Esai · Potret Online

Jembatan Apung Kepala Hiu: Memastikan Mobilitas, Menjaga Kehidupan 

Penulis  Feri Irawan
Mei 29, 2026
2 menit baca 47
ba1626f2-0cdc-4b1e-956c-82579cdc7966
Foto / IlustrasiJembatan Apung Kepala Hiu: Memastikan Mobilitas, Menjaga Kehidupan 

Oleh Feri Irawan

Dalam setiap bencana, yang paling dibutuhkan manusia bukan hanya bantuan fisik, tetapi juga akses. Akses untuk mobilitas, berkomunikasi, membantu, dan bertahan. 

Banjir selalu menghadirkan tantangan yang sama: jalan terputus, jembatan rusak, area terputus, dan waktu yang terasa tidak berpihak bagi mereka yang butuh bantuan. Di saat inilah Jembatan Terapung Kepala Hiu Pante Lhong hadir bukan sekadar sebagai bangunan fisik, melainkan sebagai jalur penyelamat.

Ketika banjir melanda, banyak infrastruktur yang selama ini menjadi tumpuan mendadak lumpuh. Jalan yang biasanya menjadi akses utama berubah menjadi aliran air, jembatan utama tak lagi dapat dilalui, dan mobilitas warga berhenti hampir seketika.

Dalam situasi seperti ini, kecepatan menjadi faktor penentu. Akses keseharian masyarakat hingga pergerakan logistik tidak bisa bergantung pada proses konstruksi yang memakan waktu. Karena itulah Jembatan Apung Kepala Hiu hadir untuk memenuhi kebutuhan akses sementara. 

Terik matahari siang menjelang sore, Selasa (26/5) tak menyurutkan semangat saya untuk pulang sekolah menaiki Jembatan Apung Kepala Hiu menyeberangi aliran Sungai Krueng Peusangan Desa Pante Lhong, daripada memilih jalan memutar selama 30 menit lagi melalui Jembatan Awe Geutah.

Bagi saya pribadi, yang nyaris empat bulan  pulang pergi dari rumah di Kota Juang ke sekolah di Gandapura , Jembatan apung ini menjadi penyelamat tak kala Jembatan Utama (Jembatan Bayle) Kuta  Blang ditutup. Sebagai jalan pintas pulang, saya pun harus melewati Jembatan Apung Kepala Hiu.  Untung ada jembatan ini. Ia adalah solusi akses cepat yang memungkinkan kehidupan tetap bergerak. 

Ketika saya dan warga lainnya masih bisa bermobilitas dengan lancar,  Jembatan Terapung Kepala Hiu ini memberi pesan bahwa Ia tidak menggantikan infrastruktur permanen, tetapi menjadi penopang akses sementara yang dibutuhkan secara mendesak. Dalam situasi di mana setiap jam berarti, setiap detik masih ada kehidupan. 

Jika Anda pernah membayangkan bagaimana satu akses penghubung dapat menyelamatkan banyak hal, di situlah esensi Jembatan Apung Kepala Hiu berada. Menjaga akses berarti menjaga kehidupan.

Kita berharap pemerintah segera membangun kembali jembatan penghubung yang rusak secepatnya. Selain untuk menjamin keselamatan anak-anak saat bersekolah, keberadaan jembatan dinilai penting guna memulihkan aktivitas warga dan menggerakkan kembali roda perekonomian desa yang sempat terhenti akibat bencana.

Penulis adalah Kepala SMKN 1 Gandapura, Bireuen

✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan esai ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi memberikan ruang ekspresi tanpa intervensi isi.
Tentang Penulis
Feri Irawan, S.Si, M.Pd Guru Matematika, Ketua IGI Daerah Bireuen, Pegiat Literasi, dan sekarang Kepala SMKN 1 Jeunieb, Kabupaten Bireun, Aceh
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...