Artikel · Potret Online

Bencana di Tengah Revolusi Era Baru

6 menit baca 2
IMG_0782
Foto / IlustrasiBencana di Tengah Revolusi Era Baru
Disunting Oleh

Oleh: Dr. (C) Kaipal Wahyudi, S.j., S.Hum., M.Ag.

Indonesia hari ini sedang berada di tengah perubahan besar. Di satu sisi, ancaman bencana semakin sering terjadi. Di sisi lain, masyarakat juga sedang menghadapi perubahan teknologi, sosial, dan lingkungan yang bergerak sangat cepat.

Dunia terasa semakin sulit diprediksi. Cuaca ekstrem datang silih berganti, banjir dan longsor meningkat, suhu bumi semakin panas, sementara kerusakan lingkungan mulai terlihat nyata dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.

Sebagai negara kepulauan yang berada di kawasan cincin api Pasifik, Indonesia sejak lama hidup berdampingan dengan bencana. Gempa bumi, tsunami, letusan gunung api, banjir, hingga tanah longsor menjadi bagian dari realitas geografis bangsa ini.

Namun beberapa tahun terakhir, ancaman yang dihadapi tidak lagi semata-mata berasal dari alam. Indonesia juga menghadapi krisis ekologis akibat perubahan iklim, kerusakan hutan, alih fungsi lahan, pertambangan, dan eksploitasi sumber daya alam yang berlangsung dalam jangka panjang.

Fenomena itu terlihat dari meningkatnya bencana hidrometeorologi di berbagai daerah. Banjir, cuaca ekstrem, abrasi, kekeringan, dan longsor kini menjadi jenis bencana yang paling sering terjadi. Di wilayah Sumatra, terutama Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat, curah hujan tinggi berkali-kali memicu banjir dan longsor yang merusak rumah warga, lahan pertanian, infrastruktur, hingga aktivitas ekonomi masyarakat.

Aceh sendiri menjadi salah satu daerah yang banyak dikaji dalam studi kebencanaan global. Pengalaman menghadapi konflik bersenjata, tsunami 2004, dan berbagai bencana ekologis menjadikan Aceh dipandang sebagai contoh penting tentang ketahanan masyarakat pascabencana. Banyak penelitian melihat bagaimana masyarakat Aceh membangun kekuatan sosial melalui gotong royong, solidaritas komunitas, nilai agama, dan kearifan lokal.

Dua puluh tahun setelah tsunami, Aceh memperlihatkan bahwa ketahanan masyarakat tidak cukup dibangun hanya dengan infrastruktur fisik. Ketahanan juga lahir dari rasa saling percaya, budaya tolong-menolong, dan kemampuan masyarakat menjaga hubungan yang seimbang dengan alam. Karena itu, pembangunan berbasis komunitas kini semakin dipandang penting dalam sistem mitigasi bencana masa depan.

Di tengah situasi tersebut, Indonesia mulai bergerak menuju sistem mitigasi yang lebih modern. Jika dahulu penanganan bencana lebih berfokus pada respons darurat setelah kejadian, kini pendekatan yang digunakan mulai mengarah pada mitigasi berbasis teknologi dan kesiapsiagaan jangka panjang.

Penggunaan Artificial Intelligence (AI), big data, sensor digital, hingga sistem peringatan dini berbasis Internet of Things (IoT) mulai dikembangkan untuk membaca pola cuaca dan mendeteksi potensi bencana lebih awal. Berbagai forum kebencanaan juga memperlihatkan arah baru pembangunan sistem mitigasi di Indonesia. Penggunaan drone penyelamat, sensor gempa real-time, pemetaan berbasis AI, hingga sistem prediksi banjir dan longsor menunjukkan bahwa penanggulangan bencana perlahan bergerak menuju era digital.

Namun perkembangan teknologi saja tidak cukup jika tidak disertai perbaikan tata kelola lingkungan. Banyak bencana yang terjadi hari ini sebenarnya diperparah oleh aktivitas manusia sendiri. Kerusakan hutan, pembukaan lahan besar-besaran, pertambangan, perkebunan, dan lemahnya pengawasan tata ruang membuat risiko bencana semakin besar.

Di Sumatra dan Kalimantan, misalnya, pembukaan hutan untuk industri ekstraktif menyebabkan rusaknya daerah aliran sungai dan hilangnya fungsi hutan sebagai penyangga ekologis. Akibatnya, ketika hujan deras turun, tanah tidak lagi mampu menyerap air secara maksimal sehingga banjir dan longsor menjadi lebih parah. Situasi ini menunjukkan bahwa hubungan manusia dengan alam sedang mengalami krisis serius.

Kesadaran masyarakat terhadap persoalan lingkungan sebenarnya mulai tumbuh. Di banyak daerah, masyarakat sipil mulai mempertanyakan berbagai proyek pembangunan yang dianggap merusak lingkungan dan mengancam ruang hidup masyarakat lokal. Karena itu, perubahan yang terjadi hari ini bukan lagi sekadar persoalan ekonomi atau politik, tetapi juga menyangkut kesadaran ekologis dan masa depan kehidupan manusia.

Perubahan iklim global semakin memperbesar ancaman tersebut. Fenomena cuaca ekstrem kini semakin sering terjadi. Curah hujan yang dahulu dianggap anomali perlahan mulai menjadi pola baru. BMKG bahkan telah mengingatkan bahwa musim hujan dan kemarau di Indonesia kini semakin sulit diprediksi akibat dampak pemanasan global.

