Artikel · Potret Online

Menulis,  Mengukir  Prestasi  Sejati dan Abadi 

Penulis  Tabrani Yunis
Mei 8, 2026
6 menit baca 12
IMG_1100
Foto / IlustrasiMenulis,  Mengukir  Prestasi  Sejati dan Abadi 

Oleh Tabrani Yunis

Orang-orang yang rajin dan banyak membaca, juga para penulis pasti sudah sering sekali membaca dan bahkan menggunakan kata-kata para filsuf tentang menulis. Kata-kata bijak para filsuf tersebut sering menjadi sumber inspirasi dan mewarnai banyak tulisan para penulis.

Ya, ada banyak kata bijak para filsuf yang mendorong banyak orang untuk menulis. Ya, kegiatan menulis yang merupakan aktivitas produktif itu, memberikan banyak sekali manfaat. Dikatakan demikian, karena para filsuf  juga telah lama menekankan bahwa menulis bukan sekadar mencatat kata-kata, melainkan sebuah tindakan filosofis: ia membentuk pikiran, melatih logika, dan menjadi bukti nyata kemampuan manusia untuk memahami dan mengolah dunia. 

Bahka bagi para filsuf  menulis adalah cara untuk berdialog dengan diri sendiri dan masyarakat, serta meninggalkan jejak pemikiran yang melampaui angka di rapor atau ijazah.

Para pembaca barangkali sudah sangat hafal dengan pandangan sejumlah filsuf tentang menulis. Bagi Plato, menulis adalah bagian dari tradisinya dalam berdialog dengan dirinya dan orang lain. Ia menggunakan dialog tertulis untuk menghidupkan percakapan filosofis. 

Maka, menulis baginya adalah cara menjaga gagasan tetap hidup, meski ia sendiri pernah mengkritik tulisan karena tidak bisa menjawab balik seperti percakapan langsung.

Pasti para pembaca telah banyak membaca karya-karyanya. Semua karyanya itu  membuktikan bahwa tulisan adalah warisan intelektual yang melampaui generasi. Masih belum yakin?

Filsuf lain yang selalu menjadi referensi kita adalah  Aristoteles yang melihat menulis sebagai bagian dari techne (seni sekaligus keterampilan). Baginya, menulis adalah latihan berpikir sistematis, menyusun argumen, dan menghubungkan teori dengan praktik. Hingga saat ini hasil olah pikir Aristoteles masih berseliweran dalam setiap pembicaraan dan diskusi di berbagai tempat.

Nama lain, tentu pula sangat menarik untuk kita ambil pelajaran. Ya, bagaimana Socrates mengajarkan kita dalam melakukan aktivitas menulis. Ya, walau Socrates sendiri tidak menulis, tetapi melalui muridnya Plato, kita tahu ia lebih menekankan dialog langsung. Namun, warisan Socrates justru menunjukkan pentingnya menulis sebagai cara melestarikan pemikiran lisan.

Barangkali para pembaca juga sering membaca tentang pikiran Richard Rorty. Ia menyebutkan bawa  tulisan filsafat sebagai percakapan panjang yang dimulai sejak Plato. Jadi menulis baginya bukan sekadar laporan, melainkan partisipasi dalam diskusi abadi tentang kebenaran, moral, dan kehidupan.

Nah, bagi penggemar  Nietzsche maka pandangan Nietzsche  tentang menulis, semakin mendorong kita untuk menulis. Sebab menurut Nietzsche menulis dengan gaya aforisme, menekankan bahwa tulisan bisa menjadi senjata ideologis untuk mengguncang norma dan membuka jalan bagi kebebasan berpikir.

Bagi yang telah sering membaca buku-buku Pramoedya Ananta Toer, pasti ingat dengan ungkapan motivasi Pramoedya Ananta Toer.  Ia a menekankan bahwa menulis adalah jalan menuju keabadian.  Artinya apa? Ia percaya bahwa tanpa menulis, seseorang akan hilang dari masyarakat dan sejarah. Menulis baginya bukan sekadar keterampilan, melainkan sebuah keberanian dan bukti nyata eksistensi manusia. 

Beberapa kutipan penting dari Pramoedya Ananta Toer misalnya, Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”  Menulis adalah sebuah keberanian.”  “Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.”  

Masih banyak yang bisa kita kutip dari berbagai macam kutipan inspiratif Pramoedya Ananta Toer itu. Semoga kita bisa memaknai semua curahan pikiran dan kutipan penting para penulis yang telah banyak memberikan kita pelajaran penting itu. Betapa indahnya dan besarnya manfaat menulis seperti dikatakan oleh Pramoedya Ananta Toer berikut ini. “Menulis sebagai keabadian”. Tulisan adalah jejak yang melampaui waktu, membuat seseorang tetap hidup dalam keabadian. Menulis adalah sebuah prestasi belajar yang melampaui makna prestasi selama ini.

Pertanyaannya kita terkait dengan aktivitas menulis di dunia pendidikan kita. Apakah lembaga-lembaga pendidikan di negeri ini telah sukses membangun budaya menulis di kalangan insan pendidikan? Ya, di kalangan siswa dan mahasiswa serta di kalangan para pendidik, termasuk dosen?

Agaknya dengan gamblang dan tidak perlu melakukan survey apalagi penelitian mengenai budaya menulis di kalangan siswa, mahasiswa guru dan dosen. Kita bisa amati saja lewat media cetak, media dan media online yang kini banyak tersedia. Berapa banyak siswa, mahasiswa, guru dan dosen yang menulis? Bahkan selevel Profesor saja jarang kita lihat kontribusi tulisan mereka di media-media yang ada. Artinya, kemampuan dan minat menulis itu masih tergolong rendah, sejalan dengan rendahnya kemampuan literasi dan numerasi anak bangsa ini.

