Ekosida dan Skolastisida di Aceh, Respon terhadap Tulisan Tabrani Yunis
Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh
Dosen Antropologi, Universitas Malikussaleh, Lhokseumawe, Aceh
Tulisan Tabrani Yunis (2026, July 4) mengingatkan kita bahwa bencana hidrometeorologi 26 November 2025 bukan sekadar peristiwa alam yang “kebetulan lewat” di Aceh, Sumut, dan Sumbar. Ia adalah bencana buatan manusia—human-made disaster—yang lahir dari akumulasi panjang kerakusan ekologis, korupsi struktural, dan ketidakpedulian birokrasi terhadap daya dukung lingkungan. Ironisnya, setelah ekosistem dihancurkan, kita lalu menyaksikan pemerintah tergopoh-gopoh menyelamatkan sekolah-sekolah yang sebelumnya dibiarkan berdiri di atas fondasi ekologis yang rapuh.
Ekosida: Ketika Hutan Ditebang, Sungai Dikeruk, dan Bencana Disebut “Alamiah”
Banjir bandang 2025 adalah tragedi ekosida—pembunuhan sistematis terhadap ekosistem. Ironi terbesar dari ekosida adalah cara ia disamarkan sebagai “bencana alam”, seolah-olah hujan ekstrem datang tanpa sebab, seolah-olah deforestasi tidak pernah terjadi, seolah-olah izin tambang tidak pernah dikeluarkan dengan tanda tangan yang gemetar karena amplop tebal.
Ekosida di Aceh bukan hanya soal hilangnya pepohonan, tetapi hilangnya akal sehat ekologis. Ketika sungai kehilangan vegetasi penyangga, ia berubah menjadi senjata air yang menghantam desa-desa dan sekolah-sekolah. Dan setelah itu, kita menyebutnya “musibah”, bukan “kejahatan”.
Ekosida di Aceh, Sumut, dan Sumbar pada 2025 bukanlah peristiwa yang jatuh dari langit. Ia adalah hasil dari serangkaian keputusan manusia yang begitu konsisten merusak alam, sehingga ketika bencana datang, ia hanya menyelesaikan pekerjaan yang sudah dimulai oleh tangan-tangan manusia sendiri. Ironinya, setelah semua itu, kita masih menyebutnya “bencana alam”, seolah-olah alam yang bersalah, bukan kebijakan.
Ketika hutan ditebang, kita kehilangan lebih dari sekadar pohon. Kita kehilangan penyangga air, penahan tanah, pengatur iklim mikro, dan logika ekologis yang menjaga keseimbangan.
Namun, penebangan itu dilakukan dengan penuh perayaan: gunting pita, spanduk “investasi”, dan pidato tentang “pertumbuhan ekonomi”. Ironisnya, ketika banjir bandang datang, kita menyalahkan curah hujan ekstrem, bukan curah izin yang ekstrem.
Sungai-sungai di Aceh dan Sumatra telah lama diperlakukan sebagai infrastruktur ekonomi, bukan ekosistem. Dikeruk untuk pasir, dipersempit untuk jalan, dialihkan untuk perkebunan. Sungai yang kehilangan ruang geraknya akan mencari ruang baru—dan pada 26 November 2025, ruang itu adalah desa-desa, sekolah-sekolah, dan rumah-rumah penduduk.
Ironinya, setelah sungai berubah menjadi monster air, kita menyebutnya “banjir kiriman”, seolah-olah air itu dikirim oleh alam, bukan oleh kebijakan.
Istilah “bencana alam” adalah ironi terbesar dalam tragedi ekosida. Ia bekerja sebagai penghapus jejak kebijakan, penyembunyi pelaku, penenang rasa bersalah kolektif, dan pembenaran untuk tidak melakukan reformasi struktural.
Dengan menyebutnya “alamiah”, kita menghapus fakta bahwa hutan ditebang oleh manusia, sungai dikeruk oleh manusia, izin tambang dikeluarkan oleh manusia, dan sekolah-sekolah dibangun tanpa analisis risiko oleh manusia. Bencana itu “alamiah” hanya sejauh kita menganggap bahwa kerakusan manusia adalah bagian dari alam.
