Artikel · Potret Online

Paradoks Indonesia: Bergerak, tetapi Belum Berpindah

Penulis Istiqomah
Agustus 7, 2026
4 menit baca 10
b6c99e54-acd6-4c1f-aff2-52e13ca1ca93
Foto / IlustrasiParadoks Indonesia: Bergerak, tetapi Belum Berpindah

Oleh Istiqomah 

Fisikawan Demorkasi/Alumnus Fisika Universitas Airlangga

Dalam fisika, ada sebuah keadaan yang tampak sederhana, tetapi menyimpan pelajaran besar. Sebuah benda dapat bergerak sangat jauh, menghabiskan energi yang tidak sedikit, namun akhirnya kembali ke titik semula. Jarak tempuhnya panjang, tetapi perpindahannya nol.

Paradoks itu mengingatkan bahwa gerak tidak selalu berarti kemajuan.

Barangkali, itulah cara yang menarik untuk membaca perjalanan Indonesia hari ini.

Kita hidup dalam negara yang terus bergerak. Pemilu berlangsung lima tahunan, pemerintahan berganti, pembangunan berjalan, teknologi berkembang, dan ruang publik semakin ramai. Dari luar, semuanya menunjukkan dinamika yang menggembirakan. Namun, di balik gerak itu, muncul pertanyaan yang lebih mendasar: apakah kehidupan masyarakat benar-benar berpindah menuju keadaan yang lebih baik?

Pertanyaan ini penting karena kemajuan tidak hanya diukur dari seberapa cepat sebuah bangsa bergerak, tetapi juga dari arah yang ditempuhnya.

Di banyak tempat, jalan-jalan baru dibangun, gedung-gedung menjulang, dan berbagai layanan publik mulai terdigitalisasi. Namun, pada saat yang sama, petani masih gelisah menghadapi harga panen yang tidak menentu, nelayan tetap bergantung pada cuaca dan pasar, sementara banyak anak muda masih mencari pekerjaan yang layak. 

Pertumbuhan ekonomi memang tercatat, tetapi belum semua orang merasakan pertumbuhan itu sebagai kesejahteraan.

Di sinilah paradoks pembangunan bekerja. Negara tampak maju, tetapi sebagian masyarakat merasa tetap berada di tempat yang sama.

Hal serupa juga terlihat dalam kehidupan demokrasi. Kita memiliki ruang kebebasan yang jauh lebih terbuka dibandingkan masa lalu. Setiap orang dapat menyampaikan pendapat, terutama melalui media sosial. Akan tetapi, semakin banyak suara ternyata tidak selalu membuat percakapan publik semakin jernih. Informasi melimpah, tetapi kepercayaan justru menurun. 

Perbedaan pandangan mudah berubah menjadi permusuhan, sementara dialog sering kalah oleh kebisingan.

Paradoksnya, kita semakin mudah berbicara, tetapi semakin sulit mendengar.

Dalam fisika dikenal konsep inersia, yaitu kecenderungan suatu benda mempertahankan keadaannya. Ia akan terus bergerak pada lintasan yang sama sampai ada gaya yang mengubah arahnya.

Konsep sederhana ini terasa dekat dengan kehidupan berbangsa. Banyak persoalan yang sebenarnya sudah lama dikenali, tetapi terus berulang tanpa penyelesaian yang berarti. Ketimpangan masih menjadi pekerjaan rumah. Korupsi tetap muncul dalam berbagai bentuk. Regenerasi kepemimpinan berjalan lambat. Kelompok-kelompok yang berada di pinggiran masih harus berjuang agar suaranya diperhitungkan.

Lama-kelamaan, pengulangan itu melahirkan penerimaan. Kesalahan yang terus terjadi berubah menjadi kebiasaan, lalu dianggap sebagai sesuatu yang lumrah. Kalimat “memang dari dulu begitu” menjadi tanda bahwa masyarakat mulai berdamai dengan keadaan yang seharusnya diperbaiki.

Padahal, setiap sistem membutuhkan koreksi.

Dalam kehidupan bernegara, koreksi itu hadir melalui kritik, partisipasi, dan keberanian mengevaluasi kebijakan. Kritik bukan ancaman bagi demokrasi, melainkan mekanisme agar kekuasaan tidak kehilangan arah. Sebagaimana kompas dibutuhkan oleh seorang pelaut, demokrasi memerlukan kritik agar tidak berlayar mengikuti arus kepentingan semata.

Karena itu, stabilitas tidak boleh dimaknai sekadar sebagai keadaan yang tenang. Dalam fisika, sebuah sistem dapat terlihat stabil, tetapi sesungguhnya menyimpan ketidakseimbangan. Demikian pula sebuah bangsa. Masyarakat yang diam belum tentu sejahtera, sebagaimana negara yang tampak tenang belum tentu bebas dari persoalan.

Ukuran keberhasilan demokrasi tidak berhenti pada terselenggaranya pemilu atau pergantian pemerintahan secara damai. Demokrasi baru memperoleh maknanya ketika perubahan politik menghadirkan perubahan sosial yang nyata. Ketika hukum semakin adil, pelayanan publik semakin baik, kesempatan ekonomi semakin terbuka, dan setiap warga, termasuk mereka yang selama ini berada di pinggir, memiliki ruang yang sama untuk didengar.

Indonesia sesungguhnya tidak kekurangan energi. Negeri ini memiliki sumber daya alam yang melimpah, generasi muda yang kreatif, serta masyarakat yang mampu bertahan menghadapi berbagai krisis. 

Tantangannya bukan pada ada atau tidaknya energi, melainkan bagaimana energi itu diarahkan menjadi kerja bersama.

Sebab sejarah tidak hanya mencatat seberapa sering sebuah bangsa bergerak. Sejarah juga menilai apakah gerak itu membawa perubahan bagi kehidupan rakyat.

Mungkin karena itu, pertanyaan terpenting bagi Indonesia hari ini bukan lagi apakah kita sedang bergerak. Jawabannya jelas: kita bergerak.

Pertanyaannya adalah, apakah gerak itu membawa kita berpindah menuju masyarakat yang lebih adil, lebih setara, dan lebih manusiawi?

Jika jawabannya belum sepenuhnya, maka pekerjaan terbesar kita bukanlah menambah kecepatan, melainkan memastikan arah.

Sebab sebuah bangsa dapat melaju sangat cepat, tetapi jika terus berputar dalam lintasan yang sama, ia sesungguhnya hanya menghabiskan energi tanpa pernah benar-benar sampai ke tujuan.

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Istiqomah
Media Perempuan Kritis dan Cerdas
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...