Esai · Potret Online

Kopi dan Sufi dalam Kacamata Mahasiswa S3 UIN Ar-Raniry Banda Aceh

8 menit baca 134
6efd3e78-d81f-40ac-bc76-af8260f96aed
Foto / IlustrasiKopi dan Sufi dalam Kacamata Mahasiswa S3 UIN Ar-Raniry Banda Aceh

Oleh : Kaipal Wahyudi.

Mahasiswa Program Doktor (S3) Studi Islam, Pascasarjana, UIN Ar-Raniry Banda Aceh.

Pagi itu, selepas menunaikan salat Subuh berjamaah di Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh, seorang sahabat lama mengajak saya menikmati secangkir kopi di Kubra, Beurawe. Ajakan sederhana itu ternyata berkembang menjadi perbincangan panjang yang baru berakhir setelah kami menunaikan salat Zuhur berjamaah. Dari Kubra kami berpindah ke salah satu warung kopi di kawasan Cut Nun, Ulee Kareng. Hampir seharian kami duduk berdampingan ditemani aroma kopi Aceh yang begitu khas, membicarakan berbagai persoalan yang sedang dihadapi Aceh, Indonesia, hingga dinamika dunia internasional.

Percakapan kami tidak pernah kehabisan tema. Kami mengenang kejayaan industri gas Arun yang pernah menjadi kebanggaan Aceh sekaligus salah satu pusat energi terbesar di Asia Tenggara. Dari sana pembicaraan mengalir menuju potensi cadangan migas Andaman yang kini mulai menjadi perhatian dunia. Kami mendiskusikan posisi strategis Sabang yang berada di mulut Selat Malaka dan bagaimana kawasan itu semestinya dipersiapkan menjadi pusat perdagangan, logistik, energi, dan diplomasi maritim Indonesia di kawasan Indo-Pasifik.

Kami kemudian mempertanyakan mengapa Aceh yang kaya sumber daya alam masih menghadapi persoalan kemiskinan, pengangguran, dan ketimpangan pembangunan. Kami membahas peran partai-partai lokal, tantangan investasi, kualitas birokrasi, pembangunan ekonomi maritim, hingga pentingnya menjaga kelestarian lingkungan di tengah derasnya arus pembangunan. Tidak lupa kami membicarakan pendidikan, mahalnya biaya kuliah, meningkatnya Uang Kuliah Tunggal (UKT), serta masih banyaknya generasi muda Aceh yang belum memperoleh kesempatan melanjutkan pendidikan tinggi karena keterbatasan ekonomi.

Semakin lama berdiskusi, semakin terasa bahwa persoalan Aceh bukanlah persoalan yang sederhana. Kemajuan sebuah daerah tidak hanya ditentukan oleh melimpahnya sumber daya alam, tetapi terutama oleh kualitas sumber daya manusianya. Daerah yang memiliki manusia unggul akan mampu mengelola kekayaan alamnya secara bijaksana. Sebaliknya, daerah yang kurang kualitas manusianya akan terus bergantung kepada pihak lain meskipun memiliki kekayaan yang luar biasa.

Sebagai mahasiswa Program Doktor Studi Islam UIN Ar-Raniry Banda Aceh, saya meyakini bahwa kampus seharusnya menjadi tempat lahirnya gagasan besar untuk menjawab persoalan-persoalan tersebut. Mahasiswa tidak cukup hanya pandai menyusun proposal penelitian atau menulis skripsi, tesis dan disertasi. Lebih dari itu, mahasiswa harus mampu menawarkan solusi berdasarkan ilmu pengetahuan yang dapat dipertanggungjawabkan. Kegelisahan akademik semestinya melahirkan keberanian berpikir dan keberanian bertindak demi kemajuan Aceh di masa depan. Semua itu harus dimulai sejak sekarang, bahkan dari detik ini.

Saya membayangkan suatu hari nanti Aceh memiliki kebijakan pembangunan sumber daya manusia yang benar-benar visioner. Setiap tahun, puluhan bahkan ratusan putra-putri terbaik Aceh diberangkatkan ke berbagai universitas terbaik dunia sesuai kebutuhan pembangunan daerah. Aceh membutuhkan ahli minyak dan gas, pakar energi terbarukan, ilmuwan kecerdasan buatan, ahli pelabuhan, logistik, ekonomi maritim, diplomasi internasional, mitigasi bencana, lingkungan hidup, pertanian modern, kesehatan, pendidikan, hingga pakar kebijakan publik. Investasi terbesar sesungguhnya bukan hanya membangun gedung atau jalan raya, tetapi membangun manusia yang kelak mampu mengelola seluruh potensi Aceh secara mandiri.

Pada saat yang sama, masyarakat di setiap kabupaten dan kota juga harus memperoleh pelatihan yang sesuai dengan karakteristik wilayahnya. Kawasan pesisir harus diperkuat melalui sektor kelautan dan perikanan. Wilayah pegunungan perlu mengembangkan kopi, hortikultura, dan pertanian modern. Daerah wisata harus dipersiapkan dengan kemampuan bahasa asing, ekonomi kreatif, dan pelayanan internasional. Kawasan industri memerlukan tenaga kerja yang terampil dan adaptif terhadap perkembangan teknologi. Dengan cara demikian, pembangunan benar-benar berangkat dari kebutuhan masyarakat, bukan sekadar mengikuti tren sesaat.