Sayangnya pula, ketrampilan dan kemampuan menulis itu sering tidak dianggap sebagai sebuah prestasi yang harus digapai oleh setiap insan pendidikan.  Sebab, selama ini apa yang dipahami dengan prestasi,selalu dimaknai sebagai capaian angka- angka tinggi di rapor atau ijazah. Padahal sejatinya ia adalah bukti keberhasilan menyeluruh yang mencakup ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. 

Seharusnya prestasi belajar bukan sekadar nilai, tetapi perubahan sikap, keterampilan, dan kemampuan berpikir yang nyata dalam kehidupan siswa. Sebagaimana kita ketahui bahwa menulis adalah sebuah kecakapan berbahasa ( language skill) yang bersifat produktif dan reproduktif yang didukung oleh ranah kognitif, dan afektif, dan menjadi bukti nyata dari seseorang berprestasi.

Sayangnya kita telah terjebak dalam makna prestasi yang bersifat kuantitatif atau angka-angka, lalu menganggap bahwa hasil karya tulis yang dihasilkan setiap hari yang dimuat di media-media bukan sebuah prestasi. Akibatnya proses belajar pun berorientasi pada pencapaian angka rapor yang tinggi dan memuaskan hati siswa dan orang tua, walaupun angka-angka tersebut tidak bisa menjadi bukti nyata bahwa anak atau siswa mampu menguasai sebuah  pengetahuan dan keterampilan, seperti halnya pada karya tulis yang merupakan bukti sah.

Idealnya pula ketika prestasi belajar adalah hasil proses belajar yang diukur melalui tes maupun non-tes, mencerminkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan, kemampuan menulis yang produktif adalah sebuah alat ukur terhadap kemampuan menulis.

Kiranya, karena tulisan -tulisan yang ditulis oleh siswa, mahasiswa, guru dan dosen adalah sebagai prestasi yang dapat dibuktikan secara ril, kegiatan menulis harus dibudayakan di dalam dunia pendidikan kita. Sebab aktivitas menulis membentuk identitas. Siswa dan mahasiswa yang menulis menunjukkan kemampuan analisis, pemahaman, dan solusi nyata.

Bagi siswa, mahasiswa, guru dan dosen,aktivitas menulis merupakan aktivitas melawan lupa. Misalnya dalam konteks sejarah dan budaya, menulis menjaga agar pengalaman dan nilai tidak hilang. Selain itu, aktivitas menulis merupakan alat untuk melakukan perlawanan. Kita bisa belajar dari Pramoedya sendiri banyak dipenjara karena tulisannya yang kritis, menunjukkan bahwa menulis bisa menjadi bentuk perjuangan. Mungkin juga bisa belajar pada perjalanan hidup Buya Hamka atau juga pada Tan Malaka yang kita kenal dengan MADILOG yang membuat mereka hingga kini abadi dengan prestasi mereka.

Terakhir, harus menjadi catatan bagi kita bahwa menulis memberikan banyak nilai bagi pendidikan. Kita harus akui bahwa tulisan yang kita tulis adalah bukti nyata kemampuan literasi bagi siswa/mahasiswa.  Siswa dan mahasiswa yang menulis menunjukkan pemahaman, analisis, dan solusi, bukan sekadar hafalan. Kedua,  menulis melatih para siswa dan mahasiswa, balan guru dan siswa mampu berpikir kritis. Sebab, menulis memaksa seseorang menyusun argumen logis, sebagaimana filsuf menyusun tesis dan antitesis. Ke tiga, menulis dapat membangun identitas intelektual. Artinya, tulisan menjadi jejak yang membuktikan eksistensi dan kontribusi seseorang.

Nah, apakah para pembaca ingin mengukir prestasi nyata, sejati dan abadi? Maka, menulislah. Menulis adalah prestasi yang jauh lebih bernilai dari angka-angka rapor dan angka di ijazah. Menulis menunjukkan seseorang memiliki kemampuan literasi yang tinggi. Tunggu apa lagi?

✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Bio Narasi Tabrani Yunis, kelahiran Manggeng, Aceh Barat Daya, Aceh berlatarbelakang profesi seorang guru bahasa Inggris, mulai  aktif menulis di media sejak pada medio Juni 1989. Aktif mengisi ruang atau rubrik opini di sejumlah media lokal dan hingga nasional. Menulis artikel, opini, essay dan puisi pilihan hidup yang  kebutuhan hidup sehari-hari. Telah menulis, lebih 1000 tulisan berupa opini, esası dan puisi yang telah publikasikan di berbagai media.Menerbitkan 2 buku, yang merupakan kumpupan tulisan dalam buku Membumikan Literasi dan buku antologi puisi “ Kulukis Namamu di Awan” Aktif terlibat dalam  membangun gerakan literasi anak negeri sejak tahun 1990 terutama di kalangan perempuan dan anak. Bersama mendirikan LP2SM ( Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Sumber daya Manusia) dan di tahun 1993 mendirikan Center for Community Development and Education (CCDE). Lalu, sebagai Direktur CCDE membidani terbitnya Majalah POTRET (2003) dan majalah Anak Cerdas (2013). Kini aktif mengelola Potretonline.com dan majalahanakcerdas.com, sambil mempraktikkan kemampuan entreneurship di POTRET Gallery, Banda Aceh
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...