Aceh-Sumut-Aceh: Perjalanan Daerah Lintas Daerah, Salah tapi Penuh Hikmah

Oleh: Mahmudi Hanafiah, S.H., M.H.
Dosen UNISAI Samalanga Kabupaten Bireuen. Guru Dayah Jamiah Al-Aziziyah Batee Iliek Samalanga Kabupaten Bireuen
Awal Perjalanan
Sore itu, saya berangkat dari Ponpes Dayah Jamiah Al-Aziziyah Batee Iliek Samalanga Kabupaten Bireuen Propinsi Aceh. Tujuan perjalanan saya masih Aceh. Saya ingin melakukan takziyah kepada salah satu santri dari kelas saya ngajar di waktu malam yang meninggal ayahnya.
Santri tersebut berasal dari Kuta Cane, Aceh Tenggara. Ke situlah tujuan perjalanan saya dengan guru ngajar dhuha dan tiga orang guru lainnya serta anggota lokal tersebut, kelas 1E.
Opsi Rute yang Ditawarkan
Kutacane merupakan ibu kota Kabupaten Aceh Tenggara. Perjalanan kami menuju Kutacane memiliki dua opsi rute perjalanan. Rute Takengon, melintasi Kabupaten Bener Meriah, Aceh Tengah dan Gayo Lues dengan lama perjalanan diperkirakan ± 12 jam.
Rute Medan, melintasi beberapa Kabupaten di wilayah Aceh, yaitu: Kabupaten Aceh Utara, Kota Lhokseumawe, Kabupaten Aceh Timur, Kota Langsa dan Kabupaten Aceh Tamiang, serta beberapa daerah di wilayah Sumut, yaitu: Kabupaten Langkat, kami juga memasuki Kota Medan, kemudian bertolak ke kabupaten Karo melalui Berastagi dan Kabanjahe.
Selanjutnya berbelok menuju kawasan pegunungan yang bebatasan langsung dengan Aceh Tenggara. Perjalanan dengan mengambil rute Medan diperkirakan memakan waktu 20 jam.
Rute yang Kami Ambil
Kedua rute tersebut tidak luput dari Kawasan pegunungan yang harus dilalui. Namun, kawasan pegunungan di rute Takengon diketahui lebih ekstrim dibandingkan rute Medan. Ditambah lagi, ada beberapa titik di rute tersebut yang kondisi jalannya rusak parah akibat Bencana Sumatera pada akhir November 2025 lalu.
Atas pertimbangan tersebut dan cuaca yang terlihat kurang mendukung serta saran dari beberapa orang yang sempat dihubungi, kami memilih jalur Medan, walaupun memakan waktu hampir dua kali lipat dibandingkan jalur Takengon
Kami berangkat Selasa sore, 14 Juli 2026, sekitar pukul 15.30. Dengan perkiraan lama perjalanan ± 20 jam, kami menargetkan bisa sampai di tempat tujuan esok harinya, Rabu siang, 15 Juli 2026, sekitar pukul 12.00, atau paling lambat pukul 14.00, karena perlu singgah di beberapa tempat.
Namun, perkiraan kami meleset jauh dari target. Kami baru memasuki wilayah Aceh Tenggara sekitar pukul 22.00 dan tiba di tempat tujuan sekitar pukul 23.00. Lama perjalanan kami menjadi sekitar 31,5 jam. Meleset jauh dari perkiraan 20 hingga 22 jam.
Kami baru sadar, yang memberikan informasi perkiraan perjalanan jalur Medan memakan waktu 20 jam adalah kawan kami yang berprofesi sebagai sopir angkut L300. Tentu saja mereka bisa menempuh jarak tersebut dengan waktu yang relatif singkat karena telah menghafal rute. Sedangkan kami berangkat dengan bus dayah yang ukurannya sedikit lebih besar dibandingkan L300 dan sopir kami juga guru dayah yang baru kali itu menempuh jalur tersebut. Tentu saja, ia tidak segesit sopir L300 yang sudah sangat lihai dalam menempuh Kawasan pegunungan yang ekstrim.
Perkiraan Kami Salah, Namun Indah
Perkiraan lama perjalanan kami meleset jauh dari target. Kami menjadi sedikit bosan karena lamanya perjalanan. Namun, karena ada beberapa pemandangan yang menarik perhatian dalam perjalanan, khususnya saat kami keluar dari kota Medan, melintasi Jalan Jamin Ginting, rasa bosan berganti dengan kegembiraan.
Keceriaan anak-anak yang sempat sirna akibat kelelahan, kembali tumbuh ketika melihat keindahan panorama alam di kawasan Berastagi. Rumah susun di lereng bukit yang berjajar unik mengingatkan kami akan keindahan rumah susun di salah satu pegunungan Italia yang pernah kami lihat di lembaran kalender. Keindahan tersebut kemudian disusul dengan megahnya gunung Sibayak yang terlihat menjulang tinggi dengan gagahnya.
Keindahan dalam Berdampingan
Tidak hanya keindahan yang dipertontonkan oleh alam, keindahan peradaban manusia akhir zaman juga bisa kami rasakan, mulai dari titik awal kami masuk Sumut, tepatnya di Kabupaten Langkat. Kami tiba di salah satu SPBU di Langkat pas menjelang azan subuh. Satu per satu terbangun dari lelapnya tidur dalam ayunan bus yang melaju kencang memecah kesunyian malam.
Setiap yang terbangun langsung disambut oleh kemerduan lantunan ayat suci yang terdengar dari sebuah masjid. Beberapa saat kemudian lantunan ayat suci digantikan oleh alunan takbir dari azan yang dikumandangkan.
Satu per satu keluar dari bus, menyusuri suara azan tersebut untuk ikut memenuhi panggilan mulia, menunaikan kewajiban di subuh hari.