Di sisi lain, Indonesia juga sedang menghadapi revolusi digital yang berkembang sangat cepat. Teknologi AI, otomatisasi industri, dan machine learning mulai mengubah pola kerja dan kehidupan sosial masyarakat. Sejumlah pekerjaan perlahan tergantikan oleh sistem digital. Kondisi ini memang membuka peluang besar bagi kemajuan ekonomi, tetapi juga menghadirkan tantangan baru berupa ketimpangan sosial jika sumber daya manusia tidak mampu beradaptasi.

Karena itu, tantangan Indonesia ke depan bukan hanya soal menghadapi bencana alam, tetapi juga bagaimana membangun manusia yang mampu bertahan di tengah perubahan zaman yang sangat cepat. Pendidikan menjadi salah satu kunci utama. Literasi kebencanaan, literasi digital, dan kesadaran ekologis perlu ditanamkan sejak dini agar masyarakat memiliki kesiapan menghadapi krisis masa depan.

Pendidikan tidak lagi cukup hanya mengajarkan hafalan dan teori. Pendidikan juga harus membangun karakter, etika, kemampuan berpikir kritis, dan kepedulian terhadap lingkungan. Bangsa yang besar tidak hanya dibangun melalui teknologi dan ekonomi, tetapi juga melalui manusia yang memiliki integritas dan tanggung jawab sosial.

Dalam situasi seperti ini, agama juga memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Bagi sebagian masyarakat, bencana bukan hanya dipahami sebagai peristiwa alam, tetapi juga pengingat tentang pentingnya menjaga hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan lingkungan. Karena itu, banyak tokoh agama mulai mengingatkan bahwa eksploitasi alam yang berlebihan dapat menjadi warisan krisis bagi generasi mendatang.

Di Aceh dan berbagai daerah lain, pemulihan pascabencana sering melibatkan kekuatan agama dan solidaritas sosial masyarakat. Masjid, dayah, sekolah agama, dan ruang sosial berbasis komunitas kerap menjadi tempat pemulihan psikologis masyarakat setelah menghadapi bencana besar. Hal ini menunjukkan bahwa ketahanan masyarakat Indonesia tidak hanya lahir dari kekuatan negara, tetapi juga dari budaya gotong royong dan spiritualitas yang hidup di tengah masyarakat.

Masyarakat adat di Papua sejak lama juga mengajarkan pentingnya menjaga alam. Mereka memandang hutan sebagai “mama” yang harus dihormati dan dijaga. Pandangan tersebut lahir dari kesadaran bahwa bumi bukan sekadar objek ekonomi, tetapi sumber kehidupan yang harus dirawat bersama.

Sayangnya, modernisasi dan orientasi pembangunan ekonomi sering mendorong eksploitasi lingkungan secara berlebihan. Padahal kekayaan sejati bukan hanya tambang atau proyek-proyek besar, tetapi juga udara bersih, air jernih, hutan hijau, tanah subur, dan lingkungan yang sehat.

Karena itu, reboisasi dan penghijauan kembali tidak boleh berhenti sebagai program simbolik. Kawasan hutan harus dipulihkan, daerah resapan air harus dilindungi, dan eksploitasi sumber daya alam perlu dikendalikan secara lebih bijaksana dan berkelanjutan.

Indonesia membutuhkan perubahan paradigma pembangunan. Pertumbuhan ekonomi tidak bisa terus dibangun dengan mengorbankan lingkungan hidup. Pembangunan masa depan harus mampu mengintegrasikan ekonomi, teknologi, lingkungan, dan keadilan sosial secara seimbang.

Di tengah berbagai ancaman global, Indonesia sebenarnya memiliki peluang besar menjadi salah satu negara penting dalam pengembangan ekonomi hijau dunia. Kekayaan alam, posisi geopolitik, dan bonus demografi merupakan modal besar jika dikelola dengan visi jangka panjang yang berkelanjutan.

Indonesia hari ini sedang berada di persimpangan sejarah. Bangsa ini dapat terus berjalan dengan pola pembangunan lama yang merusak lingkungan, atau mulai bergerak menuju arah pembangunan yang lebih selaras dengan alam dan kemanusiaan.

Sejarah telah menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia memiliki daya tahan sosial yang kuat. Tsunami Aceh, Reformasi 1998, pandemi global, dan berbagai krisis lainnya membuktikan bahwa bangsa ini mampu bangkit dari berbagai kesulitan. Namun tantangan masa depan jauh lebih kompleks. Krisis iklim, revolusi teknologi, dan kerusakan ekologis membutuhkan kesadaran baru serta keberanian melakukan perubahan sejak sekarang.

Pada akhirnya, persoalan terbesar manusia modern bukan hanya soal teknologi atau ekonomi, tetapi juga bagaimana menjaga hubungan yang seimbang dengan alam. Manusia tidak dapat hidup tanpa hutan, sungai, laut, dan tanah yang sehat.

Indonesia tidak kekurangan sumber daya alam. Yang sering kurang adalah kesadaran untuk menjaganya. Di tengah dunia yang semakin tidak pasti, menjaga lingkungan hidup bukan sekadar agenda ekologis, tetapi bagian penting dalam mempertahankan masa depan manusia itu sendiri.

✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Mahasiswa Program Doktor (S3) Studi Islam, Pascasarjana, UIN Ar-Raniry Banda Aceh.
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...