Esai · Potret Online

Novel Tanah Terbelah: Menyalakan Ingatan, Menyembuhkan Masa Depan

Agustus 2, 2026
5 menit baca 15
6b59ab2e-6394-44d3-b4bc-16d3fa63a334
Foto / IlustrasiNovel Tanah Terbelah: Menyalakan Ingatan, Menyembuhkan Masa Depan
Disunting Oleh

oleh Fileski Walidha Tanjung 

Ada satu kenyataan yang selalu menarik perhatian saya setiap kali sebuah buku bertemu dengan pembacanya. Buku memang ditulis oleh seorang pengarang, tetapi sesungguhnya ia dilahirkan oleh banyak orang. Ia lahir dari ruang-ruang sunyi tempat seseorang membaca naskah, dari tangan yang menyunting tanpa meminta tepuk tangan, dari komunitas yang percaya bahwa kata-kata masih mampu mengubah manusia, dan dari pembaca yang bersedia meluangkan waktunya untuk mendengarkan cerita yang mungkin tidak pernah mereka alami sendiri.

Karena itu, ketika Ngobrol Buku #6: Tanah Terbelah (1948) berlangsung di Ruang Plat AE, Toko Buku NBS Edukasindo Madiun, saya merasa sedang menyaksikan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar bedah novel. Yang hadir bukan hanya pembicaraan tentang sebuah karya sastra, melainkan perjumpaan banyak kesadaran yang percaya bahwa ingatan adalah bagian penting dari peradaban.

Antusiasme masyarakat Madiun menjadi kejutan yang tidak pernah kami bayangkan. Ruangan yang tersedia ternyata tidak mampu menampung seluruh hadirin. Sebagai penulis, saya menyampaikan permohonan maaf kepada para tamu yang harus berdiri atau bahkan tidak memperoleh tempat duduk. 

Namun di balik keterbatasan itu, saya menemukan harapan yang begitu besar. Ternyata masih banyak orang yang bersedia datang untuk mendiskusikan sastra, sejarah, dan kemanusiaan. Di tengah zaman yang mengukur segala sesuatu melalui kecepatan, masih ada orang-orang yang memilih duduk berjam-jam hanya untuk membicarakan sebuah novel. Bukankah itu pertanda bahwa bangsa ini belum kehilangan kemampuan untuk berpikir bersama?

Kehadiran Dr. Puji Retno H., S.S., M.Hum., Kepala Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur, menjadi kehormatan yang sangat berarti. Beliau datang dari Surabaya bukan sekadar sebagai tamu, melainkan sebagai seorang akademisi dengan kapasitas keilmuan yang mendalam di bidang bahasa dan sastra. 

Cara beliau membedah Tanah Terbelah (1948) mengingatkan saya bahwa sastra tidak berhenti pada keindahan bahasa. Sastra adalah cara manusia membaca dirinya sendiri. Ketika sebuah novel dibahas melalui perspektif ilmiah sekaligus kemanusiaan, karya itu tidak lagi menjadi milik pengarang, melainkan menjadi milik publik yang terus-menerus menafsirkannya.

Novel yang saya tulis mengambil latar tahun 1948, sebuah periode yang hingga kini masih menyisakan luka dalam sejarah Indonesia, khususnya di Madiun. Tahun itu bukan hanya tentang pergolakan politik atau benturan ideologi. Yang paling memilukan justru adalah bagaimana sesama manusia kehilangan kemampuan untuk melihat kemanusiaan orang lain. 

Kecurigaan berubah menjadi kebencian. Perbedaan berubah menjadi alasan untuk saling melenyapkan. Dalam keadaan seperti itu, cinta Darmawan dan Marni tidak sekadar menjadi kisah dua insan. Mereka adalah metafora tentang harapan yang hancur ketika fanatisme mengalahkan kasih sayang.

Barangkali inilah paradoks sastra yang paling menarik. Banyak orang menganggap novel sejarah sebagai perjalanan menuju masa lalu. Saya justru percaya bahwa novel sejarah adalah perjalanan menuju masa depan. Kita tidak membaca masa lalu untuk tinggal di dalamnya, melainkan agar masa depan memiliki kesempatan untuk tidak mengulang kesalahan yang sama. Luka sejarah menjadi berbahaya bukan karena ia dikenang, melainkan karena ia dilupakan. Ingatan yang sehat bukanlah dendam yang dipelihara, tetapi kebijaksanaan yang diwariskan.

