sendiri.
Di antara kenyang dan kejujuran, ia akhirnya memilih berjalan dengan kepala tegak.
Profil Novita Sari Yahya
Penulis dan Peneliti
Buku yang Diterbitkan:
Diskusi