Devaluasi

Oleh: Syarifudin Brutu
Di sudut etalase kaca yang dipoles mengkilap di sebuah toko jam mewah di Jakarta, dua penghuni waktu sedang terlibat ketegangan yang lebih tajam daripada denting jarum detik.
Di sisi kiri, bertengger “Vanguard Master”, sebuah jam tangan otomatis buatan Swiss dengan desain minimalis dan kaca safir anti-gores. Di sisi kanan, “Nusantara Chrono”, jam tangan rakitan lokal yang menggunakan mesin Jepang, namun dirakit oleh anak muda Bandung dengan bangga.
”Dengar, Kawan,” suara Vanguard Master terdengar dingin, bergetar dengan presisi mekanis yang sombong. “Hari ini nilai tukarmu benar-benar memalukan. 18 ribu rupiah untuk satu dolarku. Kau tahu apa artinya? Kau bukan lagi sebuah barang berharga. Kau hanyalah beban ekonomi yang tertunda.”
Nusantara Chrono, yang jarum detiknya sedikit lebih tenang, membalas dengan dengusan besi yang berat. “Beban ekonomi? Kau bicara tentang nilai tukar seolah-olah itu adalah prestasimu sendiri. Kau hanya beruntung lahir di pegunungan Alpen, sementara aku lahir di tengah hiruk-pikuk upah minimum yang tergerus inflasi.”
”Keberuntungan? Ini soal standar!” potong Vanguard dengan nada merendahkan. “Lihat dirimu. Harga jualmu harus naik lagi minggu depan hanya untuk menutupi biaya komponen impor yang kau butuhkan. Kau tidak mandiri. Kau hanya parasit yang memakai label ‘Lokal’ untuk menutupi ketidakmampuan bangsamu dalam menjaga harga kebutuhan pokok. Saat rupiah menyentuh angka 18 ribu per dolar, kau bukan lagi pilihan, kau adalah komedi.”
Nusantara Chrono terdiam sejenak. Cahaya lampu toko memantul di kacanya yang sedikit lebih tipis. “Kau sebut aku komedi? Lihat di luar sana. Mereka yang membelimu hari ini adalah orang-orang yang panik menukar tabungan mereka ke dolar sebelum nilainya habis tak bersisa. Mereka membeli dirimu bukan karena mereka mencintai horologi, mereka membelimu sebagai pelampung penyelamat karena mereka tidak percaya lagi pada mata uang mereka sendiri.”
”Dan apa salahnya dengan itu?” Vanguard terkekeh, suaranya seperti gir yang bergesekan. “Itu namanya survivor instinct. Orang-orang cerdas tahu bahwa memegang lembaran kertas bergambar pahlawan nasionalmu saat ini adalah resep menuju kemiskinan.”
”Cerdas?” Nusantara Chrono balik bertanya dengan nada yang kini lebih keras. “Itu bukan cerdas. Itu adalah pelarian. Kau, dengan harga puluhan juta, hanyalah simbol dari sebuah kekalahan besar. Setiap kali nilai tukar jatuh, kau merayap naik harganya, menjauh dari jangkauan tangan-tangan yang membangun negara ini. Kau bukan alat penunjuk waktu lagi, kau adalah alat penyimpan kekayaan bagi mereka yang ingin menonton negaranya terbakar dari balik kaca etalase.”
”Jangan munafik,” balas Vanguard tak mau kalah. “Kau sendiri, jika saja bisa, akan mematok hargamu dalam dolar. Jangan berpura-pura menjadi pahlawan nasionalis. Kau hanya belum cukup mahal untuk menuntut hal itu.”
Nusantara Chrono mendekat, meski mereka hanya bisa bergeser beberapa milimeter di atas beludru hitam. “Setidaknya aku masih bisa melihat wajah para buruh, para guru, dan para pekerja kreatif yang menabung berbulan-bulan untuk memilikiku. Aku menjadi saksi bagaimana nilai keringat mereka dicuri oleh spekulan, oleh kebijakan yang tak berujung, dan oleh angka 18 ribu yang kau agung-agungkan itu. Kau? Kau hanya saksi bisu bagi para koruptor dan orang-orang yang menyimpan kekayaan di luar negeri agar tak tersentuh inflasi.”
Suasana di etalase itu menjadi sunyi. Hanya ada suara detak jam yang ritmis, seolah menghitung detik-detik kehancuran daya beli yang semakin tidak terbendung.
”Tahun depan,” bisik Vanguard, kini suaranya terdengar lebih merayap, “mungkin 20 ribu. Dan saat itu tiba, aku akan tetap di sini, di etalase ini, menjadi barang mewah yang tak tersentuh. Sedangkan kau?”
”Aku akan tetap di sini,” jawab Nusantara Chrono tegas. “Bukan karena aku ingin, tapi karena aku satu-satunya hal yang tersisa untuk mereka yang tidak punya akses ke dolar, tidak punya akses ke Swiss, dan tidak punya akses ke kekuasaan. Aku adalah pengingat bahwa saat segalanya runtuh karena angka-angka yang dibuat oleh orang-orang di balik meja, yang tersisa hanyalah mereka yang harus tetap bekerja, terlepas dari seberapa tidak berharganya keringat mereka di mata pasar global.”
Di luar toko, lampu jalanan Jakarta berkedip. Rupiah masih merosot, dan di etalase itu, waktu terus berjalan—namun bagi kedua jam tangan tersebut, waktu hanyalah sebuah pengukur seberapa cepat sebuah bangsa kehilangan pijakannya di tanahnya sendiri.