Percakapan panjang di warung kopi hari itu akhirnya membawa saya kepada sebuah renungan yang lebih mendalam. Mengapa hampir setiap gagasan besar yang kami bicarakan justru lahir di atas meja kopi? Mengapa budaya ngopi begitu melekat dengan kehidupan masyarakat Aceh? Mengapa warung kopi selalu dipenuhi mahasiswa, dosen, ulama, pengusaha, birokrat, hingga masyarakat biasa yang berdiskusi tentang berbagai persoalan kehidupan?

Pertanyaan-pertanyaan itu membawa saya menelusuri sejarah panjang hubungan antara kopi dan peradaban Islam. Ternyata, kopi bukan sekadar minuman yang lahir dari budaya modern sebagaimana dipahami banyak orang hari ini. Sejarah menunjukkan bahwa penyebaran kopi memiliki hubungan yang erat dengan jaringan ulama dan kaum sufi di kawasan Yaman, Hijaz, Afrika Timur, hingga Samudra Hindia.

Tanaman kopi memang berasal dari dataran tinggi Ethiopia, tetapi budaya mengolah dan meminum kopi berkembang secara luas di Yaman sejak abad ke-15. Dari sanalah kopi menyebar ke Makkah, Madinah, Kairo, Damaskus, Istanbul, hingga akhirnya mencapai Nusantara melalui jalur perdagangan Samudra Hindia. Perjalanan kopi bukan hanya mengikuti kapal-kapal dagang, tetapi juga mengikuti langkah para ulama, jamaah haji, dan para sufi yang berpindah dari satu negeri ke negeri lainnya.

Dalam berbagai literatur sejarah Islam dijelaskan bahwa para sufi menggunakan kopi sebagai penunjang aktivitas ibadah malam. Qiyamul lail, zikir, muraqabah, khalwah, dan berbagai latihan spiritual membutuhkan kondisi fisik yang tetap terjaga hingga menjelang fajar. Kopi membantu mereka mempertahankan konsentrasi tanpa menghilangkan kesadaran sebagaimana minuman yang memabukkan. Karena itulah kopi dipahami bukan sebagai tujuan, melainkan sebagai wasilah untuk meningkatkan kualitas penghambaan kepada Allah Swt.

Pandangan tersebut memberikan pelajaran penting bahwa dalam Islam, sesuatu yang pada dasarnya bersifat mubah dapat bernilai ibadah apabila digunakan untuk tujuan yang baik. Nilai kopi bukan terletak pada kandungan kafeinnya, melainkan pada manfaat yang dihasilkannya bagi kehidupan manusia. Ketika kopi membantu seseorang menjaga semangat beribadah, menuntut ilmu, atau mempererat persaudaraan, maka ia menjadi bagian dari jalan menuju kemaslahatan.

Tradisi itu kemudian berkembang mengikuti perjalanan perdagangan Islam. Pelabuhan Mocha di Yaman menjadi pusat perdagangan kopi dunia selama berabad-abad. Dari pelabuhan itulah istilah “mocha” yang kini dikenal di seluruh dunia berasal. Bersamaan dengan perdagangan rempah-rempah, para saudagar Muslim juga membawa budaya minum kopi ke berbagai wilayah yang mereka singgahi, termasuk Nusantara.

Aceh memiliki posisi yang sangat penting dalam jaringan tersebut. Sebagai salah satu simpul perdagangan Samudra Hindia, Kesultanan Aceh Darussalam menjalin hubungan erat dengan Makkah, Gujarat, Yaman, Turki Utsmani, dan berbagai pusat peradaban Islam lainnya. Kapal-kapal yang berlabuh di pelabuhan Aceh tidak hanya membawa barang dagangan, tetapi juga kitab-kitab keislaman, teknologi, budaya, serta jaringan intelektual para ulama.

Tidak mengherankan apabila Aceh kemudian melahirkan tokoh-tokoh besar seperti Hamzah Fansuri, Syamsuddin as-Sumatrani, Nuruddin ar-Raniri, dan Abdurrauf as-Singkili yang memiliki hubungan erat dengan jaringan keilmuan dunia Islam. Walaupun tidak terdapat bukti bahwa mereka memperkenalkan kopi secara langsung ke Aceh, perjalanan intelektual mereka berlangsung pada masa ketika budaya kopi telah berkembang di Hijaz dan Yaman. Dengan demikian, budaya kopi dan perkembangan tasawuf bertemu dalam ruang sejarah yang sama melalui mobilitas ulama, jamaah haji, dan saudagar Muslim.

Warisan sejarah itulah yang masih dapat kita rasakan hingga hari ini. Warung kopi di Aceh bukan sekadar tempat menikmati minuman. Ia telah berkembang menjadi ruang publik yang mempertemukan berbagai lapisan masyarakat dalam suasana yang relatif egaliter. Seorang profesor dapat duduk berdampingan dengan mahasiswa. Ulama berbincang dengan pengusaha. Petani berdiskusi dengan birokrat. Semua dipersatukan oleh secangkir kopi.

