Pala, Hama Penyakit dan Asa Petani

Oleh : Teuku Masrizar
Siang itu saya bersilaturrahmi dengan Muksalmina. Sudah lebih dua bulan tidak mengunjungi dia.
Tapi kali ini tidak seperti biasa. Terlihat lebih ceria dan bersemangat. Biasa dia selalu di dalam toko yang menjual barang bangunan dan pakan ternak, tapi hari ini dia terlihat sedang menjemur biji pala dan fuly (bunga atau lapisan yang menutupi biji) yang baru dipetik dari batang di samping mesjid Gampong Air Berudang.
Dia membalikkan semua biji dan fuly pala jemurannya, Amuk (panggilan seharian) sambangi saya yang telah lebih dulu di dalam tokonya. “Maaf bang baru panen. sebagian dari kebun, lumanyan bang,” katanya sambil menjulurkan tangannya bersalaman. “Syukur alhamdulillah, hasil panennya semakin meningkat”, jawab saya.
Dialog singkat di atas, menjelaskan produksi pala meningkat, seakan serangan hama dan penyakit pala sudah berkurang dan pulih. padahal pala yang dijemur tersebut sebagian besar dibeli dari petani.
Pala sejak dulu menjadi komoditi andalan sebagian warga Aceh Selatan. Dari wilayah Pasieraja sampai Labuhanhaji. Dan Kabupaten Abdya adalah sentra produksi pala. Pala merupakan sumber ekonomi masyarakat. Tanaman ini telah menjadi tanaman budaya bagi masyarakat di Aceh Selatan.
Dalam dua dekade terakhir tanaman pala terserang hama dan penyakit. Banyak tanaman pala merangas, kering dengan batang penuh lobang gerekan dan kemudian kemudian mati. Petani pala tak putus asa, mereka menanam kembali lahan mereka dan beberapa tahun kemudian tumbuh dan berkembang dengan baik dan berbuah.
Tak lama kembali diserang hama dan penyakit akhirnya kembali mati. Kejadian yang terus terulang Ini menjadi duka bagi setiap petani pala di Kabupaten Aceh Selatan.
Akhir-akhir ini serangan hama dan penyakit terhadap tanaman pala justru semakin meningkat, bisa jadi pemerliharaan tidak baik. Upaya petani dalam proteksi dan pengendalian hama penyakit kurang dilakukan. Ataukah disebabkan adanya penebangan hutan pada bagian atas hamparan tanaman pala.
Bisa jadi punahnya tanaman ini disebabkan akibat cuaca ekstrem dan perubahan iklim yang sedang terjadi. Sejumlah pertanyaan yang belum ada jawabannya.
Kelihatan ada pengaruh meningkatnya serangan hama dan penyakit pala akibat penebangan hutan di seputaran kebun pala. Indikasi ini ditunjukkan dengan meningkatnya populasi hama yang menyerang tanaman pala. Agaknya jenis penggerek batang bermigrasi dari hutan yang telah ditebang ke kebun-kebun pala.
Dugaan ini sangat beralasan, takkala habitat dan sumber pakan bagi hama pala habis akibat penebangan hutan maka hama berpindah ke kebun pala. Dalam kenyataanya batang-batang pala jadi lorong-lorong bermain sekaligus rumah dan sumber makanannya.
Pada bagian lain Cuaca ekstrim dan perubahan iklim jadi masalah lain yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tanaman pala. Dapat dilihat tatkala musim kemarau tanaman pala kekurangan air dan di musim hujan kelebihan air, angin kencang dan peningkatan suhu udara mengganggu proses pertumbuhan sampai pala berbuah.
Hama dan penyakit pala wajib dituntaskan sehingga pala tumbuh, berkembang dan berproduksi kembali dengan baik.
Tidak mudah menuntaskan masalah hama dan penyakit pala di Aceh Selatan. Dibutuhkan ilmu pengetahuan, teknologi, dukungan sumberdaya manusia dan biaya penelitian yang besar serta proses yang relatif lama.
Sebelumnya telah dilakukan beragam usaha secara parsial dalam mengendalikan hama dan penyakit pala. Tidak sekali tapi berkali-kali dengan hapan agar pala dapat tumbuh dengan baik.
Kesembuhan tanaman pala akibat serangan hama dan penyakit dan berproduksi kembali merupakan asa bagi setiap petani pala.
Sampai waktunya produksi pala di kampung Amuk dapat dilihat dari semakin banyaknya pala yang dijemur di samping tokonya yang dihasilkan dari kebunnya sendiri dan para petani pala lain. Dan semua petani pala akan bahagia.###












