Esai · Potret Online

Papan Catur di Ruang Hampa

Penulis  Syarifudin Brutu
Juli 10, 2026
4 menit baca 36
5f94c5ce-1a82-4c90-9736-bc22e6e696bc
Foto / IlustrasiPapan Catur di Ruang Hampa
Disunting Oleh

Papan Catur di Ruang Hampa

Oleh: Syarifudin Brutu

Di atas meja kayu jati yang telah lama dimakan rayap, permainan ini tak pernah benar-benar usai. Orang-orang menyebutnya meja negara. Aku menyebutnya papan catur. Petaknya hitam dan putih, tetapi bidaknya bukan lagi kayu atau gading. 

Bidaknya terbuat dari tulang-belulang yang dipoles hingga mengilap, cukup indah untuk dipajang, cukup rapuh untuk dipatahkan.

Aku adalah pion.

Kau adalah pion.

Kita semua pion yang sejak awal diajarkan bahwa hitam adalah hitam dan putih adalah putih, seolah dunia dibangun dari batas-batas yang tegas. 

Padahal, lantai di bawah papan itu telah lama retak, dan dari celahnya menguap bau lembap yang tak pernah masuk ke dalam pidato-pidato resmi.

Di permainan ini, raja bukanlah sosok yang paling berkuasa. Ia bergerak lambat, dibatasi aturan, dikawal protokol, dan dipelihara oleh simbol-simbol. Yang benar-benar menentukan arah permainan justru mereka yang tak selalu tampak sebagai raja. 

Mereka melangkah lebih bebas, mengenal setiap lorong, setiap pintu belakang, setiap ruang yang tak pernah masuk dalam denah gedung. Mereka mengetahui di mana kebenaran disimpan, di mana kekayaan dipindahkan, dan bagaimana selembar aturan dapat berubah makna hanya karena tangan yang membacanya berbeda.

Kami, para pion, diajarkan melindungi mereka. Bukan karena mereka suci, melainkan karena kami diyakinkan bahwa tanpa mereka permainan akan runtuh. Maka kami berdiri di garis depan, menerima benturan pertama, sementara mereka tetap utuh di petak yang lebih aman.

Di belakang papan, selalu ada tangan-tangan yang tak terlihat. Tangan yang tidak ikut bermain, tetapi menentukan ke mana setiap bidak harus melangkah. Tak perlu berteriak. Cukup menggeser satu petak, dan puluhan pion akan saling menubruk. Tak perlu menghunus pedang. Kadang, bayangan kekuasaan saja sudah cukup membuat keberanian kehilangan suaranya.

Yang paling mengerikan bukanlah ketika hukum dilanggar, melainkan ketika hukum tetap berdiri tegak, tetapi hanya menjadi dekorasi. Ia dipajang agar tampak hidup, padahal denyutnya telah lama berhenti. Semua orang masih menyebutnya keadilan, meski yang berjalan sesungguhnya hanyalah prosedur yang kehilangan nurani.

Di meja itu, setiap orang memainkan perannya dengan sangat baik. Ada yang berbicara atas nama pengabdian, ada yang mengatasnamakan keamanan, ada yang bersumpah menjaga kepentingan bersama. Kata-kata mereka terdengar mulia. Begitu mulia hingga mampu menutupi suara-suara kecil yang perlahan menghilang dari ruang sidang, ruang pemeriksaan, bahkan dari hati mereka sendiri.

Aku pernah membayangkan seorang penyidik menatap berkas di tangannya terlalu lama. Bukan karena ia tak memahami isi berkas itu, melainkan karena ia memahami akibatnya. Ada saat ketika ketakutan tidak lagi berbentuk ancaman yang diucapkan. Ia hadir sebagai tatapan, sebagai langkah kaki di lorong yang terlalu sunyi, sebagai kesadaran bahwa keberanian kadang dibayar jauh lebih mahal daripada kebohongan.

Barangkali itulah bentuk kekerasan yang paling sempurna. Tidak meninggalkan darah di lantai. Tidak memecahkan kaca. Tidak mengoyakkan pakaian. Ia hanya membunuh sesuatu yang tak kasatmata: keyakinan bahwa kebenaran akan selalu menemukan jalannya.

Lalu kami, para mahasiswa yang berkali-kali dipanggil agen perubahan, berdiri di tepi papan sambil membawa kata-kata. Kami menulis, berdebat, membaca, dan bersuara. Namun suara-suara itu sering kali hanya menjadi gema yang berputar di ruang hampa. Terlalu lirih untuk menggeser sebuah bidak, terlalu nyaring untuk membuat kami tetap merasa tenang.

Permainan ini tak lagi dimainkan untuk mencari kemenangan. Ia dimainkan untuk menunda kekalahan mereka yang telah nyaman dengan posisinya, dan memastikan bahwa pion-pion tetap percaya pengorbanan mereka memiliki arti.

Mungkin esok petak yang kupijak tak lagi ada.

Mungkin esok kaulah yang diminta berdiri paling depan demi mempertahankan sesuatu yang bahkan tak lagi kau yakini.

Lalu ketika permainan benar-benar selesai, papan akan dilipat. Bidak-bidak akan dimasukkan kembali ke dalam kotak beludru. Para pemain akan pulang dengan pakaian yang tetap bersih, sementara debu-debu yang tertinggal di sela papan perlahan dilupakan.

Sejarah kemudian ditulis bukan oleh mereka yang paling jujur, melainkan oleh mereka yang paling lama memegang papan.

Dan kita?

Kita hanyalah serbuk halus yang tersisa di sudut-sudut kotak catur—cukup dekat untuk menyaksikan jalannya permainan, tetapi terlalu kecil untuk dicatat sebagai bagian darinya.

Sedih?

Mungkin.

Menakutkan?

Barangkali.

Atau jangan-jangan, yang paling mengerikan adalah kenyataan bahwa kita telah terlalu lama menganggap permainan ini sebagai sesuatu yang wajar.

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan esai ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi memberikan ruang ekspresi tanpa intervensi isi.
Tentang Penulis
Syarifudin Brutu, akrab disapa Syarif, merupakan mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dari Universitas Syiah Kuala. Saat ini ia menetap di Banda Aceh dan aktif membagikan karya serta pemikirannya melalui akun Instagram @aksara_arunika. Untuk kepentingan korespondensi, ia dapat disapa melalui WhatsApp di 085763055727 atau email Syarifbrutu1@gmail.com.
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...