Tarekat Mahzab Satupena

Oleh Reiner Emyot Ointoe
„Membaca berarti menerima makna; menulis berarti memberikan makna.” — Jean Paul Sartre(1905-1980), Le Mots(Gramedia 2003).
Pada abad-11, Perkumpulan Ikhwanul Safa, lagi-lagi girah-girahnya menekuni satu mahzab sufistik yang mereka bukukan dalam Rasa’il.
Konon buku ini sudah diterjemahkan 10 jilid oleh Prof. Dr. Mulyadi Kertanegara.
Segera ke abad-21, Perkumpulan Penulis Satupena sebelum kongres nanti, telah menerjemahkan ke dalam hampir sepuluh bahasa, karya puisi esai Ketua Umumnya, Denny JA.
Dengan kata lain, hakikat sebuah pena yang dimaksud kalam dalam Qur’an adalah simbol dari daya cipta manusia yang sekaligus menjadi amanah ilahi.
Pena bukan sekadar alat tulis, melainkan medium yang menghubungkan dunia material dengan dunia makna.
Ketika Qur’an menyebut al-qalam, ia menegaskan bahwa menulis adalah bagian dari kosmos spiritual: sebuah tindakan yang menyimpan jejak niat, pengetahuan, dan imajinasi.
Karena itu, kata al-qalam(القلم) berarti “pena,” berasal dari akar kata Arab qalama(قَلَمَ) yang berarti “memotong” atau “meraut.”
Makna etimologis ini merujuk pada batang qasab(sejenis bambu/alang-alang) yang diraut ujungnya untuk dijadikan alat tulis.
Dalam konteks wahyu, al-qalam bukan sekadar alat fisik, melainkan simbol ilmu, wahyu, dan takdir ilahi.
Sedikit menyeberang, Henry Corbin dalam Imajinasi Kreatif Ibnu Arabi(Pustaka Pelajar 2002), menukas bahwa imajinasi bukanlah fantasi kosong, melainkan “alam antara” yang menjembatani realitas spiritual sekaligus material.
Dalam perspektif ini, pena(qalam) bisa dimaksud sebagai instrumen imajinasi kreatif.
Dengan sendirinya, ia menyalurkan visi batin ke dalam bentuk kata, menjadikan tulisan sebagai jembatan antara dunia gaib dan dunia nyata.
Kata Corbin, “imagination is the organ of meaning,” sehingga pena menjelma dalam bentuk organ yang menghidupkan makna melalui tulisan.
Sementara, filsafat imajinasi dari Jean-Paul Sartre dalam Psikologi Imajinasi(Bentang, 2003) menambahkan dimensi eksistensial.
Menulis, dengan atau tanpa pena, merupakan tindakan kebebasan.
Ia menandai bahwa “to write is to choose, to negate, to posit,” — “Menulis berarti memilih, menyangkal, menetapkan.“
Lanjutnya, setiap goresan pena adalah pilihan eksistensial yang menegaskan keberadaan manusia.
Pena, dalam pandangan Sartre, adalah alat untuk menegaskan kebebasan, karena melalui tulisan manusia membentuk dunia yang ia bayangkan.
Dikutip ia mengungkap:
“Aku memulai hidupku seperti yang tak diragukan lagi akan kuakhiri: di tengah-tengah buku.”
Bagi Sartre, membaca adalah proses internalisasi makna, sedangkan menulis adalah proses eksternalisasi kebebasan.
Hakikat keduanya adalah dialektika antara menerima dan memberi, antara pasif dan aktif, antara dunia yang sudah ada dan dunia yang sedang diciptakan.
Dengan demikian, hakikat pena sebagai kalam adalah pertemuan antara amanah ilahi dan kebebasan manusia.
Ia adalah instrumen yang menyalurkan imajinasi kreatif, menegaskan eksistensi, dan merawat makna.
Dalam tradisi sufistik, pena menjadi bagian dari tarekat: jalan menuju kebenaran melalui tulisan.
Juga, dalam tradisi modern, pena adalah alat perlawanan, kritik, dan penciptaan dunia baru.
Walhasil. Dari Corbin hingga Sartre, dari Ibnu Arabi hingga para penulis kontemporer, hakikat pena tetap sama.
Sebagai semata instrumental, ia dimaksudkan dengan organ makna maupun organ kebebasan.
Atau, organon, meminjam Bühler, yang menegaskan bahwa manusia adalah makhluk yang menulis dirinya sendiri di atas lembaran sejarah.
Manado, 6 Agustus 2026, ReO Bibliothek Kokima Hill.
*Dikerjai tulisan Berderma Kata dari Jonminofri Nazir di WAG Satupena.
#coverlagu:
Puisi “Pengantar (Live Concert)” karya Panji Sakti dirilis pada 31 Mei 2024 sebagai bagian dari album Panji Sakti Mengurai Waktu Live in KL (Live Concert), yang memuat 13 lagu dan puisi dengan durasi total sekitar 1 jam.
#credit foto perbuatan AI tentang imajinasi pena.












