Esai · Potret Online

Cinta dan Harta: Melihat Fenomena Hari Ini

7 menit baca 114
cab1dbb1-1038-4ff8-9872-fe43431eed34
Foto / IlustrasiCinta dan Harta: Melihat Fenomena Hari Ini
Disunting Oleh

Oleh: Kaipal Wahyudi

Mahasiswa Program Doktor (S3) Studi Islam, Pascasarjana, UIN Ar-Raniry Banda Aceh.

Di tengah kehidupan dunia yang terus berubah dengan sangat cepat, manusia masih terus bergulat dengan dua hal yang sejak dahulu tidak pernah terpisahkan dari kehidupannya, yaitu cinta dan harta. Keduanya selalu hadir dalam setiap perjalanan hidup manusia. Keduanya dicari, diharapkan, diperjuangkan, bahkan terkadang dipertentangkan.

Tidak sedikit orang yang bertanya, manakah yang lebih penting antara cinta dan harta? Sebagian mengatakan cinta adalah segalanya. Sebagian lagi berpendapat bahwa tanpa harta, cinta tidak akan mampu bertahan lama. Perdebatan ini terus berlangsung dari masa ke masa dan tampaknya tidak akan pernah benar-benar selesai.

Jika melihat fenomena yang berkembang hari ini, baik di tingkat global maupun dalam kehidupan masyarakat Indonesia dan Aceh, hubungan antara cinta dan harta semakin menarik untuk dibahas. Dunia modern telah membawa perubahan besar dalam cara manusia memandang hubungan, pernikahan, keluarga, dan masa depan. Faktor ekonomi kini menjadi pertimbangan yang semakin dominan dalam banyak keputusan hidup, termasuk dalam memilih pasangan dan membangun rumah tangga.

Media sosial setiap hari memperlihatkan berbagai gambaran kehidupan yang tampak sempurna. Foto pernikahan mewah, hadiah bernilai fantastis, perjalanan ke luar negeri, rumah besar, kendaraan mahal, dan berbagai simbol kemapanan lainnya terus memenuhi ruang digital.

Tanpa disadari, semua itu membentuk cara pandang baru tentang cinta dan kebahagiaan. Banyak orang mulai mengukur kualitas hubungan melalui ukuran materi. Semakin besar penghasilan pasangan, semakin tinggi status sosialnya, semakin dianggap ideal hubungan tersebut.

Padahal jika ditelaah lebih dalam, persoalannya bukan terletak pada cinta maupun harta itu sendiri. Pada hakikatnya, cinta tidak pernah salah. Harta juga tidak pernah salah. Keduanya merupakan anugerah yang Allah SWT berikan kepada manusia sebagai bagian dari kehidupan dunia. Yang sering menjadi persoalan adalah bagaimana manusia memahami, mencari, menempatkan, dan menjalankan keduanya dalam kehidupan.

Dalam Islam, cinta memiliki susunan yang sangat jelas. Cinta yang paling utama adalah cinta kepada Allah SWT. Dari cinta kepada Allah lahir keimanan, ketundukan, kesabaran, dan ketenangan hidup. Setelah itu cinta kepada Rasulullah SAW sebagai teladan terbaik bagi umat manusia. Kemudian cinta kepada kedua orang tua yang telah melahirkan, membesarkan, dan mendidik dengan penuh pengorbanan.

Setelah itu cinta kepada agama yang menjadi pedoman kehidupan dan cinta kepada tanah air yang menjadi tempat manusia hidup, tumbuh, dan mengabdi. Barulah kemudian manusia mencintai salah satu hamba Allah dengan niat yang baik, cara yang baik, dan tujuan yang baik melalui jalan yang diridhai-Nya.

Ketika urutan cinta ini dipahami dengan benar, maka cinta tidak akan menjadi sumber kerusakan. Sebaliknya, cinta akan menjadi sumber ketenangan dan keberkahan. Seseorang tidak akan mencintai secara berlebihan hingga melupakan Allah, tidak akan mengorbankan agama demi hubungan yang salah, dan tidak akan menjadikan manusia sebagai pusat seluruh harapan hidupnya.

