Esai · Potret Online

Jangan Mengandalkan Relasi GM

Penulis Drs. Saiful Bahri
Agustus 12, 2026
3 menit baca 14
IMG_2513
Foto / IlustrasiJangan Mengandalkan Relasi GM

Oleh: Drs. Saiful Bahri, CHRM 

Kisah ini sedikit berbeda dari kisah titipan sebelumnya. Sama-sama titipan, tapi ujiannya lebih berat. Karena yang menitip langsung General Manager.

Alkisah, suatu hari dari Dept HRGA kami menerima titipan calon staf baru. Kebetulan saat itu kami sedang membuka iklan lowongan.

Prosesnya terlihat “smooth”. Surat dari GM turun dulu ke Direktur. Setelah Direktur tahu, baru surat lamaran si calon dititipkan ke meja kami untuk diproses. Sesuai SOP, semua lamaran yang masuk ke Dept kami, tetap kami proses seperti biasa. Tidak ada jalur khusus.

Singkat cerita, kami proses. Sampai pada tahap interview.

*PERTANYAAN YANG MEMBUKA TOPENG*

Seperti biasa, pertanyaan standar saya keluar:

_”Bapak kenapa resign dari perusahaan sebelumnya?”_

Jawabannya mantap dan masuk akal:

_”Perusahaan lama saya akan direlokasi ke luar kota Pak. Sementara keluarga saya sudah menetap di sini. Anak masih sekolah. Jadi sulit kalau harus pindah.”_

Saya angguk. Reasonable.

Lalu saya uji.

_”Andaikan perusahaan ini, suatu saat pindah ke luar kota juga, bagaimana sikap Bapak?”_

Dia terdiam sejenak.

_”Saya akan diskusikan dulu dengan istri saya Pak.”_

_”Butuh berapa lama?”_ tanya saya.

_”Besok saya jawab Pak.”_

“Baik, saya tunggu.”

*KEESOKAN HARINYA: JAWABAN YANG MENGGUGURKAN*

Dia datang lagi.

_”Pak, saya sudah diskusi dengan keluarga. Keputusan kami, kami bersedia ikut semua prosedur yang berlaku di sini. Termasuk jika ada relokasi.”_

Saya ajak dia ke ruang interview. Tidak di meja kerja saya.

Di sana saya putuskan dengan tegas:

_”Maaf, Bapak tidak bisa kami proses ke tahap selanjutnya. Interview selesai. Silakan pulang ya.”_

Dia pulang. Pasti dia lapor ke GM yang menitipkannya.

*PANGGILAN DARI DIREKTUR*

Benar saja. GM lapor ke Direktur.

Saya dipanggil.

“Saiful-san, Anda interview semua calon karyawan yang kita butuhkan?”

“Sudah Pak.”

“Bagaimana hasil si A?”

“Gagal di tahap interview Pak.”

“Why?”

“Dia tidak konsisten Pak.”

Direktur penasaran.

“Maksud tidak konsisten itu apa?”

Saya jelaskan:

_”Pak, alasan dia resign dari perusahaan lama karena takut pindah kota. Tapi ketika saya tanya ‘kalau perusahaan ini pindah bagaimana?’, jawabannya ‘siap ikut’. Itu tidak konsisten. Alasan pertama dan kedua bertabrakan.”_

_”Saya curiga alasan utamanya bukan keluarga. Tapi karena perusahaan lama jauh. Sedangkan perusahaan kita dekat dengan rumahnya.”_

Tiba-tiba GM yang menitipkan ikut menyela:

“Saiful-san, perusahaan kita kan tidak ada cabang di luar daerah. Tidak mungkin pindah.”

Saya jawab tenang:

“Saya paham Pak GM. Tapi integritas itu diuji dari niat, bukan dari kondisi. Kalau niatnya berubah-ubah karena kepentingan, bagaimana kita percaya dia bisa menjaga amanah perusahaan nanti?”

Direktur mengangguk.

“Ok, saya paham maksud Saiful dan saya setuju dengan alasan itu.”

GM terdiam. Tidak bisa protes lagi. Dan meninggalkan ruangan.

*PELAJARAN*

Begitulah. Kalau kita punya argumen yang logis, punya data, dan niat karena Allah… kita tidak perlu khawatir menghadapi siapa pun. Sampaikan saja. _As long as it is logic._

Bukan karena kepentingan pribadi. Bukan karena sentimen. Tapi karena ini amanah.

Menjadi HRD itu berat. Kita disebut “Penegak Hukum Perusahaan”.

Tegak lurus hari ini, mungkin tidak disukai. Tapi berkah di kemudian hari.

*

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan esai ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi memberikan ruang ekspresi tanpa intervensi isi.
Tentang Penulis
Drs. Saiful Bahri
Media Perempuan Kritis dan Cerdas
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...