Esai · Potret Online

Catatan Kecil dari Meja Pinggir untuk Gerakan Anti-Efisiensi

Penulis  Syarifudin Brutu
Agustus 2, 2026
4 menit baca 14
bda7617d-9d25-4b87-a3db-2d19427712ac
Foto / IlustrasiCatatan Kecil dari Meja Pinggir untuk Gerakan Anti-Efisiensi

Oleh Syarifuddin Brutu

Pernahkah kamu merasa hidup ini mirip mesin cetak tiket parkir? Setiap detik dihitung, setiap jengkal ruang diisi jadwal, dan layar ponsel menyala bukan lagi untuk menyapa, melainkan menagih. Kita bangun tidur bukan dengan liur yang masih tertinggal di bantal, melainkan dengan daftar tugas yang berbaris rapi di aplikasi pengingat. Cepat. Tepat. Tanpa jeda.

Namun, di suatu sore yang basah oleh hujan, ketika cangkir kopi di meja saya mendingin begitu saja karena terlalu lama dibiarkan, sebuah pertanyaan melintas begitu saja di kepala: Sebenarnya kita sedang berlari mengejar apa?

Manusia hari ini telah diubah menjadi algoritma berjalan. Kita memeras habis setiap detik agar tampak produktif, seolah-olah waktu luang adalah dosa besar yang harus diampuni dengan kesibukan baru. 

Kegelisahan kolektif inilah yang melahirkan sebuah arus penolakan pelan-pelan yang kita kenal sebagai Gerakan Anti-Efisiensi. Gerakan ini bukan sekadar bentuk kemalasan massal. Ini adalah teriakan sunyi dari mereka yang lelah menjadi budak jam digital, sebuah pengingat bahwa hidup yang bermartabat tidak selalu diukur dari seberapa cepat kita menyelesaikan sesuatu, melainkan dari seberapa dalam kita sempat merasakannya.

Teknologi, pada awalnya, diciptakan untuk memeluk pundak manusia dan meringankan beban pundaknya. Janji manisnya sederhana: beri kami sepuluh menit, dan kami akan menyelamatkan sisa harimu. Tapi lihatlah hari ini. Janji itu berubah menjadi jerat tali yang mencekik leher secara perlahan. 

Ponsel pintar di dalam saku kita bergetar bukan hanya untuk urusan nyawa, tapi menuntut perhatian konstan pada hal-hal remeh yang sebenarnya bisa menunggu esok pagi.

Kita terjebak dalam apa yang disebut sebagai hustle culture, sebuah keyakinan tak tertulis bahwa istirahat adalah tanda kelemahan. Bahkan ketika kita sedang menikmati secangkir teh di beranda rumah, kepala kita tetap sibuk memikirkan balasan surel kantor atau target mingguan yang belum dicapai. 

Otak kita dipaksa bekerja layaknya mesin multitasking tanpa henti. Padahal, manusia bukanlah komputer jinjing yang bisa membuka sepuluh tab peramban secara bersamaan tanpa mengalami lag.

If kita terus menerus memaksakan diri untuk mengoptimalkan setiap jengkal detik, maka yang tersisa di dalam dada hanyalah rongga kosong yang hampa. 

Kelelahan mental ini menyebar ke sudut-sudut kamar tidur, ruang kelas, hingga meja makan keluarga. Kita hadir secara fisik, namun jiwa kita melayang entah ke mana, tersesat di antara notifikasi yang tak pernah benar-benar berhenti berbunyi.

Maka, di sinilah Gerakan Anti-Efisiensi hadir menawarkan jalan pulang. Gerakan ini mengajak kita untuk kembali melirik hal-hal yang tidak efisien, hal-hal yang oleh para pemuja produktivitas dianggap sebagai pemborosan waktu.

Mari kita ambil contoh sederhana: proses menulis surat dengan tangan menggunakan pena tinta. Bukankah lebih cepat jika kita mengetiknya di layar sentuh dalam hitungan detik? Tentu saja. 

Namun, ketika kita menulis secara manual, ada gesekan ujung pena di atas kertas yang memaksa kita berpikir, merenung, bahkan mencoret kata-kata yang salah. Proses yang lambat ini memberi ruang bagi pikiran untuk bernapas.

Sebuah analogi yang pas barangkali adalah membandingkan mi instan dengan kaldu yang direbus berjam-jam di atas kompor kayu. Mi instan memang selesai dalam tiga menit, praktis dan mengenyangkan perut yang lapar. 

Soalnya, rasa yang ditawarkan sering kali datar, seragam, dan mudah dilupakan. Sedangkan kaldu yang dimasak perlahan membutuhkan kesabaran, penjagaan api yang konstan, serta ketelatenan. 

Hasilnya? Sebuah kedalaman rasa yang meresap hingga ke relung lidah.

Begitu pula dengan hidup. Keindahan-keindahan kecil sering kali bersembunyi di balik ketidakefisienan. Duduk memandangi langit senja tanpa memotretnya untuk diunggah ke media sosial adalah sebuah tindakan “tidak efisien” yang justru menyelamatkan kewarasan kita. 

Because pada akhirnya, ingatan terbaik tidak pernah lahir dari seberapa cepat kita mendokumentasikan sebuah momen, melainkan dari seberapa total kita membiarkan diri kita tenggelam di dalamnya.

Pada akhirnya, gelombang kejenuhan ini adalah alarm darurat yang dikirimkan oleh tubuh dan pikiran kita sendiri. Kita tidak dirancang untuk hidup dalam kecepatan penuh tanpa rem.

Meskipun dunia luar terus berteriak agar kita berlari lebih kencang, selalu ada hak bagi kita untuk memilih berhenti sejenak. Gerakan Anti-Efisiensi bukan berarti kita menolak kemajuan teknologi secara total atau hidup tertinggal di gua yang gelap. 

Ini tentang memegang kendali kembali atas kemudi waktu kita sendiri. Bahwa waktu luang bukanlah sebuah dosa, melainkan ruang suci tempat kemanusiaan kita dipelihara.

Jadi, jika besok pagi alarm berdering nyaring menuntut ketergesaan, mungkin kita hanya perlu menarik selimut sedikit lebih lama, membiarkan kopi menetes perlahan, dan mengingat satu hal penting: hidup ini adalah sebuah perjalanan untuk dihayati, bukan sekadar proyek terbengkalai yang harus segera diselesaikan.

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan esai ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi memberikan ruang ekspresi tanpa intervensi isi.
Tentang Penulis
Syarifudin Brutu, akrab disapa Syarif, merupakan mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dari Universitas Syiah Kuala. Saat ini ia menetap di Banda Aceh dan aktif membagikan karya serta pemikirannya melalui akun Instagram @aksara_arunika. Untuk kepentingan korespondensi, ia dapat disapa melalui WhatsApp di 085763055727 atau email Syarifbrutu1@gmail.com.
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...