Begitu pula dengan harta. Islam tidak pernah mengajarkan umatnya untuk membenci kekayaan. Bahkan Islam mendorong umatnya untuk bekerja keras, berdagang, berusaha, dan menjadi pribadi yang mandiri secara ekonomi. Banyak sahabat Nabi yang merupakan pedagang sukses dan memiliki kekayaan yang melimpah. Namun yang menjadi perhatian agama bukan banyak atau sedikitnya harta yang dimiliki, melainkan bagaimana cara memperolehnya dan untuk apa harta itu digunakan.

Harta yang diperoleh melalui jalan yang halal, jujur, dan penuh tanggung jawab akan menjadi sumber keberkahan. Sebaliknya, harta yang diperoleh melalui penipuan, korupsi, manipulasi, atau cara-cara yang tidak diridhai Allah hanya akan melahirkan kegelisahan dan kerusakan. Karena itu, dalam Islam harta dipandang sebagai amanah, bukan tujuan akhir kehidupan.

Sayangnya, fenomena yang berkembang di dunia hari ini menunjukkan adanya pergeseran cara pandang yang cukup mengkhawatirkan. Banyak orang mulai menempatkan harta sebagai ukuran utama keberhasilan hidup. Nilai seseorang sering kali diukur dari jabatan, penghasilan, aset, kendaraan, rumah, atau gaya hidup yang dimilikinya. Akibatnya, hubungan antarmanusia pun perlahan ikut dipengaruhi oleh logika yang sama.

Berbagai penelitian internasional menunjukkan bahwa orientasi materialisme yang berlebihan dapat memengaruhi kualitas hubungan manusia. Ketika seseorang terlalu menempatkan uang sebagai pusat kehidupannya, maka standar terhadap pasangan menjadi semakin tinggi. Pasangan tidak lagi dinilai dari akhlak, kesetiaan, kejujuran, dan tanggung jawabnya, melainkan dari kemampuan ekonominya. Dalam kondisi seperti ini, hubungan berisiko berubah menjadi transaksi yang kehilangan nilai kemanusiaan.

Fenomena tersebut dapat dilihat di berbagai negara. Banyak generasi muda menunda pernikahan karena merasa belum cukup mapan secara ekonomi. Harga rumah yang semakin mahal, biaya hidup yang terus meningkat, lapangan pekerjaan yang tidak menentu, serta tekanan sosial yang tinggi membuat banyak orang merasa takut memulai kehidupan rumah tangga. Cinta masih ada, tetapi sering kali terhalang oleh berbagai pertimbangan ekonomi yang semakin berat.

Di Indonesia, termasuk di Aceh, fenomena yang sama juga mulai terlihat. Banyak anak muda menghadapi dilema antara keinginan membangun keluarga dan realitas ekonomi yang tidak selalu mudah. Biaya pernikahan yang semakin tinggi, tuntutan sosial yang besar, serta harapan-harapan tertentu dari lingkungan sering kali menjadi tantangan tersendiri bagi generasi muda.

Dalam konteks Aceh, persoalan ini bahkan memiliki dimensi budaya yang lebih kompleks. Tradisi seperti jeulamee pada dasarnya merupakan bentuk penghormatan kepada perempuan dan simbol tanggung jawab laki-laki dalam membangun rumah tangga. Namun dalam sebagian praktik sosial, makna tersebut terkadang bergeser menjadi simbol gengsi dan prestise keluarga. Ketika simbol lebih dominan daripada substansi, maka pernikahan yang seharusnya dipermudah justru dapat menjadi semakin sulit dijangkau oleh sebagian generasi muda.

Padahal jika kembali kepada ajaran Islam, Rasulullah SAW mengingatkan bahwa pernikahan yang paling baik adalah pernikahan yang paling mudah dan tidak memberatkan. Islam mengajarkan keseimbangan antara kesiapan ekonomi dan kemudahan dalam membangun keluarga. Keduanya harus berjalan bersama tanpa saling memberatkan.

Di sisi lain, fenomena global juga menunjukkan bahwa kekayaan tidak selalu berbanding lurus dengan kebahagiaan. Banyak orang memiliki harta melimpah tetapi kehilangan ketenangan dalam hidupnya. Tidak sedikit pula keluarga yang terlihat mapan dari luar tetapi mengalami konflik yang berat di dalam rumah tangga. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kebahagiaan jangka panjang lebih banyak ditentukan oleh kualitas hubungan, kepercayaan, komunikasi, dan kedekatan emosional dibandingkan jumlah kekayaan semata.