Ketika ekosida menghancurkan ekosistem, ia membuka jalan bagi skolastisida—pembunuhan sistematis terhadap institusi pendidikan. Sekolah-sekolah yang hancur bukan hanya korban air, tetapi korban dari kebijakan yang membiarkan ekosistem runtuh. Di sinilah tragedi ganda itu terjadi: alam dihancurkan, lalu masa depan ikut dihancurkan.
Skolastisida: Ketika Sekolah Menjadi Korban Politik Anggaran dan Bencana Ekologis
Kerusakan ribuan ruang kelas di Aceh dan Sumatra bukan hanya kerusakan fisik. Ia adalah skolastisida—pembunuhan sistematis terhadap institusi pendidikan. Konsep ini diperkenalkan oleh Nadia Sonneveld, yang mendefinisikan skolastisida sebagai:
“the deliberate or systematic destruction of educational institutions, infrastructures, and the conditions that enable learning.” — Nadia Sonneveld, Scholasticide: The Targeting of Education in Armed Conflict (2023).
Sonneveld menekankan bahwa skolastisida bukan hanya tentang gedung sekolah yang runtuh, tetapi tentang hilangnya akses, hilangnya masa depan, dan hilangnya generasi.
Dalam konteks Aceh, skolastisida terjadi melalui dua jalur: Jalur ekologis dan Jalur birokratis. Jalur ekologis terjadi ketika ekosida menghancurkan sekolah-sekolah secara fisik. Jalur birokratis, ketika kepala sekolah dipaksa menjadi kontraktor dadakan, menghadapi ancaman mutasi, pemerasan, dan audit yang timpang.
Ironinya, setelah sekolah-sekolah hancur, negara meminta kepala sekolah untuk “bertanggung jawab” atas bangunan yang rusak—padahal mereka tidak pernah diberi kompetensi teknis untuk membangun sekolah tahan bencana.
Human-Made Disaster
Bencana hidrometeorologi 2025 adalah contoh klasik human-made disaster yang kemudian ditangani dengan solusi yang juga human-made, tetapi tidak selalu human-centered. Ironi yang muncul:
Hutan ditebang oleh manusia, tetapi banjir disebut “alam”. Sekolah hancur oleh air yang datang dari bukit gundul, tetapi kepala sekolah yang disalahkan. Anggaran revitalisasi dikucurkan sebagai “bantuan kemanusiaan”, tetapi sebagian menguap sebagai “fee kemanusiaan”. Anak-anak kehilangan kelas, tetapi para pemburu rente tidak pernah kehilangan kesempatan. Skolastisida di Aceh bukan hanya akibat banjir, tetapi akibat sistem birokrasi yang membiarkan pendidikan menjadi arena pemerasan, bukan perlindungan.
Mengapa Respon Tabrani Yunis Penting?
Tabrani Yunis mengingatkan bahwa revitalisasi pendidikan bukan sekadar membangun kembali dinding kelas, tetapi membangun kembali integritas sistem pendidikan. Ia menyoroti kerentanan kepala sekolah, relasi kuasa yang timpang, ancaman mutasi sebagai alat pemerasan, dan perlunya audit probity sejak awal.
Ini adalah kritik moral yang tajam; bahwa menyelamatkan pendidikan Aceh berarti menyelamatkan manusia yang mengelolanya, bukan hanya bangunan yang mereka tempati.
Kesimpulan
Bencana 2025 adalah tragedi ganda. Ekosida menghancurkan alam. Skolastisida menghancurkan masa depan. Dan keduanya adalah human-made-lahir dari keputusan manusia, kelalaian manusia, dan sistem yang membiarkan manusia merusak apa yang seharusnya dijaga.
Revitalisasi pendidikan Aceh harus dimulai dari revitalisasi moral birokrasi, bukan hanya revitalisasi bangunan.
Bibliografi
Sonneveld, N. (2023). Scholasticide: The targeting of education in armed conflict. Leiden University Press.
Tabrani Yunis. (2026, July 4). Menyelamatkan revitalisasi pendidikan Aceh pascabencana hidrometeorologi di Aceh. Potret Online. https://potretonline.com/2026/07/04/menyelamatkan-revitalisasi-pendidikan-aceh-pascabencana-hidrometeorologi-di-aceh/