Saat keluar dari bus, saya bertanya kepada salah satu santri yang sudah berada di luar, “Dari mana suara azan berasal ya…?”.
“Dari sana Tgk”. Jawab santri tersebut sambil menunjukkan ke arah belakang perjalanan.
“Bukannya dari arah sana…?”. Tanya saya lagi sambil menunjukkan ke arah depan.
“Tapi di situ juga ada masjid Tgk”. Jawab santri itu lagi.
“Oh, benarkah…?” Saya tanya lagi untuk memastikan.
“Mari kita cari…!” Ajak saya.
Pas saya jalan ke arah depan, saya lihat rupanya bangunan yang disangka masjid oleh santri itu adalah rumah ibadah orang yang beragama lain. Sebagian santri lain menertawakan santri tersebut, karena mengira gereja adalah masjid.
Tidak hanya itu, pas kami lihat sekitar, rupanya pada tembok pagar di dekat kami juga terdapat ukiran salib. Akhirnya, kami jalan kaki ke depan menuju masjid yang menjadi sumber azan yang kami dengar sebelumnya. Sedangkan bus kami tinggalin di antrian BBM.
Di situ saya melihat indahnya hidup berdampingan. Rumah ibadah dari kepercayaan yang berbeda-beda bisa operasi dengan maksimal. Bahkan, alunan azan yang memecahkan keheningan malam menjelang pagi hari tetap bisa dikumandangkan tanpa ada gangguan dari penganut agama lain.
Kami pun shalat di masjid tersebut mengikuti jamaah yang ada.
Keindahan dalam berdampingan juga saya dapatkan ketika kami berhenti di salah satu SPBU di Kabupaten Karo untuk beli cemilan dan shalat mgarib sekalian isya dengan jamak ta’khir. Kalau saya tidak salah, itu merupakan SPBU terakhir di penghujung Sumut sebelum memasuki Aceh Tenggara.
Saat kami mendekati mushalla SPBU, beberapa orang yang duduk di sekitaran mushalla berpindah. Salah seorang di antara mereka berdiri dan menyalakan lampu mushalla.
Saya sempat su’uzzan (berburuk sangka) bahwa orang tersebut akan meminta kutipan liar saat kami masuk atau keluar dari mushalla. Saya mendekati keran air yang ada dekat pintu mushalla untuk berwudhu’.
Salah seorang dari mereka bilang, “Keran itu yang ada airnya bang”, sambil menunjukkan keran paling ujung.
Saya kurang tangkap dengan keran ujung yang ditunjukkan dan saya lihat dekat keran yang paling ujung ada bapak-bapak yang lagi duduk.
Jadi, saya buka keran yang lain, agar tidak mengganggu orang tersebut. Eh ternyata, keran yang saya buka tidak ada air.
Akhirnya, bapak-bapak yang duduk dekat keran beralaskan kardus itu bilang “Keran ini, bang”, sambil menunjukkan keran yang di ujung tadi.
Saya bilang, “Kenak bapak nanti, percikan airnya”.
“Gak apa-apa, aman itu”, jawabnya dengan santai.
“Oh, baik Pak, terimakasih banyak”, ujar saya dan saya langsung berwudhu’ di situ.
Selesai wudhu’, saya langsung masuk ke mushalla. Di belakang saya, datang kawan saya nyusul dan berwudhu’ di keran yang sama. Di celah-celah berwudhu’, kawan saya tak sengaja mendengar percakapan bapak itu video call dengan anak dan cucunya.
Dia menampakkan kawan saya dengan para santri yang lagi berwudhu’ di tempat itu ke anaknya. Di balik video call tersebut, kawan saya dengar anaknya bilang, “Eh, lagi berwudhu’! Orang Islam semua ya…?!”.
Dari situ saya menduga, bapak itu dengan beberapa orang lain tadi juga orang yang lagi singgah di SPBU tersebut atau orang yang lagi kerja (buruh bangunan) di sekitar SPBU tersebut. Hal itu karena kami melihat mereka ada yang lagi jemur pakaian usai dicuci dan nampak seperti bukan warga sekitar.
Dan, dari kekagetan anaknya di balik video call, kami menduga bahwa mereka bukan Muslim. Yang membuat suasana jadi indah, walaupun berbeda agama, mereka sangat mengahargai kedatangan kami yang membawa ciri khas Muslim dengan berpeci dan menuju mushalla untuk melaksanakan shalat.
Mereka terlihat menghargai kami dengan menyalakan lampu mushalla pas kami datang dan menunjukkan kami keran yang berair serta menjauh dari sekitaran pintu mushalla agar tidak mengganggu aktifitas shalat kami.
Itulah beberapa keadaan hidup berdampingan yang menawarkan ketenangan yang saya rasakan dalam perjalanan tersebut. Keadaan seperti itu sangat patut dilestarikan. Saling menghargai satu sama lain merupakan kunci kerukunan dalam kehidupan sosial.
Saling menghargai bukan berarti harus meyakini semua benar. Kayakinan terhadap kebenaran tetap harus sesuai dengan ajaran agama yang kita anut. Kehadiran orang yang bersebarangan dengan agama kita, tidaklah untuk kita jadikan perlawanan. Selama mereka tidak menjadi ancaman, kita tidak perlu mengusik mereka.
Namun demikian, dalam konteks dakwah, kita tetap memperkenalkan agama kita kepada mereka sebagai agama yang rahmatan lil’alamin (menyebarkan kasih sayang bagi sekalian alam). Semoga dengan cara tersebut, mereka mendapatkan hidayah dari Allah untuk memeluk Islam dan kita menjadi bagian dari orang yang menyelamatkan manusia dari siksa neraka yang pedih dan kekal selamanya. Amiiin…












