• Latest
Sebuah Puisi Esai tentang Bencana Sumatra dan Luka Ekologis(12)

Ketika Gagasan Tertimbun Lumpur

Januari 8, 2026
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Ketika Gagasan Tertimbun Lumpur

Asmaul Husnaby Asmaul Husna
Februari 18, 2026
Reading Time: 4 mins read
Sebuah Puisi Esai tentang Bencana Sumatra dan Luka Ekologis(12)
587
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Asmaul Husna
Inong Literasi

Purnama yang dahulu dirindukan telah lama menghilang, tergantikan sabit yang malu-malu bersembunyi di balik awan. Desir angin malam menembus hingga ke sanubari, seolah membawa pesan bahwa malam akan segera berakhir, berganti fajar yang perlahan menyingsing.

Baca Juga

IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026

Arham menyibak tirai pembatas yang selama ini menjadi dinding tipis pelindung dari dinginnya malam dan teriknya siang. Bangunan sederhana itu bahkan nyaris tak pantas disebut tempat tinggal, berdinding terpal, beralaskan tanah, dengan kayu-kayu kiriman banjir sebagai penyangga.

Ia memilih pulang, meski rumahnya telah bersemayam di balik lumpur, hanya menyisakan atap sebagai bukti bahwa di sana pernah ada kehidupan dan kebahagiaan. Ia tak sanggup berlama-lama tinggal di pengungsian.

“Sudah bangun, Neuk? Segera salat Subuh. Air untuk berwudu sudah Ibu siapkan.”

Suara wanita paruh baya itu adalah sumber kekuatan Arham. Wanita yang sama pula yang membuatnya enggan menerima tawaran bekerja di sebuah perusahaan ternama di ibu kota setelah menyelesaikan sarjana. Ia memilih kembali ke pangkuan ibu pertiwi, melanjutkan usaha mendiang ayahnya, usaha kecil yang telah dirintis sejak ia masih berseragam putih merah.

Menjadi atasan di usaha besar yang dirintis orang lain, posisi kita tetaplah bawahan. Namun menjadi seseorang di usaha yang kita bangun sendiri, meski kecil, kita tetaplah atasan.

Petuah itu masih terpatri kuat dalam ingatannya, meski sang ayah telah lama berpulang.

“Baik, Bu,” jawab Arham singkat.

Air dingin membasahi wajah dan anggota tubuhnya, meluruhkan lelah serta kekhilafan bersama tetes-tetes yang jatuh ke tanah. Ia menarik napas panjang, menguatkan diri untuk kembali menjalani hari, apa pun keadaannya.

Nyaris sebulan berlalu sejak banjir bandang itu datang. Katanya, akibat curah hujan tinggi dan cuaca ekstrem. Namun mengapa banjir datang bersama ribuan kayu dan meninggalkan kubangan lumpur yang begitu pekat? Entahlah.

Para relawan mulai berkemas. Posko-posko bantuan satu per satu ditutup. Mereka pamit, tugas mereka dianggap selesai, meski kondisi masih jauh dari kata pulih. Bukan karena empati menipis atau rasa kemanusiaan menghilang, tetapi karena ada panggilan lain yang tak kalah nyaring: jiwa-jiwa yang perlu dinafkahi, serta wajah-wajah kecil yang menanti jawaban, “Ayah kapan pulang?”

Seburuk apa pun kenyataan, hari terus berjalan. Waktu tak pernah menunggu. Itulah yang Arham pahami. Namun dari mana ia harus memulai?

Rumah telah tertimbun lumpur. Tempat usaha porak-poranda, meski rangkanya masih berdiri.
Aku harus bergerak. Aku tak bisa terus seperti ini.

“Menangis boleh, menyerah jangan.”
Kalimat itu kembali menguatkan tekadnya.

Suatu sore, Arham memberanikan diri berbincang dengan Pak Kaseem, kepala desa.

“Pak, salah satu masalah terbesar saat ini adalah tumpukan lumpur yang tidak tahu hendak dibawa ke mana. Saat warga membersihkan rumah, lumpur itu dibuang keluar. Ketika hujan turun, lumpur kembali masuk dan mengotori semuanya,” ujar Arham.

“Izin saya mengusulkan, mungkin kita bisa membuat tempat pencetakan batu bata, semacam pabrik bata. Lumpur bisa dimanfaatkan, pemuda desa bisa diberdayakan. Kayu-kayu kecil kiriman banjir dapat dijadikan bahan bakar. Perlahan tapi pasti, roda ekonomi bisa kembali berputar.”
Pak Kaseem mengangguk pelan.

“Terima kasih, Nak Arham. Usulanmu baik. Namun menurut saya, yang paling mendesak adalah menormalisasi aliran sungai agar kembali berfungsi. Itu pekerjaan besar dan harus melibatkan banyak pihak.”

“Iya, Pak. Saya paham. Tapi sepertinya hal itu bisa kita lakukan beriringan. Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui,” jawab Arham, tetap kukuh.

“Saya mengerti, Nak. Tapi tidak semudah itu. Banyak hal yang perlu dipertimbangkan,” balas Pak Kaseem.
Obrolan sore itu berakhir tanpa keputusan.
Setidaknya aku sudah mencoba, batin Arham.

Hari-hari berlalu. Lumpur di perkampungan mulai mengeras. Warga membenahi apa yang mampu mereka perbaiki. Sebagian mengikuti jejak Arham, membangun gubuk sederhana sekadar untuk bernaung.

ADVERTISEMENT

Hingga suatu hari, pemandangan berbeda tersaji. Alat berat hilir mudik, truk berderet lalu-lalang.

“Mungkin ini pertanda baik,” pikir warga, juga Arham.

Namun kenyataan berkata lain. Kubangan lumpur itu ternyata akan dibawa ke tempat lain dan diolah menjadi batu bata oleh pihak tertentu. Para pekerjanya pun bukan pemuda desa, seperti yang pernah diusulkan Arham.

Terlepas dari itu, warga tetap menyambutnya dengan lega. Cepat atau lambat, desa mereka akan bersih dan kembali layak ditinggali. Barangkali seperti kisah kaum Nabi Nuh, mereka yang mengotori kapal, mereka pula yang membersihkannya. Mungkin begitu.Bagi warga, yang terpenting desa bebas dari lumpur. Itu kabar gembira.

Namun tidak sepenuhnya bagi Arham.
Ia tahu, ada kemungkinan lain yang lebih memberdayakan, lebih bermakna, dan pernah ia suarakan. Kini peluang itu menghilang begitu saja.
Penyesalan memenuhi dadanya.

Adakah penyesalan yang lebih perih daripada melihat kesempatan berharga, yang bisa berguna bagi banyak orang,lenyap tanpa jejak?

Apakah perasaan serupa juga singgah di hati Pak Kaseem?
Entahlah.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 366x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 329x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 276x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 273x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 204x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post

Jejak Digital Perempuan, Moral Publik, dan Ruang Strategis Negara

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com