Nawasena

Oleh Redaksi
03 Maret 2025
6 menit baca
Nawasena - 1CC779D6 AD91 4135 BD85 CF119FA16B1F | Cerpen | Potret Online
Nawasena

Oleh Ria Andelia

Malam ini hawanya terlalu dingin. Perempuan paruh baya itu merapatkan jaket lusuhnya untuk menghangatkan tubuh yang sudah menggigil. Namun matanya, meski terlihat bersedih, tetap memandang dengan penuh perhatian pada dua ekor kucing di trotoar jalan, yang sedang makan.

“Ibu!!” Suara teriakan itu mengalihkan pandangan wanita paruh baya itu. Malika, namanya, seorang ibu dengan tiga buah hati. Sorot matanya menatap seorang remaja lelaki. Itu putranya, putra bungsunya, Rama Aditya, seorang remaja yang baru saja menapaki bangku SMK.

“Rama, kenapa ke sini, nak?” Malika bertanya kepada anak bungsunya itu.

“Rama khawatir, kenapa ibu belum pulang? Karena itu, Rama nyusul ibu.” Rama berkata sambil menggenggam tangan ibunya untuk mengajaknya pulang ke rumah yang sekarang hanya diisi oleh dua insan, ibu dan anak.

“Maaf ya, tadi ibu kerjanya lama,” Malika berucap, sambil melangkah menuju rumah bersama putranya. Malika bekerja sebagai ibu rumah tangga. Ia adalah seorang janda yang ditinggal suaminya dua tahun lalu. Wanita yang sudah memasuki kepala enam itu harus banting tulang untuk mencukupi kebutuhan hidupnya.

“Ibu, Rama kan sudah bilang nggak usah kerja lagi. Ibu istirahat saja di rumah, biar Rama yang bantu cari uang,” Rama, remaja 15 tahun itu, berucap sambil melangkah menuntun sang ibu. Rumah sederhana mereka sudah tampak di depan.

“Gak apa-apa, nak. Ibu harus kerja supaya bisa kirim uang untuk kuliah kakak kamu,” ucap Malika, lalu ia berjalan masuk ke rumah dan duduk di kursi kayu tua untuk mengistirahatkan tubuhnya yang sudah renta.

“Ibu, kenapa ibu terus kirim uang ke mbak Nadira? Mbak aja nggak pernah ngabarin kita, selain minta uang dari ibu. Bahkan selama ayah pergi, dia nggak pernah pulang ke rumah,” ucapan Rama itu membuat Malika tersenyum lembut.

“Nak, mbak kamu itu sedang fokus kuliahnya. Karena itu, belum sempat pulang. Ibu nggak apa-apa kok, nanti kalau mbak kamu selesai kuliahnya, pasti dia pulang,” ucap Malika dengan senyum lembutnya, meskipun tidak bisa menyembunyikan kesedihannya. 

Bagaimanapun, dia seorang ibu yang merindukan anak-anaknya dan berharap bisa berkumpul bersama mereka. Dia rindu dengan putri satu-satunya, Nadira Zahirah, wanita 19 tahun yang sedang kuliah di luar kota, jauh dari sang ibu.

“Tapi ibu, setidaknya mbak tanya kabar ibu. Abang juga katanya kerja di luar kota, tapi kok masih sering minta kirimin uang sama ibu?” ujar Rama, terlihat jelas ada raut kesal di wajahnya. Dia kesal dengan mbak dan abangnya yang nggak pernah pulang ke rumah setelah kepergian sang ayah. 

Dengan alasan fokus kuliah, fokus kerja… apakah mereka harus melupakan rumah? Rumah tempat mereka pulang? Melupakan ibu yang sudah tua? Ibu yang hanya ingin menghabiskan waktunya bersama anak-anaknya, namun masih harus banting tulang untuk sesuap nasi dan masa depan anak-anaknya.

“Udah lah, nak. Biarkan mereka. Nanti mereka pulang juga ke rumah. Sana tidur, jangan begadang. Ibu tidur duluan ya.” Setelah berucap seperti itu, Malika bangun dan menuju kamar untuk mengistirahatkan tubuhnya. Mirisnya, sesampainya di kamar, Malika menatap foto anak-anaknya. Dia rindu… rindu kebersamaan itu, seperti dulu.

****

Pagi kembali menyapa, mentari perlahan menembus celah jendela kecil rumah Malika. Wanita itu, seorang ibu dari tiga anak, duduk di kursi kayu tua di ruang tamu sederhana. Secangkir teh di tangannya sudah lama dingin, namun ia tetap menggenggamnya, menikmati keheningan pagi.  

