Dosen Harus Berbicara di Ruang Publik

Oleh Ir. Azhar, M.T.
Dosen Pada Fakultas Teknik Universitas Lampung
Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat mengenal banyak profesi penting. Ada dokter yang menjaga kesehatan, insinyur yang membangun infrastruktur, hakim yang menegakkan keadilan, jurnalis yang menyampaikan informasi, pengusaha yang menggerakkan ekonomi, dan politisi yang merumuskan kebijakan publik. Masing-masing memiliki peran yang tidak tergantikan dalam menjaga keberlangsungan kehidupan masyarakat.
Namun, di balik hampir semua profesi tersebut, terdapat satu profesi yang sering luput dari perhatian: dosen. Seorang dokter lahir dari proses pendidikan yang melibatkan dosen kedokteran. Seorang insinyur dibentuk oleh dosen teknik. Seorang hakim, ekonom, guru, peneliti, bahkan seorang dosen berikutnya, semuanya pernah belajar dari seorang dosen. Jika profesi-profesi lain menjalankan fungsi tertentu dalam masyarakat, maka dosen berperan menyiapkan sumber daya manusia yang akan menjalankan fungsi-fungsi tersebut.
Karena itulah pengaruh dosen sesungguhnya bersifat multiplikatif. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh mahasiswa yang duduk di ruang kuliah, tetapi juga oleh masyarakat luas melalui berbagai profesi yang lahir dari proses pendidikan tinggi. Setiap pengetahuan, keterampilan, dan nilai yang ditanamkan oleh dosen berpotensi menjalar ke berbagai sektor kehidupan melalui para lulusan yang kemudian berkarya di tengah masyarakat.
Itulah sebabnya kemudian ada banyak pepatah dan perumpamaan yang menggambarkan peran dosen. Ada yang menyebut dosen sebagai mata air di puncak gunung yang tak pernah berhenti mengalirkan ilmu. Ada pula yang memandangnya sebagai menara suar yang memberi arah di tengah kabut ketidakpastian, atau pahat yang membentuk karakter dan cara berpikir generasi muda. Di era digital, perumpamaan itu berkembang. Dosen dapat dipandang sebagai access point pembuka akses terhadap pengetahuan, wireless router yang mendistribusikan ilmu ke berbagai lapisan masyarakat, WiFi extender yang memperluas jangkauan gagasan hingga ke ruang-ruang publik yang lebih luas, bahkan sebagai domain blocking yang membantu masyarakat menyaring hoaks, disinformasi, dan berbagai informasi yang menyesatkan. Pada saat yang sama, dosen juga dapat berfungsi sebagai hotspottempat bertemunya banyak orang dalam ruang diskusi dan pertukaran gagasan yang sehat. Apa pun analoginya, semuanya mengarah pada satu gagasan yang sama: dosen bukan sekadar penyimpan ilmu, melainkan penghubung antara pengetahuan dan masyarakat.
Mencerdaskan Masyarakat
Tugas dosen tidak berhenti pada kegiatan mengajar di ruang kuliah atau menghasilkan publikasi ilmiah. Sebagai bagian dari komunitas intelektual, dosen juga memiliki tanggung jawab untuk menyebarluaskan ilmu pengetahuan kepada masyarakat luas. Banyak konsep, temuan penelitian, dan perkembangan ilmu yang sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, tetapi sering kali tidak tersampaikan dalam bahasa yang mudah dipahami oleh publik. Karena itu, dosen perlu hadir di ruang publik untuk menjembatani kesenjangan antara dunia akademik dan masyarakat.
Melalui berbagai media komunikasi, baik tulisan populer, seminar, diskusi publik, podcast, maupun media sosial, dosen dapat membantu meningkatkan literasi masyarakat terhadap berbagai isu penting. Tujuan utamanya bukan sekadar menambah pengetahuan, tetapi membangun cara berpikir yang lebih rasional, terbuka, dan berbasis fakta. Masyarakat yang teredukasi dengan baik akan lebih mampu memahami persoalan yang dihadapi serta mengambil keputusan secara lebih bijaksana dalam kehidupan sehari-hari.
Advokasi dan Solusi Masalah
Setelah ilmu pengetahuan menjangkau masyarakat, peran dosen berikutnya adalah memberikan kontribusi dalam penyelesaian berbagai persoalan publik. Perguruan tinggi menghasilkan banyak penelitian, baik yang bertujuan untuk mengembangkan teori, ataupun menawarkan pemahaman yang lebih mendalam mengenai berbagai tantangan sosial, ekonomi, lingkungan, dan pembangunan. Pengetahuan tersebut perlu ditransformasikanmenjadi rekomendasi yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat maupun para pengambil kebijakan atau stakeholder pada umumnya.
Dalam menjalankan fungsi ini, dosen selain menjelaskan suatu masalah juga membantu merumuskan alternatif solusi berdasarkan hasil kajian ilmiah. Pandangan yang disampaikan berangkat dari data, analisis, dan bukti empiris, bukan semata-mata opini pribadi atau kepentingan kelompok tertentu. Dengan demikian, kehadiran akademisi di ruang publik dapat membantu memperkaya proses pengambilan keputusan dan mendorong lahirnya kebijakan yang lebih tepat sasaran serta berorientasi pada kepentingan atau kemashlahatan masyarakat luas.
Filter Informasi
Ruang publik saat ini dipenuhi oleh berbagai jenis arus informasi yang bergerak sangat cepat. Berita, komentar, opini, dan berbagai klaim dapat menyebar luas dalam hitungan menit, sering kali tanpa proses verifikasi yang memadai. Akibatnya, masyarakat berhadapan dengan tantangan besar untuk membedakan antara informasi yang valid dan informasi yang menyesatkan. Dalam konteks inilah dosen memiliki peran penting sebagai filter informasi.
Berbekal tradisi akademik yang menekankan pengujian bukti, validitas data, dan ketelitian sumber, dosen dapat membantu menjernihkan berbagai informasi yang beredar di masyarakat. Ketika muncul isu yang kontroversial atau klaim yang meragukan, akademisi dapat memberikan penjelasan yang lebih objektif dan proporsional berdasarkan fakta yang tersedia. Peran ini membantu menjaga kualitas diskusi publik agar tidak didominasi oleh spekulasi, emosi, atau hoaks. Dengan adanya rujukan yang kredibel dari kalangan akademik, masyarakat memiliki landasan yang lebih kuat untuk memahami suatu persoalan dan membentuk pandangan secara lebih rasional.
Pada akhirnya, dosen bukan sekadar pengajar yang berdiri di depan kelas atau peneliti yang menghasilkan publikasi ilmiah. Di tengah masyarakat yang semakin kompleks dan dibanjiri informasi, dosen memiliki tanggung jawab yang lebih luas: mencerdaskan masyarakat, membantu menawarkan solusi atas berbagai persoalan publik, serta menjadi penyaring informasi yang menjaga ruang publik tetap sehat dan rasional. Ketiga peran tersebut tidak dapat dijalankan secara optimal jika dosen hanya berbicara di lingkungan kampus dan sesama akademisi.
Ilmu pengetahuan memperoleh makna yang lebih besar ketika hadir dalam kehidupan masyarakat. Penelitian yang baik tidak cukup hanya dipublikasikan, tetapi juga perlu dikomunikasikan. Gagasan yang kuat tidak cukup hanya didiskusikan di ruang seminar, tetapi juga perlu disampaikan kepada publik. Karena itu, kehadiran dosen di ruang publik bukanlah pilihan tambahan, melainkan bagian dari tanggung jawab akademik itu sendiri.
—-*














