Seni, Sastra dan Runtuhnya Benteng
Refleksi tentang Empati, Kedokteran, dan Kemanusiaan
> “Seseorang boleh unggul dalam pelajaran, tetapi tanpa kecintaan terhadap sastra, mereka hanya menjadi makhluk yang cerdas tanpa makna.”
Oi
— Pramoedya Ananta Toer
Catatan: Kutipan ini banyak beredar dan sering dikaitkan dengan Pramoedya Ananta Toer. Namun, sumber primer yang memuat redaksi persis kutipan tersebut belum dapat dipastikan sehingga perlu digunakan secara hati-hati.
Oleh: Novita Sari Yahya
Bagi saya, seni dan sastra bukan sekadar media untuk menghasilkan karya, melainkan bagian dari proses pembentukan empati dan kemanusiaan. Ketika saya menulis cerpen, puisi, atau novel, sesungguhnya saya sedang berdialog dengan diri sendiri. Saya berusaha meruntuhkan benteng ego, memahami berbagai sudut pandang, serta mengasah kepekaan terhadap kehidupan dan penderitaan manusia.
Hal yang sama saya rasakan ketika memerankan sebuah karakter dalam dunia akting. Seorang aktor dituntut untuk meninggalkan sebagian egonya agar mampu memahami kehidupan orang lain. Saat memerankan kesedihan, kehilangan, kegembiraan, kemarahan, kebingungan, atau harapan, saya belajar memasuki dunia batin seseorang. Akting, bagi saya, bukan sekadar seni pertunjukan, melainkan latihan empati yang mendalam.
Latar belakang pendidikan kedokteran membentuk saya dalam lingkungan yang sarat dengan disiplin, tanggung jawab, dan tekanan. Profesi dokter menuntut profesionalisme tinggi, kemampuan mengambil keputusan secara cepat, serta menjaga kepercayaan masyarakat. Dunia akademik dan penelitian juga memiliki tuntutan yang tidak ringan, mulai dari standar ilmiah yang tinggi hingga tekanan untuk terus menghasilkan karya yang berkualitas.
Di sisi lain, realitas menunjukkan bahwa sebagian tenaga kesehatan di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan, baik dari sisi kesejahteraan maupun persoalan administratif, termasuk keterlambatan pembayaran klaim atau hak-hak tertentu yang terjadi di sejumlah fasilitas pelayanan kesehatan. Kondisi tersebut menjadi bagian dari tekanan yang sering kali tidak terlihat oleh masyarakat luas.
Di tengah berbagai tuntutan tersebut, seni dan sastra menghadirkan ruang untuk bernapas. Keduanya menjadi tempat seseorang melepaskan beban emosional yang tidak selalu dapat diungkapkan dalam kehidupan profesional. Seni memberikan kebebasan untuk mengekspresikan kesedihan, kekecewaan, kebingungan, maupun harapan tanpa harus kehilangan martabat atau profesionalisme.
Setiap cerita yang saya tuliskan sesungguhnya adalah refleksi perjalanan batin. Tokoh-tokoh dalam cerpen atau novel mungkin lahir dari imajinasi, tetapi emosi yang mereka rasakan sering kali berasal dari pengalaman, perenungan, dan luka yang pernah saya alami atau saya saksikan dalam kehidupan. Menulis bukan sekadar menyusun rangkaian kata, melainkan upaya memahami diri sendiri sekaligus memahami orang lain.
Pandangan ini sejalan dengan konsep narrative medicine yang menekankan pentingnya memahami kisah hidup manusia di balik penyakitnya. Seorang tenaga kesehatan tidak hanya menghadapi diagnosis dan hasil pemeriksaan laboratorium, tetapi juga berhadapan dengan ketakutan, harapan, kehilangan, dan perjuangan setiap pasien. Sastra membantu melatih kemampuan untuk mendengarkan kisah-kisah tersebut dengan empati.
Penelitian dalam bidang psikologi juga menunjukkan bahwa expressive writing atau menulis secara ekspresif dapat membantu seseorang mengolah pengalaman emosional, mengurangi tekanan psikologis, serta mendukung proses penyembuhan diri. Dalam konteks itulah saya memandang cerpen, puisi, dan novel bukan hanya sebagai karya sastra, tetapi juga sebagai ruang refleksi dan terapi.
Bagi saya, seni dan sastra adalah jalan untuk tetap menjadi manusia di tengah berbagai tuntutan profesi. Keduanya mengingatkan bahwa kecerdasan intelektual harus selalu berjalan berdampingan dengan empati, belas kasih, dan kemanusiaan. Sebab, pada akhirnya, ukuran keberhasilan seseorang bukan hanya ditentukan oleh gelar akademik atau prestasi profesional, melainkan juga oleh kemampuannya memahami dan menghargai kehidupan manusia.
Referensi
Charon, R. (2006). Narrative Medicine: Honoring the Stories of Illness. Oxford University Press.
Nussbaum, M. C. (1995). Poetic Justice: The Literary Imagination and Public Life. Beacon Press.
Pennebaker, J. W., & Smyth, J. M. (2016). Opening Up by Writing It Down: How Expressive Writing Improves Health and Eases Emotional Pain (3rd ed.). Guilford Press.
Pramoedya Ananta Toer. (1980). Bumi Manusia. Lentera Dipantara.
Pramoedya Ananta Toer. (1980). Anak Semua Bangsa. Lentera Dipantara.