Bahkan dalam banyak kesempatan, warung kopi telah menjadi laboratorium gagasan yang melahirkan berbagai pemikiran baru. Tidak sedikit penelitian, artikel ilmiah, karya jurnalistik, hingga ide-ide pembangunan daerah lahir dari diskusi santai di atas meja kopi. Budaya inilah yang menurut saya menjadi salah satu kekuatan sosial Aceh yang patut dipertahankan.

Namun demikian, perkembangan zaman juga membawa tantangan baru. Modernisasi telah mengubah sebagian makna kopi. Banyak coffee shop kini lebih menonjolkan desain interior, media sosial, dan gaya hidup daripada fungsi intelektualnya. Tidak sedikit orang datang ke kedai kopi sekadar mencari latar belakang foto yang menarik untuk diunggah ke media sosial. Percakapan yang mendalam perlahan tergantikan oleh layar telepon genggam.

Fenomena tersebut tentu tidak sepenuhnya salah. Perubahan merupakan bagian dari dinamika masyarakat. Akan tetapi, akan sangat disayangkan apabila budaya kopi yang dahulu menjadi ruang lahirnya ilmu pengetahuan justru kehilangan ruh intelektualnya. Warung kopi seharusnya tetap menjadi tempat bertemunya gagasan, ruang membaca, berdiskusi, dan membangun kesadaran sosial.

Bagi saya, inilah makna terdalam dari hubungan antara kopi dan tasawuf. Tasawuf mengajarkan kesederhanaan, kesadaran, pengendalian diri, kejujuran, dan penghormatan terhadap ilmu. Nilai-nilai tersebut sesungguhnya sangat relevan dengan budaya ngopi di Aceh. Secangkir kopi dapat menjadi awal lahirnya percakapan yang mencerahkan, memperkuat ukhuwah, dan menghadirkan solusi bagi berbagai persoalan masyarakat.

Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, manusia sering kehilangan waktu untuk berhenti sejenak dan merenungkan hidupnya. Warung kopi memberikan ruang bagi manusia untuk memperlambat langkah, mendengarkan orang lain, bertukar pikiran, dan belajar memahami berbagai sudut pandang. Dalam konteks itulah budaya ngopi sesungguhnya memiliki nilai spiritual yang sangat tinggi.

Saya berharap warung-warung kopi di Aceh tetap menjadi ruang lahirnya generasi yang gemar membaca, berdiskusi, menulis, dan berpikir kritis. Kopi Aceh tidak cukup hanya dikenal karena kualitas rasanya yang mendunia, tetapi juga karena kemampuannya melahirkan tradisi intelektual yang kuat. Kita memerlukan lebih banyak mahasiswa yang berdiskusi tentang masa depan Aceh, lebih banyak peneliti yang melahirkan inovasi, lebih banyak pemimpin yang lahir dari budaya dialog, dan lebih banyak masyarakat yang menjadikan ilmu sebagai jalan membangun peradaban.

Pada akhirnya saya menyadari bahwa secangkir kopi yang kami nikmati sejak selepas Subuh hingga Zuhur hari itu sesungguhnya bukan hanya menemani percakapan, melainkan juga mengingatkan bahwa perubahan besar sering kali berawal dari diskusi sederhana. Di atas meja warung kopi, gagasan bertemu dengan pengalaman, ilmu bertemu dengan kenyataan, dan harapan bertemu dengan ikhtiar.

Aceh memiliki sejarah panjang, sumber daya alam yang melimpah, budaya Islam yang kuat, serta tradisi kopi yang telah mendunia. Kini yang dibutuhkan adalah membangun manusia yang mampu menghubungkan seluruh potensi tersebut menjadi kekuatan peradaban. Jika budaya kopi kembali dipadukan dengan semangat menuntut ilmu, nilai-nilai tasawuf, dan keberanian berpikir jauh ke depan, saya optimistis Aceh bukan hanya akan dikenal sebagai penghasil kopi terbaik dunia, tetapi juga sebagai pusat lahirnya gagasan, pemikiran, dan sumber daya manusia unggul yang memberi manfaat bagi Indonesia bahkan dunia Islam.

Mungkin di situlah hakikat secangkir kopi yang sesungguhnya. Ia tidak hanya menghangatkan tubuh, tetapi juga menghidupkan akal. Ia tidak sekadar mengusir kantuk, tetapi membangunkan kesadaran. Ia tidak hanya menghadirkan aroma yang harum, tetapi juga mengingatkan bahwa peradaban besar selalu lahir dari manusia yang mencintai ilmu, gemar berdialog, berani berpikir, dan senantiasa mendekatkan diri kepada Allah Swt.

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan esai ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi memberikan ruang ekspresi tanpa intervensi isi.
Tentang Penulis
Mahasiswa Program Doktor (S3) Studi Islam, Pascasarjana, UIN Ar-Raniry Banda Aceh.
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...