Ki Hadjar Dewantara pernah mengatakan, “Pendidikan adalah tuntunan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak.” Kalimat itu sering dipahami sebatas dunia sekolah. Padahal, sastra juga merupakan bentuk pendidikan dalam arti yang paling hakiki. Novel tidak menuntun manusia melalui rumus-rumus, melainkan melalui empati. 

Ia mengajarkan seseorang merasakan penderitaan orang lain sebelum benar-benar mengalaminya. Dalam pengertian inilah membaca sesungguhnya adalah latihan menjadi manusia. Ketika pembaca menangis bersama tokoh, marah terhadap ketidakadilan, atau merenungkan pilihan-pilihan hidup dalam cerita, sesungguhnya ia sedang dididik oleh pengalaman yang tidak pernah ia jalani secara langsung.

Saya bersyukur karena acara ini tidak mungkin terwujud tanpa begitu banyak tangan yang bekerja dalam diam. Dukungan Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur, MNC Publishing, Forum TBM Jawa Timur, IBP Madiun, NBS Edukasindo, Madioen AE, Selintas Madiun, perpustakaan, sekolah-sekolah, komunitas literasi, para mahasiswa, relawan, hingga jajaran Kepolisian yang menjaga keamanan, menunjukkan bahwa literasi bukan pekerjaan seorang penulis. 

Literasi adalah ekosistem. Sebuah buku mungkin memiliki satu nama di sampulnya, tetapi perjalanan sebuah buku adalah hasil gotong royong yang panjang. Dalam dunia yang semakin individual, saya melihat kolaborasi semacam ini sebagai bentuk kebudayaan yang patut dirawat.

Saya juga menyadari bahwa keberanian mengangkat peristiwa 1948 bukan tanpa risiko. Masih ada anggapan bahwa beberapa bagian sejarah terlalu sensitif untuk dibicarakan. Akan tetapi, saya percaya bahwa masyarakat yang dewasa bukanlah masyarakat yang menutup rapat masa lalunya, melainkan masyarakat yang mampu memandang sejarah dengan keberanian sekaligus kebijaksanaan. 

Melupakan memang terasa lebih mudah, tetapi memahami jauh lebih menyembuhkan. Sejarah tidak membutuhkan pembenaran. Ia membutuhkan keberanian untuk dipelajari.

Pada akhirnya, saya tidak berharap Tanah Terbelah (1948) dikenang sebagai novel tentang konflik. Saya berharap ia dikenang sebagai ajakan untuk memilih kemanusiaan ketika dunia kembali menawarkan kebencian. Sebab, zaman boleh berubah, teknologi boleh berkembang, dan generasi boleh berganti, tetapi godaan untuk saling memusuhi selalu menemukan bentuk barunya.

Mungkin pertanyaan yang layak kita bawa pulang bukanlah apakah sejarah telah selesai, melainkan apakah kita sungguh telah belajar darinya. Jika sebuah novel mampu membuat kita berhenti sejenak sebelum menghakimi, mampu mengingatkan bahwa setiap manusia memiliki kisah yang tidak selalu tampak di permukaan, dan mampu menumbuhkan keberanian untuk merawat dialog di tengah perbedaan, bukankah sastra telah menjalankan tugas kemanusiaannya? 

Dan jika demikian, masihkah kita menganggap membaca hanyalah kegiatan menghabiskan halaman, atau sesungguhnya ia adalah cara paling sunyi untuk menyelamatkan masa depan. 

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan esai ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi memberikan ruang ekspresi tanpa intervensi isi.
Tentang Penulis
Fileski Walidha Tanjung adalah penulis kelahiran Madiun 1988. Aktif menulis puisi, cerpen, esai di berbagai media nasional. Beberapa buku karya terbaru; Melukis Peristiwa, Luka yang Dijahit Doa, Interludium kapibara.
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...