Oleh Muhrain
Ombak Malaka alur Andaman
jalan lintas dunia energi
jalur dagang dunia masa kini
di sana perahu kapal tak henti pesiar
membawa gulungan peta
meremukkan mimpi menyala nyata
di puncak zaman kita jelang dengan gemilang
Dari Aceh, bumi menguras darah gelora
Petik sejarah dari yang ditanam para syuhada
kesuburan adalah muasal tanah
berhala ditumpas, angkara dilunak
karena para kafilah memegang tarikh ekononi damai
Orang-orang yang melintasi Andaman
mereka para pemimpin berbagai bangsa
penganjur titah menjelajah Malaka
meski saat dunia memakai bahunya yang tua
alam diminta kembali menerima
jalan cahaya yang terpendam lama
Hadapkan wajah Aceh ke sana
pandang dengar irama ombak alun haruman istana
plangton-plangton menyaji cahaya
di kedalaman pasar ekonomi maritim lintas benua
Hiu dan paus telah menjaga semua ekosistem laut
biar lumba-lumba berlomba menarikan tarian samudera
nisan sejarah di bawah rasa pasrah
bangkitkan jadi kebenaran yang hakikat
kembali terangkat ke lubuk jiwa merdeka
karang yang masih menguatkan percaya
pada Aceh yang megah mewarnai masa depan
Di pelabuhan Pase yang pernah mendunia
cerita terlanjur disimpan lama
kini bibir pantai jazirah Utara
kembali menganjurkan nafas panjangnya
tak hendak tenggelam
dari pembicaraan tak biasa
Nanggroe Aceh dilimpahkan sejarah
halau zaman dari sudut cibir punah
teruslah di barisan percaya
Anak-anak Aceh di tubuhnya alir darah
dari para pejuang penakluk samudera
menunggangi ombak memaknai haluan
dari Malaka seterusnya ke teluk teluk seluk
sungai-sungai disatukan oleh lautan
bahu tua pikiran yang melemah
usah didengarkan lancung perihnya
menebarkan rasa takut
menjala kepasrahan biduk
kitalah pemilik zaman di depan
Aceh adalah pemilik yang sah
rambai rumbai bertukar-tukar nyali dengan penat
pegang kuat kemudi nahkodai pikiran
laut tak akan pernah mati
mengirim salam dan doa
dari para sultan
dari para kapitan
dari para ulama
dari para aulia
yang telah wariskan Aceh mulia
dengan bismillah sepanjang masa dunia.
Banda Aceh, 17 Juli 2026
Diskusi