Putra bungsunya, Rama, sudah berangkat ke sekolah lebih awal. Hari ini, Malika memutuskan tidak bekerja. Putri satu-satunya, Nadira, akan pulang untuk mengambil cuti dari kuliahnya. Kerinduan seorang ibu membuatnya tak sabar menunggu. Senyum tersungging di wajahnya saat membayangkan pertemuan mereka. Namun, ketenangan itu buyar ketika ponsel jadul di atas meja berdering.  

“Halo, selamat siang. Dengan Ibu Malika?” suara seorang pria terdengar dari seberang.  

“Iya, saya Malika. Ini siapa ya?” tanyanya. Ada rasa cemas yang tiba-tiba menyelinap di hatinya.  

“Kami dari pihak rumah sakit ingin mengabarkan bahwa anak Anda, Nadira Zahirah, mengalami kecelakaan. Mohon segera datang ke Rumah Sakit Jalan Mawar,” suara itu memberitakan kabar yang membuat dada Malika sesak.  

“Astaghfirullah… Putriku…”  

Tanpa pikir panjang, Malika menutup telepon, bukan karena tidak sopan, tetapi rasa panik telah menguasainya. Ia segera keluar rumah mencari taksi menuju rumah sakit yang jaraknya cukup jauh.  

Di rumah sakit, kenyataan pahit menghantamnya. Dokter memberitahukan bahwa Nadira mengalami kelumpuhan dari pinggang ke bawah akibat kecelakaan itu. Air mata Malika tumpah tanpa henti. Ia tahu, mimpi dan cita-cita putrinya kini terancam hancur.  

“Nadira, tidak apa-apa, Nak. Kita jalani bersama-sama, ya,” ujar Malika lembut, menggenggam tangan putrinya yang lemah. Ia berusaha tegar meski hatinya dipenuhi kesedihan yang tak terucapkan.  

Tiba-tiba, suara pintu ruang rawat terdengar. Rama masuk dengan wajah kusut dan tubuh lelah. Malika terkejut melihat putra bungsunya di sini, padahal ia tahu Rama seharusnya berada di sekolah.  

“Rama? Kenapa kamu di sini, Nak?” tanya Malika, mencoba memahami situasinya.  

“Ibu… tadi di sekolah, ada yang bilang Abang Arka ditangkap polisi. Aku langsung pulang dan mencari Ibu ke rumah, tapi Ibu tidak ada. Jadi aku ke sini…” suara Rama bergetar saat ia memeluk ibunya.  

“Bang Arka, Bu… Abang ditangkap karena judi ilegal…”  

Dunia Malika seakan runtuh untuk kedua kalinya. Beban yang menimpa Malika bertambah berat. Dalam sekejap, ia merasa semua harapannya untuk masa depan anak-anaknya hancur. 

Namun, di tengah kesedihan itu, pikirannya melayang pada kenangan indah masa lalu—pada sore cerah di taman, saat anak-anaknya masih kecil.  

“Ibu!” Nadira kecil berlari menghampiri Malika yang duduk di bangku taman bersama suaminya. Arka bermain seluncuran, sementara Rama kecil berlari-lari mengitari ayahnya.  

“Ayah, nanti Abang mau jadi polisi ya, biar bisa nangkap penjahat,” kata Arka kecil penuh semangat.  

“Kakak juga mau jadi dokter, biar bisa menyembuhkan orang,” Nadira menambahkan.  

“Adek juga mau! Adek mau ajak Ayah dan Ibu keliling dunia!” Rama kecil berseru, matanya berbinar.  

“Boleh, Nak. Tapi kalian harus rajin belajar. Jadilah anak yang sukses di masa depan,” jawab sang ayah dengan penuh harap.  

Keluarga itu terus melanjutkan obrolan mereka sembari menikmati suasana taman yang ramai, namun damai. Terbesit asa dalam keluarga itu: semoga mereka bisa mewujudkan ‘Nawasena’ masa depan yang cerah.

Harapan itu kini hanya tinggal kenangan. Nawasena yang mereka dambakan telah sirna—Arka terjebak dalam dunia gelap, Nadira kehilangan masa depannya, dan Rama hanya mampu menyaksikan kehancuran keluarganya. Namun, di balik segalanya, Malika tetap bertahan. Ia menggenggam kenangan itu erat, karena hanya kenanganlah yang kini menjadi pelita kecil dalam gelap. Meskipun telah gagal mewujudkan nawasena masa depan yang cerah.[]

Pulau Kayu, 1 Januari 2024

*Penulis adalah peserta kelas menulis Sigupai Mambaco, bersekolah di MAN Inovasi Aceh Barat Daya

Majalah Perempuan Aceh

Diskusi

Upload foto profil kecil (opsional)
Preview avatar
Memuat komentar...

Populer

Artikel yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir

Baca juga

F X W