Budaya Membaca dan Masa Depan Desa
Oleh Nazlia Alfurqani
Mahasiswa Pendidikan Guru PAUD USK, Mahasiswi KKN Literasi USK
Di era modern saat ini, pendidikan memegang peranan krusial dalam mengubah masa depan sebuah desa, terutama desa-desa yang sebelumnya kurang mendapatkan akses pendidikan yang memadai.
Membaca dianggap sebagai jendela dunia, karena melalui membaca, individu dapat memperoleh pengetahuan baru dan memperluas wawasan. Saat ini, membaca tidak lagi sekadar kegiatan hiburan atau hobi, tetapi telah menjadi kebutuhan dasar yang penting untuk pengembangan diri dan daya saing di tengah kemajuan dunia yang pesat.
Oleh karena itu, pentingnya budaya membaca dalam upaya memajukan desa tidak dapat diabaikan. Membaca merupakan kunci utama untuk mewujudkan desa yang lebih maju dan sejahtera bagi seluruh warga masyarakat.
Berdasarkan hasil riset UNESCO tahun 2022, Indonesia menempati posisi kedua dari bawah di tingkat global dalam hal literasi. Hal ini menunjukkan bahwa banyak masyarakat di Indonesia yang belum terbiasa membaca dan menulis dengan baik.
Padahal, membaca mampu membuka jendela dunia, memperluas wawasan, serta meningkatkan kemampuan berpikir kritis, terutama pada anak-anak. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia mencatat bahwa tingkat penguasaan huruf di Indonesia secara umum mencapai sekitar 97% untuk penduduk usia 15 tahun ke atas.
Namun, tingkat literasi yang mampu membaca dan memahami informasi secara mendalam masih perlu ditingkatkan agar masyarakat Indonesia dapat bersaing di era globalisasi saat ini.
Selain itu, peningkatan budaya membaca di desa-desa sangat penting untuk dilakukan. Tidak hanya anak-anak, orang dewasa juga harus didorong untuk lebih aktif membaca, baik buku, koran, maupun sumber informasi lainnya.
Dengan membaca, warga desa dapat mempelajari hal-hal baru, memperoleh informasi penting terkait pertanian, kesehatan, serta peluang usaha, yang dapat membantu meningkatkan kualitas hidup mereka.
Keberadaan fasilitas perpustakaan atau Taman Baca Masyarakat (TBM) di sebuah desa merupakan faktor penting dalam mempercepat proses pembangunan desa. Desa Rapana, Kecamatan Mutiara, Kabupaten Pidie, misalnya, telah memiliki TBM. Namun masih banyak warga desa yang belum menyadari keberadaan rumah baca tersebut. Melalui kegiatan promosi dan sosialisasi, saya bersama teman-teman berupaya meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang keberadaan TBM agar lebih dikenal dan dimanfaatkan oleh warga, terutama anak-anak.
Salah satu langkah yang dilakukan adalah menyelenggarakan lomba literasi dengan tujuan meningkatkan minat baca anak-anak serta memperkenalkan keberadaan TBM kepada seluruh warga desa.
Sebelum pelaksanaan lomba, kami juga mengadakan bimbingan teknik (bimtek) di TBM tersebut. Tujuannya adalah untuk membimbing anak-anak dalam membaca dan menulis cerita, sehingga mereka terbiasa mengungkapkan ide dan berkreasi melalui tulisan.
Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan untuk meningkatkan rasa percaya diri anak-anak dalam bertanya, menjawab, maupun bercerita di depan umum. Kegiatan ini diharapkan dapat menumbuhkan budaya membaca yang lebih mendalam di kalangan masyarakat desa, sehingga membaca menjadi kebiasaan sehari-hari.
Selain manfaat edukatifnya, kegiatan ini juga meningkatkan kesadaran warga desa akan pentingnya keberadaan TBM. Mereka mulai aktif menanyakan berbagai buku dan bahan bacaan yang tersedia, serta mendorong anak-anak mereka untuk rajin membaca di rumah maupun di TBM.
Dengan demikian, diharapkan budaya membaca akan semakin berkembang dan menjadi bagian integral dari kehidupan masyarakat desa.
Kesimpulannya, keberadaan TBM di desa mempunyai peranan yang sangat penting dalam mendorong kemajuan dan kesejahteraan masyarakat desa. Melalui berbagai kegiatan seperti pelatihan dan sosialisasi, warga desa dapat lebih menyadari betapa pentingnya membaca dan belajar.
Dengan membaca, mereka dapat memperoleh pengetahuan, meningkatkan kemampuan, serta memperbaiki kualitas hidup. Oleh karena itu, seluruh pihak harus mendukung keberadaan TBM dan mendorong anak-anak serta orang dewasa untuk rutin membaca. Jika budaya membaca mampu ditanamkan dan menjadi kebiasaan di desa, maka desa tersebut akan lebih cepat berkembang dan memiliki masa depan yang lebih cerah.