Hal ini memberikan pelajaran penting bahwa manusia sesungguhnya membutuhkan keseimbangan. Cinta tanpa kesiapan menghadapi realitas kehidupan memang akan menghadapi banyak ujian. Namun harta tanpa cinta, moralitas, dan nilai spiritual juga tidak akan mampu menghadirkan ketenangan yang sejati.

Karena itu, tantangan terbesar manusia modern hari ini bukanlah memilih antara cinta atau harta. Tantangan yang sesungguhnya adalah bagaimana menempatkan keduanya secara proporsional. Menjadikan cinta sebagai fondasi hubungan dan menjadikan harta sebagai sarana untuk menjalankan tanggung jawab kehidupan.

Solusi dari berbagai persoalan yang muncul pada era sekarang sesungguhnya tidak hanya terletak pada perbaikan ekonomi semata, tetapi juga pada penguatan spiritualitas. Ketika manusia dekat dengan Allah SWT, ia akan memahami bahwa cinta adalah amanah dan harta adalah titipan. Ia tidak akan berlebihan dalam mencintai manusia dan tidak akan berlebihan dalam mengejar dunia. Ia mampu melihat bahwa tujuan akhir kehidupan bukanlah mengumpulkan sebanyak-banyaknya harta, melainkan meraih ridha Allah SWT.

Di tengah dunia yang semakin materialistis, penguatan nilai agama menjadi kebutuhan yang semakin penting. Agama mengajarkan manusia untuk mencintai dengan benar, bekerja dengan benar, mencari harta dengan benar, dan menggunakan harta dengan benar. Ketika nilai-nilai spiritual menjadi fondasi kehidupan, maka cinta akan lebih terarah, harta akan lebih berkah, dan kehidupan akan terasa lebih tenang.

Pada akhirnya, cinta dan harta bukanlah dua hal yang harus dipertentangkan. Keduanya merupakan bagian dari kehidupan manusia yang saling melengkapi. Cinta memberikan makna, ketenangan, dan arah dalam kehidupan. Sementara harta memberikan sarana untuk menjalankan tanggung jawab dan memenuhi kebutuhan hidup. Persoalan muncul ketika salah satunya ditempatkan secara berlebihan hingga menggeser yang lain.

Dunia hari ini memang sedang bergerak ke arah yang semakin materialistis. Ukuran keberhasilan sering kali ditentukan oleh jumlah harta, jabatan, dan simbol-simbol kemapanan yang terlihat di permukaan. Namun sejarah kehidupan manusia menunjukkan bahwa kebahagiaan tidak pernah sepenuhnya ditentukan oleh kekayaan. Banyak orang yang hidup sederhana tetapi penuh ketenangan. Sebaliknya, tidak sedikit yang bergelimang harta tetapi kehilangan kedamaian dalam keluarganya.

Karena itu, generasi hari ini perlu membangun cara pandang yang lebih seimbang. Harta penting untuk dipersiapkan karena kehidupan membutuhkan biaya. Namun cinta, akhlak, kejujuran, tanggung jawab, dan nilai-nilai agama tetap harus menjadi fondasi utama dalam membangun hubungan dan keluarga.

Bagi masyarakat Aceh yang dikenal kuat memegang nilai adat dan agama, tantangan terbesar saat ini bukan memilih antara cinta atau harta. Tantangannya adalah bagaimana menjaga agar keduanya berjalan beriringan dalam bingkai syariat, budaya, dan kemanusiaan. Sebab keluarga yang kokoh tidak lahir hanya karena kekayaan, tetapi juga karena adanya kasih sayang, kepercayaan, pengorbanan, dan keberkahan yang tumbuh dari keimanan.

Ketika cinta dibangun di atas fondasi iman dan harta diperoleh melalui jalan yang halal serta digunakan dengan penuh tanggung jawab, maka keduanya akan menjadi sumber kebaikan. Di situlah manusia menemukan keseimbangan hidup yang sesungguhnya, bukan hanya untuk meraih kebahagiaan di dunia, tetapi juga sebagai bekal menuju keselamatan di akhirat.

✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan esai ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi memberikan ruang ekspresi tanpa intervensi isi.
Tentang Penulis
Mahasiswa Program Doktor (S3) Studi Islam, Pascasarjana, UIN Ar-Raniry Banda Aceh.
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...